ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 28


__ADS_3

Dalilah.


Mas Jati salat dan berdoa khusyuk, ia berdoa teramat panjang pada Sang Pencipta agar perjalanan romantis ke cottage pinggir sawah nanti berjalan lancar.


Aku mencium punggung tangannya seraya melepas mukena yang aku kenakan.


"Morning kiss, dear!" Mas Jati mengecup keningku, ketika hidung kami bersentuhan, kami tersenyum manis.


Ufuk timur terlihat terang, aku merapikan kemeja batik yang mas Jati kenakan sesuai sarapan.


"Apa kita benar-benar harus ke hotel, Lil? Sungguh aku masih kikuk jika harus berjalan dengan anggun di sampingmu." Mas Jati mendesah.


"Ini hanya formalitas, namun tidak akan berat jika mas Jati melakukannya dengan ikhlas." Aku tersenyum hangat, menepuk-nepuk ringan dadanya.


"Yang terpenting jadi diri sendiri, karena aku yakin mas Revi yang sekarang sudah cukup dewasa untuk menjadi pria sejati."


Mas Jati menepuk bahuku, ia mengecup keningku tanpa berkata-kata sebelum membawa tas minggat berisi baju ganti kami keluar kamar.


Aku mengalungkan tas kerjaku di bahu kiriku seraya mematut diriku di cermin. Hari ini aku hanya memakai rok batik panjang dengan kebaya kutu baru yang lebih santai. Aku tersenyum.


Honeymoon lagi, huh.


Di luar rumah. Deru mesin mobil sudah terdengar menyala, dengan pengawal pribadi yang berjejer di pinggir pagar.


Aku mengangguk, mengisyaratkan bahwa aku sudah siap untuk pergi.


Mas Jati tersenyum lebar, ia berdecak kagum seraya membuka pintu mobil. "Silahkan masuk tuan putri!"


Ah... Aku mendudukkan diriku dengan anggun dan berkata. "Silahkan masuk pangeran ku." ucapku lembut.


Mas Jati membungkukkan badannya seraya duduk disampingku, ia memasang sabuk pengaman ku dengan seringai jail di wajahnya.


"Pelan-pelan." bisiknya ditelingaku. Aku menahan senyum.


Pak Darmaji yang merangkap sebagai sopir hari ini terbatuk-batuk dengan frontal.


Mas Jati langsung menegakkan tubuhnya seraya merapikan kemejanya.


"Berangkat mas!" katanya memberi titah.


Pak Darmaji mengangguk patuh, namun ku lihat dari pantulan spion mobil, beliau tersenyum lebar.


Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju cottage di pinggir kota, di atas tebing dengan panorama indah dan udara sejuk.


Mas Jati mengenggam tanganku setelah turun dari mobil. Kami bergandengan tangan dalam diam.


Aku mengamati dekorasi cottage ini. Bangunan kecil bergaya klasik, dindingnya dicat warna putih, kacanya berupa ke jendela kayu yang terpatri di dalam tembok.


Aku tersenyum seraya mengangguk sopan kepada pemilik cottage ini.


Kami disambut dengan ramah, diberi jamuan minuman sebagai sambutan sebelum di antar ke cottage dengan servis bulan madu yang dipesan oleh mommy kemarin.

__ADS_1


Sungguh ibu mertuaku itu sangat bersemangat untuk menyiapkan ini semua. Apalagi kami kemarin sempat di tawari bulan madu ke luar negeri.


Mas Jati menolak mentah-mentah dengan dalih sama saja rasanya.


"Terimakasih." Aku dan mas Jati mengatupkan kedua tangan atas pelayanan dari mereka.


Pintu tertutup rapat. Aku dan mas Jati menghela nafas lega seraya menatap ranjang besar yang tertutup oleh kelopak bunga mawar putih dan merah yang berserakan di atasnya. Rangkaian-rangkaian bunga berwarna putih juga menghiasi permukaan nakas. Selendang putih yang menutupi ranjang melambai-lambai


Aku dan mas Jati langsung menatap. "Jadi begini kamar pengantin yang seharusnya." Mas Jati menghembuskan nafas, ia menatapku. "Maaf aku tidak memikirkannya, yang aku pikir, kamu hanya perlu nyaman saja."


Taraf ketampanan mas Jati semakin meningkat jika ia menggunakan kemeja batik, apalagi jika ia mengembangkan senyum miring yang menggoda. Aku bisa gila jika berlama-lama menatapnya.


Aku menepuk dadanya sambil lalu. Cottage ini cukup unik dengan desain tropis gaya Jawa.


Aku menyingkap gorden seraya menggeser pintu kaca. Mataku melebar, kolam renang mini menjadi fasilitas lengkap cottage ini.


Entah kenapa aku suka sekali dengan air biru yang tak beriak ini. Sudah lama aku tidak berenang.


