ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 25


__ADS_3

Revi.


"Dalilah..."


Aku menyentuh wajahnya, menekuri wajahnya lalu bergerak turun melintasi lehernya. Merasakan kulitnya yang panas.


Nafasku memburu, nafsuku membuncah saat jariku berhenti di tengah-tengah dadanya.


Hanya satu kata untuk mewakili malam ini yang dingin. "Aku ingin, Lilah."


Dalilah mengangguk pelan, meski dalam diriku aku tahu ia ragu, ia takut, ia resah. Aku sama sepertinya, hanya teori basi tentang kenakalan remaja dan sekss tabu tanpa pernah mencobanya.


Inilah kali pertama dalam hidupku, aku benar-benar membuka baju seorang gadis dengan tubuh yang benar-benar ranum, kencang dan indah.


Dia benar-benar indah, dua titik coklat cerah yang membuatku berhenti bernafas saat melihatnya.


"Aku menghormatimu, Lilah. Tapi untuk ini biarkan aku yang berkuasa." bisikku di telinganya, menikmati aromanya dan berlabuh pada dua titik yang mengeras dan tegang.


Kenikmatan menghujam diriku, sekujur tubuhku menegang karenanya. Paru-paruku terbakar karena aku berusaha bernafas disela-sela bibirku yang mengisapnya.


Dalilah mengerang nikmat, pinggulnya bergerak menggoda dengan desakan dangkal, dan sesuatu juga ingin mendesak masuk ke dalam dirinya.


Badanku berkeringat, getaran-getaran semakin menjalari tubuhku, Dalilah mengusap punggung bawahku sebelum aku menariknya naik ke atas ranjang, memutar tubuhku dan membiarkan aku menatapnya lebih baik di bawahku.


Aku tersenyum lebar. Dalilah menutup wajahnya, malu. Dadanya mengembang, menarik nafas dalam-dalam.


Aku berdiri dengan kaki yang bergetar, kecamuk emosi dan gejolak mudaku sedang menghakimiku.


Bisakah aku memulainya sekarang? Aku amatir.


Dalilah mengintip dari sela-sela jari-jemarinya, seulas senyum manis membuatku yakin bahwa ia juga yakin untuk melakukannya sekarang.


***


Aku mengecup keningnya yang penuh keringat dan mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Wajahnya benar-benar sembab dan aku sedih melihatnya tadi benar-benar kesakitan saat aroma dan suara percintaan memenuhi ruangan ini.


"Maaf aku menyakitimu."


Dalilah mengangguk dan terisak. "Sakit." gumamnya tapi juga tersenyum samar.


"Mau minum obat pereda nyeri?" tanyaku.


Dalilah mengangguk dan menahan senyum.


Aku tersenyum maklum. "Mau mandi juga?" Aku mengusap keningnya yang masih berkeringat, entah cuaca mana yang panas, mungkin hanya kamarku.

__ADS_1


"Mandiin."


Apa...


Aku mengangguk dan mengecup keningnya lembut. "Tunggu sebentar!"


"Mas Jati."


Aku yang sedang memungut tissue dan pakaian yang berserakan dilantai mendongkakkan kepala.


"Kenapa? Mau lagi?" tanyaku iseng, padahal tadi ia terus menutup wajahnya dengan bantal saat aku mendesaknya keluar-masuk.


"Mas Jati suka?"


Ya Allah Gusti... Kenapa harus ditanyakan perihal ini. Jelas aku bersyukur atas nikmat yang luar biasa ini.


Akhirnya aku melepas keperjakaanku dan menggagahi seorang putri mahkota yang begitu aku hormati untuk setiap kesetiaannya, kesakitannya, dan peran ketulusannya memilihku sebagai pendamping hidupnya.


Aku laki-laki yang beruntung mendapatkannya, walau sebanding dengan effort untuk bersanding dengan layak di sebelah kirinya. Dan aku harus layak untukku sendiri.


