ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 15.


__ADS_3

Dalilah.


Aku akan mengejar mimpiku.


Menikmati waktu-waktu sendiriku,


sebelum memiliki tanggung jawab baru.


***


"Ayahanda..." panggilku riang. "Lihat!"


Aku menunjukkan cincinku yang baru diberikan mas Revi sembari menggerak-gerakkan jemariku.


Ayahanda menarik tanganku dan mengamati baik-baik. "Ayahanda bisa membelikan yang lebih bagus dari itu!" kata beliau dengan jumawa.


Aku mendesis. "Lilah percaya, Ayahanda memang yang terbaik! Tapi, Ayahanda sudah tahu kan, bagaimana mas Revi berjuang untukku dan keluarganya?"


Ayahanda menaikkan kedua alisnya. "Apa memangnya?" tanya beliau pura-pura tidak tahu. Namun, bibirnya tersenyum samar.


"Ayahanda akan memiliki dua princess! Princess kecil akan menggantikan princess besar, dan princess besar akan membuatkan princess dan prince bayi!"


Ayahanda langsung terbatuk-batuk dengan sengaja. Aku menepuk-nepuk punggung Ayahanda seraya mengambilkan air putih, Ayahanda lantas menghabiskannya.


"Dalilah!" Ayahanda berwajah tegas, agak pucat sedikit. Mungkin syok dengan ucapanku tentang bayi-bayi mungil nanti.


"Iya Ayahanda."


"Membuat bayi tak semudah kamu mengucapkannya!"


Aku terbahak-bahak seraya menutup mulutku. Ayahanda lucu.


"Lilah tau, mas Revi tau! Cuma belum bisa praktek, jadi Lilah belum tahu mudah atau tidak!"


"Ayahanda tidak bercanda!" seru beliau tegas.


Aku mengangkat bahu dan mengatupkan kedua tangan. "Mohon maaf, tapi sesekali bercanda tidak apa-apa Ayahanda. Biar tensi tidak naik!" kataku sambil tersenyum jenaka.


Ayahanda menghirup nafas dalam-dalam sebelum memintaku duduk. Aku sudah menduga jika pembicaraan setelah ini pasti akan serius.


"Dua puluh lima tahun yang lalu kamu adalah putri kebanggaan Ayahanda dan eyang kakung. Ayahanda adalah pria posesif dan selektif dalam memilih yang terbaik bagimu. Dan sekuat apapun Ayahanda menahan mu tetap menjadi putri satu-satunya, Ayahanda tidak sanggup!"


Aku terharu, mataku berkaca-kaca. "Sekuat apapun Lilah menggantikan posisi Ayahanda. Ayahanda tetap satu-satunya laki-laki tempatku pulang dan menetap! Satu-satunya pria yang mengerti Lilah sejak kecil! Dan Ayahanda tak terganti."


Untuk kali pertama dalam hidupku, aku baru kali ini melihat mata Ayahanda berkaca-kaca. Membuat hatiku tak kuasa menahan haru.


Ayahanda adalah pria galak dan tidak ingin dibantah oleh siapapun. Namun sekarang, hatinya seperti marshmellow. Manis-manis empuk.


"Tetaplah disini. Kamu tidak akan kesepian bersama kami." Ayahanda menepuk pundakku. "My sweet heart!"


Aku mendengus dan mengerucutkan bibir. "Tapi bisakah Ayahanda menjanjikan Revi ketenangan! Adinda sedih kalau Revi tidak nyaman disini bersama kita." ujarku khawatir.


"Stop memanggilmu Adinda!" balas Ayahanda tegas. "Kenapa?" Aku bertanya.


"Adinda adalah panggilan untuk ibumu!" Ayahanda tersenyum lebar.


"Baba dan bubu sudah basi?" tanyaku sambil menyeringai lebar.


Ayahanda menyunggingkan senyum lembut. "Itu waktu muda, Lilah! Sudah tidak pantas Ayahanda menggunakan panggilan itu!"

