
Revi.
Aku berhenti di sebuah gedung rumah sakit. Beberapa hari ini aku memang sibuk wira-wiri kesini untuk menemui seseorang.
Aku terus mengetik pesan sambil berjalan, mengirim pesan untuk kekasihku yang sibuk berlatih koreografi tari tradisional dan kontemporer KPop bersama grupnya. Aku yakin dia bisa, walaupun sesekali dia mengeluh karena capek atau pertengkaran konyol dengan penari lainnya.
Mommy sering berkata bahwa akan ada saja yang keterlaluan, tapi itulah realita. Sebuah kenyataan jika berkerjasama tidak slalu berjalan mulus.
Sepertiku juga. Prisia ngambek! Dia keluar dari tim cheers leader sekolah hanya karena aku tidak meresponnya dengan baik lagi setalah princess tahu dia adalah mantanku.
"Boys... kangen sama daddy?"
Aku mengendikkan bahu. "Tidak juga. Daddy tahu aku ke sini untuk apa!" jawabku sambil menarik jas putih.
"Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?" tanya daddy sambil menyipitkan matanya.
"Apa yang bisa dilakukan oleh anak SMA kelas dua di rumah sakit selain menjadi penghibur anak-anak yang sakit!" jawabku sambil membuang nafas.
"Ada harga yang harus dibayar bukan, boys?" Daddy tersenyum sambil menepuk kedua pundakku, dua kali.
"I know!"
Aku melambaikan tangan sebelum keluar dari ruangan daddy.
Aku memang menjadi relawan kesehatan di rumah sakit milik daddy, menjadi relawan penghibur anak-anak yang sedang dirawat inap disini. Dan kebetulan sekali sekarang aku ingin menemui seseorang laki-laki, sebaya denganku.
"Hei bro..." sapa ku sambil sok-sokan memeriksa infus dan makanannya. Aku menyengir kuda seraya duduk di tepi ranjang, memegang nampan berisi makan siangnya.
"Kangen sekolah?" tanyaku.
Dia mengangguk pelan.
"Makanlah, jangan cuma dibiarin nganggur begini!" kataku sambil berusaha menyuapinya. Dia menggeleng. Aku memaksa seraya mengeluarkan foto kekasihnya yang hamil di luar nikah.
Dia tertegun, dan matanya mulai terlihat sedih.
Dia Devon, korban kecelakaan tunggal karena ulahnya sendiri. Bisa di bilang bad boy dengan level tertinggi dalam dunia kenakalan remaja. Pemabuk ulung, perayu sejati, dan parahnya dia juga sudah mengenal **** bebas.
Kekasihnya bukan anak orang kaya sepertinya, bukan pula anak gaul seperti kebanyakan remaja saat ini. Kekasihnya adalah anak piatu yang bekerja setelah sepulang sekolah, dan kini ia benar-benar di drop out dari sekolah karena kehamilannya.
Aku tahu karena semua relawan di rumah sakit ini dibekali ilmu kekepoan yang tinggi, termasuk mengenai urusan pribadi.
"Kasian dia, Von!" kataku setelah selesai menyuapinya. Bukan karena dia malas makan sendiri, tapi tangan kanannya patah dan nyaris mati kalau saja malam itu ia tidak segera ditangani dokter. Dia belum diizinkan untuk pulang karena beberapa organ dalamnya masih belum stabil.
__ADS_1
Keluarganya sibuk dan satu lagi, kebencian menghancurkan semua.
"Kamu melihatnya, Rev?" tanyanya sambil bersusah payah menegakkan tubuhnya.
"Iyalah, kamu pikir foto itu darimana kalau bukan aku sendiri yang mencarinya!" balasku sambil mengatur posisi tempat tidurnya.
Devon terkekeh kecil. "Apa kamu bisa membawanya kesini? Hp-ku hancur dan belum bisa menghubunginya."
Aku mendengus. "Dia bukan barang yang bisa di bawa!" cerca ku kesal.
Devon mengambil foto kekasihnya yang aku taruh di atas nakas. Ia memandanginya sebelum menghela nafas.
"Dia polos sekali, Rev! Bahkan untuk ciuman saja dia tidak pandai. Tapi entah kenapa, aku justru sangat tertarik dengannya." ujar Devon pelan. Aku pun melihat senyum samar setelahnya.
Obsesi semata. batinku.
"Dia hamil anakku dan aku rasa ini hukuman dari Tuhan biar aku gak jadi penjahat kelamin lagi, Rev!" lanjutnya lagi tanpa melepas pandangannya dari foto kekasihnya.
Aku menghela nafas. Bertemu dengan bad boys dengan level tertinggi membuatku paham, akan ada masanya dimana kita akan bertemu dengan perempuan yang akan mengacaukan pikiran dan seluruh organ-organ tubuh lainnya. Tapi aku sudah bertemu dengannya, Dalilah-ku.
