ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 86.


__ADS_3

Dalilah.


...Jalan-jalan di akhir pekan lihat ke kiri dan ke kanan. Gedung-gedung dan macet total semua menyambut riang....


...***...


Kami tergelak saat menyanyikan lagu dari Shaggydog yang kami plesetan liriknya. Kami terjebak macet dan keadaan ini membutuhkan kesabaran ekstra meski bus yang kami tumpangi mendapatkan bantuan iring-iringan patroli polisi.


Om Nanang yang membawa gitar memilih untuk ngamen di dalam bus. Bukan ngamen beneran tapi ada juga yang memberikan uang tips.


Om Nanang terkekeh geli sembari menunjukkan padaku uang hasil ngamennya.


"Banyak, Lil! Bisa di pakai untuk jajan dawet disini!" Aku menyengir kuda saat Om Nanang menghitung uangnya. Ia berdecak kagum. "Banyak banget nih, uang Sultan semua."


Aku mendengus. Gimana bukan uang Sultan, yang naik di bus ini saja anak Sultan semua. Sementara ibu-guru, siswa-siswi dan tim pengawas sekolah berada di bus satunya.


"Ditabung. Buat modal nikah!" godaku sambil cengengesan. Ada perasaan tidak tega saat om ku yang satu ini masih melajang diusia senja, padahal aku sering berdoa supaya om Nanang memiliki pendamping hidup.


Om Nanang mendelikkan matanya. "Buat modal nikah kamu sama Revi?" balasnya dengan raut wajah jenaka.


"Apa Ibunda dulu juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh mas Revi?" tanyaku penasaran. Om Nanang melebarkan matanya, setelah menyelipkan uang sultannya ke dalam kantong jaketnya. Sumpah wajahnya menggelikan, seperti bocah-bocah yang dapat saweran waktu lebaran.


"Memang Revi kenapa?" tanya Om Nanang penasaran. Aku tersenyum kikuk. "Tadi mau pingsan, paling sekarang masuk angin." jawabku yang membuatnya tergelak sendiri.


Aku menyenggolnya. "Diam, om...! Nanti Ayahanda kepo..." Aku panik.


Om Nanang membuang nafas, ia menyentuh puncak kepalaku dan tersenyum manis.


"Bukan kewajiban om untuk menjelaskannya." Aku mengerucutkan bibir. "Tanyakan kepada orangtuamu. Om...."


Om Nanang terdiam sejenak dengan raut wajah dan pikiran yang melesat cepat ke masa lalu, ia terlihat bertarung dengan dirinya sendiri seolah masa lalu itu meloncat dari otaknya, mengguyur kepalanya dengan kenang-kenangan dengan Ibunda.


Aku langsung menyadari ucapanku salah.


Aku menepuk bahu om Nanang dengan pelan. "Jangan ke sana, jangan..." Aku menggeleng, aku takut om Nanang patah hati lagi. Aku mau Om Nanang juga bahagia seperti orangtuaku.


Om Nanang menoleh, ia tersenyum kecil.


"Indahnya cinta pertama... Bagaimana denganmu?"


"Lilah tidak tahu!" jawabku dengan skeptis.


Aku tidak tahu cinta pertamaku akan indah atau parah. Aku hanya berusaha menjalaninya dengan baik dan hubungan ini bukan hanya aku saja yang menjalaninya. Tapi juga mas Revi.

__ADS_1


Aku tahu ini berat, mungkin bisa jadi mas Revi akan lelah dan menyerah. Namun, bolehkah aku menangis karena aku tak ingin membohongi diri kalau aku juga khawatir dengan gejolak jiwa ini? Aku resah, aku takut mas Revi tidak bahagia bersamaku dan aturan-aturan ini.


Aku khawatir ia hanya pura-pura tertawa untuk membuatku lega.


Om Nanang menepuk bahuku. "Jangan khawatir, semesta tahu yang terbaik untuk kita!" Om Nanang tersenyum.


"Jadi apa boleh om meminta sesuatu darimu?"


Aku melebarkan mata. "Apa? Jangan aneh-aneh, apalagi minta Lilah jadi Ibunda!"


Om Nanang tergelak lalu mencubit pipiku. "Ibunda cuma satu! Dan kamu campuran dari Ayahmu dan Rinjani, jadi kamu beda!"


Ya.


Aku mengangguk. "Jadi apa? Kita udah sampai di hotel om."


Rintik gerimis mengundang saat om Nanang berkata dengan lirih kalau aku harus kuat menjadi AKU karena akan banyak tantangan dan jalan berliku-liku dan penyihir jahat yang siap menyerang ku. Dan realitanya lebih mengerikan dari yang aku bayangkan.


***


Rombongan kami sudah berada di lobi hotel semua. Aku tersenyum lega saat ku lihat wajahnya yang tersenyum seraya menatapku dari jauh.