__ADS_1


Aku cekikikan. Dan waktu berduaan dengan Ayahanda adalah waktu terbaik untuk berbagi cerita dan mengisyaratkan rasa seorang ayah dan anak.


"Terimakasih Ayahanda! Lilah harap, princess bisa bekerjasama dengan baik nanti agar Ayahanda tidak pusing sendiri."


Aku mencium punggung tangan Ayahanda setelah pesta ulangtahunku selesai.


***


Karena terdidik di lingkungan keluarga yang mematuhi banyak peraturan dan ritual-ritual khusus kejawen.


Aku dan Arkananta sering terlibat dalam acara-acara penting di hari-hari ia tinggal di sini.


"Melelahkan."


Arkananta mendesah lelah, ia melepas blangkonya seraya mengipaskan di wajahnya.


Aku tersenyum lebar, senang. "Sudah aku bilang! Kamu akan terkenal jika orang-orang tahu, kamu adalah bagian dari kerajaan ini! Terimakasih." sindir ku dengan wajah jenaka.


Arkananta mengeram. "Aku menyesal slalu mengikutimu kemanapun!"


Aku tergelak, memandangi wajahnya yang masam.


"Inilah pekerjaanku sekarang! Aku kesana-kemari tanpa henti, aku bahkan tidak punya waktu untuk berkencan." Aku memberesi laptop dan semua benda yang aku bawa ke seminar hari ini.


"Carilah gadis lain yang akan mewarnai hidupmu, Ar! Banyak warna-warni yang harus kamu lihat dari setiap gadis yang akan kamu temui!"


"Sudah bicaranya?" Arkananta kembali memakai blangkonnya. Aku berdehem seraya menenteng tas kerjaku.


"Aku harus mampir dulu ke rumah sakit untuk mengantar makan siang! Apa kamu tidak keberatan, Ar?" tanyaku seraya merogoh kunci mobil.


Arkananta menatapku sekilas dengan pandangan serius.


"Please, aku hanya terpaku padanya! Dan kamu tahu bagaimana aku berusaha melupakannya, tapi takdir kembali menuntunku bertemu dengannya lagi, Ar! Aku suka takdir ini! Jika bagimu tidak, itu adalah takdirmu sendiri!"


"Aku yang mengemudi!"


Aku berubah was-was. Arkananta kalau udah kesal pasti berubah menjadi pemurung dan sesuka hatinya.


"Hati-hati..."


Kami berdua masuk ke dalam mobil. Dan benar saja laki-laki ini dengan sesuka hati mengemudikan mobilku ugal-ugalan di jalan.


Aku berteriak ketakutan. "Ar, stop!"


Arkananta menghentikan mobilnya di tengah jalan, dan suara klakson terdengar bersahutan di telinga.


"Ar..." Aku menggeleng takut. "Jangan begini!"


Arkananta memukul stir mobil dan menatapku sendu. "Aku akan menghadiri pernikahanmu, tapi bukan menjadi sepupumu yang turut bahagia. Tapi aku akan hadir sebagai mantan kekasihmu!"


Aku menggeleng kuat-kuat. "Kamu kan hanya pacar bohongan, Ar! Jangan menganggapnya seolah-olah itu benar!" pekikku.


"Selama ini aku mencintaimu! Aku mengagumimu lebih dari seorang kakak sepupu!" teriak Arka.


Aku langsung keluar dari mobil di tengah jalan dengan mata kabur. Aku tidak tahu kenapa slalu saja ada masalah disaat aku ingin bahagia.


Aku celingukan ketika mendengar teriakan Arkananta untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan gerakan cepat, aku menghentikan kendaraan yang berlalu lalang di depanku, hingga motor yang melaju cepat dari arah blind spot menyerempet tubuhku.

