
Revi.
Semua berbeda sekarang! Rasanya seperti tidak ada semangat lagi untuk sekolah. Tidak ada princess, tidak ada perempuan yang menjadi pusat perhatianku.
Sekolah rasanya seolah sepi. Bahkan liar angin yang berhembus kencang di pepohonan rindang tidak terdengar gemerisik mengganggu saat aku hanya diam di bangku taman. Tempat dimana aku dan princess sering menghabiskan waktu bersama saat istirahat.
"Ngelamun aja kak!"
Sebuah tepukan di bahuku, membuatku menoleh. Aku menatap seorang gadis yang menatapku penuh konsentrasi.
"Ngapain?" tanyaku tidak senang, lalu kembali menatap pepohonan.
"Di panggil kepala sekolah! Suruh ke ruangannya." jawabnya lalu pergi setelah meracau karena aku menunjukkan gelagat tidak suka.
Aku mendesis jengkel lalu berdiri, "Pasti cuma mau di ceramahin!" gumamku lalu pergi dari bangku taman yang menjadi kenangan manis antara aku dan princess. Bangku yang sudah aku tempeli sticker bertuliskan 'R&L', Revi&Lilah.
Tiba di ruangan kepala sekolah, suasana tampak hening dan dingin, seolah sudah terjadi sesuatu yang membeku disini.
Saat aku masuk ke dalamnya. Aku menyadari sesuatu hal yang sangat menarik disini. Ayahanda---paduka raja ada disini---sedang duduk berdua dengan kepala sekolah, Pak Bambang.
Aku membungkuk hormat, seraya tersenyum tipis. Sudah jelas kedatangan paduka raja ke sekolah pasti ada sangkut-pautnya dengan putrinya.
"Duduklah!" ujar kepala sekolah.
Aku mengangguk, seraya duduk di sebrang meja. Menghadap kiblat, lalu dalam hatiku berdoa. "Kalau bisa aku diskorsing aja sekalian, atau dihentikan jabatan ku dari ketua OSIS! Biar aku bisa fokus membantu mommy mencari dalang semua ini!"
"Saya akan memberi ruang bagi Gusti Kanjeng Sultan untuk berbicara dengan Revi!" ujar Pak Bambang dengan sopan dihadapan paduka raja, lalu matanya mendelik tajam ke arahku.
"Saya harap kamu sopan santun kepada Gusti Kanjeng Sultan!" katanya sambil menekan pundakku, memberi sentuhan yang membuatku meringis.
"Sakit?" tanya paduka raja saat kepala sekolah sudah menutup pintu.
__ADS_1
Aku menggeleng, "Tidak! Pak Bambang memang suka begitu, suka menekan!"
"Menekan!" ujar paduka raja, "Menekan semua siswa untuk patuh kepadanya!" jawabku.
"Sudah menjadi aturan kalau disekolah mempunyai peraturan yang harus ditaati murid! Lantas, apa Pak Bambang juga membuat wewenang sendiri?" tanya paduka raja dengan wajah ingin tahu.
Aku menggeleng, tidak mungkin juga untuk membicarakan Pak Bambang sekarang. Lagian bukan hal penting.
Aku mendongak, menatap paduka raja yang tersenyum lebar.
"Bagaimana kabarmu anak muda?" tanyanya masih menatapku, melihatku dari atas ke bawah. Wajah kita berdua sama-sama kusut. Apalagi kantong mata beliau sangat terlihat jelas.
Aku berjuta-juta yakin bahwa beliau juga tidak tidur nyenyak sepertiku.
"Sa-ya... sehat!" jawabku terbata. Sedikit gusar dengan tempat dudukku yang tidak nyaman, seolah ada duri yang nyasar di pakaian dalamku. Menggelitik sedikit lalu membuatku salah tingkah.
Paduka raja mengangguk pelan, "Saya tidak sehat. Ada yang membuat dada saya sesak. Kamu tahu kenapa anak muda?" ujarnya sambil cemberut, terdengar juga helaan nafas panjang.
Aku mengangguk, mataku memandang nanar mata tua yang terlihat sendu. Aku juga melihat luka dalam senyumnya. Sesungguhnya apa semua juga terluka atas keadaan ini? Runyam sekali.
"Bukan begitu caranya!" katanya sambil pindah ke sampingku. Aku terperangah, nyaris menggeser posisiku tapi gak kuat.
"Jarang-jarang saya bersanding dengan seseorang tanpa jarak seperti ini kecuali dengan istri saya. Bagaimana hatimu anak muda?" Paduka raja merangkul bahuku. Jantungku hampir meledak karenanya. Aku menunduk, gak sanggup untuk berkata atau melihat ekspresi paduka raja. Sumpah, ini kondisi yang sulit aku ucapkan dengan kata-kata. Aku pengen pingsan seketika kalau aku bisa. Tapi aku hanya menautkan jari jemariku sambil menghentak-hentakkan kaki.
