
Dalilah.
Aku menenteng keranjang buah seraya mengikuti langkah Bimo di koridor rumah sakit setelah kami berkutat di jalanan kota yang macet di Sabtu sore.
Aku ingin banyak tanya perihal penyakit orangtuanya, namun aku sungkan karena ia begitu berbeda. Ia tampak sedih, seolah banyak yang bergulat di benaknya.
Kami menaiki lift, saat Bimo selesai memencet tombol lantai yang hendak kita datangi. Aku mendongak, menatapnya.
"Parah ya?" tanyaku hati-hati.
Bimo tersenyum kecil.
"Gak mau jawab?"
Bimo menggeleng.
Aku hendak memundurkan tubuhku, namun lift tua di rumah sakit umum pusat ini mengalami guncangan hebat. Aku panik sekaligus terkejut saat Bimo memegang punggungku dengan sigap supaya aku tidak terantuk dinding, ia menatapku sebentar sebelum kami berdua salah tingkah.
Aku buru-buru menegakkan tubuhku, sedangkan Bimo dengan pelan melepas tangannya dari pinggangku.
Matanya begitu sayu dan kaget dalam satu waktu.
"A-ku gak papa, Bim! Aku cuma kaget." jelas ku untuknya agar tenang. Namun wajahnya masih saja risau sekali. Aku yakin, sekalipun aku kejedot tembok tadi, ia pasti hanya memastikan apakah kepalaku benjol atau tidak. Fix, dia sedih pasti karena orangtuanya.
"Iya." jawabnya sebelum pintu lift terbuka.
Bimo berjalan mendahuluiku dengan langkah lebar-lebar sehingga aku harus berlari kecil untuk mengikutinya.
Tiba di ruang inap ayahnya, aku terkejut ketika melihat tubuh renta dengan banyak selang yang menempel di tubuhnya.
Aku mengamati Bimo yang berbicara pelan dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Fix, itu emaknya. Beliau lantas tersenyum sopan kepadaku lalu membungkukkan tubuhnya.
Aku menggeleng cepat-cepat. Jangan sampai dimana-mana aku harus di perlakukan khusus.
Aku tersenyum seraya menyerahkan keranjang buah yang aku bawa tadi. Buah-buahan yang Bimo pilih sendiri sebagai buah kesukaan ayahnya.
__ADS_1
"Terimakasih ndoro putri." ucap sang ibu dengan ramah.
"Hehehe... Panggil saja Lilah, Bu." balasku tidak enak. Sumpah, aku sedang berada di situasi yang tidak perlu di agung-agungkan. Justru aku prihatin dengan kondisi Bimo.
Di satu sisi ia harus menjagaku, sekolah, mengikuti segala macam printilan kehidupan sehari-hari di istana dan mengatur bisnis orangtuanya. Di sisi lain, ada kerapuhan di dalam hatinya.
Sosok ini---mungkin yang akan menjadi si punggung keluarga di kemudian hari, memegang tangan ayahnya dalam diam membuatku sadar. Perlu banyak retorika untuk menjadi kuat sepertinya, namun ia memilih untuk diam dan mengatasinya sendiri.
"Boleh aku duduk di sampingmu?" tanyaku pelan sambil menepuk pundak Bimo.
Bimo mengangguk sambil tersenyum kecil. Aku duduk seraya tersenyum.
Bimo melepaskan tangan Ayahnya seraya menghela nafas.
"Sakit apa?"
"Ayo kita keluar saja." ajak Bimo. Aku menggeleng. "Sebentar." kataku seraya mengambil tangan ayahnya Bimo.
"Namanya siapa?"
Aku memejamkan mataku seraya merapalkan doa.
Meski aku hidup dalam didikan Islam kejawen, aku slalu memahami bahwa setiap doa kepada Gusti Allah adalah sebuah permintaan dan pengharapan. Apapun itu, tak terkecuali dengan doa-doa yang diucapkan dengan bahasa Jawa.
Aku mengecup punggung tangannya seraya membuka mataku.
"Ayo. Sepertinya senja di rumah sakit akan terasa berbeda, Bim." kataku sambil tersenyum.
Bimo menatapku. Bukan! Bimo melamun sambil menatapku.
Aku heran dan bermaksud untuk mengguncang bahunya, namun Ibunya malah melambaikan tangan agar aku mendekat padanya dan mengikuti beliau keluar kamar.
Dengan gerakan hati-hati aku berdiri dan berjingkit-jingkit agar tidak membangkitkan lamunan Bimo.
