
Revi.
Dalilah berhenti tepat di depan rumahku dengan selamat.
Aku menghela nafas lega dan langsung menemuinya, meninggalkan princess yang sudah terlelap.
Caranya mengemudi berbeda sekali dengan caranya berjalan. Ugal-ugalan! Bahaya sekali mengingat dia adalah tuan putri yang ceroboh.
Dalilah memasang wajah heran saat ia membuka pintu mobilnya sambil menatapku. "Kenapa?" tanyanya. Ia memunggungi ku seraya menarik satu persatu barang bawaannya
"Aku lebih tenang jika kamu memakai sopir!" ujarku khawatir, benar-benar khawatir.
"Aku sudah punya SIM, SIM luar negeri juga sudah punya!" jawabnya santai.
Aku tetap menggeleng. "Lebih baik pakai sopir!" kataku lagi memperingatinya.
"Padahal belum satu bulan aku boleh membawa mobil sendiri!" gumamnya sambil cemberut. "Tidak mau membantu tuan putri turun dari mobil?" tanyanya sembari mengangsurkan barang-barangnya padaku.
"Apa ini? Kau mau membuat rumahku penuh?" cibirku sambil mengambil alih barang-barangnya.
"Baju ganti dan laptop! Boleh numpang mandi?" tanyanya sambil menutup mobilnya.
"Numpang tidur juga boleh, terserah priyayi!" jawabku seraya mendahuluinya masuk ke dalam rumah.
Dalilah melepas Stilettonya dan masuk ke rumahku begitu saja setelah menyapa Bi Tutik. Ia menyaut tas laptopnya dan membukanya.
"Jadwalku padat hari ini, masih ada wawancara live streaming dengan kartini masa kini lainnya!" ujarnya buru-buru.
"Gak dandan dulu? Wajahmu kelihatan berminyak!"
Sorot mata tajam langsung menyerang wajahku. Aku tersenyum lebar dan menyerahkan barang-barangnya.
"Aku bahkan lupa untuk touch up!" serunya seraya membongkar isi tasnya.
"Aku ambil princess dulu! Jangan menor-menor, aku gak suka!"
Dalilah berdehem dan mengibaskan tangannya.
"Ini rumahku, tapi aku yang diusir! Priyayi memang beda!" gumamku seraya keluar dari rumah untuk memindahkan princess ke kamar. Dia juga kelihatan kelelahan.
Di saat aku melewati ruang tamu, Dalilah sudah duduk dengan anggun lengkap dengan senyum sempurnanya.
Jadi dia tadi ugal-ugalan hanya untuk ini. Tepat waktu dan kerja.
Terbesit dalam pikiranku, bahwa apa yang ia lakukan adalah bentuk dari kredibilitas dan integritasnya menjadi seorang putri mahkota.
Namun seseorang yang harus tampil sempurna sepanjang hari terkadang mempunyai rasa lelah dan jengah dalam hidupnya.
Dan hanya padaku ia bisa berlaku seperti itu. Dia menunjukkan sisi terbaiknya, di sisi lain aku juga melihat sisi yang tak pernah orang lain tahu.
Aku menaruh princess dengan hati-hati diatas kasur. Berharap dia sedang bertemu dengan kawan-kawannya di alam mimpi dan asyik bermain agar tidak mengganggu waktuku dan Dalilah yang tipis ini.
Aku bersandar di kusen pintu, melihatnya bercengkrama dengan teman-teman onlinenya. Berargumentasi, bercerita, dan lain-lainnya yang membuatku semakin sadar bahwa ia memang Kamboja paling langka di dunia ini.
"Sudah?" tanyaku sembari menghampirinya.
Dalilah menghembuskan nafas panjang, ia mengangguk dan menerima segelas teh hangat manis kesukaannya.
"Terimakasih!"
Aku berdehem, memastikan gerak-geriknya yang mengubah posisinya lebih santai dan nyaman.
"Hari yang berat?"
Dalilah berdehem, ia menghabiskan minumannya dan membuka snack box miliknya. Matanya memilih sesuatu yang ingin ia makan.
__ADS_1
"Ayahanda memberikan banyak pekerjaan, Rev! Aku telat makan akhir-akhir ini!" ujarnya lalu menoleh, menggigit makanannya dengan gemas dan mengunyahnya. "Apa aku kelihatan kurus?"
Aku mengamati wajahnya, masih natural meskipun memakai makeup karena sejatinya kulitnya sudah putih dan bersih. Menuruni kulit ibunya yang masih cantik jelita di usia kepala empat.
Aku tersenyum, dia pasti sengaja melakukan itu untuk mencuri perhatianku, terlihat saat ia membalasku dengan senyuman manisnya.
"Kamu tidak kurusan! Tapi terlihat ngantuk?" tebakku.
Dalilah mengangguk pelan, dan benar-benar menguap tak anggun di sebelahku.
"Mau tidur?" tanyaku saat ia menarik bantal sofa untuk dijadikan bantal kepalanya sementara sedaritadi ia hanya duduk di karpet, meluruskan kakinya yang pegal-pegal akibat Stiletto yang slalu ia salahkan demi menunjang penampilannya.
"Aku menerima tawaranmu tadi!" sebutnya sambil memejamkan mata.
Aku mendesah dan tersenyum lebar. "Dan kamu tidur menggunakan sanggul?"
tanyaku heran, ia berdehem tanpa membuka matanya.
Aku tersenyum lebar. Melihatnya terlelap dengan posisi seperti ini membuatku iba. Tapi membawanya ke kamar, bukanlah caraku peduli padanya.
Bi Tutik melongok, penasaran.
Aku mengibas-ibaskan tanganku. "Jangan ganggu!" ucapku lirih.