__ADS_1


Aku memekik keras dan jatuh di atas aspal. Beberapa orang langsung mengerubungi ku. Aku menunduk, menyembunyikan wajahku yang mungkin banyak orang yang akan mengenaliku. Jantungku deg-degan. Aku takut. Siku ku berdarah, kebayaku sobek, dan telapak tanganku lecet.


"Kamu, jah-at, Ar!" teriakku saat


Arkananta menyibakkan orang-orang yang membantuku.


"Diam!" teriaknya geram. Ia membopongku masuk ke dalam mobil dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Dimana rumah sakitnya!" teriaknya sebelum menutup mobil.


"Lurus dan belok!"


Arkananta langsung memacu mobilku ke rumah sakit milik keluarga mas Revi.


Aku dibawa ke UGD, dan betapapun terlukanya tubuhku, aku lebih terluka saat Revi melihatku dengan tatapan panik dan terkejut melihatku seperti ini. Namun dengan sigap ia mengobati lukaku dengan hati-hati.


"Mau peluk!" kataku sambil merenggangkan kedua tangan.


Revi menggeleng pelan. "Aku akan menyalahi prosedur rumah sakit karena tidak diperbolehkan kontak langsung dengan pasien selain hanya urusan pemeriksaan fisik!"


Tangis ku langsung pecah. Revi tega, padahal saat aku ingin pengakuan darinya dan menunjukkan bahwa Revi begitu mencintaiku di depan Arkananta.


"Seluruh tubuhku perih dan bukan obat merah yang menyembuhkan lukaku. Tapi pelukanmu!"


Revi menyengir kuda, ia menutup gorden pembatas antar ranjang pasien dan menatapku dengan intim.


"Kamu pasti ceroboh hingga bisa seperti ini!" katanya seraya merapikan rambutku.


Aku memikirkan bagaimana caranya memberitahu Revi jika Arkananta penyebabnya. Tapi aku juga tidak mau menambah beban Revi saat ini. Toh besok laki-laki itu pulang ke rumahnya.


"Aku begini karena merindukanmu!" kataku sambil menahan senyum. Terdengar genit, tapi biarlah.


Revi terkekeh geli. "Walaupun rumah sakit ini milik calon suamimu, kamu tetap harus membayar biaya pengobatannya!"


Aku tergelak miris dan mengangguk setuju. "Baik, nanti juga berlipat-lipat ganda kembaliannya!" balasku dengan jenaka.


Revi membantuku turun dari ranjang pasien. "Cepet sembuh, dear! Jangan bikin aku gagal fokus sampai tugas koas-ku selesai!"


Aku mengangguk dan tersenyum lembut. "Makasih ya sudah di periksa, aku anggap hari ini adalah hari sial yang berujung indah!"


Revi memelukku. "Lain kali lebih hati-hati!" Nasihatnya lembut.


"Iya... Tapi lain kali aku masih mau diperiksa sama kamu! Gimana dong?" tanyaku menggodanya.


"Aku nanti yang menyakitimu dengan caraku!" Revi tersenyum mesum. "Pulanglah, UGD hanya untuk pasien gawat darurat!"


"Tapi rinduku masih gawat, Rev!" kataku gak mau pulang.


Revi melepas pelukannya, ia menyibakkan gorden seraya mendorongku keluar dari ruang perawatan.


"Rev..." Aku merengek.


Beberapa mahasiswa koas dan dokter jaga yang melihatku cemberut, tersenyum dan cekikikan manakala Revi menyerahkan tas kerjaku dan mendorongku keluar dari UGD. "Pulang!"


"Bilang sayang dulu!" pintaku maksa. Revi memijat pundakku. "Love you, dear!"


"Terus, Rev! Terus..." Aku mendesah. Revi melepas tangannya dengan refleks, aku nyaris terjungkal jika ia tidak menangkap ku lagi.


Revi menatapku. "Bilang terus saat aku nanti menghujani tubuhmu!"

__ADS_1


Blush... Pipiku menjadi semerah tomat.


...Happy Reading...


__ADS_2