
Revi.
Aku tak percaya betapa senang suasana hatinya setelah bangun tidur.
Aku bertanya-tanya apa yang menyebabkannya. Ketika aku melirik ke dapur, ia sudah menggunakan celemek dan berkutat dengan banyak bahan masakan di atas meja.
"Oh, mau menjadi penguasa dapur setelah Bi Tutik?" seruku seraya menghampirinya.
Dalilah cuma menoleh lalu kembali menatap sayuran di depannya. Tangannya sibuk merajang daun bawang dan mencampurnya ke dalam mangkok berisi pecahan telur dan mengocoknya dengan luwes.
Aku bersandar di dinding dan mengamatinya.
Tangannya luwes banget mengocok telur itu. Bagaimana jika ia mengocok cacingku. Hmm, membayangkan saja aku sudah ketawa. Dan aku benar-benar tertawa sendiri karena ekspektasi gila ini.
Dalilah menoleh, mengernyit heran namun aku kembali diabaikan olehnya.
Aku mendesah, belum satu hari ia tinggal di rumahku tapi aku sudah diabaikan oleh sayuran-sayuran ini.
"Mau aku bantu?"
Dalilah menggeleng cepat. "Duduk!" sungutnya.
Aku menyengir dan menurut seraya duduk manis untuk menunggunya merajang bahan masakan.
"Aku pemakan segalanya, jadi apapun yang kamu masak aku pasti suka." kataku memberitahu.
Dalilah berdehem, ia memindahkan bahan-bahan masakan ke samping kompor dan kembali sibuk memasak makan sore untuk kami berlima.
Pengawal juga dihitung, itu kesimpulanku berdasarkan jumlah telur yang ia kocok tadi.
Terlalu gemas dengan tingkahnya yang sok sibuk---hanya karena sedang asyik masak-masak untuk memanjakan lidahku, aku berjalan dengan pelan ke arahnya.
Tanganku melingkar di pinggangnya, Dalilah membeku.
"Jangan cuma membuat lidahku senang dengan masakanmu, Lilah! Tapi buat lidahku juga senang dengan lidahmu."
Bulu-bulu halus Dalilah langsung meremang. Aku tersenyum jail. Ia memukul panci di depannya sebelum berbalik.
"Lilah lapar!" katanya galak. "Pesan ojol aja kalau lapar tadi, jangan membuat dirimu susah disini!" balasku lembut.
Dalilah memutar tubuhnya, ia menggeleng pelan seraya mengecup pipiku. Aku terperangah.
"Aku mau kamu makan masakan buatan ku, mas! Bukan dari ojol."
Aku mengangkat bahu, mempertahankan posisiku seperti tempurung bekicot yang menempel di punggung Dalilah, sampai ia memukul panci lagi dengan jengkel.
Aku menunduk, mengecup leher Dalilah yang terbuka.
"Kamu kenapa mas, suka banget sama aku sampai gini amat!" sindirnya dengan percaya diri.
Aku terkekeh geli dan mengurai pelukan.
__ADS_1
"Kamu wangi, jadi aku betah deket-deket kamu! Masalah buatmu?"
Dalilah menggeleng pelan. "Tidak, tapi kamu ganggu aku masak mas!" Ia kembali melabuhkan kecupan ringan di pipiku sebelum fokus lagi sama wajan dan panci yang mengepulkan asap panas.
Aku mengambil lima piring seraya menatanya setelah tiga puluh menit berakhir juga adegan masak-memasak ini.
Dalilah mengulek sambil dengan wajah penuh minta seperti sedang mengulek wajah seseorang, dan itu lucu sekali.
"Cobek ku bisa pecah sayang kalau kamu memperlakukannya dengan kasar!" gurauku. Dalilah mengangkatnya cobeknya ke meja makan dan mendesah lega.
"Panggil pengawal di depan mas, Lilah ganti baju dulu!"
Aku mengerutkan kening, sungguh aneh tapi nyata. Baju yang baru ia pakai tadi setelah mandi siang, sudah harus diganti lagi hanya karena habis masak.
Dompetku meringis. "Timbangan laundry kiloan bisa ke kanan terus ini, lebih berat dari berat badannya setiap bulan, Jat! Heuheu..."
Aku memanggil ketiga pengawal pribadiku untuk makan bersama berbarengan dengan Dalilah yang keluar dari kamar memakai pakaian yang lebih tertutup ketimbang tadi.
Aku tersenyum. Priyayi memang beda, dan aku slalu terkagum-kagum dengan cara-caranya, menghormati dirinya sendiri dan aku.
Pengawalku membungkuk hormat seraya malu-malu kucing saat Dalilah meminta mereka untuk mengambil makanan masakannya sementara istriku menyiapkan makan sore untukku.
Aku sempat berpikir, apa nanti malam dia akan masak-masak lagi?
Oh Tuhan, apa waktu untuk honeymoon ini hanya untuk memenuhi kesenangannya yang tidak bisa ia lakukan di istana.