Bi Tutik menggoyangkan jari telunjuknya. "Jangan macam-macam!" tangannya mengiris lehernya, dan berlagak mati sambil berdiri.
Aku nyaris terbahak ditambah Dalilah yang makin lama mulutnya makin melongo.
"Astaga! Melongo aja tetap cantik." gumamku seraya mencermatinya.
Tiga bulan gak ketemu dan tanpa status. Kamu masih sama. Begitupun aku.
Aku mengelus pipinya, Dalilah tak merespon. Ia benar-benar tidur siang dengan nyaman. Mendadak ada gelanyar aneh yang menjalari tubuhku.
Si cantik tidur di sebelahku tanpa tahu aku bisa melakukan hal ini-itu kepadanya. Prospek cerah untuk menuntaskan rindu.
Berada di dekatnya yang menggunakan kebaya dengan desain yang ada bolong-bolongnya atau apalah itu namanya seolah menungguku resah.
Kulitnya yang putih dan wangi tubuhnya mengganggu imanku.
Aku merebahkan diri di ranjang. Dan kantuk ikut menerjang mataku.
"Sekali-kali tidur siang oke juga!" gumamku seraya memeluk guling.
***
"Papa... Papa..." Jeritan itu masuk ke telingaku, berdenging keras.
Aku mendesis dan mengubah posisi tidurku membelakangi princess. Aku masih ngantuk, hmm. Ia mengguncang panggungku berkali-kali.
Papa... Papa...
Dengan upaya keras aku membuka mataku yang berat dan beranjak. Aku mengerjapkan mata dan nyaris tidur lagi saat Dalilah berdiri diambang pintu, melihatku.
Aku pun ikut melihatku yang berantakan dan wajah kusut bangun tidur dan kemeja batik yang sudah kusut.
"Papa bobo?" tanya princess. Aku mengangguk, dan mencium aroma stoberi dari rambutnya.
"Sudah mandi?" tanyaku. Princess mengangguk. "Mandi sama Tante!"
Apa! Bocil ini sudah mandi dengan Dalilah! Hah, curang!
Aku beranjak dan mengajaknya keluar kamar. Dalilah masih bergeming diambang pintu sambil senyum lebar di bibirnya.
"Mimpi indah, Rev?" guraunya. Aku mencermatinya penuh minat. Dia juga sudah mandi, wangi. Jadi berapa lama aku tidur?
__ADS_1
"Tunggu sebentar! Aku mandi dulu!" kataku sembari menutup pintu.
Ku lihat jam dinding yang hampir ashar. Lama juga aku tidurnya.
***
Suara tawa mengisi rumahku selama aku mandi dan menyisir rambut.
Disaat aku membuka kamarku, keduanya langsung diam membisu sembari mengulum bibir.
"Apa?" tanyaku penasaran sembari bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
Keduanya langsung cekikikan.
Aku mendengus kesal.
"Princess jawab papa!" ujarku sok tegas.
Princess Aleta tertawa kecil dan duduk di pangkuanku. "Kata Tante papa lucu kalau rambutnya berantakan! Kayak singa. Rawrrr..." serunya sambil mencakar udara.
Aku langsung menatap Dalilah, meminta penjelasan.
"Potong kenapa, Rev! Biar rapi!"
"Apa tanganmu gatel pengen pegang rambutku?" balasku menggodanya seraya menaik-turunkan alisku.
Dalilah membuang nafas. "Salah satu bagian tubuh yang aku sukai darimu!" Ia tersenyum lebar.
"Aku sudah masak tadi, bertiga dengan Bi Tutik dan princess selama kamu mimpi indah. Makan yuk! Habis itu aku harus pulang..." ajaknya sambil beranjak.
Dalilah masak? Bagaimana rasanya?
Apa seperti masakan Ibunda yang simpang-siur sesuai isi hatinya.
Aku harap masakannya normal. Tidak keasinan karena dia sudah kebelet nikah.
Aku berjalan ke ruang makan. Dan betapa hancurnya dapurku saat Dalilah masak di rumahku.
"Kita bertiga terlalu excited! Jadi jangan marah kalau ada piringmu yang pecah!" Dalilah menyunggingkan senyum tak berdosanya. Princess mengangguk pelan.
"Pecah dua, papa!"
"Gak masalah! Asal jangan menghancurkan semuanya! Termasuk hatiku!" cibirku seraya duduk di kursi.
"Semua buatanmu?" tanyaku sembari menarik piring berisi spaghetti carbonara dan bola-bola kecil daging giling diatasnya.
"Tujuh tahun aku tinggal di Melbourne membuatku pandai memasak Italian food! Masakan paling simpel, cepet dan enak!" Dalilah terkekeh.
"Pantas! Badanmu masih segitu-gitu aja!" sindir ku, jujur.
Dalilah mengangguk setuju. "Masih terlihat seperti anak SMA ya gak besar-besar?" tanyanya dengan polos.
Aku mengiyakan, karena memang gak ada yang berubah dari postur tubuhnya. Kecil dan menggemaskan, hanya pola pikirnya yang dewasa.
"Tapi kamu masih suka kan? Kata Ayahanda cinta gak memandang fisik walaupun kecil!" ujarnya malu-malu.
Tawaku keluar, lalu pipiku merona.
"Kamu menyadarinya?"
Dalilah mengangguk. Aku tersenyum lebar.
"Aku tidak pernah menyinggungnya! Karena kamu sudah mempunyai innerbeauty yang mempesona, itu cukup membuatku senang!"
Dalilah tersenyum lembut. "Terimakasih!"
__ADS_1
"Tapi kalau kamu mau membahasnya aku siap! Nanti aku beri tips cara membesarkannya sesuai resep dokter koas yang bagus untukmu!" gurauku langsung membuat pipinya merona.
...Happy Reading ...