ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 9


__ADS_3

Dalilah.


Sinar matahari pagi yang hangat, dan udara sejuk di taman membuatku bersemangat untuk memulai hari ini.


Aku mendatangi Ayahanda dan Ibunda yang sedang menikmati teh hangat dan terpaan sinar matahari berdua.


Sungguh romantis dan terkadang aku iri dengan mereka berdua.


"Morning my sunshine..." Aku mencium punggung tangan Ayahanda dan Ibunda seraya mengatupkan kedua tangan.


"Lilah mau cari calon suami dulu ya, Bunda! Ayahanda! Doakan Lilah." ujarku berkelakar.


Ibunda terkekeh kecil, beliau mengelus punggung Ayahanda dengan pelan. "Memang sudah saatnya Dalilah mencari pendamping hidup, mas! Sudah, jangan dihalangi lagi..." kata Ibunda diplomatis.


Aku mengangguk setuju, namun Ayahanda tetap saja memasang wajah tidak rela.


"Ya Allah Gusti... Putrimu memang cantik mas dan kamu adalah cinta pertamanya, tapi Dalilah juga mempunyai cinta terakhirnya dan itu suaminya! Jangan begini..." Ibunda mendesis gemas. "Nanti Dalilah gak laku-laku! Mas juga sudah tua, sudah gak kuat gendong cucu-cucu kalau Dalilah nikahnya masih nanti-nanti!" Ibunda mengingatkan.


Ayahanda menegakkan tubuhnya dan jakun naik-turun sebelum melirik istrinya yang cantik dengan balutan baju batik.


"Sudah saya bilang kalau dulu anak kita seharusnya lima orang! Agar yang menjadikan saya cinta pertama tidak hanya anak ini, anak bandel yang menuruni sifatmu!" celetuk Ayahanda.


Ibunda refleks memundurkan tubuhnya. "Tapi mas terlalu cinta sama aku, jadi saking bandelnya mas justru semakin cinta!" Ibunda mengedip-edipkan matanya dengan usil.


Ayahanda memakai kacamatanya agar bisa melihat wajah Ibunda dengan jelas.


"Apa matanya kelilipan?" tanya Ayahanda memastikan.


Ibunda tersenyum maklum dan menggeleng. "Tidak, Jani hanya usil mas!"


Ayahanda mengamati baik-baik Ibunda sebelum mengangguk tenang.


"Pergilah..., jangan lama-lama! Ayahanda perlu membicarakan pekerjaan denganmu nanti!"


Aku mengangguk setuju, ku cium pipi Ibunda dan Ayahanda sebelum berlalu.


***


Mobil bergerak dengan kecepatan sedang menuju rumah Revi. Aku terdiam, memikirkan dan terus memikirkan apa yang aku lakukan nanti.


Bersikap tidak tahu diri lagi, anggun, atau bingung. Aku pasti salah tingkah menghadapi duda satu anak itu.


"Ndoro putri..." Aku mendongak, paham.


Mobil berhenti di supermarket, aku membeli banyak makanan yang disukai anak-anak.


Bukannya aku ingin mencuri hati putri kecilnya, tapi aku berempati pada gadis kecil yang membutuhkan seorang ibu.

__ADS_1


Hatiku terketuk, karena keluargaku slalu mengadakan misi sosial dan mengajariku untuk tidak membanding-bandingkan siapa saja. Tak terkecuali Revi dan anaknya---terlepas dari kisah kasih di sekolah dulu---aku tetap akan membantunya sebisaku.


Revi baik, dan selamanya bagiku dia tetap seseorang yang baik.


Mobil berhenti tepat di depan rumahnya. "Tolong nanti jemput jam sebelas ya, Pak! Terimakasih!" ujarku sembari membuka pintu mobil dan menyaut dua kantong belanjaan.


"Nggih, ndoro putri!"


Aku berdehem-dehem. Mendatangi rumah duda ternyata rasanya lucu-lucu aneh.


Aku bagaikan seorang gadis perayu yang tidak tahu malu mendatangi rumah seorang duda hanya demi melihat putrinya bahagia melihatku.


Tapi semoga Gusti Allah tahu, niatku baik.


Aku berjalan dengan anggun menuju teras rumahnya. Hmm... Aroma lantai yang baru saja di pel masih tercium wangi.


Tanaman yang baru saja di siram terlihat segar dan basah. Aku tersenyum senang.


Belum juga aku mengetuk pintu. Dari dalam. Pintu ini terpentang lebar.


"Tante..." serunya dengan riang dengan tangan yang merentang. Aku tergelak riang, membiarkannya memeluk lututku.


"Hai pliincess..." sapaku. "Mana papa?" tanyaku pelan dengan mata yang menyorot ke dalam rumahnya. Sepi.


Princess menarik tanganku ke dalam, aku mengucapkan salam dan disambut sapaan hangat dari bibi Tutik.


