ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 6


__ADS_3

"Apa?" tanyaku dengan nada nyolot.


Revi mengerutkan keningnya, ia menyaut mangkok bakso yang aku pegang. Lalu memakan satu butir baksoku dengan lahap.


Mataku membulat tak terima, ku saut mangkok baksoku dengan cepat "Kalau laper beli sendiri! Gak punya uang!" kataku dengan galak.


Ketua OSIS itu tersenyum mengejek, ia mengeluarkan dompetnya lalu menunjukkan dua kartu ATM dan sejumlah uang cash dengan nominal seratus ribu sejumlah empat lembar.


"Pamer!!!" sahutku sambil berputar menjauhinya. Penghuni kantin yang lain memandangi kejadian ini penuh minat saat Revi ketua OSIS sialan ini menarik rambutku.


"Aw..." jeritku sambil menyipit marah.


Heran! Gak ada sopan-sopannya dengan anak Raja.


Aku berbalik lagi, menghembuskan nafas kasar. Lalu berkata dengan lugas sekaligus dingin, "Mau anda apa ketua OSIS yang terhormat? Mau bakso saya? Terimalah dengan senang hati."


Aku menarik tangan kanan laki-laki itu, lalu menyerahkan mangkok baksonya ke tangannya, "Habiskan, saya juga gak sudi makan bekas sendokmu!"


Revi mengangkat alisnya, tersenyum sinis, ia mendekatkan wajahnya, dekat, dan semakin dekat, "Thanks... sambutan yang manis dari cewek cantik milik keluarga Adiguna Pangarep." Gelak tawa ribut memecah keheningan.


"Terserah!" Aku mengibaskan rambutku dan mengenai wajahnya, "Wangi." gumamnya yang terdengar di telingaku.


Aku melongos, lalu berjalan keluar kantin dengan kaki mengentak lantai.  Baru pertama kali masuk sekolah sudah apes. Apesnya lagi aku sekarang lapar. Ibunda...


***


Aku berjalan cepat menuju kelas Baskara, sayang sekali Tuhan tidak mengizinkan kami satu kelas lagi seperti saat SMP. Aku sempat kecewa karena Baskara tidak lagi menjadi teman sebangku ku. Tapi, aku juga senang, itu tandanya kami bisa memiliki teman laki-laki atau perempuan lebih banyak.


Aku melongok di pintu, terlihat Baskara sedang ngobrol dengan teman sebangkunya.


"Bas..."


Baskara mengangkat wajahnya, ia bangkit dan melangkah cepat menghampiriku.


"Katanya ke kantin, ini juga kenapa cemberut?" tanya Baskara heran.


"Aku tadi sudah pesan bakso. Tapi si ketos sialan itu ngambil bakso ku, Bas. Aku gak jadi makan. Sekarang aku lapar." ujarku sembari memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Ketos? Ketua OSIS? Kak Revi? Kok bisa?" tanya Baskara beruntun.


"Aku gak tahu kenapa, Bas. Kamu jadi pengikutku lagi aja, aku takut kalau sendirian, Bas." Baskara hanya tersenyum lalu meraih tanganku.


"Aku gak bisa, Lilah. Kelas kita beda. Sudah ayo aku antar ke kelas mu."


"Aku bakal bicara dengan Ayahanda, biar kepala sekolah mengizinkan kita satu kelas lagi. Satu bangku juga!" ujarku sedikit merengek, seperti bocah yang kehilangan teman mainnya. Terdengar kekanak-kanakan tapi Baskara hanya tersenyum melihat tingkahku.


"Sudahlah, Lilah. Kita bisa ketemu waktu istirahat dan pulangnya aku bisa mengantarmu karena aku sudah diizinkan ayah membawa motor." ujar Baskara antusias.


"Kok curang! Bukannya udah janji kalau kita bawa motor waktu usia tujuh belas tahun!" ujarku tak terima.


Baskara tergelak singkat lalu berkata, "Tahun ini aku udah tujuh belas tahun, Lilah. Kamu lupa?"


Aku cemberut, iri dengan Baskara, iri dengan kemampuannya mengendalikan motor.


Kami berjalan berdampingan, sesekali tertawa ringan hingga tatapan ketua OSIS yang berada di depan kelasku terlihat mengintimidasi lagi, seolah membidik seekor anak ayam yang menjadi target santapannya. Dan, anak ayam itu aku.


"Apalagi!" tanyaku heran. Belum puas juga dia mengerjai ku.


