ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 59.


__ADS_3

Buat yang bingung kenapa ceritanya hanya ada POV Dalilah dan Revi, karena cerita ini memiliki dua plot. Plot Dalilah dan Plot Revi sebagai pemeran utamanya, walaupun sempat kacau diawal bab.


Kenapa gak ada POV lain Thor? Karena biasanya di novel dengan tokoh AKU memang hanya ada dua tokoh utama. Jadi selamat menerka bagaimana kisah ini berakhir karena cerita ini adalah kisah cinta remaja tanggung. Bisa putus, nyambung, atau move on. 😁


***


Revi.


Kuhela nafas panjang saat princess dan cowok itu berbincang-bincang dengan akrab. Bisa begitu ya princess dengan orang baru? Terlihat menjaga jarak tapi tetap saja bibirnya tersenyum.


Apalagi sebelum keduanya berpisah dengan walikota, aku lihat mereka saling menukar nomer WA untuk berkomunikasi membahas perlombaan yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Tiga bulan yang teramat meresahkan bagiku saat princess harus berkomunikasi secara rutin dengan cowok itu. Termasuk pertemuan-pertemuan yang akan terjadi di belakangku tanpa aku yang tak bisa melihatnya dan menemaninya.


Derren namanya. Tinggi, maskulin, putih, dan kelihatan hebat. Satu lagi yang bikin aku was-was. Dia mainnya sendirian, tidak keroyokan. Otomatis dia menang karena usahanya sendiri, sedangkan aku harus bekerjasama.


Aku mengusap-usap kepalaku yang gatal sembari menunggu walikota selesai bicara.


Prisia yang sedaritadi di depanku tersenyum miring. "Derren jadi saingan baru, Rev?"


Aku mendengus. Prisia, pacarku yang hanya sanggup bertahan mendampingiku selama enam bulan ini terkekeh. Sungguh tidak peka terhadapku.


"Siapa dia? Anak mana?" tanyaku padanya. Prisia mengambil ponselnya dan menunjukkan padaku.


"Model sekaligus selebgram remaja. Cukup terkenal dikalangan cewek-cewek ABG. Aku aja follow dia, sempat DM IGnya juga, tapi gak dibales." urainya dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Cowok cool tapi bibirnya, Rev. Pink! Bibirku aja kalah." lanjutnya sambil meraba bibirnya.


Aku mendengus lagi. Iri. Bibirnya memang pink, natural seperti kulitnya yang putih. Tapi masa iya cowok bibirnya, pink? Gak macho! Apa dia juga gak ngerokok?


"Udah yuk, Pulang. Anak-anak juga udah siap semuanya." ujar Prisia lagi sembari menunjuk teman-teman yang selesai menandatangani surat persetujuan dengan walikota.


"Aku mau pulang setelah ini! Aku capek banget gays. Kalau mau hepi-hepi besok aja, masih liburan juga." jelas ku pada semua temanku.


"Aku setuju! Malam Minggu besok aja mainnya rame-rame. Jangan lupa bawa gadis-gadis biar seru." balas Reno.

__ADS_1


"Dasar playboy." ujar ku.


"Siap! Pokoknya kita party. Tapi, Rev! Aku saranin jangan bawa princess. Nanti kamu kena masalah lagi dengan keluarganya. Bener gak?" tanya Prisia kepada teman-temannya.


"Bener banget, Rev! Lagian ya. Kalau menurutku, setelah dia kembali ke sekolah. Dia sering banget diikuti sama cowok tadi yang terus-terusan ada di belakang princess. Kumu curiga gak sih?" timpal Renata.


"Maksudmu, Bimo?"


Renata dan Prisia sama-sama mengangguk.


"Dia abdi dalem Keraton. Mungkin karena itu dia diminta untuk jagain tuan putri mereka di sekolah, atau dimana pun tuan putrinya berada." jawabku tenang, walaupun aku sebenarnya juga curiga dengan mereka berdua.


"Termasuk jagain tuan putri dikamar?" gurau Prisia sambil terkekeh.


Aku mendengus dan keluar dari gedung olahraga. Tak jauh dari bus sekolah, kecurigaan ku semakin menyublim.


Princess sedang bicara dengan Baskara. Tak jauh dari mereka berdua. Ada Bimo yang berdiri sembari membawa barang-barang princess.


