ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 51.


__ADS_3

Sebelum melanjutkan kisah Dalilah dan Revi. Ada baiknya aku minta maaf terlebih dulu karena sudah menunda cerita ini selama satu bulan Maafkan aku ya reader atas keterbatasan waktu yang aku miliki. Semoga masih setia untuk membaca kisah ini.


...Salam sehat, Skavivi. ❤️...


...🌺🌺🌺...


Dalilah.


"Dimakan ya, soalnya itu rasa bibirku sekarang!" Revi mengerutkan wajahnya dengan gemas sambil tersenyum manis sebelum melambaikan tangan dan buru-buru pergi dariku.


Aku tersipu malu sambil ku lihat permen yang ada di tanganku. "Permen rasa kopi! Ish... pasti manis-manis pait!" gumamku, seraya membuka bungkus permen dan memakannya.


"Manis... Pasti bibirnya mas Revi juga begitu."


...***...


Seminggu berlalu dengan teramat lambat.


Revi sibuk berlatih basket dengan teman-temannya disekolah, sedangkan aku memilih berlatih dirumah dengan guru tari ku.


Seminggu kami tidak bertemu, namun tidak bagi Bimo. Dia ada di sampingku sepanjang hari selama ia menjalani tugasnya. Kalau aku tanya kenapa tidak berlibur, aku dirumah kok. Jawabnya slalu begini. "Gajiku nanti tidak utuh, ndoro putri."


Apakah uang begitu penting untuk Bimo sekarang? Sampai-sampai ia membunuh masa mudanya hanya untuk menjagaku delapan jam dalam sehari.


Bimo hanya tersenyum kala aku slalu bertanya tentang kehidupannya.


Seperti pagi ini, sehabis subuh ia sudah datang ke istana. Mengenakan pakaian olahraga lengkap dengan jaket kebanggaannya.


"Ya Allah, Bim! Lomba aja masih nanti jam delapan, ini kamu ngapain pagi-pagi sudah kesini. Mau nemenin aku make up?" tanyaku dengan heran.


Bimo tersenyum dan mengangguk. Aku menghirup udara pagi yang begitu segar sebelum menghembuskannya perlahan.


"Oke, fine. Sebenarnya aku juga grogi, Bim! Aku malu untuk tampil di depan banyak orang." urai ku sembari mengayunkan kakiku saat kita berdua duduk diatas pendopo kayu.


"Anggap saja kamu menari di bangsal kencana, ndoro ayu. Tidak ada yang berubah, hanya bedanya kali ini dinilai oleh juri." jelas Bimo begitu tenang untuk didengar bahkan menyingkirkan suara ayam ketawa yang berkokok lantang.


"Kenapa kamu gak ikut saja sih! Kamu udah bisa nari kan? Sudah tau pakem-pakemnya. Biar aku ada temannya gitu. Jujur aku malu, Bim. Aku nari tradisional diantara geliat tarian K-POP atau break dance lainnya. Seolah ini tuh jadul sekali. Aku malu." desahku sebelum mengusap wajah.

__ADS_1


Bimo tertawa kecil saat melihatku yang begitu kentara menunjukkan kegugupan.


"Tenang saja. Saya ada untuk mengusir rasa kegugupan ndoro ayu." ucap Bimo dengan serius. Aku terkekeh saat melihatnya.


"Kamu mirip Ayahanda! Sok serius." Aku melompat dan berkata. "Aku mandi dulu ya, ada ritual yang harus aku lakukan. Biasa... mandi kembang sambil mencukur bulu ketiakku."


Bimo menahan tawa di bagian akhir ucapanku. Begitupun aku yang menyadari kenapa aku terlalu terbuka untuk membicarakan itu. Aku mengendikkan bahu dan masuk ke rumah.


"Sudah siap, Mbak?" tanya Ibunda setelah aku menyelesaikan ritual ku di kamar mandi. Ritual akhir bersamaan dengan puasa mutihan yang aku jalani hari ini.


"Tinggal dandan, Bun! Bimo dimana?"


Ibunda tersenyum lebar seraya menyisir rambutku. "Bimo ada di tempat biasanya kalau dia menunggumu, Mbak."


Aku mengangguk seraya mematut diri di cermin. Bunda melihatku di cermin lalu mengusap bahuku seraya tersenyum manis.


