
Revi
Sabtu sore yang dingin di bulan Januari.
Aku menatap kopi hitam di kedai kopi Starbucks sembari menikmati sensasi patah hati yang bertalu-talu lagi.
"Ada yang lebih menarik dari kopi itu dibanding aku, Rev?" sindir Reno. "Udah setengah jam kamu kayak gini, Rev! Aku bahkan harus ninggalin Angel di rumah!"
Aku membuang nafas kasar. Menyesap kopiku sedikit lantas menaruh cangkirnya dengan kasar.
Reno semakin berdecak kesal. "Kenapa lagi? Princess rewel!" tanyanya penasaran.
Aku menggeleng. "Princess rewel nyari tantenya. Tante Dalilah!" jawabku lirih. "Dia kembali, Ren. Dia kembali setelah tujuh tahun di telan bumi. Dia kembali lagi, mengganggu imanku!"
Aku mendesah. "Parahnya lagi, kami bertemu lagi disaat aku membawa princess ke mal! Princess slalu memanggilku papa! Dalilah pasti mengira aku sudah nikah!"
Aku mengeram frustasi. "Tujuh tahun, Ren! Aku selalu hidup dalam bayang-bayangnya, aku bahkan tidak bisa mencarinya karena..." Aku memejamkan mata disaat mataku kembali menghangat.
Prince tertembak mati di saat mengikuti penangkapan gembong narkoba, sementara keterlibatannya di dunia entertainment yang bebas menghasilkan anak diluar pernikahan.
Anak itu adalah Princess. Gadis kecil yang menginginkan seorang ibu dan menganggap Dalilah mirip Ibunya. Alasannya simpel, gadis kecil itu sering melihat fotoku dan Dalilah yang berada di kamarku.
Mommy slalu bilang, kami adalah orangtuanya dan aku bisa apa ketika keponakanku sendiri memanggilku papa?
Ibu kandungnya... Ha Ha Ha... Mana ada yang rela merawat bayi merah tanpa seorang ayah dari hasil perkawinan tanpa pernikahan.
Princess tumbuh dengan kasih sayang kakek-neneknya dan aku selama lima tahun lebih.
Reno menepuk pundakku. "Sudah, Rev! Gak lucu malam Minggu nangis di kedai kopi!" sindir Reno.
Aku mengusap wajahku dan menatapnya. "Sakit aku, Ren!" Aku menepuk-nepuk dadaku. "Bahkan disaat princess sudah kembali aku masih jadi koas!" ujarku menahan tangis yang nyaris meledak.
Aku bahkan tidak malu lagi untuk mengeluarkan air mata. Biarlah, Reno bilang aku cengeng. Dia sudah biasa melihatku serapuh ini dalam tujuh tahun terakhir.
Reno terbahak-bahak, ia melemparku tissue. "Jangan gila, Rev! Lo curhat di kedai kopi, di tengah mal lagi! Salah tempat!" cibir Reno.
"Bener kata Angel, Lo goblok kalau urusannya sama princess! Apa kabar dia? Udah nikah sama bangsawan mana?" tanyanya sambil cengengesan.
Aku membasuh mukaku dengan tissue dan diam. Pertanyaannya justru memancing rasa penasaranku.
Tujuh tahun tanpa Dalilah hidupku begini-begini saja, masih hidup dan terbangun setiap pagi.
__ADS_1
Mencoba menjadi papa yang baik untuk keponakanku sendiri. Menjadi koas di rumah sakit milik ayahku sendiri.
Meski begitu banyak cewek-cewek yang hilir mudik menghampiriku. Tapi aku slalu menggunakan princess sebagai alasanku untuk menolaknya.
Aku masih menunggunya, menepati janjiku waktu itu.
Dan kini ia benar-benar kembali, Tuhan mempertemukan kembali dua hati yang patah. Namun bisakah kami kembali utuh?
"Aku gak tahu dia sudah menikah belum, tapi aku yakin belum! Badannya masih singset." ujarku menghibur diri.
Reno kembali tergelak, ia menatapku iba. "Kenapa nggak ke rumahnya? Dalilah kan bukan anak sombong. Dia pasti masih menyambutmu di istana." seloroh Reno.
Aku menggeleng ragu. "Tapi bagaimana jika dia sudah mempunyai pacar? Bisa jadi selama ia tinggal di Melbourne dia ketemu bule, tajir, atau bangsawan dari Inggris!" Aku memegang kedua sisi kepalaku.
"Apalagi kemarin Bimo gandeng tangannya Dalilah!" ujarku berat.
