
Dalilah.
Sekarang, semuanya sudah terjadi. Aku tinggal menerima konsekuensi. Menjalani hukuman, menikmati kesendirian dan tatapan tidak senang dari beberapa orang. Entah apa yang dilakukan Revi diluar sana aku enggan untuk mengawang-awang.
Aku hanya tahu, dia pasti sekolah, latihan basket, nge-band, dan apapun itu kegiatannya yang sering aku ikuti sebelum kejadian ini. Yang berbeda sekarang hanya tidak ada aku disampingnya. Padahal sebelumnya aku dan Revi boleh dibilang sedang anget-angetnya.
Kulihat dari jendela, langit sedang mendung, sepertinya menggambarkan suasana hatiku saat ini. Sungguh, semesta pun bersedih atas kejadian ini. Bersedih melihat Ibunda yang beberapa hari ini tidak terlihat berada di istana.
Kemana Ibunda? Kemana Ayahanda? Kemana Revi? Apa ia juga merasa ada yang aneh dalam dirinya? Seperti aku yang di rindu, gelisah, tidak tenang yang bercampur menjadi satu. Rasanya tidak nyaman seperti mau mual tapi aku tahan. Jadi cuma sesak dan kembung.
Mudah-mudahan dia mengerti kalau aku di sini baik-baik saja dan tentunya setia, jika tidak. Aku pasrah. Karena pacaran dengan Dalilah emang susah.
Kadang aku bertanya kenapa tidak home schooling saja dari dulu, jadi sekalian saja aku tidak tahu dunia luar. Tapi aku juga tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku hanya berada ditembok istana, bersyukur aku sudah jatuh cinta dan menikmati sebentar gejolak ini.
Dan yang pasti, kejadian ini akan menjadi makna tersendiri, membuatku lebih memahami jika dunia itu sedikit jahat. Aku harus lebih berhati-hati sekarang, paling tidak kalau minta peluk ya di ruang privasi atau kalau sedang berdua saja. Ya, setelah aku keluar dari kamar ini tentunya.
Benar-benar gak pernah aku sangka jika hari ini---macam pengantin, aku sudah di pingit. Tidak boleh keluar kamar kecuali kegiatan olahraga, makan, nyuci baju, dan lain sebagainya, yang mengharuskan aku melakukan sendiri kebutuhanku.
Aku tahu kalau Ayahanda marah karena tak hanya masalah ini saja. Ayahanda juga marah karena kemarin setelah aku dan Ibunda menangis bersama di kamar, eyang masih membahas tentang kisah cinta Ayahanda dan Ibunda.
Sekarang aku kecewa pada diriku sendiri, sebagian dalam diriku rasanya lemes oleh tekanan rasa bersalah dan sekaligus malu. Malu bertemu dengan Ayahanda. Harus aku mulai dengan apa, kalimat yang tepat untuk mengambil hatinya lagi?
Hidup ini penuh dengan kejutan, dan kejutannya ada di depan jendela sekarang. Tersenyum manis sembari mengulurkan es krim cone.
Om Nanang?
Aku mendesis jengkel, kenapa harus bujang lapuk ini yang nongol disaat hatiku sedang patah semangat.
"Ayo diambil. Ini gratis Lilah, tidak bayar." Om Nanang menggoyangkan es krimnya, memberi sedikit senyuman lagi.
"Tidak, Lilah sudah kenyang!" elakku. Es krim itu kelihatan enak, warnanya pink seperti warna kesukaanku. Revi juga pernah membelikannya waktu pulang dari nge-band.
__ADS_1
"Yakin? Om Nanang beli buat adik-adikmu juga. Buat keponakan yang lain juga. Ini punyamu! Ayo makan." ujar Om Nanang dengan nada memaksa.
Aku melongok sebentar keluar jendela, mengedarkan pandanganku dengan liar. Sepi, tidak ada yang mengawasi. Tapi sama saja Ayahanda pasti tahu.
Aku merengut dan menggeleng, "Tidak! Ayahanda pasti tambah marah kalau Lilah ambil hadiah itu."
Om Nanang menggeleng, "Santai saja, ini hadiah dari Om karena sudah punya kekasih!"
Aku mendelikkan mata, "Punya kekasih? Siapa? Lilah gak pernah lihat Om Nanang bawa kekasih ke dalam istana!" tanyaku penasaran.
"Makan dulu es krimnya! Nanti baru Om cerita." Paksa om Nanang sembari membuka es krimnya lalu menjulurkan tangannya padaku.
"Buruan dimakan! Om tunggu disini."
Aku menerima es krim itu dengan ragu, ku lihat Om Nanang tersenyum manis sembari menyandarkan kepalanya di kusen jendela. Matanya menatapku dengan lekat.
"Lilah malu kalau dilihatin!" ujarku lalu menunduk.
"Hahaha... Pergilah ke meja belajarmu dan habiskan es krimnya. Kalau udah, kesini lagi. Om kasih tahu jawabannya."
