
Revi
Enam hari yang melelahkan bagiku. Demi Tuhan. Ternyata menjadi Dalilah tidak semudah yang aku bayangkan. Menari tak semudah memantul-mantulkan bola di atas lapangan, atau membuat sesaji yang harus dengan hati ikhlas dan tubuh yang bersih.
Otot dan syaraf ku menegang semua, kepalaku tidak tanggung-tanggung merasakan pening yang begitu karuan. Dalilah benar, tidak ada yang mau menjadi sepertinya bahkan hanya menjadi abdi dalem saja sudah seribet ini.
Wajar sekali kalau ia kadang tidak punya waktu untuk menghabiskan hari denganku atau membalas pesan WA-ku dengan cepat. Kini, aku mengerti kenapa ia slalu berkata maaf sebelum membalas pesanku. Ia tidak mau aku salah paham karena kegiatan-kegiatannya di rumah, bahkan aku kini mengerti kenapa ia memilih untuk tidak meledak-ledak seperti saat pertama kali bertemu denganku.
"Rev, jadi pakai studio?" tanya mommy seraya menghempaskan tubuhnya di dekatku.
"Jadi, Mom. Aku booking malam ini!" balasku tanpa mengalihkan pandanganku dari buku sejarah kerajaan. Buku yang aku pinjam dari perpustakaan istana saat aku sering berkunjung di rumah princess.
"Serius banget." goda mommy riang seraya menyenggol lenganku.
Aku terkekeh seraya menutupnya. "Aku tetap akan jadi dokter, Mom. Ini cuma selingan aja."
Mommy terkekeh seraya menghirup nafas dalam-dalam. "Mommy suka lihat tekadmu, memang harus seperti itu!" Mommy menepuk-nepuk punggungku.
"Dia kuat, kamu pun juga harus kuat! Banyak tantangan, dan mommy yakin. Tantangan yang kalian hadapi tak sebanyak tantangan yang mommy hadapi saat harus... harus LDR'an dengan daddy!" kata mommy, terpaksa menyunggingkan senyum manis di bibirnya.
"Aku tahu!" sergahku sebelum menatap mommy.
"Daddy memang bad boy, dan mommy harap kamu sewajarnya saja menjalani masa mudamu, Rev!" kata mommy sambil menghela nafas.
Aku tergelak saat nada suara mommy terdengar begitu gusar dan penuh keprihatinan.
"Itukan dulu, daddy sekarang jadi dokter hebat! Udah ya, Mom. Aku mau siap-siap dulu."
Mommy berdecak kesal. "Mommy kesepian... Apa kakak Asmira, mommy jodohkan saja ya, Rev! Biar cepat-cepat nikah dan mommy punya cucu."
Aku mengangguk cepat. "Ide bagus, Mom! Biar mommy punya kesibukan lain. Lagipula besok Revi kuliah di luar negeri jadi kakak harus hamil sebelum aku pergi!" kataku seraya beranjak.
"Rev!"
__ADS_1
Aku berdehem seraya menatap mommy.
"Kita sudah bicarakan ini, Mom. Aku mau kuliah di luar negeri! Suasana baru, pertemanan yang lebih luas, dan mandiri." ujar ku penuh tekad.
"Itu tandanya kamu siap berpisah dengan Dalilah?" tanya mommy berusaha meyakinkan aku bahwa aku siap dengan keputusanku.
Aku menghela nafas. "Kita sama-sama tahu, Mom! Jodoh, maut, rezeki adalah rahasia Tuhan. Aku percaya kalau Lilah jodohku, kita akan bertemu lagi di lain waktu yang akan mendewasakan kita berdua. Lebih dewasa dan princess lebih terlihat..." Mommy berdehem. Aku tersenyum lebar.
"Lagipula, Lilah masih lima belas tahun. Masih banyak laki-laki yang akan mendatanginya, belum lagi perjodohan diantara sesama bangsawan. Apalagi adiknya. Aku benar-benar ingin mengajaknya ke lapangan tembak dan memberinya sepucuk pistol, agar dia tahu aku juga punya keahlian yang dapat melindungi princess!"
Mommy terbatuk-batuk dengan gaya sok tidak tahu sama sekali. Padahal mommy lebih akrab dengan paduka raja dibandingkan aku.
"Sudah sana siap-siap, putri raja tidak bisa pulang larut malam. Lagian besok Senin kalian udah sekolah! Udah sering ketemu lagi jadi tidak perlu berkunjung ke istana setiap hari. Kamu juga harus latihan basket lebih rutin!"