Aku tersenyum samar. Pacarku adalah seorang putri mahkota yang istimewa, memiliki gelar, kedudukan, pelayan, dan slalu dihormati. Sedangkan aku, hanya Revi si relawan kesehatan dan tukang tembak papan sasaran. Masih jauh dari kata sempurna untuk menjadi yang teristimewa untuknya.


"Biarin ajalah dia pulang bareng Bimo, Rev! Udah masuk, gak akan mungkin aneh-anehlah, tenang aja!" seru Prisia sambil menarik tanganku.


Di dalam bus. Aku benar-benar tak habis pikir mau sampai kapan hubunganku dengan princess akan terus seperti ini.


Aku menghormatinya. Sangat. Tapi aku pun ingin berpacaran dengan bebas tapi sewajarnya. Boleh dikata, pacaran dengan princess sedikit monoton.


"Kepikiran princess lagi, Rev?" tanya Reno.


"Iyalah, dia cewekku!" jawabku langsung.


Reno tergelak sambil menepuk pundakku. "Dari awal kan aku bilang, pacaran sama dia memang begini. Gak bisa leluasa. Tapi aku rasa kamu betah-betah aja selama ini. Gak ada cewek lain juga yang kamu bicarakan, Rev?" Reno tersenyum lebar. "Udah insyaf?"


Aku tergelak singkat sambil menyikut perutnya. Reno mengaduh seraya menyikut lenganku lebih keras.

__ADS_1


"Untuk aku membicarakan cewek lain, Ren! Kalau princess aja gak ada habis-habisnya aku bicarakan denganmu."


Reno tergelak, ia menunjuk Prisia yang sibuk dengan hpnya. Sangat menyebalkan karena dulu juga ia slalu sibuk dengan hpnya tanpa memperhatikan aku!


"Cantikan mana sama Prisia, Rev?" tanya Reno sengaja. Bukannya aku mau membandingkan antara Prisia dan Dalilah. Tapi aku bicara apa adanya.


"Dari body emang bagusan Prisia. Tapi dari attitude, princess emang oke bangetlah. Aku kagum sama dia, Ren! Kagum banget sampai aku bingung harus jadi pacar yang gimana." ujar ku sambil mendesah lelah.


Reno nyaris muntah karena ucapanku. Ia menepuk pundakku untuk memberikan nasihat yang membuatku nyaris membenturkan kepalanya di kaca bus.


"Jadi Gatot kaca aja, Rev! Otot kawat tulang wesi!" ujarnya sambil terkekeh-kekeh saat aku melotot kepadanya.


Aku memiting lehernya. "Gatot kaca cuma ada di serial perwayangan, Ren! Rese banget, gak kasih solusi malah ngeledek terus!" cerca ku kesal tanpa menyembunyikan kekecewaanku.


"Berat banget hidupmu, Rev! Baru kali ini aku lihat kamu begitu pusing mikirin hubungan kalian berdua."sahut Reno dengan cengengesan


Aku menghela nafas panjang sebelum menunjukkan fotoku dan princess padanya. Reno mengamatinya dengan seksama seraya mendengar penuturan ku.


"Kita berdua masih remaja, Ren. Masih banyak yang akan datang menghampiri aku atau Dalilah. Paling gak, sekalipun hubungan ku dan dia tidak berakhir dengan sesuatu yang baik, aku mau menjadi yang terindah baginya."


Reno terbahak dan memukul pundakku. Setelah puas tertawa, Reno menatapku dengan wajah serius.


"Aku yakin kamu bisa mempertahankan hubunganmu dengan Dalilah. Cuma ya itu, Rev! Sainganmu banyak mesti statusmu pacarnya!" Reno tersenyum miring, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Maybe... Bimo, Derren adalah saingan mu sekarang. Mereka bukan laki-laki dengan kapasitas minimal menurutku!" urai Reno membuatku terancam.


Reno tersenyum samar, sementara aku diam saja menekuri jalan. Mereka emang saingan baru dan aku butuh sesuatu yang ekstrim untuk mempertahankan posisiku sebagai pacar Dalilah.


"Ren, besok aku jemput jam tujuh!"


"Ngapain jam segitu? Aku mau tidur, Rev!"


"Besok juga tahu!" komentarku saat Reno memasang wajah jengah tidak mau.


...Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2