
Revi.
Harum dupa dan kemenyan sudah menjadi aroma yang tak asing untuk Indra penciumanku. Bunga setaman dan bunga sedap malam kerap menghiasi isi kamar ini.
Semua bunga wangi, sewangi penata bunganya. Dalilah.
Aku memasangkan kalung emas di lehernya sebelum ikut mematut diri di depan cermin. Dalilah tersenyum lembut, ia menarik jari jemariku yang terdiam di bahunya.
"Terima kasih."
Aku membalasnya dengan senyuman manis. "Ayo, dear baby sudah ditunggu oleh semua orang!"
Dalilah mengangguk pelan, ia beranjak, mematut diri lagi untuk membetulkan kebayanya sebelum mengangguk lega.
Aku tersenyum, melebarkan daun pintu agar bidadari ku lewat terlebih dahulu.
Dan sekarang terjawab sudah keingintahuan ku, berapa banyak jumlah kebaya yang ia punya. Berapa banyak sendal selop yang ia miliki sesuai warna kebayanya.
Banyak sekali, walau sekarang sudah ada beberapa yang ia berikan untuk sepupunya.
Aku merentangkan kedua tangan untuk menangkap princess yang berlari kecil ke arahku.
"Papa."
"Oh my little girl... I miss you, oke!"
Princess Aleta mengangguk-angguk, tanpa sungkan ia mengecup pipiku. "Papa, pliincess mau punya adik?"
Aku mengangguk tegas. "Iya, princess bakal jadi kakak! Seru kan?" ucapku riang dengan kilau binar di mataku. Princess terlihat bahagia meski sekarang ia jarang bertemu denganku, hanya waktu weekend saja saat aku kembali ke rumah.
Princess bersorak gembira, ia melepas pelukannya lalu menghampiri Dalilah.
"Baby."
__ADS_1
Dalilah tertawa kecil saat princess Aleta mengusap-usap perutnya, ia mengusap puncak kepala princess Aleta dan mengecupnya.
"Baby girls or baby boy?" tanya Dalilah bermain tebak-tebakan.
"Pliincess..." menggeleng. "Gak tau mama!"
Aku dan Dalilah tertawa kecil. Dalilah menggandeng tangannya untuk menghampiri kedua orangtuaku yang menunggu di beranda rumah.
Dalilah membungkuk hormat seraya mencium punggung tangan kedua orangtuaku. Orangtuaku bahkan lebih sayang dengannya saat ini, terbukti dengan keistimewaan yang orangtuaku berikan padanya.
Aku cemburu.
"Ayo, mom, dad. Sepertinya semua sudah berkumpul di dalam." ajak Dalilah.
Hari ini adalah tradisi upacara empat bulanan atau mapati kehamilan Dalilah. Kami sekeluarga mengadakan tasyakuran ini untuk mensyukuri segala macam pemberian Tuhan yang paling indah.
Kehamilan Dalilah cukup terbilang tidak rewel, dia santai banget menjalani masa-masa ini. Cuma aku yang ribet dengan segala macam hal-hal yang bersangkutan dengan ngidam.
***
Suasana sakral dan doa-doa yang dipanjatkan oleh Kyai terdengar begitu khidmat.
Aku dan Dalilah sangat-sangat berbahagia dengan hari ini. Hari dimana kami berdoa agar dear baby terus berkembang sempurna di dalam gua garba Ibundanya.
Aku mengatupkan kedua tangan seraya tersenyum lebar. "Sudah belum ngidamnya?" Aku mengangguk pelan.
Ayahanda menepuk-nepuk pundakku.
"Menyusahakan orangtua!" cetus Ayahanda dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Aku mau tertawa, tapi sungguh aku sayangggggggg banget sama beliau. Beliau memang galak, tapi ya galak aja demi kebaikan anak-anaknya.
"Matur nuwun sanget, Ayahanda!" Aku membungkuk untuk mencium punggung tangan Ayahanda. Ayahanda menepuk-nepuk punggungku lagi.
__ADS_1
"Cucuku sudah mempunyai ruh, jadi lebih berhati-hati sekarang!"
Aku mengangguk dengan nasihat Ayahanda. Beliau pergi untuk, menghampiri kesibukannya.
***
"Piye to mas! Kan udah janji mau traktir makan... Emoh aku nek ngapusi."
Pandu!!!
Aku mengusap wajahku, aku lagi siap-siap pergi ke kampus, dan ia muncul secara tiba-tiba.
"Tapi aku mau ujian, Ndu! Sesok wae piye?"
Pandu menggeleng cepat, ia mengikutiku keluar rumah sampai ke pelataran parkir.
"Melu mas!"
Hidungku berkerut seketika. Kok ya ada orang sepertinya. Mau ujian kok melu, mau apa coba di kampus. Mau ngintip, lihat cewek-cewek. Ish...
"Habis ujian nanti aku traktir, ndomas! Aku lama ujiannya, kasian kamu kalau cuma nungguin mas!" ucapku jujur.
"Aku memang mau nungguin mas kok, disuruh Mbak!" jawabnya santai.
"Lilah?" tanyaku memastikan.
Pandu justru menatapku lekat. "Lhaiyo Mbak Lilah, Mbak sopo meneh... Oh..." Pandu berdecak-decak. "Ada Mbak lain selain Mbakyuku?"
Aku masuk ke dalam mobilku. Wes... wes... wes... Terserah dia kalau mau ikutan ujian, biar ikut mumet sekalian mikirin masa depan.
...Happy Reading....
...Maaf sedikit. ...
__ADS_1