ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 15


__ADS_3

Dan Revi menepati janjinya. Ia seperti bayangan yang tak mau pergi. Kini, tak ada waktu bagiku untuk sendiri. Dimana ada aku, disitu ada Revi yang selalu ada di sekitarku dalam berbagai kesempatan. Ia slalu menempeliku dengan tidak tahu malunya. Atau jika tidak, Revi akan mengamatiku dari jauh. Menjadi mata-mata yang gak punya jam kerja dan bayaran tetap.


Berkat itu semua, kini tidak ada pembicaraan hangat antara aku dan Bimo. Padahal aku sudah senang sekali karena tidak ada jarak lagi antara aku dan Bimo setelah persaingan sengit sejak SMP. Apalagi sudah berminggu-minggu ini Bimo rutin belajar menari di sanggar. Beberapa kali aku masih sempat ngobrol dengan dirinya di sela-sela jam istirahat atau disaat dia berlatih menari. Tapi sekarang, ia seolah menjauh. Membuatku seolah menjadi bunga kamboja layu yang pantas untuk dibuang.


Jika ini disebut dengan penyesalan. Ini adalah penyesalan paling konyol sepanjang masa remajaku. Lihatlah, aku harus membayar mahal kesalahanku. Aku adalah Dalilah yang jatuh hati kepada si pengki. Kenapa juga aku dengan suka rela mengiyakan ajakan Revi untuk bertemu sepanjang jam istirahat dan menemaninya latihan basket. Padahal aku punya segudang alasan untuk menolaknya.


Berminggu-minggu sudah aku sering menghabiskan waktu bersamanya.


Sekedar untuk ngemall, nongkrong di cafe, atau membuang waktu dengan melihat Revi nge-band. Jadi mungkin itu cara Revi untuk mendekatiku dan membuatku menjadi satu-satunya miliknya. Menempeliku sepanjang hari. Jadi mengapa tidak dijalani saja? Jika Revi begitu ingin memacarku, baiklah.


Segera saja tanpa tedeng aling-aling, semua orang di sekolah sudah tahu. Status taken terpampang jelas di jidatku. Pacar Revi paling baru---bukan pacar hasil taruhan---pacar resmi yang ditembak kemarin malam Minggu di depan gerbang rumahku dengan setangkai mawar putih yang ia beli di pasar bunga kota baru.


Entah bagaimana cara cinta itu bekerja, tapi aku benar-benar tidak bisa jauh dari Revi sekarang. Aku mulai merasa nyaman dengan Revi. Dia memberiku warna lain, bukan hanya warna bunga kamboja saja. Tapi warna kehidupan sehari-hari seorang remaja pada umumnya.

__ADS_1


Revi tetap menghormatiku sebagai seorang putri bangsawan. Ia tidak kurang ajar atau main tangan. Bahkan disaat ada banyak kesempatan untuk mojok dan mencuri ciuman pertama. Dia tidak melakukannya. Aku heran, tapi sekaligus lega. Ada laki-laki zaman sekarang yang tidak diburu oleh nafsu sesaat? Itu langka. Seperti kata Ibunda, "Jika laki-laki sungguh mencintaimu, jika cinta itu benar-benar tulus, makan laki-laki itu akan melindungi, bukan merusak."


Jadi apa aku bisa menyimpulkan bahwa Revi tulus mencintaiku? Bahwa inilah pertanda cinta? Ataukah ini hanya sekedar cinta monyet saja? Dan, ini benar-benar murni cinta pertama?


Jika ada yang bilang cinta pertama begitu memabukkan, aku akan menjawab iya. Cinta pertama ini begitu gila, aku sering tersenyum sendiri jika mengingat perlakuan Revi yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Sepertinya bunga-bunga asmara sedang bermekaran di hatiku. Aku menjadi gadis kasmaran yang naksir berat sama ketua OSIS yang sialnya menjadi cinta pertamaku.


Walaupun begitu dia tetaplah si pengki yang slalu punya cara untuk menganggu ketentraman hatiku. Siang ini dia berniat untuk mengajakku ke rumahnya sepulang sekolah. Sedangkan aku sudah punya rencana sendiri untuk membeli kado ulang tahun Baskara yang ke tujuh belas tahun.


Revi cemberut, ia tetap di depanku sampai aku benar-benar jengkel karena ulahnya sendiri. Aku lupa jika ia adalah si gentar dan pemaksa yang ulung.


"Oke, tapi temani aku dulu beli kado untuk Baskara. Setelah itu baru ke rumahmu!" ujarku malas.


"Gitu kan cantik. Kalau gitu kapan ulangtahun Baskara? Apa kamu juga mengajakku datang ke pesta ulangtahunnya?" tanya Revi antusias.

__ADS_1


"Besok malam Minggu. Kalau kamu mau ikut berarti kamu juga bawa kado untuk Baskara." ujarku sambil tersenyum culas.


"Berapa sih umurnya? Udah SMA juga masih dirayain ulang tahunnya, kayak bocah tau!" ledek Revi.


"Sweet seventeen." jawabku langsung.


"Terserah deh, yang penting kamu gak datang sendiri ke ulangtahun Baskara. Pasti nanti banyak cowok-cowok disana, apalagi Bimo, cowok itu pasti juga datang!"


Aku mendengus kesal, Revi ini posesif tapi gak pada tempatnya. Baskara dan Bimo kok dicemburui, yang ada mereka itu harusnya di rangkul karena mereka sahabatku. Segala tentangku mereka tahu. Segala rahasiaku Baskara sangat tahu. Jadi bisakah bersikap biasa saja?


Cowok mana pula yang berani kurang ajar sama aku. Cuma kamu Rev, cuma kamu! Dan perlu digaris bawahi bahwa si pengki itu, cowok yang mati-matian berusaha membuatku jatuh cinta adalah kekasihku sekarang.


...Happy Reading ❤️...

__ADS_1


__ADS_2