"Lo percaya kan, Rev! Setiap kuncup bunga yang mekar, slalu ada bunga yang gugur. Itulah kehidupan! Princess ada untuk menguji mentalmu, Dalilah pergi untuk menyakinkan dirimu apa kamu benar-benar cinta mati apa tidak! Kehidupan emang seperti puzzle yang perlu kita susun sendiri, Rev!" Reno berujar dengan bijak.
"Ada saatnya kepingan puzzle itu menghilang, entah ketlingsut dimana. Tapi kalau kamu mau mencarinya pasti ketemu!" Reno tersenyum.
"Mentang-mentang udah jadi bapak-bapak beneran, jadi sok bijak Lo!" cibirku, dan sudut bibirku tak kuasa tersenyum.
"Gimana lagi! Angel tekdung, mau gak mau aku jadi bapak untuk anak-anakku! Daripada Lo, jadi bapak jadi-jadian!" guraunya sambil menepuk bahuku.
"Cabut yuk! Aku harus pulang sebelum jam delapan. Anakku bakal rewel kalau papinya gak nemenin bobo, apalagi maminya! Bisa di tendang dari kasur aku!" Reno terbahak-bahak, menertawakan dirinya sendiri yang harus menjadi suami-suami takut istri.
"Kawin enak, Ren?" tanyaku sambil beranjak. Aku penasaran kenapa Angel udah bunting lagi, padahal anaknya masih kecil-kecil. Dua lagi.
"Enaklah! Mana mungkin aku ketagihan sampe Angel kebobolan lagi! Hadeh..., Aku minta dia KB! Tapi Angel ogah! Apa gak ada cara lain, Rev! Biar gak kebobolan?"
"Ada, kalau mau Lo bisa operasi vasektomi!" jelasku.
"Apaan? Gak usah pake bahasa kedokteran, aku gak paham!"
"Operasi saluran sperm, biar gak bunting!" jelasku lagi.
Reno langsung menggeleng ogah.
"Gak asyik lah, ntar on*ni gak keluar! Rasanya ada yang kurang! Ya gak?" Reno meringis kepadaku.
Aku berdecih. "Pake kond*m, gitu aja bingung! Dahlah, gak usah bahas on*ni. Aku mau mampir ke kedai donat, mau ikut gak?"
__ADS_1
Reno terbahak lagi. "Yakin gak pernah on*ni sambil bayangin doi?" selorohnya lagi sambil menyeringai bodoh.
Aku menghela nafas panjang. "Aku gak pernah tenang kalau bayangin doi sambil on*ni! Sumpah, langsung lemes!"
Reno tertawa sampai terbahak-bahak. "Jangan sampai kamu ejakulasi dini, Rev! Gak seru!"
Aku membuang nafas kasar dan meneruskan niatku untuk membeli donat. Princess suka sekali dengan makanan berlubang tengah satu ini.
"Sekalian gak?" tawar ku pada Reno. Dia menyeringai bodoh. "Aku sudah punya di rumah!"
"Bangsat! Otakmu butuh di vakum, Ren! Mesum gak kira-kira!" umpatku kesal.
Reno terbahak lagi. "Boleh deh buat anakku. Dua donat meses pink!" pintanya.
Aku berdehem dan membayarnya.
"Thanks, Minggu depan jangan lupa datang ke reuni Akbar SMA! Semua angkatan ditahun-tahun kita sekolah bisa datang!" ujar Reno seraya menyantap donat untuk anaknya.
"Aku rasa Bimo bakal datang dengan Dalilah! Atau kamu bisa mengajak Dalilah pergi bersama." lanjut Reno.
Aku memikirkan dan terus memikirkan. Namun aku hanya bisa menggeleng pelan.
"Taulah! Balik yuk, princess nungguin donatnya!"
Reno berdehem. Kamipun berpisah di parkiran.
Sebelum aku pulang, aku menyempatkan diri berhenti di pagar rumah Dalilah. Memandangi gerbang rumahnya dari kejauhan, berharap malam ini dia keluar.
Bertahun-tahun aku hanya bisa seliweran di jalanan ini tanpa berani menanyakan dimana Dalilah berada.
Bertahun-tahun juga aku berharap bisa bertemu kembali dengannya. Dan ia benar-benar sudah kembali.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Mengajaknya bicara? Mengajaknya jalan-jalan? Atau mungkin menggunakan princess untuk akal-akalan?
Aku memukul stir. Princess hanya akan menambah masalah kalau tahu Tante mama ada disini, bisa jadi nanti malah rewel minta kesini terus!
Aku mengambil donat dan menggigitnya kuat-kuat. Sungguh dosa apa aku ini, kenapa ujian kehidupan yang aku lalui terus keluar-masuk tanpa henti. Berbeda dengan Reno, dia keluar-masuknya enak terus.
Hah... Kapan giliranku?
__ADS_1
...Happy Reading...