"Gimana, bisa membawanya kesini? Aku bayar!" kata Devon penuh harap sekaligus maksa. Aku merengut, bukan karena aku gak mau. Tapi masalahnya kalau Dalilah sampai tahu aku membawa cewek lain, bisa gawat urusannya.
"Kamu tahu kan, cewekku siapa? Kalau doi sampai tahu aku boncengan sama cewek hamil bisa panjang urusannya!" kataku langsung. "Bisa-bisa aku yang dikira menghamili cewekmu!" Aku merengut.
"Tinggal jujur aja apa susahnya!" balasnya lebih nyolot dariku. Aku mendengus, cowok kalau ada maunya emang keras kepala. Batu seperti aku!
"Mau kamu berapa, Rev?" tanyanya dengan mudah.
Ah sial! Urusannya sama orang kaya emang mudah, keluar uang lalu beres.
"Aku gak butuh uang! But, aku butuh sesuatu yang lebih bermanfaat bagi semua orang, terutama pahala bagimu."
Devon mengerutkan kening, ia mencoba menerka-nerka sendiri tapi jawabanku membuatnya tersenyum miring. Terlihat menyepelekan tapi aku percaya dia bisa melakukannya.
"Gampanglah! Setelah aku sembuh, aku bakal urus apa yang kamu minta tadi." balasnya dengan raut wajah santai banget.
"Janji gak! Kalau gak janji aku ogah!" ujar ku mirip cewek-cewek kalau lagi merajuk.
Devon berdecih lalu melempar pandangnya ke arah laci meja. "
Ambil ATMku, atau surat-surat berharga milikku sebagai jaminan!"
Aku tergelak dan benar-benar mengambilnya. Jaman sekarang, janji tanpa jaminan itu mahal harganya. batinku sambil terkekeh.
__ADS_1
Devon mengumpat kesal. "Sekalian nanti beliin susu ibu hamil buat dia, Rev! Dan semua makanan sehat untuk ibu-ibu hamil!" katanya dengan santai. Aku memalingkan wajahku dan langsung memandangnya tajam.
"Please! Aku mau anakku sehat!" Devon tersenyum tipis. "PINnya 172629."
"Kampret!" umpatku sebelum keluar dari ruang inapnya.
Sepanjang koridor ruang sakit aku terus berpikir apa bener-bener Devon akan bertanggungjawab atas anak dan cewek itu. Kalau benar-benar iya, gila dia! Dia mau nikah sebelum lulus SMA, bahkan tidak memikirkan bagaimana masa depannya nanti. Bener-bener santai sekali hidupnya, sementara aku harus jungkir balik dulu untuk mengejar mimpi-mimpiku.
"Kemana, Rev?" tanya daddy setelah aku masuk di ruang kerjanya. "Biasa misi sosial, dad!"
"Apalagi sekarang?"
"Menjemput cewek hamil dan membawanya kesini!" jawabku sebelum membuang nafas. Daddy tertawa kecil lalu melambaikan tangan.
"Semangat, Rev! Semoga kebaikanmu dibalas kebaikan..."
Aku berdehem lalu melesat cepat ke arah parkiran, setelahnya aku menggeber motorku ke rumah cewek itu.
Tiba disebuah rumah sederhana aku mengetuk pintu rumah dengan hati-hati. Hatiku berdebar. Takut kalau saja aku yang harus bertanggungjawab atas kehamilan cewek yang tidak aku kenalin.
"Siapa?"
Suara bapak-bapak! Aku langsung waspada.
"Siapa?" tanyanya lagi tanpa membuka pintu dan hanya membuka jendela rumah. Beliau melongok ke arahku dan mencermatiku baik-baik.
Aku membungkuk sopan. "Saya Revi!"
"Teman sekolah Desy?"
"Bukan, saya teman main! Bukan temen sekolah Desy!" dustaku karena jika aku menjawab iya. Bapak ini tidak akan mengizinkan Desy menemuiku.
"Des... Des... Dicari temanmu!" kata Bapak itu dengan suara kencang. Beliau lantas menutup kembali jendelanya.
Sembari menunggu Desy, aku mengamati baik-baik rumah ini. Terlihat tertutup dibanding rumah disebelahnya. Apa mungkin mereka mengalami gunjingan karena kehamilan Desy di luar nikah. Aku membuang nafas.
"Von... Devon... Kelakuanmu bikin orang susah hidup!" gerutuku sebelum berbalik arah.
"Siapa?" tanya Desy pelan sembari mengamati ku. Raut wajahnya cukup heran tapi aku mengerti apa yang ada dipikirannya.
"Mau ketemu, Devon?" ujar ku sambil tersenyum lebar.
Desy langsung membulatkan matanya dan bergumam nama Devon dengan pelan. Desy berjalan mendekatiku dan mengangguk mau.
__ADS_1
"A-ku... A-ku harus menemuinya."
...Happy Reading ...