
Revi.
Pada hari kedua saat masih pagi buta, dan angin basah subuh masih melelah di atas embun. Aku berbaring dengan resah. Belasan pertanyaan ini masih asyik mengelinjang di kepalaku.
Apa yang membuatku yakin untuk mendekati princess. Apa ini hanya rasa penasaran saja seperti hal-hal yang sebelumnya terjadi? Mengejar gadis, berkenalan, berkencan, lalu menyisakan kenangan. Atau memang ada gejolak lain yang sudah menggeliat di benakku.
Sepertinya aku memang berniat mencari perkara, tapi aku telah membulatkan hati.
Pagi datang membawa cahaya yang berpendar, meminta sang malam untuk menepi sebentar.
Aku siap pergi ke sekolah saat mommy dan daddy baru saja keluar dari kamar. Mereka menatapku dengan ekspresi heran.
"Apa-apaan ini boy! Rajin sekali!" seru Daddy. Daddy merangkulku untuk membawa ku ke sofa ruang keluarga. Sedangkan Mommy bergegas pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
"Gimana sudah membaik?" tanya Daddy.
Aku menggeleng pelan. "Jauh lebih buruk, Dad! Aku bahkan kesulitan untuk menyingkirkan pikiran-pikiran ini! Sepertinya sekolah lebih awal akan jauh lebih baik!" keluhku sambil mendesah.
Sejak semalam aku sudah berbagi cerita dengan Daddy soal kejadian sore hari kemarin yang seru di pendopo bersama Princess dan Ibunda Ratu Rinjani.
"Laki-laki dan keegoisan! Slalu terobsesi dengan sesuatu yang baru dan sulit dijangkau! Untuk masalahmu, mungkin belum terlihat jelas apa itu benar-benar perasaan cinta atau hanya obsessive love disorder, boy! Tapi apa boleh daddy minta sesuatu dari kamu?" Daddy menatapku penuh minat, aku pun memperhatikan daddy penuh saksama. "Don't hurt anyone!"
Kepalaku hampir meledak karenanya. "Obsesi slalu berakhir menyakitkan, Dad!" cetusku langsung.
"Ucapan itu sangat benar, boy! Jadi kamu sudah tahu kan jawaban atas kerisauan hatimu? Sekarang sarapan dulu! Kamu mengemban tugas yang berat kan disekolah? Daddy tidak mau ada kabar jika sekolahmu membutuhkan ambulan!" goda Daddy dengan nada penuh gurauan saat Mommy datang membawa sarapan untuk kami bertiga, kami pun sarapan tanpa banyak bicara.
Setelah sarapan. Aku menggeber motorku dengan cepat. Sebenarnya, kata-kata Daddy dan kata-kataku sudah jelas bahwa aku ini hanya terobsesi mendekati princess. Memuaskan segala rasa penasaranku tentang dunianya. Dunia yang penuh aturan yang tidak banyak orang lain inginkan. Takhta, gelar, dan pelayan yang tak tanggung-tanggung mengabdikan diri kepada keluarganya.
Perempuan dengan segala ketaatan dan kepatuhan, apa tidak bisa didekati, tidak bisa diajak kompromi. Aku rasa semua manusia memiliki sifat liar, tak terkecuali dengan princess.
[ Sekolah ]
__ADS_1
Masa orientasi siswa masih terus berlangsung sampai hari berikutnya. Tidak ada yang seru, kecuali saat mengerjai princess, mengikuti kemanapun langkahnya berkeliling disekolah ini. Mengamati apa yang dia amati. Pernah suatu ketika, princess berdecak kesal sembari menghentak lantai lalu berkata. "Kutil! Ganggu terus, pergi sana!"
Aku terkekeh kecil. Namun, ada gelanyar aneh yang memukul kepalaku. Dari sekian banyak perempuan yang masuk ke sekolah ini tidak ada yang menemaninya.
Dia slalu sendiri, hanya terlihat sesekali menemui laki-laki yang berada di kelas lain, dan karena aku kasian padanya.
Aku berkata kepada teman-temanku. "Gebetan baru kalau gak dipepet terus ya ilang! Jadi jangan heran, kalau aku bakal jarang kumpul sama kalian!" ujarku sambil mengerjap jenaka.
"Ya elah, Rev! Lo kebanyakan nyalinya! Dia bukan gadis yang patut untuk dipermainkan!" sahut temanku.
"Aku serius! Dia gebetan baru sekaligus calon ibu dari anak-anakku!" balasku riang.
"Huaa... hahaha. Cah gendeng!" Tawa meriah itu sontak membuat princess menoleh. Aku menyaut bakso dan es jeruk yang baru saja di beli temanku. "Nanti aku ganti!" ujarku enteng.
"Woo... cah kurang sajen!" celetuknya kesal.
