ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 17


__ADS_3

Revi.


Akhirnya demi rindu yang menggebu didalam tubuhku. Aku mengikuti orangtuaku pergi ke rumah calon besannya.


Tak lupa, laptop dan setumpuk dokumen penting laporan kesehatan pasien-pasien yang sempat aku tangani, aku bawa demi bisa mengerjakan tugas dan membahas pinangan ini.


"Papa, kenapa seperti di museum." ujar princess setelah kami sampai di pelataran parkir rumah sekaligus istana milik keluarga besar Adiguna Pangarep.


"Iya... Jangan lari-lari disini, jangan teriak-teriak! Oke anak papa?" kataku menasihatinya.


"Kenapa, papa?" tanyanya polos. Aku menyunggingkan senyum maklum. "Karena princess tidak teriak-teriak, malu!" ujarku sambil mengambil alat tempurku.


"Kamu memang sudah pantas, boy! Daddy akan menunggu bentuk kecil darimu."


"Jangan membahas itu dulu kenapa, Dad! Tidak sesuai situasi." Aku mendesah lelah sembari membuka pintu mobil.


Orangtuaku bergumam lirih seraya terkekeh geli. Aku mendengus. Pasti lagi-lagi aku yang di bahas. Tidak lucu.


"Ayolah, jangan membuang waktu!" cibirku.


Perlu lima menit orangtuaku bersiap-siap sebelum kami berjalan mengikuti abdi dalem ke dalam ruang tamu.


"Monggo lenggah rumiyin."


Orangtuaku mengangguk ramah sebelum duduk. Abdi dalem tadi undur diri untuk memanggil sang empunya rumah.


Princess bukan main, dia penasaran setengah mati dengan apapun yang ada di ruangan ini, ia bertanya banyak apapun yang ia ingin tahu.


Tapi aku dan orangtuaku tidak paham. Mohon maaf, aku lupa belajar sejarah lagi. Otakku masih penuh dengan koas, koas, koas.


"Nanti tanya Tante." jawabku.


"Tante disini?" balasnya kaget. "Tapi kan rumahnya Tante di atas gunung, Pa!"


Iya di atas gunung, maksudnya di khayangan.


Aku menyengir kuda. Mommy meminta princess untuk duduk setelah terdengar banyak suara langkah kaki yang memasuki ruangan ini.


Aku menelan ludahku susah banget. Menghadapi keluarga ini masih membuatku gerogi, tensi naik, dan yang paling sering adalah keringat dingin.


"Selamat pagi!" sapa hangat dari Ibunda Ratu yang membawa dayang-dayangnya.


Aku dan orangtuaku beranjak seraya membungkuk sopan.


"Selamat pagi Gusti Kanjeng Ratu." balas mommy sopan. Ibunda Ratu mengangguk dan mengatakan untuk duduk kembali.


Aku celingukan mencari Dalilah, dia kerja di dalam lingkungannya sendiri tapi kenapa tidak ikut menyambut keluargaku sekarang.


Dayang-dayang tadi menaruh empat cangkir teh manis berserta beberapa jenis jajanan tradisional di atas meja kayu setelah mendapat anggukan kepala dari sang empunya rumah.


"So special!" batinku.


Ibunda ratu tersenyum manis saat menatapku. "Dalilah baru kerja di kantor, tidak suka di ganggu kalau sedang serius!" jelas calon ibu mertuaku. Mimpi apa aku dulu bisa punya Ibu mertua seorang ratu.


Aku menyengir bodoh dan princess menatapku heran. "Papa kenapa?"


Aku menggeleng pelan dan tersenyum masam. Mengingat hak asuh princess Aleta jatuh padamu, aku harus menjelaskan kepada keluarga calon istriku siapa bocil ini.


Aku menatap Ibunda Ratu dengan air muka bingung. Tidak mungkin aku menjelaskannya sekarang disaat bocil ini ada di sampingku. Aku terlalu sedih jika ia tahu bukan anakku.

__ADS_1


Lalu ku tatap orangtuaku untuk mencari persetujuan.


"Mainlah di taman, biar mommy yang bicara!" Aku mengangguk dan melirik ke arah Ibunda Ratu. "Pergilah keluar, siapa tahu nanti bisa bertemu dengan Dalilah!"


Aku langsung mengajak princess keluar dari ruang tamu, mengikuti dayang yang menerima suruhan Ibunda Ratu.


Princess terus menggandeng tanganku, meski kepalanya melihat setiap apapun yang pertama kali ia lihat dengan kagum dan heran.


"Papa, Tante tinggal disini?"


"Iya..."


"Papa, takut!"


Aku menyengir saat princess menatap patung gupolo yang menjadi simbol penjaga di kerajaan. Dan setiap patung gupolo disini kata Pandu memiliki penjaga gaib.


"Tidak apa-apa, jangan dilihat!" kataku lirih. Dan setiap ada patung serupa, princess slalu menunduk. Ingin aku tertawa, tapi aku juga takut.


"Silahkan main disini." ujar dayang istana setelah membuka pagar lapangan.


Aku menatap heran. Playground di tengah lapangan olahraga, menarik. Ada peneduhnya juga. Bisa santai sebentar selama para orangtua melakukan rembugan pernikahan.


"Terimakasih, tapi bisa beri tahu saya dimana kantornya ndoro putri?" tanyaku penasaran.


Dayang ini tersenyum tipis. "Mohon maaf, ndoro putri tidak bisa di ganggu sampai pernikahan nanti!"


"Kenapa?" tanyaku tidak suka. Prewedding saja belum, apalagi fitting baju pengantin. Kenapa calon istriku buru-buru diumpetin?


Aku mengatupkan kedua tanganku, memohon. Dalilah ada semangatku, ingin sekali aku bertemu hari ini sekalipun hanya lima menit untuk asupan energi.


