ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 40


__ADS_3

Dalilah.


Hari-hari menjelang persalinan, aku semakin panik dengan proses melahirkan secara normal. Apalagi Daddy, menjelaskannya detail lengkap dengan teori kesehatannya.


"Kenapa sih, dear mama! Gak santai banget hari ini." seloroh mas Jati dengan ringan.


Aku tersenyum kecut, dan menyandarkan kepalaku di lengannya. Aku ingin kebersamaan ini lebih lama, aku dan mas Jati pasti akan disibukan dengan status bapak dan ibu baru dalam fase ini. Tapi mas Jati sudah unggul menjadi seorang bapak, sementara aku? Aku akan belajar menjadi ibu baru dengan sengaja percobaan yang sudah aku siapkan.


"Berat, Mama!" sindir mas Jati, lengkap dengan kekehan yang membuatku menyengir kuda. Aku menegakkan tubuhku. Badanku benar-benar mengembang sempurna.


Sehari-hari aku hanya menggunakan daster, berjalan sekuatnya, lalu duduk pasrah menunggu tenaga.


"Masih takut buat lahiran normal? Apa mau lahir caesar? Mas Jati menatapku. Aku mengulum senyum. "Pasti sakit." gumamku lirih.


Mas Jati mencubit pipiku dengan gemas. "Tidak ada yang enak saat melahirkan, Lilah! Ah kamu seperti ABG." ledek mas Jati. "Labil!"


Aku memanyunkan bibirku, mas Jati malah menciumku sekilas. Ia menyunggingkan senyum lembut.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan baby dear. Mama gak?" tanyanya sok imut. Aku balas mencubit pipinya.


"Yang paling tidak sabar untuk bertemu dengan baby dear itu Ayahanda dan Pandu, mas! Kamu ingat kan setelah tingkeban kemarin. Ayahanda langsung mengeluarkan dipan keramat milikku dulu."


Mas Jati mengangguk. "Itu salah satu keuntunganku memiliki mertua baik hati."


Ia menyengir, dan cengiran itu terlihat aneh. Antara senang dan senep.


Aku membuka laptop dan mencari file video pernikahan kemarin. Ini akan membuatku bahagia di sela-sela waktu menunggu hari persalinan.


Mas Jati mengelus perutku, mengusap-usapnya dengan penuh minat. Bahkan kadang-kadang ia memainkan udelku yang nongol keluar. Kalau wong jowo bilang, udel bodong.


"Wajahmu benar-benar tegang ya mas waktu itu!" Aku cekikikan. "Ayahanda bahkan juga bilang waktu ijab qobul tanganmu dingin banget mas."

__ADS_1


Mas Jati menggigit bahuku. "Namanya manusia normal mas, mau gimana pun ijab qobul bukan tempat bercanda."


Aku tersenyum. "Waktu itu aku deg-degan mas, takut kamu gak bisa ijab qobul dengan bahasa Jawa. Aku takut kamu pingsan karena tidak siap dengan keadaan ini." ucapku riang. Aku masih ingat momen-momen bersejarah dalam hidupku. Dan pernikahan ini akan slalu aku kenang dengan hati yang bahagia.


Mas Jati memelukku. "Tapi aku berhasil kan? Aku bahkan masih mengingat saat pertama kali melihatmu memakai baju pengantin. Kau begitu sempurna, Lilah." pujinya dengan bahagia. Aku turut bahagia dengannya.


Mas Jati mempercepat video yang kini bertepatan dengan momen kirab pengantin. Aku bisa merasakan bagaimana atmosfer saat itu, padat, meriah, bahagia, malu. Dan yang paling membuatku semringah adalah saat mas Jati menyapa orang-orang yang memanggilnya. Dimana ia akan di kenal sebagai anggota keluarga Adiguna Pangarep.


Selepas kirab pengantin, aku dan mas Jati menyaksikan Bedhaya manten dan Lawung Ageng ditemani Ayahanda dan Ibunda dan kedua orangtua mas Jati.