Tawa mereka masih meledak saat aku duduk disampingnya. Aku mengedipkan mataku untuk menghiburnya. Princess mengerjap jijik saat melihatku, kemudian serentetan kalimat kejengkelan itu menyerbu diriku.
Sayangnya, ajakan itu tidak disambut baik oleh princess, ia justru marah-marah, ia tidak terima. Kami adu mulut dan disaksikan langsung penghuni kantin.
Tidak ada yang salah dari ucapanku, tapi barangkali, cara pengucapanku yang tidak sesuai ritmenya. Beda gadis, beda ritme, dan beda cara. Benakku mengakui jika aku salah. Tapi aku seolah tak peduli.
Kejadian ini menjadi buah bibir di sekolah sampai terdengar di telinga para guru. Aku dipanggil ke ruang guru! Diberi berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan putri Raja.
Aku menyangkal bahwa aku tidak mengganggunya, aku hanya ingin berteman dengan dirinya karena ia slalu terlihat sendiri. Tapi beberapa guru tidak mempercayainya, aku diberi sanksi tegas dari sekolah. Aku tidak boleh mengganggu princess!
Dengan langkah terseok dan tubuh yang mendadak lesu, aku melangkah menuju pintu keluar. Aku bersumpah akan membuat perhitungan pada diriku sendiri.
AKU TETAP AKAN MENDEKATI PRINCESS!
Persetan dengan peraturan sekolah yang harus menjaga dan menghormati princess. Toh princess itu kasian, dia sendiri, dia gak punya teman. Temannya yang dijemput APV kemarin bukan pacarnya! Apalagi cowok cuek dan irit bicara yang menjadi pahlawan princess tadi di kantin juga bukan pacarnya! Calon pacarnya hanya aku! Revi Bramasta.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Aku sama sekali tidak mengganggu princess, aku sibuk menyusun rencana dan laporan kegiatan masa orientasi siswa di ruangan OSIS.
Sesekali aku melihatnya bersama laki-laki cuek dan irit bicara itu. Mereka berdekatan, ngobrol dengan santai, dan kedekatan itu membuatku tidak nyaman.
Princess hanya akan menjadi milikku, dude! Dan, itu terwujud beberapa hari setelah aku selesai menjalani sanksi tegas dari sekolah. Kami bertanding secara three on three dengan taruhan sebagai pacar. Aku bersemangat untuk melihat cara bermain bola basket yang dilakukan princess. Ia cukup menarik, karena setahuku seorang putri akan berlaku lemah lembut. Jadi bermain basket adalah sebuah manipulasi diri?
Awalnya aku hanya ingin bermain-main saja dengan pertandingan ini, karena princess dan tim basketnya bukan saingan yang berat. Aku hanya ingin berdekatan dengannya, merebutkan bola basket dari tangannya, lalu melihat keringat yang membasahi dahinya. Dia mempesona dan bersinar dibawah cahaya matahari.
Tapi kedua temanku tidak memberikan kesempatannya untuk menang. Mereka bermain secara profesional seperti saat kami sedang melakukan perlombaan.
Timku menang, begitu juga princess yang menjadi pacarku. Bukannya dia marah, kecewa atau bahkan meratap sedih atas kekalahannya. Princess mengangkat dagunya, menyalami tanganku, mengucapkan selamat atas kemenanganku.
Aku hanya bisa menyeka keringat yang membasahi dahinya sembari memuji caranya bermain basket. Sekuat apapun aku mengepalkan tanganku agar tidak terangkat dan lancang menyentuhnya, tapi akal sehatku tidak berfungsi.
Aku tetap mengusap keringatnya dengan tissue. Princess terpaku, seakan sorakan dari siswa yang menonton kejadian ini tidak lagi penting. Seolah dunia berhenti berputar, dan hanya ada kami berdua disini, dibenakku.
Princess pergi, meninggalkan kenangan yang takkan pernah aku lupakan dilapangkan basket ini.
Aku menghela nafas panjang ketika kedua temanku bertanya mengenai taruhan tadi.
"Jadi gimana? Putri keraton jadi pacarmu?"
Aku menggeleng ragu. "Besok malam Minggu aku ke rumahnya!"
Keduanya menepuk bahuku. "Semoga berhasil! Tapi aku sarankan untuk tidak mempermainkannya! Dia istimewa untuk semua rakyatnya!"
"Bakal diarak keliling kota dalam kondisi mengenaskan lo kalau sampai bikin anak raja nangis! Kita balik dulu, Rev! Kalau lo gentle, anter dia pulang!"
Aku menekan rasa bersalah yang tiba-tiba merekah di dadaku. Sungguh ini adalah cara paling licik untuk mendapatkan si princess.
__ADS_1
...Happy Reading....