ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 5


__ADS_3

Revi.


Minggu pagi yang cerah, namun mendung masih menggelayuti mataku.


Aku ngantuk banget, hmm... Semalam aku begadang di depan pagar rumahnya. Ternyata tujuh tahun tak merubah kebodohan ini yang masih saja membuatku tak bisa berpikir jernih jika sudah menghadapinya.


"Papa... Pliincess mau num susu..."


Aku mengerjap seraya melirik pintu kamarku yang terbuka.


Bocil yang sudah mandi dan memakai rok tutu dan kaos garis-garis berwarna rainbow ini naik ke ranjang ku. Mencium pipiku dengan basah.


Andai bocil ini princess Dalilah. Udah aku kekep dan aku ajak guling-guling di atas kasur sambil ah sudahlah. Cuma bakal on*ni di kamar mandi jika aku memikirkannya.


"Bibi kemana?" tanyaku sambil menyingkap selimutku.


"Bibi masak!" jawabnya sambil melihatku. "Pliincess mimpi mama!" ujarnya sambil menunjuk dinding. Fotoku dan Lilah saat SMA.


"Papa mandi dulu! Princess duduk manis di dapur sama bibi." kataku lembut. Princess menggeleng.


"Papa tidak tau dimana rumah Tante itu?" tanyanya lagi, siap-siap merengek jika aku menggeleng tidak tahu.


"Tante rumahnya diatas gunung, jauh banget! Papa tidak tahu, gunung yang mana!" dustaku sambil menahan senyum.


Bocil ini cemberut dan tetap memandangi foto emak dan bapaknya versi kw. "Padahal pliincess suka banget ketemu mama! Papa gak suka?" tanyanya lagi dengan polosnya.


Suka banget.


Aku mengacak-acak rambutnya. "Papa harus mandi dulu! Donatnya ada di kulkas. Maaf papa tadi malam lembur!"


Princess berdecak kesal sambil melipat kedua tangannya. "Papa lembur terus, kapan mainnya dengan pliincess?"


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Sebenarnya weekend adalah jadwal bebas tanpa ke rumah sakit.


Malam Minggu aku gunakan untuk hangout kemanapun yang aku mau. Hari Minggu aku gunakan untuk santai-santai sambil menyusun daftar projects kesehatan dan apapun itu yang berhubungan dengan tugas koas-ku.


"Janji dulu gak nangis? Kalau nangis papa ogah!" Aku pura-pura tegas.


Princess langsung manggut-manggut. "Aku janji papa!"


Hahaha.


Aku menyuruhnya keluar dari kamarku. Sementara bocil itu sibuk meminta sereal dan susu kepada bibi. Aku sibuk mengamati wajah Dalilah di dalam bingkai foto.


"Adakah sisa rasa untukku, Lil? Meski sudah tujuh tahun kita berlari sangat jauh?"


Aku termenung. Namun gangguan kembali datang saat bocil itu kembali membuka kamarku.


"Papa, mandi!"


Demi Tuhan, jika mommy masih muda, semangat dan bahagia. Anak ini tidak mungkin ikut denganku dan tinggal di perumahan minimalis modern yang dekat dengan Playground dan rumah sakit tempat kami belajar.


Tapi ibuku sudah berusia enam puluh enam tahun! Sudah sepuh, dan kematian Prince Husein merenggut kebahagiaannya.


Mommy lebih banyak diam, menyendiri, menyalahkan dirinya sendiri karena ketidakmampuan menjaga Prince sejak bayi. Dan kini, kepergian Prince juga meninggalkan seorang gadis kecil untukku.


Terasa berat bagi kami sekeluarga diawal-awal dia ditinggalkan ibu kandungnya. Menjauh, pergi, seolah tak peduli dengan gadis kecil ini.


"Iya... Iya, papa mandi!"


Princess kecil duduk di kursi, menungguku.


Dikamar mandi aku tetap berkelana membayangkan princess Dalilah. Dia semakin cantik.


***

__ADS_1


Meja makan tak ubahnya seperti ruang sidang. Bocil ini masih saja merengek minta jalan-jalan disaat aku lagi sarapan.


Bibi Tutik yang menjadi pengasuhnya sejak bayi berusaha membujuknya untuk bermain ke rumah Angel dan Reno.


Tapi tetap saja bocil ini ngeyel.


Aku beranjak setelah menyesap kopi ku sampai habis.


"Tunggu sebentar, papa mau telepon teman dulu!"


Princess setuju. Aku langsung menuju kamarku, menimbang-nimbang pikiranku sendiri sebelum bertekad keras untuk menghubungi Dalilah.


Butuh sepuluh menit lebih sampai suaranya terdengar lembut di telingaku.


Hallo. Assalamu'alaikum. Selamat pagi.


Jantungku langsung deg-degan.


Maaf dengan siapa? Ada keperluan? Saya masih sibuk sekarang, nanti saja ya. Maaf.


Aku cemberut saat dia mematikan sambungan teleponnya.


Tapi aku tak gentar. Aku mencoba menghubunginya lagi, Dalilah mengangkatnya. Tapi diam saja.


"Princess!" panggilku sedikit ngegas karena gerogi.


Dari balik pintu, bocil itu berteriak. "Yes, papa!" sambil membentangkan pintu kamar.


Aku mengusap wajahku. Kenapa dulu aku iuran memberinya nama princess kalau tahu begini akhirnya?