"Iya... Iya..." sungut ku lantas menaiki anak tangga.
Aku hanya butuh waktu setengah jam untuk bersiap-siap dan melesat cepat ke studio musik yang disewakan untuk umum. Di sini juga tempat nongkrong ku dan teman basket.
"Jadi mas?" tanya operator studio.
Banyak kenangan disini, tepatnya kenangan dengan mantan pacarku dulu. Tapi, aku harap kebersamaan dengan princess bisa mengganti kenangan-kenangan manis disini, menjadi kenangan yang tak aku lupakan di saat aku meninggalkan kota ini nanti.
Aku memang ingin kuliah di luar negeri, di Melbourne. Aku suka cuacanya dan hewan liarnya. Dan keahlianku dalam menembak bisa aku realisasikan disana. Benar-benar menakjubkan!
***
Gelap sudah datang dan cahaya lampu kota mulai menerangi jalanan. Aku siap menyambut princess hari ini dan ia pun benar-benar datang tidak sendiri, sesuai janjinya kemarin.
Aku mengangkat sebelah alis. "Bimo." batinku sambil mendekati princess.
Dan kenapa harus dia yang menjadi teman princess keluar malam ini, kenapa tidak abdi dalem yang lain saja. Kedekatan mereka benar-benar membuatku risau sekaligus curiga.
Tidak hanya di sekolah, bahkan di istana mereka berdua sering terlibat dalam kebersamaan. Mungkinkah Bimo suka dengan princess, atau hanya sebatas seorang abdi---pelayan yang patuh kepada perintah rajanya.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak mengerti, namun kenyataannya princess justru menjelaskan tanpa aku minta seraya mengajakku untuk makan malam. Dia lapar, atau hanya pengalihan semata.
Sekarang aku paham, Bimo dan Dalilah menjadi dua manusia yang tidak bisa berada dalam radius jauh. Mereka akan slalu dekat dan aku benar-benar harus menyiapkan strategi khusus.
Aku membelai rambutnya saat princess mengamati makan malamnya.
"Aku bakalan bantu, Bimo. Jika itu membuatmu senang dan aku tetap menjadi memilikimu." kataku dengan serak.
Princess tersenyum lebar lantas mengangguk cepat. "Mas Revi yakin? Lilah suka kalau mas Revi mau bantu Bimo. Kasian dia, Lilah prihatin."
Aku mengelus kembali rambutnya. Siapa yang rela kehilangan gadis polos yang mempunyai hati selembut sutra begini, bahkan rambutnya halus sekali dan wangi.
Aku benar-benar tidak rela Dalilah pergi dariku, paling tidak untuk masa-masa SMA ini sebelum aku mengejar cita-citaku untuk masa depan yang cerah.
"Buruan dimakan, sebentar lagi cafe bakal ramai dan kamu pasti gak nyaman dilihatin." kataku sambil tersenyum.
Princess mengangguk dan ia pun benar-benar menghabiskan makanannya tanpa sisa.
Aku tersenyum lebar sebelum aku beranjak ke kasir. "Dan kamu tidak menyisakan sedikitpun air di dalam gelas mu. Kamu benar-benar lapar?" tanyaku.
Princess menyunggingkan senyum dan terlihat menggemaskan. Slalu menggemaskan.
"Lilah lapar dan sedang dalam masa pertumbuhan!" elaknya sambil membuang muka dengan pipi yang merona.
Aku terbahak. Benar-benar cewek langka. batinku seraya membayar makan malamnya.
Tak lama, kami berdua kembali ke studio. Teman-temanku sudah datang, begitu juga Derren. Cowok yang di gandrungi banyak wanita. Semoga princess tidak.
Cukup menggandrungi aku saja.
"Aku bakal nge-band. Kamu lihat ya." kataku. Princess mengangguk setelah kembali ke sisi Bimo. Pengawalnya.
Aku bertaruh, Bimo tidak punya keahlian khusus dalam berkelahi, atau memegang senjata api. Dua hal yang dibutuhkan untuk seorang penjaga. Hanya saja senyum manis di bibirnya saat menyapa princess dengan penuh hormat membuatku paham. Laki-laki ini punya etika dan sopan santun yang tinggi.
__ADS_1
Aku yang remuk di hatiku, namun juga ada pengharapan, baginya.
...Happy Reading...