"Nih... Harga bakso yang aku makan tadi."


"Sudah, gak usah dipikirin lagi. Dia pasti lagi iseng sama adik kelas. Masuk sana, aku balik dulu ke kelasku. Bye, Lilah. Nanti pulang sekolah aku temenin!" ujar Baskara sambil lalu.


Masuk ke dalam kelas yang aku temui juga orang menyebalkan. Bimo.


Sekelas dengannya adalah kepahitan yang tak berujung. Dua semester, lima hari kali enam jam, hidupku akan bersamanya. Lagi-lagi kisah ini akan terjadi lagi. Persaingan sengit antar siswa teladan.


***


Masa orientasi siswa selesai pukul satu siang. Aku memeluk tas ranselku sembari menunggu jemputan. Begini rasanya jadi anak Ayahanda. Tidak boleh pulang sendiri, apalagi naik taksi atau ojek online. Aku harus setia menunggu kedatangan mobil BMW lawas itu masuk ke area parkir sekolah sembari menikmati rasa lapar ku yang begitu melilit perutku.


Aku menoleh saat laki-laki bernama Revi menghentikan motor sportnya di belakang tempat dudukku. Motor sport berwarna hitam itu memang terlihat cocok untuknya, seolah menambah kesan keren bak idola sekolah. Ia menggeber motornya hingga membuat kebisingan yang terdengar kentara.


Aku berbalik lagi, dengan cepat meraih kunci motornya. Motor itu seketika lemas tak bertenaga.


"Gak usah kayak kutil ya. Ganggu tau!" Mataku mendelik menatapnya. Ia menengadahkan tangannya, "Balikin kunci motorku!"

__ADS_1


Aku tersenyum sinis, "Kalau bisa ambil sendiri!"


Ku selipkan kunci motornya di saku almamaterku bagian dalam. Ku tutup lagi pakai tas ranselku.


Ia tersenyum lebar, "Fine! Nantang nih ceritanya!"


Revi turun dari motor, lalu melangkah dengan pasti ke arahku dengan senyum yang menyeringai jail.


"Di bagian mana? Yang kanan atau kiri?" Seketika itu juga wajahku merah padam ketika tangannya mulai terulur pada bagian itu.


Aku merogoh kantong almamaterku dengan cepat dan secepat itu juga membuang kunci motornya ke atas rumput.


Revi terbelalak, dengan cepat ia memungut kunci motornya.


"Jangan ganggu aku lagi! Kalau perlu jauh-jauh dariku... Menyebalkan! Bagaimana bisa laki-laki sepertimu menjadi ketua OSIS. Pasti nyogok kan kamu, pasti curang!"


Revi menyeringai, "Mau tahu banget ya. Sini aku bisikin."


Aku cepat-cepat memundurkan langkahku, hingga aku hampir terhuyung ke belakang. Lagi-lagi, aku tak percaya kenapa suka banget sih hampir jatuh terjengkang.


Revi menarik tas ranselku, bersamaan dengan itu tubuhku kembali tegak berdiri.


"Makanya jarang kurang ajar sama kakak kelas. Mau pulang bareng?" tawar Revi yang aku balas dengan memelototinya.


"Pulang aja sendiri! Siapa kamu! Teman bukan, saudara bukan! Sok kenal!" sahutku sambil membuang muka.


Baskara, sebenernya kamu dimana sih. Katanya mau nemenin aku nunggu jemputan. Bas... Bas... aku kehilanganmu ini, aku kehilangan sosok penjagaku. Tanpa sadar aku berdecak kesal.


Aku mengentak konblok, lalu memasang wajah masam. Duniaku berubah dalam satu hari. Satu hari yang benar-benar melelahkan. Aku lapar, aku kesal, aku sedih, aku ingin cepat-cepat pulang.


"Yakin gak bareng? Aku tahu rumahmu." tawar Revi lagi sambil naik ke atas jok motornya. Ia menyalakan mesin, dan menggeber motornya.


"Gak... Aku bilang enggak ya enggak!" jawabku ketus.


Revi pergi begitu saja tanpa permisi, baguslah. Tapi, sepertinya kesialan tidak pergi begitu saja dari diriku hari ini. Bimo tersenyum seraya duduk di sampingku, ikut menunggu sampai aku di jemput oleh Ayahanda di waktu yang menunjukkan pukul dua siang.


...Happy Reading. 😂...

__ADS_1


 


__ADS_2