Aku tersenyum dan mengusap kepalanya.


"Papa bicara dulu, oke!"


Dia mengangguk patuh. Untung patuh, kalau enggak. Aku bakal cari dimanapun emaknya sekarang berada!


Terdengar suara tawa renyah darinya.


Hei papa muda. Minggu yang sibuk?


Aku menatap layar hpku dengan terkesima. Dia mengajakku bergurau.


"Tidak sama sekali! Kamu benar-benar sibuk sekarang?"


Dalilah kembali tertawa.


Putrimu rewel? Hmm...


"Iya..." jawabku jujur.


Dalilah ketawa lagi. Dia kenapa senang banget ketawa. Apa dia kira aku benar-benar sudah menikah dan menjadi duda muda. Hei, kamu salah sangka sayang...


Aku masih perjaka tingting. Sumpah.


Datanglah ke museum, banyak anak-anak yang wisata disini.


Aku manggut-manggut. "On the way!"


Jangan lupa bawa bekal dan air minum.


Dalilah menutup teleponnya. Aku membuang nafas panjang. Dia benar-benar mengira aku sudah menjadi seorang ayah.


Tak mengapa lah, lagian keponakanku bakal sedih kalau dia tahu, dia hanyalah anak yang tidak diinginkan.


"Minta bibi untuk menyiapkan bekal dan air minum! Papa mau menyiapkan mobil dulu."

__ADS_1


Princess kecil ini mau gembira tapi masih bingung sendiri. "Kita mau piknik, Pa?"


"Piknik ke museum!" jawabku.


Wajahnya tambah bingung. "Museum itu apa?" tanyanya dengan polos.


"Gedung yang menyimpan banyak peninggalan sejarah! Sudah-sudah, kamu membaca saja masih bingung, apalagi belajar tentang museum!" Aku mendorongnya keluar dari kamar. Princess masih berceloteh sendiri.


"Bibi...!" teriakku.


Bibi Tutik yang masih membereskan dapur tergopoh-gopoh mendatangiku.


"Mau kemana mas?"


"Ke museum. Bibi ikut!" Aku mengedipkan sebelah mata. Bibi Tutik langsung mengerti.


Setelah satu jam bersiap dan on the way. Aku tiba di lahan parkir museum ini.


Princess mengamati baik-baik museum yang ia tanyakan sedaritadi. Wajahnya langsung dilipat-lipat.


"Kok gak ada mainannya, Pa?" tanyanya dengan kecewa.


"Tapi di dalam ada Tante! Princess mau ketemu sama Tante?" ujarku sambil tersenyum hangat.


Princess mengangguk cepat. "Mau..."


Aku menatap bibi Tutik, memintanya untuk menjaga Princess sementara aku kembali menghubungi Dalilah menanyakan keberadaannya..


Masuk aja dulu nanti juga ketemu.


Aku langsung menggandeng tangan princess untuk memasuki museum.


Terdengar suara kicauan burung dan suara gamelan yang saling bersautan dengan merdu.


Beberapa pengunjung terlihat hilir mudik menikmati suasana tenang ini dengan mata yang berbinar takjub.


"Papa, Tante mana?" tanya princess.


Aku celingukan. Dan seorang abdi dalem yang mungkin masih mengingatku, menghampiriku dan mengangguk sopan.


"Ndoro putri sedang menjadi tour guide untuk turis dari Australia. Monggo mas Revi pinarak rumiyin!"


"Nggeh. Matur nuwun!" Aku mengangguk dan mengajak princess untuk duduk di kursi taman.


"Tante masih sibuk, jadi princess lihat yutub dulu! Oke?" Aku menyerahkan tabletnya. Benda paling ampuh untuk membujuknya agar diam. Hehehe.


Selama menunggu Dalilah selesai, aku mengingat kembali saat-saat dimana ia menjadi tour guide untukku. Tour private yang ia lakukan saat kami masih menjadi sepasang kekasih labil.


Kecerdasannya sungguh luar biasa, caranya menjelaskan tentang seluk beluk istana dan kerajaannya terdengar lugas dan mudah dipahami. Itulah salah satu sebab aku masih terkagum-kagum padanya sampai saat ini.


"Papa..., haus!" Aku menarik tas berbentuk kuda poni. Percayalah, rumahku berwarna pastel, semua pernak-pernik yang berhubungan dengan anak perempuan seusianya lebih mendominasi rumahku.


Sementara alat musik yang aku bawa dari rumah Mommy hanya sebuah gitar akustik. Pedih hatiku.


Ku ambil botol minum yang tak kalah lucunya. "Jangan banyak-banyak, nanti ngompol! Kalau kamu ngompol disini papa repot!" ujarku sentimental.


Bi Tutik nyaris tertawa kecil saat mendengar. "Ada saya mas! Mas Revi kalau mau jalan-jalan silahkan."


Aku langsung beranjak. Tapi hanya bergeming menatap sekeliling. Entah kenapa aku masih ciut dan tersudut jika berada di lingkungannya.


"Papa, Tante kok lama?"


Aku mengendikkan bahu, sejurus lamanya. Bocil ini langsung menaruh tabletnya seraya berlari kecil menuju ke arah belakangku.


Aku berbalik. Dan menyaksikan gigi kelinci yang menggemaskan tersenyum hangat kepada gadis kecil yang mendekap lututnya.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2