
Dalilah.
Aku dan mas Revi langsung menunduk saat pintu bus terbuka. Mata kami saling bertatapan dengan senyum was-was, tapi wajah mas Revi yang begitu dekat dengan nasi kotak membuatku iseng untuk menaruh sambal di bibirnya.
Ia terkejut sambil menahan pedas dengan wajah merah, mata melotot.
Aku menahan tawa dan terus merapatkan badan saat suara tapak kaki semakin mendekat.
Ssstttt...
"Kalian?" Aku menoleh dengan gerakan memutar perlahan, meneliti celana panjang kain yang dikenakan seorang laki-laki.
Aku mendongak sambil cengengesan.
"Kami berdua cuma makan disini, Eyang! Bukan pacaran!" jawabku sembari mengatupkan kedua tangan yang masih belepotan nasi dan sambel. Aku langsung menyembunyikannya saat sadar jika itu tidak sopan.
"Maaf, eyang!" kataku menunduk.
"Eyang lelah. Eyang mau istirahat!"
Aku langsung mendongkak. Wajah eyang memang terlihat lelah, karena usia beliau yang sudah sepuh dan suasana di dalam sangat panas, bising, dan eyang tidak terbiasa dengan keramaian yang tidak kondusif.
"Eyang pusing?" tanyaku. Eyang kakung menyandarkan tubuhnya di jok bus sembari memejamkan matanya.
Aku menyaut air mineral sebelum keluar dari bus untuk mencuci tanganku.
Mas Revi malah celingukan bingung saat aku menatapnya di depan pintu bus sebelum turun.
"Ayo..." kataku tanpa suara.
Dia langsung berjalan pelan-pelan seperti takut membangunkan eyang.
"Eyang kenapa? Apa eyang akan marah karena kita berduaan di dalam bus?" tanya mas Revi sembari mengucurkan air mineral kemasan untuk mencuci tanganku.
"Eyang capek! Lilah mau nemenin eyang! Tapi kalau mas Revi mau balik ke dalam gak papa! Aku tahu mas Revi gerogi." jawabku sambil tersenyum lebar. Kini giliran aku yang mengucurkan air mineral untuk mas Revi cuci tangan.
"Aku juga mau nemenin kamu!" sahutnya langsung.
Aku tergelak singkat. "Yakin?" selorohku. Ia mengangguk pelan. Aku mendekati bodyguard untuk memintanya mencarikan teh hangat sementara kami berdua masuk lagi ke bus.
Aku mencari minyak kayu putih yang slalu aku bawa kemana-mana.
"Maaf, Eyang." Aku mengoleskan minyak kayu putih di pelipis eyang dan memijatnya, aku juga memijit punggung beliau. Eyang mengerjap sebelum terpejam lagi.
__ADS_1
Mas Revi bergeming, wajahnya begitu parno. Tapi dia ini lucu. Dia takut, tapi juga berani dalam satu waktu.
Aku salut kepadanya, aku juga menghormati setiap perhatian kecilnya.
Bodyguard masuk sembari membawa kantong plastik putih berisi teh hangat, ia mengangguk hormat kepadaku. "Silahkan ndoro putri kembali ke dalam gedung olahraga!"
"Terimakasih!"
Aku menaruh minyak kayu putih sebelum melenggang pergi ke dalam gedung olahraga. Mas Revi setia disampingku.
Sampai keberadaan kami di lihat banyak orang.
Aku hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangan seraya berjalan pelan-pelan diantara banyaknya orang yang melihatku penuh atensi. Beberapa orang dengan sengaja memotret kami berdua atau dengan secepat kilat wifie di depanku.
Aku tahu, aku dan mas Revi pernah viral karena kejadian itu. Tapi semoga mereka melihatku sebagai siswa yang sedang berlomba. Bukan seorang putri mahkota.
Mas Revi memegang bahuku, sedikit mendorongku pelan-pelan agar terbebas dari kerumunan orang. Sampai suara bariton membuat semua orang terkesiap.
Pengawal membuka jalan agar mempermudahkan ku bergerak, bergabung dengan keluargaku dan tim hore lainnya.
Sungguh kacau sekali. Aku seperti artis ibu kota, banyak penggemarnya.
"My best princess..." ucap Ayahanda bangga. Beliau mengusap keringat yang membasahi keningku. "Hebat! Tidak salah Ayahanda memberimu izin untuk menari kontemporer."