"Kamu tidur dengan Ibunda! Bukan dengan teman-teman sekolahmu." ujar Ayahanda di sampingku. Aku membuang nafas. "Kalau kumpul-kumpul doang boleh, Ayahanda?"


Ayahanda terdiam dengan sorot mata yang melihat teman-temanku yang bercanda, terkekeh-kekeh, dan berfoto-foto ria. Mereka terlihat rame sekali dan ceria bisa berkumpul ke bersama-sama.


Sorot mata Ayahanda melembut, beliau mengangguk sambil tersenyum kaku. "Ditemani oleh Pandu atau Suryawijaya. Itu syaratnya!" Aku langsung berlonjak riang. Rasa haru bercampur lega membungkus hatiku.


"Gak masalah... kalau itu bisa bikin Lilah ketemu mas Revi."


Ayahanda berlalu saat aku harus berkumpul dengan bapak-ibu guru untuk mendengar pengumuman.


"Semua jadwal sudah Bapak kirimkan di WA setiap ketua regu. Silahkan istirahat dan patuhi tata tertib yang Bapak katakan!" ujar kepala sekolah.


Kami semua mengangguk. Semua orang lalu mengantri untuk mengambil kunci hotel dan koper-koper yang sudah di siapkan oleh bell boys di aula hotel.


Aku dan mas Revi bertemu sebentar di dekat pilar secara diam-diam saat semua orang sibuk sendiri-sendiri.


"Akhirnya kita bisa nginap di hotel bersama." gurau mas Revi.


Aku terkekeh, dia sudah kembali normal dengan candaannya.


"Lilah cuma bisa sebentar, jadi mas Revi met istirahat ya..." Mas Revi tersenyum lembut. "Kamu juga. Daah... princess aku ada di kamar nungguin kamu datang ke mimpiku." Ia melambaikan tangan sebelum ke arah gerombolan tim basketnya.

__ADS_1


***


Sepanjang hari ini, aku dan keluargaku hanya menghabiskan waktu di kamar. Kami semua berpuasa mutihan selama tiga hari berturut-turut dan baru besok pagi kami bisa makan bersama-sama.


Aku termenung sendiri di balkon hotel saat malam hari, begitu banyak cahaya kemerlap di sekitarku. Identik sekali dengan kota Jakarta.


Aku yakin dia juga menatap nuansa yang sama atau mungkin sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Ingin sekali mendatangi kamarnya, berbicara di koridor hotel untuk membunuh waktu bersama.


Aku menoleh ke arah Ibunda, Ibunda sedang sibuk membaca dari tabletnya.


"Bun..." panggilku. Ibunda mendongkak. "Ada apa, Mbak?"


Aku membuang nafas panjang sembari tersenyum kaku.


"Lilah boleh keluar sebentar?"


Ibunda mengerjapkan matanya. "Mau ketemu teman-teman?" tanya Ibunda.


Aku mengangguk. "Lilah cuma mau ketemu sama mas Revi di lantai bawah sebentar."


"Minta adikmu untuk menemani, untuk jaga-jaga!" Aku merengut tapi mendinglah daripada dikamar terus.


Aku masuk kamar Pandu dan Suryawijaya lewat pintu connecting door. Mereka hanya berbaring di kasur saat aku masuk ke dalamnya.


"Kenapa, Mbak?" tanya Pandu.


"Temenin Mbak ketemu mas Revi di bawah."


"Alah... pacaran terus. Bosen!" celetuknya yang membuatku mengernyit heran. "Kan bukan kamu yang pacaran! Ayo..." ajakku lagi maksa. Pandu menggeleng, emoh katanya.


"Suryawijaya bagaimana, mau?"


Huahahaha... Pandu terbahak-bahak.


"Lihat to Mbak wajahnya adikmu ini. Melas tenan, ming foto we koyo dikon fashion show, sepaneng! Anti ekspresi-eksperesi club!"


Aku langsung melirik ke layar kamera yang di pegang Pandu. Beberapa kali kami memang mengambil foto bersama tadi dan eksepsinya Suryawijaya gak berubah. Tetap dingin.


"Jadi siapa yang mau nemenin, Mbak? Ibunda dan Ayahanda bakal marah kalau gak ada kalian yang nemenin!"


"Itu urusan Mbak!" tukas Suryawijaya. Aku mengerucutkan bibir dengan pandangan memohon. Pandu dan Suryawijaya sama-sama membuang nafas.


"Cuma satu jam! Mbak harus istirahat karena besok aku juga mau ngevlog perlombaan! Kalau menang jangan lupa saweran, kalau kalah ya siap-siap saja dilarang pacaran dan fokus pada pendidikan. Ha.. ha.. ha.."

__ADS_1


Aku yakin itu bukan candaan meski pembawaan Pandu terlihat cengengesan.


...Happy Reading...


__ADS_2