"Suka." balasku jujur, orang sudah halal cap enak, mau hanya tidur saja pun aku suka, yang penting ada dia di duniaku.


Aku keluar kamar untuk membuang tissue dan menaruh pakaian di keranjang kotor. Tapi teras rumah yang terbuka membuatku panik.


Pengawalku masih ada disini, memang kerjanya menjaga dua puluh empat jam, bergantian.


Aku melongok keluar untuk melihat mereka. Kopi, kacang kulit, makanan dan rokok berserakan di atas meja.


"Ngapain mas?" tanya mas Darmaji heran. "Cuma ngecek!" jawabku.


Mas Darmaji mengangguk sambil meneliti aku yang hanya menggunakan boxer dan kaos oblong sehari-hari dimalam yang masih hujan deras.


"Sumuk mas? Opo mendung tanpo udan ning njero kamar?"


Aku berdehem dan berlalu ke dalam rumah.


Suara gelak tawa menggema di depan rumah. "Jian enak tenan, udan-udan kelonan!"


Aku tak menggubris. Ku hidupkan semua tungku kompor untuk merebus air dan membuat mie rebus. Aku lapar.


Butuh tiga puluh menit untuk menyiapkan semuanya sebelum membawanya satu persatu ke dalam kamar.


Dalilah sudah duduk di tepi ranjang, memakai kimono untuk menutupi bagian tubuhnya yang indah.


"Maaf lama... aku lapar, dear! Jadi bikin mie dulu. Kamu pasti mau."

__ADS_1


Dalilah mengangguk, ia bergerak turun dari ranjang dengan wajah yang menahan sakit.


"Makan dulu apa mandi dulu? Kamar mandi di kamarku hanya pakai pancuran air biasa, gak ada air hangatnya. Jadi mandi pakai bak!"


Dalilah terkekeh kecil dan tidak protes. Ia memilih mengambil mie rebus dan menyantapnya pelan-pelan.


"Lilah juga lapar!"


Aku bisa melihatnya menerima dan memahamiku, aku bisa melihatnya menghormatiku sama besarnya dengan caraku menghormatinya.


Entah dengan cara apa aku mengungkapkan rasa syukur ini kepada sang pemilik semesta karena telah mengabulkan doa dan permintaanku.


Dalilah benar-benar lapar, dan ia masih terlihat lapar saat melihat mangkok milikku masih utuh.


"Mau lagi?" tawar ku.


Dalilah mengangguk, gigi kelincinya slalu lucu jika menyeringai lebar. "Ternyata begituan bikin capek."


Aku tergelak, siapa bilang tidak capek, kakiku bahkan pegal semua.


Aku menyuapinya pelan-pelan, sembari melihatnya yang masih malu-malu jika bertatapan denganku.


Dalilah mendesis gemas, bergumam namaku dengan manja.


"Semoga permainanku tidak buruk! Aku juga cupu kalau yang beginian."


Aku meringis, Dalilah cekikikan.


"Cacingnya besar, tapi pendek."


What.....!!! Mataku mendelik.


"Kalau panjang-panjang nanti di kira ular sayang!"


Aku memberinya obat pereda nyeri setelah isi mangkok habis ditelan mulutnya.


"Kalau masih sakit nanti aku periksa, sekarang diminum dulu obatnya terus mandi."


Dalilah mengangguk, ia berterimakasih, setelah percintaan tadi pun ia juga berterimakasih atas pelepasan yang membuatnya mengerang nikmat.


"Aku pun berterimakasih, kamu begitu hmm... aku ketagihan." Aku tersenyum. "Lagi, dan lagi! Ku harap kita sama-sama belajar untuk saling memuaskan."


Ku cium keningnya. "Terimakasih, Lilah. Aku begitu mencintaimu."


Dalilah mengalungkan tangannya di leherku. Aku tersenyum dalam kecupan yang dalam seraya membopongnya ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sekujur tubuhku kembali bergetar saat melihat betapa polosnya istriku.


...Happy Reading...


__ADS_2