Ah... es krim ini justru mengingatkanku pada Revi. Sedang apa dia sekarang? Sudah satu Minggu aku tidak tahu kabarnya. Terakhir mendengar suaranya waktu itu, waktu ponselku belum disita.
Di hari ini pun aku tidak menemui Bimo di sanggar tari. Kalau Bimo datang kan aku bisa mencari tahu kabarnya dan menitipkan buku diaryku yang berisi kegiatanku sehari-hari. Lalu bertukar kabar lewat surat, dan Bimo yang menjadi kurirnya.
Ah... jantungku mendadak risau lagi. Es krim ini emang tidak memperbaiki moodku justru membuatku gusar. Apalagi saat aku menoleh. Bujang lapuk itu masih saja ada disana, tersenyum lebar.
Aku terpaksa mendekatinya. Penasaran siapa pacarnya. Gadis mana yang beruntung mendapat perjaka tua dengan ketampanan maksimal itu.
"Terimakasih Om." ujarku setelah berdiri di balik jendela. Menunduk tak mau menatap matanya. Pasti Om Nanang menganggap ku Ibunda. Hiyyy...
"Sama-sama, princess." katanya dengan suara lembut.
__ADS_1
Aku mendongak. Ish... Wajahnya nyebelin.
"Sekarang siapa pacarnya Om Nanang?" tanyaku sambil tersenyum kecut.
"Gak ada! Pacar Om hanya di khayalan!" jawabnya sambil menyeringai lebar, "Bercanda... Om cuma mau menghiburmu. Om bawa camilan juga dari pacarmu. Semalam dia datang ke clothing store, merengek meminta tolong agar mengantarkan camilan itu padamu."
Om Nanang menyerahkan sekantong plastik berisi banyak camilan.
"Beneran ini dari mas Revi? Kalau Ayahanda tahu, Revi dan Om Nanang bisa dimarahi lagi. Lilah juga kena hukuman lagi." ujarku khawatir, tapi tidak menutupi kebahagiaan ini. Sekantong makanan ini aku peluk seperti memeluk Revi. Tidak hangat, tapi menyenangkan.
"Ayahanda akan menjadi urusan pribadi Om kalau marah. Sekarang Om hanya menuruti anak muda saja yang kehilangan semangat!" katanya sambil tersenyum jenaka, "Om hanya bisa bantu sedikit!"
Aku mengangguk mantap, "Lilah suka. Terimakasih Om."
Om Nanang tersenyum, lalu raut wajahnya mendadak muram. Ia bersandar di kusen jendela sambil melipat kedua tangannya.
"Kelakuanmu saat muda seperti ibumu. Berani, keras kepala, melakukan apapun yang ingin dia sukai. Itu yang bikin Om suka dengan ibumu. Tapi, dia bertanggungjawab dengan dirinya sendiri. Dia mandiri sejak lulus SMA."
Aku langsung terkesiap, "Katakan lagi tentang Ibunda Om." pintaku sambil menaruh makanan dari Revi. Itu nanti urusannya. Sekarang urusannya bagaimana masa lalu Ibunda. Aku harus tahu.
"Ibumu dulu hanya bekerja sebagai karyawan di toko pulsa dan menjadi tukang cuci. Eyangmu bukan orang yang bertanggung jawab, karena itulah ibumu harus melunasi hutang piutang yang ditinggalkan oleh eyangmu di juragan beras di pasar karang gayam. Dan, takdir menemukan kedua orang tuamu melalui tangan Ibunda Ratu, eyangmu. Proses itu begitu panjang dan tidak mudah sampai ibumu menjadi seperti sekarang. Jadi Lilah cantik..."
Om Nanang menghela nafas sebelum tersenyum manis, "Seandainya Om dapat memilih untuk tak pergi dan tetap bersama ibumu. Kamu gak akan ada, Lilah. Ayahmu dan ibumu gak akan bersatu. Kecuali memang ada garis takdir antara ibumu dan ayahmu yang begitu besar. Dan, kehadiranmu membuat suasana kembali tenang saat ada badai di istana."
"Badai?" tanyaku dengan nada penasaran.
"Badai dengan eyang Kakung! Sekarang badai itu kembali lagi. Ehm.... Jadilah gadis cantik untuk dirimu sendiri dan kedua orangtuamu. Om sangat meminta, karena Om tidak mau melihat ibumu terus menangis dalam sepi."
Aku mengangguk dan memaksakan senyum. Om Nanang pergi setelah mengacak-acak rambutku dengan gemas, dan sepatah kata terakhir yang membuatku penasaran.
"Ada surat didalam kantong itu, bacalah! Tapi maaf. Om sudah baca duluan!"
__ADS_1
...Happy Reading 🥰 ...
...Jangan bosan untuk kasih like dan hadiah ya. Terimakasih atas dukungannya 🙏 ...