"Ada apa, Bu?" tanyaku.
__ADS_1
Di pagar pembatas, aku mendengar dengan seksama saat Ibunda Bimo menjelaskan bahwa putranya bersyukur bisa bekerja dengan keluargaku. Uang yang diberikan Ayahanda katanya cukup membantu keluarga mereka meski masih kekurangan untuk pembayaran obat-obatan dan rumah sakit walaupun sudah menggunakan kartu kesehatan dan lain-lainnya.
Aku tersenyum kecil. "Bimo pendiam, itu saja yang aku tahu darinya, Bu. Jarang ngobrol tentang masalah pribadinya. Termasuk disekolah. Dia hanya menjawab pertanyaan yang aku ajukan, selebihnya aku yang banyak merepotkannya!" kataku.
"Memang seperti itu. Anaknya tertutup, tidak suka basa-basi, seperti ayahnya. Makanya sampai stroke dan terkena serangan jantung karena semua dipikirkan sendiri." Ibunya Bimo tersenyum getir.
Aku bisa merasakannya terutama saat sebening air mata muncul di pelupuk matanya.
"Ayahanda bilang, hidup memang selalu penuh dengan kejutan. Namun, kejutan itu tidak serta-merta datang begitu saja. Akan slalu ada firasat yang menjadi titik awal kejutan yang tidak slalu berakhir indah." kataku lalu menepuk-nepuk punggung Ibunda Bimo.
"Memang seperti itu hidup! Tidak ada yang tahu. Tapi saya bersyukur, Bimo bisa menjadi pengawal tuan putri. Saya harap Bimo tidak membuat tuan putri senewen karena kelakuannya yang tidak biasa." Ibunya Bimo menyeka air matanya seraya menyunggingkan senyum patah melengkung di sudut bibirnya.
Aku tersenyum simpul. "Adikku juga seperti itu, Bu! Jadi aku sudah biasa menghadapi laki-laki seperti Bimo."
Bukannya aku senewen. Tapi laki-laki mirip Bimo dan Suryawijaya itu manis-manis nyebelin. Diam-diam tapi perhatian.
Eh... Mengenai diam-diam tapi perhatian, apa Bimo juga begitu? Wait... bisa aku revisi aja kalimatku tadi? Rasanya tidak. Bimo diam-diam memang memperhatikan aku dan Ibunya yang berdiri di pagar pembatas seraya menikmati senja yang nyaris tenggelam.
Tidak seburuk yang aku bayangkan saat menikmati senja di rumah sakit. Lagian jarang-jarang kan. Senja dan rumah sakit menjadi judul novel atau lagu indie? Jarang sekali.
"Mari saya antar ke studio musik mas Revi." kata Bimo saat disampingku, menggantikan posisi ibunya yang sudah kembali masuk ke dalam kamar inap suaminya.
"Kamu disini aja, temani orangtuamu. Biar mas Revi yang menjemputku!" ujar ku dengan tenang agar Bimo bisa melepas ku malam ini dengan mas Revi.
"Tidak!" jawabnya dingin. Aku tersenyum simpul.
"Kalian berdua butuh bergantian untuk menjaga Pak Cipto, Bim! Yakinlah, aku baik-baik saja. Akan pulang sebelum jam sembilan, tidak macam-macam dan menjadi putri mahkota yang manis tutur katanya dan kelakuannya." ucapku penuh janji, lengkap dengan wajah yang meyakinkan.
Bagiku Bimo ini sudah seperti bapakku sendiri. Harus tepat, pelan, dan meyakinkan agar lolos izin kencan satu malam ini saja tanpa pengawalan.
"Setuju ya, Bim. Aku janji gak nakal, kalau nakal aku dihukum lagi. Aku sudah kapok kemarin. Satu bulan hanya guling-guling di kamar, bikin sesajen, nari, sekolah sendiri, belajar tata krama, sejarah kerajaan, aturan-aturan yang membosankan. Sungguh aku tidak mau dihukum lagi untuk itu semua, Bim. Aku sudah teramat pintar untuk mempelajarinya." kataku begitu fasih dalam beretorika.
Bimo menggeleng lagi. "Saya antar dan harus saya pastikan ndoro putri benar-benar pulang ke rumah sebelum jam sembilan!"
Dih... kalau lolos pengawasan malam ini kan aku mau bikin dare to care dengan anak-anak yang lain, buat dia. Ini malah ngikutin sampai selesai. Dasar, pengawal ngeselin.
__ADS_1
...Happy Reading...