Dayang tadi juga mengatupkan kedua tangannya. Memohon kepadaku untuk tidak memaksa.


Aku mengangguk patuh dan memilih untuk duduk di bantal santai ala cafe sembari membuka laptopku.


Dayang ini duduk bersimpuh tanpa melakukan apapun selain hanya melihat-lihat.


"Titip anak saya sebentar! Kalau haus minumnya ada di dalam tas." kataku memberikan perintah. "Saya harus belajar!" jelasku sebelum terjadi kesalahpahaman, dayang ini mengangguk paham lantas mengikuti princess kemanapun yang bocil itu mau.


Mataku langsung terfokus pada layar laptop dan dokumen-dokumen kesehatan yang aku bawa.


Aku menguap dan merebahkan diriku sebentar di bantal cafe ini seraya merenggangkan tubuhku. Matamu pedas, cukup banyak yang harus aku salin dan ingat. Terlebih angin sepoi-sepoi dan hangatnya matahari membuatku mengantuk.


Aku menatap sekeliling, sepi. Dan yang aku lakukan setelahnya adalah mencari posisi untuk rebahan.


***


Aku mengerjap-ngerjap, mencari tahu siapa yang tertawa kecil sambil menepuk-nepuk bahuku.


"Lilah..." gumamku setengah sadar. Suara cekikikan kembali terdengar saat mataku terpejam lagi.


"Bangun mas, bukan waktunya tidur siang!" pekiknya mengejutkanku.


Refleks mataku terbuka dan menyaksikan Dalilah disampingku.


Dalilah cekikikan. "Nyaman ya jadi ketiduran?"


Aku mengusap wajahku seraya beranjak duduk. Mataku menangkap Dalilah yang memegang dokumen-dokumen laporan kesehatan pasien-pasien ku.


Dalilah menaruh dokumen-dokumen tadi dan tersenyum. "Aku menyalinnya tadi, sedikit!" ucapnya seraya memencet keyboard.

__ADS_1


Aku langsung mendelik, mengamatinya.


"Bukankah kamu kerja? Kenapa disini?" tanyaku seraya mengamatinya dengan seksama.


Kerja di rumah pun, ia harus menyanggul rambutnya dan menggunakan kebaya. Dan ekspetasiku membayangkan bagaimana dengan pagi-pagi ku dan Lilah saat sudah menikah nanti.


"Aku harus menemui orangtua kekasihku tadi untuk membahas pernikahan kita! Maaf, aku memang sibuk akhir-akhir ini agar nanti aku punya banyak waktu untuk hehehe..." Dalilah cengengesan.


Aku mengernyit heran. "Hehehe, apa?"


"Apa, apa!" sungutnya kesal.


"Aku memang bingung! Hehehe apa? Gak jelas!" cibirku seraya memeriksa salinan yang di ketik Dalilah.


Mataku mendelik tajam. Aku langsung menatapnya heran. "Ini semua ringkasan yang kamu buat!"


Dalilah mengangguk pelan dengan raut wajah jumawa.


"Sebagai calon istri yang baik bantuin dong!" kataku sambil menyerahkan lagi dokumen-dokumen tadi. Aku mengatupkan kedua tanganku dengan alis yang naik-turun iseng.


Dalilah mengerucutkan bibirnya.


"Terus kerjaan ku yang bantuin siapa?" tanyanya dengan gemas.


"Pelayanmu banyak, sayang! Aku cuma Bi Tutik." jawabku sambil merengut.


Dalilah terkikik sendiri. Ia membolak-balik dokumen yang ia pegang sebelum mengambilnya setengah.


"Aku bantu sedikit! Oke Prince?" Dalilah menyunggingkan senyum.


Prince.


Aku tertegun sejenak. Aku benar-benar akan menjadi pangeran sebentar lagi dan princess Aleta juga akan mempunyai ayah seorang Prince, menggantikan posisi Prince ayah kandungnya.


Aku tersenyum hangat. "Terimakasih sayang!" ucapku lembut. Dalilah mengangguk. "Aku antar pulang karena orangtua kita sudah pergi ke butik dan kamu ditinggal karena tidur!" ujarnya sambil menggeleng tidak percaya.


Aku tertawa kecil dan memberesi barang bawaanku. "Suasananya asyik untuk tidur, dear. Syahdu!"


Dalilah menyerahkan kunci mobilnya dengan wajah yang penuh tuduhan padaku. "Jadi kalau kamu tinggal disini maunya hanya tidur terus karena syahdu?"


Aku menggeleng kuat-kuat dan meracau sendiri. "Untuk nafas aja aku masih tersengal-sengal apalagi tidur terus disini! Bisa sesak nafas aku setiap hari."


Dalilah cekikikan sendiri. "Jangan lupa nanti bawa tabung oksigen, mas!" guraunya sembari berjalan disampingku.


"Gimana kalau kamu kasih nafas buatan sendiri? Tapi itu lebih bikin sesak nafas sih! Jadi gak usah aja!" kataku bercanda.


Dalilah menghentikan langkahnya. Ia menatapku dengan pandangan bertanya.


"Jadi ciuman bikin sesak nafas ya?" tanyanya polos.


Aku menatapnya bingung, jelas aku salah bicara karena gadis ini belum pernah ciuman.


"Besok ajalah kamu nyoba sendiri! Sekarang aku mau pulang, aku juga lapar, Lilah!" ujarku mengalihkan pembicaraan.


"Nanti kita coba ya mas! Kalau sesak nafas Lilah gak mau lagi."


Aku langsung sesak nafas, bisa-bisanya ia gak mau lagi padahal belum mencobanya. Kalau udah tahu paling juga tuman. Dasar priyayi memang beda.


...Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2