Suasana pernikahan tak pernah lepas dari Gending Jawa, alunan gamelan dan uyon-uyon adalah piranti penting yang melekatkan erat dengan tradisi ini sekaligus menjaga kelestarian budaya.


Aku mendesah di ceruk leherku. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


"Dan selama pernikahan itu berlangsung, aku sering melihat Arkananta melihatmu penuh keinginan untuk memiliki."


Dear baby menendang perutku, terus menendang-nendang sampai aku mengernyit sakit.


Bahkan jika ada siaran langsung sepakbola di televisi, ia suka mengajakku melihatnya. Padahal cewek males banget nonton bola kan, tapi aku betah-betah saja menemaninya. Mungkin karena ada mas Revi yang dulu, ceria, apa adanya, tengil dan membuatku tidak kehilangan dirinya yang dulu.


Dear baby semakin menendang perutku, aku memejamkan mata. Perutku terasa kencang sekali. Mas Jati pun juga tidak berhenti-henti memberi semangat anaknya untuk terus memberikan agresi.


"Bisa gak, diem!" kataku galak, mas Jati meringis. Aku menepuk-nepuk pundak mas Jati dengan kesal.


Ini kontraksi dan sudah sering terjadi beberapa jam sekali, apalagi saat mas Jati menggodaku. Kontraksi kerap terjadi begitu lama.


"Mau keluar ini tuh, sayang." kata mas Jati lembut. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil jaket, mengenakannya. Dan mengangkat tas-tas berisikan perlengkapan melahirkan.


"Aku antar ke rumah sakit sekarang, sayang! Kita tidur di kamarku di atas."


Aku menggeleng kecil. "Aku mau didekat Ibunda... Sama mas Jati cuma ditinggal pergi ke bawah. Aku kesepian mas, apalagi mas Jati juga mau ujian!"

__ADS_1


Mas Jati menaruh tas minggat diatas lantai, ia menangkup wajahku. "Ini konsekuensinya Lilah! Aku harus menikahimu disaat aku belum menjadi dokter! Ini juga menjadi beban bagiku."


Mas Jati melepas pipiku, ia mengangkat semua barang-barang menuju keluar kamar.


Aku berusaha untuk berdiri, dan disaat aku mengambil tas yang masih tertinggal di lantai. Aku merasa seperti pipis sambil berdiri.


Aku bergeming, air yang keluar dari pakaian dalamku langsung masih keluar terus meski aku tahan-tahan.


Mas Jati yang masuk ke dalam kamar membuang nafas dengan kentara.


"Malah pipis sembarangan!" guraunya sambil tersenyum lebar. Aku mendengus kesal saat ia mendekatiku. "Kan, dibilangin dia mau main bola sama papa! Sudah ayo mandi dulu sebelum pakai Pampers celana."


Mas Jati merangkulku, membawa ke kamar mandi dengan hati-hati.


Setengah jam persiapan, Ibunda dan Ayahanda mendatangi kamar. Mereka pasti mendengar penuturan dari pelayanku.


"Apa cucu Ayahanda sudah mau keluar?" tanya Ayahanda sambil menatapku khawatir. Beliau bahkan duduk di tepi ranjang.


"Sepertinya butuh induksi persalinan, Ayahanda. Tapi kita ke rumah sakit dulu."


Induksi persalinan?


Aku mengelus perutku yang terasa begitu kencang, belum apa-apa aku sudah gemetar takut. Aku merangkul lengan Ayahanda. "Nda... Lilah mau nangis, Lilah ta-kut." ucapku tanpa malu, terdengar seperti bocah yang mau di tinggal di tempat asing. Padahal waktu pergi dari sini saat SMA aku pergi dengan kepala yang terangkat.


Mas Jati mendesis, Ibunda mengulum senyum.


"Nda..." Aku menggoyangkan lengan Ayahanda. "Lilah takut, Nda! Lilah gak berani melahirkan..., Lilah... Huaaaaa....."


Tangisku pecah saat Ayahanda hanya diam membisu dengan detak jantung yang berdegup kencang.


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2