ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 44.


__ADS_3

Kenapa? Malu?" tanya Suryawijaya tiba-tiba.


Aku tersenyum tipis. Sejak awal kedatanganku kesini dia hanya diam dan mengamati baik-baik keadaan. Sekarang, ia malah bertanya kenapa.


Sungguh lebih baik dia diam sampai aku pulang nanti. Karena bagiku, Raden Mas Suryawijaya ini lebih kaku dibandingkan ayahnya.


"Sepertinya aku sudah ikutan menjadi perokok pasif sepertimu. Dan, ini lebih berbahaya ketimbang menjadi perokok aktif!" jelas ku ketularan Daddy.


Suryawijaya tersenyum miring, "Kenapa tidak izin keluar kalau begitu?"


Aku menyeringai bodoh, "Benar juga ya. Kenapa aku tidak kepikiran untuk keluar sebentar mencari udara segar." Aku tertawa garing.


Lagi-lagi Suryawijaya hanya tersenyum miring. Agak meremehkan, tapi ya sudahlah. Paling nggak dia tidak marah-marah lagi karena kejadian itu.


Aku menoleh ke arah Daddy yang ikut-ikutan mencicipi cerutu pilihan paduka raja.


"Dad, apa aku boleh keluar sebentar?" tanyaku meminta izin. Daddy menggeleng, "Sebentar lagi kita pulang. Hanya menunggu mommy dan Ibunda Ratu datang." Aku mengangguk, lagipula ini sudah hampir jam sembilan.


Tak berapa lama kemudian. Kedua perempuan itu datang dengan senyum yang menyala di kedua sudut bibirnya.


"Saya sangat terkesan malam ini." ujar mommy langsung setelah duduk di dekat Daddy.


"Silahkan berkunjung kembali, saya akan menjadi tour guide untuk Nyonya Jasmine lagi." balas Ibunda ratu semringah.


Aku mengedarkan pandanganku, berharap princess akan muncul kembali sebelum aku pulang karena aku belum puas melihatnya.


Aku terus berharap hingga detik-detik terakhir saat Daddy melihat arlojinya dan mengucapkan terima kasih atas undangan makan malam yang begitu nikmat.


Orangtuaku berpamitan dengan paduka raja dan ibunda ratu. Prince juga. Namun aku masih diam seribu bahasa ditempat dudukku sampai Mommy menepuk pundakku.


"Ayo pulang, Rev. Besok sekolah."


Aku menggeleng cepat, meskipun langsung beranjak berdiri.


"Maafkan saya paduka raja. Apakah princess sudah tidur?" tanyaku langsung.

__ADS_1


Paduka raja menghela nafas berat, "Putriku sedang menyiapkan diri untuk besok pagi."


Aku mengangguk lemah, teringat kalau besok princess sudah sekolah. Tapi disekolah nanti, apakah princess akan betah karena beberapa murid pasti akan menggunjingnya karena kasus itu.


Bagiku itu tidak terlalu penting, tapi bagi princess. Hal itu mungkin sedikit sensitif bagi harga dirinya.


"Saya pulang paduka raja, Ibunda ratu, ndoro mas Suryawijaya. Terimakasih sudah diizinkan untuk datang kembali ke rumah ini." kataku dengan lemas.


Aku melangkah dengan gontai menuju beranda istana, kepalaku sambil celingukan mencari princess kalau-kalau dia ada disini, mengintip ku diam-diam.


"Sudah untung, Rev, bisa ketemu walaupun sebentar. Pakai sepatumu dan lanjutkan lagi temu kangennya besok pagi di sekolah!" ujar Prince, ia tersenyum lebar sambil menepuk pundakku, "Fuerza."


Aku menghela nafas, ku pakai sepatuku yang ku beli waktu bersama princess.


"Mom... Dad... Ayo pulang." ujarku sambil berdiri. Mommy dan daddy sama-sama mengangguk setelah beberapa kali mengambil foto di area beranda istana.


"Tunggu apa lagi? Mommy sudah kenyang dan senang. Setelah ini mommy hanya mau maskeran dan tidur." kata mommy dengan nada gembira.


"Terserah mommy!" jawabku malas.


"Tunggu."


Suara itu... Aku mengerjap dan langsung berbalik. Kulihat princess membawa rantang stainless steel bertingkat empat sambil bergegas ke arahku.


"Maaf lama. Ini oleh-oleh dari Ibunda untuk kalian!" katanya sambil mengangsurkan rantang makanan itu ke arahku.


"Mommy tunggu di mobil, Rev. Jangan lama-lama." ujar mommy pengertian. Aku memang butuh berdua sebentar dengan princess.


Aku menatap princess sebentar lalu mengambil rantang stainless dari tangannya. Masih terasa hangat. Bisa aku pastikan kalau makanan ini habis dimasak.


"Hei, lihat aku." kataku lembut.


Princess mendongkak, menatapku sambil tersenyum kaku, "Ayahanda hanya memberi waktu sebentar. Maaf mas Revi."


"Aku kangen kamu, Lil."

__ADS_1


"Lilah tau. Lilah juga. Tapi mas Revi harus pulang."


"Lima menit saja, seperti tadi. Izinkan aku untuk melihatmu lagi. Aku beneran kangen sama kamu."


"Mas Revi!"


"Besok ketemu disekolah ya, ke kantin seperti biasanya. Kalau ada tugas sekolah yang belum kamu mengerti bisa les private sama aku di perpustakaan. Aku siap jadi gurumu, gratis gak perlu bayar. Cukup kembalikan senyum kita seperti biasanya. Aku tunggu dilapangan basket atau dibawah pohon beringin di bangku taman!"


Princess tersenyum lebar, dengan pipi yang tersipu malu. "Mas Revi..."


"Apa?" tanyaku senang.


"Pulang! Nanti Ayahanda marah lagi dan Lilah tidak jadi kembali ke sekolah!"


Aku tertawa kecil, ingin sekali ku acak-acakan rambutnya atau mencubit pipinya karena pacarku ini terlalu menggemaskan.


"Terimakasih makanan, kapan harus aku kembalikan rantang ini?" tanyaku basa-basi.


"Kapan-kapan. Terserah mas Revi."


"Baiklah, besok pagi aku akan meminta mommy untuk mengisinya dengan sarapan pagi untuk kita berdua. Jadi, maukah kamu menemaniku sarapan pagi disekolah?"


Princess mengangguk malu-malu, "Iya. Tapi mas Revi pulang sekarang! Lilah sudah ditunggu Ayahanda di dalam."


Aku mengangguk sambil tersenyum, "Aku akan pulang kalau kamu bilang sayang sama aku!" ancam ku jail. Karena selama pacaran, princess tidak pernah bilang sayang padaku.


"Lilah gak akan sayang sama mas Revi kalau mas Revi tidak masuk ke mobil sekarang!" ancamnya balik.


Aku mendesis, "I love you, princess. Have a nice dream." kataku terakhir sebelum masuk ke dalam mobil.


Princess hanya tersenyum dan mengangguk sambil melambaikan tangannya saat mesin mobil mulai hidup dan meninggalkan area parkiran.


Hatiku menghangat, sehangat rantang yang aku peluk sekarang. Mimpiku akan indah seperti harapanku tadi. Apalagi saat pagi harinya, aku mendapati sebuah pesan singkat yang selama satu bulan ini slalu aku nantikan kemunculannya. Pesan singkat yang dikirimkan oleh bunga terkasihku.


"Mee too mas Revi. Lilah sudah sekolah."

__ADS_1


...Happy Reading.🄰...


__ADS_2