Ibunda ikut memelukku. Ini berlebihan! Tapi ya sudahlah, mau gimana lagi. Bagi mereka aku ini masih bocah yang sudah coba-coba berpacaran.
Aku duduk disamping Ayahanda, membiarkan mas Revi berkumpul dengan teman-temannya.
Aku mau dia menikmati masa mudanya, tidak hanya melulu soal aku.
***
Dua jam berlalu. Kami semua sudah kehabisan tenaga karena sedaritadi hanya duduk dan menyaksikan perlombaan dari daerah lainnya.
"Kita pulang! Pengumuman perlombaan akan diumumkan bersamaan dengan berakhirnya lomba basket. Istirahat dan patuhi peraturan!" titah Ayahanda selalu raja, bukan ayahku saja.
Aku merenggangkan otot-otot tubuhku. Semua rasanya pegal dan paling enak nanti di hotel adalah nobar sambil bersantai-santai.
***
"Senja dan pagi! Kamu milih mana?" tanya mas Revi saat kami berada di roof top hotel ditemani para bodyguard.
"Aku suka pagi! Karena bunga mekarnya setiap pagi dan layu saat senja."
__ADS_1
"Tapi kamu bukan bunga!" cetusnya. "Kamu Dalilah!"
"Tapi aku mirip seperti bunga! Bunga kamboja yang hidup di tanah kuburan. Hanya ada beberapa orang yang mau mendekatiku dan berani mengambilku dari sang tuan tanah alias Ayahanda."
Aku tersenyum miris dan mas Revi membuang asap elektriknya.
"Kamu ada target menikah di usia berapa?" tanya mas Revi serius.
Aku mengendikkan bahu, lulus SMA aja belum. Belum kuliahnya susah apa enggak. Aku belum kepikiran untuk menikah, tapi boleh juga kalau aku jawab nunggu restu dari orangtua.
Mas Revi kembali membuang asap rokok elektriknya. "Kamu bisa LDR?"
"Long distance relationship?" Aku membeo. "Lilah pacaran baru sekali, ini aja seperti kakak dan adik, gak romantis! Tapi kalau LDR... Aku juga gak tahu bisa enggak! Lilah belum nyoba."
"Besok aku kuliah di luar negeri, jadi kemungkinan besar kita akan LDR! Kamu siap?" Mas Revi melihatku lekat-lekat.
Aku menggeleng tidak tahu. "Mas Revi punya cita-cita kuliah di luar negeri?" tanyaku dulu sebelum menjawab iya atau enggak.
"Ada! Aku punya cita-cita jadi dokter seperti Daddy dan di negara empat musim aku kuliahnya, bisa di Eropa atau Australia. Belum pasti!" katanya menjelaskan.
"Lilah juga mau kuliah di luar negeri! Jadi kemungkinan besar kita memang akan berpisah untuk masa depan kita masing-masing."
Hening...
Aku tersenyum miris hatiku. "Turun yuk, mas Revi harus istirahat untuk pertandingan besok!"
"Kamu gak mau menikmati kebersamaan kita dengan waktu yang mepet ini?"
Mas Revi berharap. Aku terkekeh.
"Lagian kalau mepet-mepet banget bodyguard bakal memisahkan kita. Gak inget kalau kita ini berlima, tidak hanya berdua!" ujarku sambil menunjuk mereka yang duduk santai sambil menunggu dua remaja berpacaran.
"Kalau pacaran aja dijaga besok kalau udah nikah apa juga harus di jaga?" seloroh mas Revi. Aku malah kepikiran.
"Nanti Lilah tanya Ibunda! Ayo turun, bentar lagi makan malam dan Lilah mau nobar sama teman-teman!"
"Gak boleh! Kalau aku istirahat berarti kamu juga di kamar! Tidur!" timpal mas Revi langsung.
"Lilah mau girls night out, yee! Ayahanda sudah ACC! Asal Pandu ikut!" jawabku santai.
Mas Revi menggerutu kesal seolah iri karena gak bisa ikut kumpul bareng-bareng.
"Pandu ikut kalian itu pasti cuma ngevlog dan rusuh. Mirip kamu! Bawaannya cuma bikin rusuh hatiku! Paham?" sungutnya sebelum membiarkan malam ini menjadi hari dimana aku tahu jika nanti kebersamaan ini tidak akan terjadi lagi saat kami terpisah oleh jarak.
__ADS_1
...Happy Reading...