"Harus percaya diri! Tidak masalah kalau kamu berbeda, tapi ingatlah, usaha Mbak Lilah tidak akan sia-sia. Kalau pun kalah tidak menjadi masalah, tidak menjadi suatu aib yang memalukan. Oke... Senyum yang manis dong!" bujuk Ibunda.


Aku tersenyum seraya mengenggam tangan Ibunda.


"Ibunda ikut?"


Aku mendengus, lalu beranjak. "Lilah dandan dulu ya, Bun! Nanti jam tujuh harus ke sekolah dulu buat prepare."


Ibunda mengantarku sampai ke ruang rias. Di sana sudah ada abdi dalem yang akan merias wajahku dan membantuku mengenakan pakaian menari.


Seperti biasa, walaupun ini hanya perlombaan biasa. Ritual yang aku lakukan harus lengkap seperti yang biasanya aku lakukan sebelum menari di istana.


"Berdoa dulu ndoro putri."


Aku mengangguk seraya menengadahkan kedua tanganku didepan dada, bergumam merapalkan doa-doa kepada Gusti Allah.


"Sudah selesai. Tinggal ini mahkotanya, jangan sampai tertinggal ndoro putri." Aku tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, Mbok." ucapku sambil mengenakan mahkotanya. Sang abdi dalem mengatupkan kedua tangannya seraya meniupkan kemenyan di wajahku.


Selama satu jam berkutat dengan make-up dan semua kain-kain. Kini aku sudah cantik dan siap untuk menari.


Bimo yang melihatku setengah jam yang lalu beranjak berdiri. Ia mengulurkan jaket yang aku bawa tadi bersama tas ransel yang berisi baju ganti.

__ADS_1


"Naik mobil aja! Motormu tinggal disini!" ucapku setelah memakai jaket.


Bimo memasang wajah berpikir, lalu menggeleng. "Maaf ndoro putri, saya tidak bisa."


"Kenapa? Lumayan to hemat bensin."


"Mas Revi nanti curiga."


"Mas Revi? Pacarku."


Bimo mengangguk dan tersenyum samar.


Aku menepuk jidatku, lupa belum menghubungi mas Revi pagi ini. Ku ambil ponselku di dalam tas sebelum berkata. "Aku telepon mas Revi dulu, kamu jalan aja dulu, Bim!"


Bimo mengangguk dan berjalan menuju parkiran.


Aku menunggu dengan sabar sampai mas Revi mengangkat teleponku. Namun sampai sepuluh menit menunggu, mas Revi tak juga mengangkat teleponnya.


"Berangkat ajalah, nanti juga ketemu di sekolah." gumamku dan bergegas menuju pelataran parkir.


Selama perjalanan menuju sekolah, aku terus mengamati baik-baik ponselku, berharap kabar dari mas Revi. Namun, sama sekali gak ada pesan yang masuk.


Setibanya disekolah, aku sudah melihat Bimo yang berkumpul dengan teman sekelas kami. Mereka datang berbondong-bondong untuk mendukung sekolah, tentunya karena aku mewakili kelas juga.


"Hei..." sapaku malu-malu. Yakin, aku malu. Aku memakai jarik, selendang, aksesoris menari, dan make-up yang tebal. Sangat kontras dengan teman-teman lain yang memakai baju olahraga sekolah.


"Bidadari kesasar ke sekolahan! Mau belajar atau mencari pacar yang lagi sibuk memantulkan bola sembari disoraki cheers leader."


Dasar ketua kelas! Suka bikin aku penasaran.


"Jalan yang ati-ati! Kalau kepeleset nanti malu doang!" serunya sembari terkekeh. Begitupun teman-teman yang lain saat aku berjalan dengan terburu-buru ke arah lapangan basket.


Aku menoleh dan menjulurkan lidah.


"Biasa aja tuh! Mau lari pakai kebaya juga bisa! Mau lihat?" Sombongku bicara.


Bimo menggeleng. Aku tersenyum simpul.

__ADS_1


"Jadi ini yang ngebuat mas Revi sibuk!" kataku sembari mengintip dari kejauhan. Saat mas Revi dan teman-temannya sudah berada di lapangan, dengan tim cheers leader yang memakai baju minimalis lengkap dengan pom-pom girls yang bersorak gembira.


Aku tersenyum simpul saat mas Revi begitu menikmati kegiatannya. Tanpa ingat aku yang terus mengirimnya pesan rindu.


__ADS_2