Akhirnya, kami berlima makan sore dalam hening. Setelahnya, aku melarang Dalilah yang hendak memberesi seluruh perkakas dapur yang ia gunakan.
Mas Darmaji yang berbadan besar dan berkulit gelap ini membeliakkan, tidak menduga jika juru pukul ini harus mencuci piring.
Demi apapun, jika tidak ada Dalilah disini. Mas Darmaji pasti sudah memukul kepalaku dengan tangannya sampai babak belur.
Aku mengajak Dalilah untuk nyore di belakang rumah, ia memandang sekeliling sebelum duduk dengan anggun di kursi taman.
"Nyore-nyore enaknya ngapain, Lil?"
Aku membuang asap rokok, memilih jarak yang tak cukup jauh darinya namun masih menjaga asap rokok tak mengenai tubuhnya.
"Jam segini biasanya Lilah baru pulang kerja mas, mandi terus santai-santai di kamar." Dalilah tersenyum lembut, ia menarik ekor kudanya sebelum mendongkak kepala menatap langit sore yang indah.
Rambutnya tergerai indah, slalu harum kapan saja aku menghirupnya.
"Ayahanda memberimu cuti berapa hari, dear? Masihkah ada waktu untuk kita berdua lebih lama?"
Dalilah mengangguk, tanpa menjawab.
Aku membuang asap rokokku sebelum beranjak menghampirinya. Dalilah tersenyum saat aku mengecup keningnya dari belakang.
"Bisa kita memulainya lebih baik nanti malam?" tanyaku bermaksud memintanya.
Aku tak menampik bahwa aku menginginkannya. Menginginkan tubuhku masuk ke dalamnya sebagai penyatuan paling nyata, sebagai pemilik harta paling berharga yang ia miliki dan ia jaga sepanjang statusnya sebagai perawan.
__ADS_1
"Bisa."
***
Ketika senja sudah pergi dan guruh terdengar diatas langit.
Aku menghidupkan laptop dan memangkunya. Waktuku sudah mepet, hanya tinggal satu bulan lagi dan masih banyak materi yang harus aku ingat lagi sebagai acuan ujian teori nanti.
"Serius banget."
Aku mendongak, Dalilah bersandar di kusen pintu dengan mata yang mengamatiku.
"Kemarilah, Lilah."
Mulutku melengkung membentuk senyum. Dalilah mengangkat bahu, namun langkahnya dengan anggun mendekatiku dan duduk di sampingku.
"Belajar?" tanyanya, serta-merta meneliti tulisan-tulisan di layar laptop dengan cahaya yang berpendar di wajahnya, Dalilah semakin cantik jika serius begini.
"Susah ya jadi dokter?" Dalilah bertanya senyum masam di sudut bibirnya. "Apa karena aku?"
Aku tergelak sendiri. Ku singkirkan laptop dan mengangkat tubuhnya untuk duduk di pangkuanku.
Dalilah terkejut, tapi mati-matian berusaha untuk merilekskan otot-ototnya yang menegang karena gerogi.
Aku maklum, tapi jantungku pun berdetak kencang saat Dalilah menggerakkan pinggulnya mencari posisi yang nyaman untuk duduk di pangkuanku.
"Mas Jati gak keberatan?" tanyanya serak, menahan segala emosi yang melanda tubuhnya.
Aku menyingkirkan rambut yang menutupi ceruk lehernya sebelum aku mengecup lehernya yang putih.
Dalilah tersenyum samar, telapak kakinya menggoda kakiku dengan mengusap-usap bulu kakiku.
Getaran lain menjalari tubuhku, aku menggerutu lirih seraya mendekapnya lebih erat saat hujan semakin deras, meredam suara dalam kamarku.
"Aku menginginkanmu malam ini." Aku berbisik di telinganya, mencium cuping telinganya.
Dalilah bergerak dengan gelisah di atasku, semakin bergerak saat tanganku menyusup ke dalam bajunya. Menyentuh kulitnya yang hangat dan menggiurkan.
Ia menelengkan kepala untuk menatapku. "Yang kuinginkan." Ibu jarinya membelai bibir bawahku. Sekelebat mata gelap membayang di matanya.
Dalilah menyugar rambutku dengan pelan sebelum mata kami saling terpejam, menikmati sentuhan lembut dan hangat dari bibir kami yang saling membelai.
Yang kuinginkan.
Kata-kata itu terngiang di telinga, dia menginginkan, aku pun sangat.
Aku memperdalam ciuman, membuat kami sama-sama terengah-engah dan sesuatu sudah menyesakkan tubuhku.
Dalilah melepas ciumannya, menghirup nafas dalam-dalam sebelum kembali mengecup bibirku, menikmati semua rasa penasarannya saat SMA. Bagaimana kenakalan remaja begitu menarik perhatiannya hingga ia terjebak dalam situasi berhenti atau melanjutkan dengan rasa penasaran yang meledak-ledak, menjatuhkan martabatnya hingga ia memilih pergi meninggalkanku dan kembali lagi dengan keadaan yang lebih intim.
"Mas Jati..." desahnya mempesona.
__ADS_1
...Happy Reading....