ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 39


__ADS_3

Dalilah.


Pandu. Adikku yang sudah mengerti cinta ini slalu menemaniku jalan-jalan pagi sembari curhat. Ia sempat membuat Ibunda geger saat menceritakan kisah cintanya dengan anak SMA kemarin-kemarin. Tapi sekarang ia sudah santai walau masih memantau dia lewat sosial media.


"Jadi kapan keponakanku lahir, Mbak?"


Aku mengelus perutku dan tersenyum lebar. "Sebentar lagi."


"Padahal udah gede banget!" sindirnya sembari terkekeh-kekeh. Aku ikut terkekeh geli dan menimpalinya. "Kan emang belum waktunya lahir, kenapa? Mau rawat baby dear?"


Pandu menggeleng cepat. "Cuma mau lihat mirip gak sama aku!" jawabnya ringan. Aku menyeringai, kami berhenti di kursi taman untuk istirahat.


"Kira-kira Arkananta waktu aku lahiran pulang gak ya, Ndu?" tanyaku was-was. Bisa kacau balau keadaannya kalau Arkananta pulang dan menemui mas Jati.


Pandu terkekeh-kekeh, ia tahu saat mas Jati cemburu buta dengan Arkananta saat grup chatting WA gempar dengan kabarku saat hamil.


Arkananta secara pribadi mengirimku pesan dan mas Jati membalasnya. Setelah itu dia nesu, mengadu kepada Ayahanda supaya Arkananta tidak diizinkan untuk masuk ke istana ini.


Ayahanda mengangguk setuju karena beliau paham dengan jadwal pulang keluarga om Sadewa.


Tapi sekarang, mas Jati sudah tidak ngidam, Ayahanda juga tidak mungkin mengusir Arkananta dari istana ini.


Aku sulit membayangkan bagaimana jika Arka pulang.


"Sepertinya mas Jati dan mas Arka harus belajar dari om Nanang dan Ibunda!"


sahut Pandu.


Aku tertawa, ya, mengingat mereka berdua sekarang membuatku semakin sadar bahwa semua bisa baik-baik saja seiring dengan berjalannya waktu. Mas Jati senewen karena banyak yang harus ia pikirkan saat ini. Jadi rasanya itu wajar kalau mas Jati marah-marah tanpa sebab. Toh Arkananta pasti tidak sekejam itu merusak hubunganku dengan mas Jati. Ayahanda dan Om Sadewa pasti akan pasang badan.


"Mbak mau mandi, mau siap-siap ke rumah sakit."


"Melu, Mbak! Aku temenin."


Aku mengangguk pelan sambil berusaha berdiri. Aku sudah cuti kerja saat kehamilanku sudah memasuki usia delapan bulan lebih. HPL sudah sebentar lagi. Aku hanya perlu menyiapkan diri untuk melahirkan.


Beberapa baju bayi baru lahir sudah aku beli dengan mas Jati beberapa hari setelah acara tingkeban. Kamarku kini sudah di penuhi dengan perlengkapan bayi berwarna biru dan monokrom.


Entah kenapa, keinginanku mengoleksi baju tidur berwarna pink berbanding terbalik dengan anak yang aku kandung. Anakku justru laki-laki. Pasti princess Aleta bingung gimana mau ngajak adiknya bermain.


Setibanya di rumah sakit milik mertuaku, aku dan Pandu disambut oleh mas Jati. Ia tersenyum hangat. "Baby dear!"


"Papa." balasku manja. Pandu yang mendengarnya jengah, bahkan setiap kali ia bergabung dengan kami, ia bertanya bagaimana rasanya setelah menikah. Ya, campur aduk jawaban kami saat itu.


"Biasa aja to, jangan mesra-mesraan di depanku! Aku jadi ingat dia."


Mas Jati menyeringai lebar. "Dia, dia, siapa namanya?"


Pandu menjep. "Aku lupa!" elaknya sebelum mendahului kita ke ruang USG.

__ADS_1


Mas Jati menggandeng tanganku seraya menuju ke ruang obygn.


*


"Semua bagus, Gusti! Tinggal persiapan hari H? Sudah siap?" tanya dokter kandungan dengan mata yang berbinar senang.


"Aku deg-degan, Dok! Mas Jati suka jerit malam."


"Jerit malam?" Dokter ini membeo, tapi langsung paham dengan apa yang aku bicarakan.


"Jerit malam? Penelusuran Mbak? Di mana?" sela Pandu dengan polosnya.


Kami semua yang ada di ruangan ini tersenyum lebar. Lagian hobi cari hantu ikut ke ruang obygn, gabung sama orang dewasa. Dasar! Jadi salah kaprah kan pembicaraan ini.