"Gusti..." pekik Bibi Tutik dengan hectic. Aku terkekeh kecil. "Tidak perlu repot-repot, Bi! Saya hanya main!"


Aku menghampiri beliau dengan mata yang melihat sekeliling. Revi tinggal di rumah yang menggemaskan, ia seolah pasrah membuat rumahnya dipenuhi aneka mainan anak perempuan.


"Mas Revi baru mandi!" Bi Tutik menarik kursi untuk aku duduki. Aku mengangguk sopan seraya mendudukinya. Princess langsung duduk di pangkuanku tanpa sungkan. Aku tersenyum dan mengusap kepalanya.


Bi Tutik tersenyum hangat, menatapku dan princess bergantian. "Mas Revi masih sendiri!" jelas Bi Tutik dengan suara lirih seraya menaruh secangkir teh manis hangat di depanku.


Aku mengerutkan kening dan mengendikkan bahu.


"Bukan teka-teki silang kan, Bi?" tanyaku sok akrab.


"Bukan, Gusti ayu..."


Aku paham. Lalu mataku menunjuk ke arah princess dan mengusap kepalanya.


"Prince and princess?" tebakku. Bi Tutik mengangguk.


Aku mendesah lega. Revi masih suci, Revi bukan duda keren, dan Revi hanyalah Om yang bertanggung jawab atas keponakannya sendiri.


Mataku kembali menghangat. Beban apa yang kamu tanggung sendiri, Rev? Dan kamu masih setegar ini menjalaninya sendiri.

__ADS_1


Aku mengecup puncak kepala princess. Buru-buru menghapus air mataku yang nyaris menetes.


"Hei... Udah dari tadi?" sapa Revi seraya menarik kursi makan di seberang ku. Ia menatapku dalam, dan wajahnya berubah khawatir. "Kok sedih? Kenapa, Lil?"


Revi celingukan mencari sesuatu yang sekiranya membuatku sedih.


Aku mengulum bibirku, takut sekali tangisku pecah di rumah ini. Membuat princess kaget atau bingung.


"Aku butuh privasi!" jawabku dengan suara serak.


"Bi... ajak princess main sebentar!" teriak Revi. Terpogoh-pogoh Bi Tutik mengambil princess dari pangkuanku. Sorot mata Bi Tutik menatapku sekilas, dan seulas senyum terbit di bibirnya.


Aku menutup wajahku dan mulai menangisi Revi dan segalanya yang ia perjuangkan sendiri selama aku pergi.


Aku terisak dan sesenggukan untuk beberapa saat sebelum kesadaranku kembali. Aku mengusap wajahku pelan seraya menatapnya lagi dengan sendu.


"Kamu datang dan menangis di rumahku sepagi ini? Hei... Ada yang menyakitimu?" tanya Revi khawatir.


Aku mengambil tissue dan membuang ingusku dengan tak anggun.


"No matter what! To me!" Aku menunjuk diriku. "You still the best male after my father and the darkness of our love!"


Revi menyipitkan matanya. "Wait? Apa maksudmu?" tanyanya heran.


"Princess... Prince... Your brother? And now, princess is your niece? Not your daughter!" cetus ku langsung. Aku juga sengaja bilang dengan bahasa Inggris supaya Princess tidak paham kalaupun ia mendengarkan.


"Dan kamu menangisi ku karena itu?" tanya Revi lagi seraya beranjak.


Aku mengangguk pelan. "Kenapa tidak bilang saja? Selama ini aku berasumsi bahwa kamu sudah menjadi duda dan aku bagaikan gadis perayu duda-duda! Ini gila, Rev!"


Revi justru terkekeh disaat aku masih terisak-isak di antara ocehanku.


"Gak ada yang lucu!" timpal ku sambil memutar tubuhku, menghadapnya.


"Aku tidak wajib menjelaskan disaat kita memang sudah tidak ada ikatan apapun, Lilah! Aku dan kamu bukan lagi kita seperti dulu." ujar Revi, seraya menghapus air mataku dengan lembut.


"Aku baik-baik saja! Jangan menangisiku seperti tadi!"


"Aku sentimental! Aku berhak menangis jika itu memang perlu ditangisi! Dan lihatlah bagaimana kamu membesarkan your niece, you are like a hero, Rev!" pujiku tulus. Karena jarang ada laki-laki muda seusianya yang mau membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.


Revi mengulum senyum. "Sudah sepatutnya!"


Aku menatapnya. Keheningan menemani kami berdua selama berdetik-detik yang terlalu begitu lambat.


Aku berusaha menyelami, berharap, menerka lagi, apakah Revi masih berharap janji untuk jatuh cinta bisa terealisasi lagi?


"Rev..." panggilku.

__ADS_1


Revi menggeleng pelan. "Jangan memintal benang yang sudah lama terurai bebas, Lilah! Aku dan kamu perlu waktu." Aku mengangguk setuju.


...Happy Reading...


__ADS_2