"Kamu sayang sama princess? Putriku?"
Aku menganggukkan kepalaku. Tanpa suara.
"Saya datang kesini bukan menjadi seorang Raja yang perlu kamu hormati. Saya datang kesini sebagai seorang ayah yang ingin menemui laki-laki muda yang putriku cintai. Sekarang katakan apa kamu mencintai putriku?" tanya paduka raja dengan santai.
Aku menelan ludah ku susah payah. Rasanya susah sekali untuk membuka bibirku dan berkata, 'Aku sayang princess, aku sayang putrimu Gusti Kanjeng Sultan.' Aku sayang seribu sayang padanya.'
__ADS_1
"Katakan, jangan malu-malu. Putriku bahkan berani meminta sebuah ciuman kepadamu jika kamu tidak benar-benar bersungguh-sungguh kepadanya! Sekarang katakan karena saya hanya ingin mendengar! Tidak akan memarahi mu!" ujar paduka raja dengan suara dalam.
Aku semakin gelisah saat Gusti Kanjeng Sultan memijat pundakku. Bukannya rilex, aku semakin tegang.
Ya Allah. Tegang kali ini benar-benar menegangkan. Aku butuh ambulance, kalau-kalau aku jantungan habis ini.
Ku usap tanganku yang sudah basah dengan keringat dingin. Lalu menghela nafas panjang dan menatap Gusti Kanjeng Sultan yang tersenyum manis ke arahku.
Astaghfirullah... Bagaimana bisa aku menandingi kekuatan senyuman itu. Seolah ada magic yang terpancar dari wajah sang Gusti Kanjeng Sultan.
Masyaallah... Denyut di kepalaku semakin cepat. Aku mendadak linglung dan hanya terpana melihat wajah Gusti Kanjeng Sultan yang dekat dengan diriku.
Andai saja beliau Dalilah, sungguh luar biasa efeknya. Hampir sama, nyaris membuatku kehabisan kata-kata.
"Kenapa? Ada yang salah dengan wajah saya? Hei, anak muda!"
"Hah!" Aku tersentak kaget karena beliau mencengkeram erat bahuku. Aku mengatupkan bibirku lalu menunduk lagi.
Harus ku mulai dari mana pembicaraan ini. Aku gusar, salah sedikit lenyap sudah harapan. Tapi kisah ku tak lagi sederhana secara intinya. Banyak kata yang harus aku katakan selagi gelar raja sedang beliau tanggalkan di singgasananya.
Aku memegang lutut ku. Sekelebat bayangan princess yang menangis waktu itu membuatku yakin, akan ada zona terlarang antara kami berdua setelah ini.
"Missing her just make it worse." ujarku dengan nada datar, "Paduka raja. Saya tidak punya alasan yang jelas kenapa saya mencintai putri Bapak, karena satu alasan saja tidak cukup untuk menunjukkan bahwa saya menyayanginya. But, our souls are connected."
Paduka raja mengangguk, tersenyum getir. "Satu alasan kuat kenapa harus putriku? Hubunganmu akan rumit anak muda. Kalian akan menjalani cinta yang rumit. Apa kamu yakin bisa menjalaninya? Putriku adalah gadis kecil yang ingin tahu banyak hal. Putriku mungkin akan membuat kegaduhan lagi dengan tingkahnya. Dan kamu sebagai pacarnya, apa yang akan kamu janjikan pada putri saya?"
"Nurani! Saya slalu percaya dengan nurani saya untuk menjaganya." jawabku lugas.
"Pergilah dengan kepala tegak! Karena putriku butuh laki-laki pemberani dan memegang teguh pendiriannya." Tepukan tegas di bahuku seraya menghantam relung hatiku. Apa ini sebuah kesepakatan bersama antara seorang ayah dan seorang remaja SMA yang menjadi pacar putrinya.
Selama beberapa detik aku masih gemetaran di tempatku. Sekonyong-konyong aku memikirkan maksud dari semua ini. Apa aku tidak dimarahi, apa aku masih boleh memacari putrinya? Sungguh mujur sekali nasibku kalau gitu.
__ADS_1
"Pergilah ke kelasmu ketua OSIS! Wajahku memang mirip dengan putriku. Tapi bukan berarti kamu bisa memandangiku seperti itu. Cukup istriku saja yang sanggup menggetarkan hatiku. Kamu tidak!"
...HAPPY Reading š„°...