"Wes to, Ndu! Jangan ikut, nanti jerit malam sendiri ke hutan." jawab mas Jati.


Pandu masih saja ngeyel. "Jerit malam sendiri bahaya mas, aku pernah! Eh, pingsan gara-gara ketemu maung jadi-jadian!" sebutnya dengan sok lucu, tapi tetap lucu meski sudah dewasa.


"Makanya jangan suka waton, bikin Ayahanda senewen to pas kamu ilang satu hari?" sahutku setengah kesal.


"Ho'oh, hukumannya aku gak boleh main."


Semua tergelak sendiri dengan cerita Pandu yang masih ngalor-ngidul.


Aku turun dari ranjang pasien dibantu oleh mas Jati. Ia terlihat kurang tidur. Ujian praktek langsung membuatnya sering begadang dan lupa menjaga diri. Namun, hasilnya tak pernah mengecewakan. Mas Jati slalu lulus dengan hasil memuaskan.


"Terimakasih, Dok! Kami keluar dulu.


"Mas sudah makan?" tanyaku mengikutinya entah kemana.


"Sudah, dear! Kamu mau pesan makanan?" tanya mas Jati sambil menatapku.


Aku mengangguk pelan. Mas Jati terkekeh-kekah. "Jago makan ya sekarang!"


Setengah jam kemudian setelah dari pantry, aku dan mas Jati sudah di ruangannya. Seperti kamar, ada tempat tidur, lemari, bahkan ada sofa.


"Mirip hotel." gumamku lirih sambil melihat-lihat. Baru pertama kali aku kesini meski mas Jati sering mengirim fotonya saat ada di ruangan ini.


Mas Jati melepas jas putih seraya menaruhnya di gantungan baju. Ia berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan dan wajahnya.


"Mau istirahat mas?" tanyaku, menyerahkan handuk kecil untuknya yang tersedia di atas nakas.


"Mau nemenin?" godanya.


Aku terkekeh miris, aku ingat adikku dibawah. Dia pasti bingung mencariku karena ia pantang pulang tanpa aku.


"Pandu nanti nyariin, mas! Atau tahu-tahu dia malah kesini diantara perawat!" kataku was-was.


Mas Jati melepas sepatunya dan naik ke ranjang, lalu memejamkan matanya. Aku melihatnya kasian, dengan terpaksa aku ikut naik ke atas ranjang, mencari posisi nyaman untuk memeluknya.

__ADS_1


"Semangat ya, baby."


Mas Jati meniup wajahku tanpa membuka matanya. "Aku bukan baby!"


"Terus?" tanyaku menggodanya.


"Papa muda!"


"Kamu hebat, aku mencintaimu!"


Mas Jati menyunggingkan senyum, ia membuka matanya sebelum tangannya berkeliaran kemana-mana.


"Kunci pintunya mas!" ucapku saat ia sudah serak-serak tertahan oleh gairah.


Mas Jati menyaut remote control dan tersenyum mesum. "Disini serba otomatis sayanggg, gak perlu dikunci seperti kamarmu."


Aku mendesis, mas Jati menggigit cuping telinganya sebelum menggagahi diriku yang hamil tua.


***


Selepas percintaan yang membara seperti siang yang merangkak naik ke atas bumi. Mas Jati menarik nafas sebelum tersenyum lega. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti.


"Mandi, dear! Pakai kaos ku dulu, pakaian dalamnya juga." Mas Jati menyeringai lebar agar aku memaklumi pakaian yang ada.


"Mas yakin aku pakai ini? Kalau Pandu tanya kenapa aku ganti baju gimana? Dia masih di bawah!" Aku menunjukkan layar hpku.


Mbak, muleh! Aku di kantin.


"Jawab aja tadi bajumu ketumpahan saus waktu makan! Dah, mandi gih!" seru mas Jati membantuku berdiri. Tapi gimana caranya saus tumpah dari dalam botol?


Aku mandi dengan gelisah, dan menemui Pandu di kantin rumah ia, ia benar-benar menanyakannya kenapa aku ganti baju?


Mas Jati menepuk pundakku sambil tersenyum lebar sebelum berlalu dengan alasan tugas dari senior.


"Kenapa Mbak?"


"Ketumpahan kuah santan! Ayo pulang."


"Tenan'e Mbak?"


"Tenan, Ndu! Sumpah! Tanya aja mas Jati nanti di rumah."


"Santan opor?


Aku menganggukkan kepala, Pandu tetap curiga. Ia bahkan membaca daftar menu makan rumah sakit yang untungnya ada menu opor ayamnya.


Aku tersenyum lega seraya menggandengnya pulang. Toh, ia bakal tahu besok santan apa yang aku maksud.


...Happy Reading....

__ADS_1


...Maaf kemarin libur....


__ADS_2