Aku berbalik, berjalan masuk ke dalam untuk mengganti pakaianku.


Mas Jati yang membuangi kelopak mawar yang berserakan di ranjang seraya mengernyit heran.


"Kenapa buka-buka baju? Masih pagi ini!" celetuknya.


"Memang kenapa kalau masih pagi?" tanyaku sambil menanggalkan pakaianku, menyisakan tang top dan celana legging pendek sebagai pakaian renang ku.


"Lilah mau renang, bukan minta jatah mas. Percaya diri sekali!" ujarku, tersenyum jail seraya menjauhinya.


"Bukankah kita harus bulan madu untuk menyenangkan ekspetasi mommy!" bisiknya ditelingaku.


Seluruh tubuhnya menempel dengan tubuhku begitu mendamba. Terlalu enggan untuk menyia-nyiakan kesempatan ini dengan baik.


"Ini masih terlalu pagi." jawabku, namun juga terkekeh saat ia menahanku dengan erat, otot-otot tangannya pun terlihat timbul dari kulitnya yang putih.


"Biar aku yang main, aku khawatir kamu akan mengulangi perbuatan yang membuatku nyaris jantung."


Aku terkekeh lagi. "Ya, maaf! Aku kan noob, bukan pemain pro! Aku juga masih mencari ritme mana yang enak untuk dinikmati." ucapku gamblang, aku masih penasaran dengan semua hal baru dalam dunia kamasutra.


Mas Jati terkekeh di telingaku, suaranya begitu hangat dan rendah saat berbisik di telingaku. "Pelan-pelan itu ritme yang enak dan menghayati, apalagi suaramu yang merdu saat mendesah! Suksesi linear nada suara yang hmm..."


Mas Jati mencium pipiku.


"Apakah kamu mau menghapus rasa dingin ini?" bisiknya lagi.


Aku memegang kedua tangan mas Jati. Tanpa aba-aba, ku ayunkan tubuhku ke dalam air kolam.


Bunyi air berdentum keras, air meluber keluar kolam. Aku dan mas Jati tergeragap dan berenang kepermukaan.


Dan dingin benar-benar merambat di tubuhku. Mas Jati mengusap wajahnya, ia langsung mencubit pipiku dengan kesal.


"Kalau tenggelam gara-gara kram otot gimana? Ish... ish... ish..." Mas Jati menarik pipiku sampai merah.

__ADS_1


Aku terkekeh kecil diantara bibirku yang berbentuk garis lurus. "Seru ya."


Mata mas Jati melebar, ia membenturkan keningnya di keningku sebelum menangkup wajahku. "Kau slalu membahayakan dirimu, Lilah! Menyebalkan." ujarnya khawatir.


Aku memeluknya, tubuhnya basah, dingin, dan segar. "Kalau begini aku jadi sedih!"


Tangannya mengangkat daguku. "Sedih kenapa?" Mas Jati berpikir. "Ah, apa karena kamu tidak bisa menuntaskan rasa penasaranmu dan jiwa-jiwa liarmu yang kamu tahan-tahan?"


Aku mengangguk, sedikit putus asa. "Karena hanya kamu yang menemani kesenanganku, mas. Sejak dulu!"


Mas Jati atau mas Revi bagiku tetap sama. Ia mengangguk, ia mengerti karena ia memahamiku.


"Jadi apalagi yang membuatmu penasaran, katakan. Jangan yang aneh-aneh! Kamu tahu bapak mertuaku slalu meminta laporan kegiatanmu kepada pak Darmaji. Dan kamu tahu apa yang terjadi padaku jika aku dan kamu terlibat dalam masalah atas kekonyolanmu, Lilah?" sungut mas Jati.


Terlihat lucu bagaimana wajahnya begitu frustasi dan hati-hati saat membicarakan Ayahanda.


"Aku tahu! jawabku.


"Lalu apa keinginanmu?"


"Kamu!" jawabku sambil tersenyum manis.


Pipi mas Jati berseri-seri, ia menahan senyum saat ku tarik karet celana kolornya dan menariknya turun.


Celananya mengambang di atas air sementara aku menyelam ke dalam air untuk menyentuh cacingnya yang bergoyang-goyang di dalam air.


Mas jati menegang, aku berenang


menjauhi mas Jati ke sisi kolam paling ujung.


"Mas Jati... Nanti masuk angin lho!" teriakku diujung kolam.


Mas Jati yang tersadar dari lamunannya, memukul air, ia menyelam ke dalam air untuk mengejarku. Aku berlari menuju kursi malas dan duduk disana.


"Dalilah!!!!" Teriak mas Jati geram, saat mendapati aku tidak ada diujung kolam.


"Sini mas." Aku melambaikan dengan senyum tertahan di bibirku.


Dengan tubuh polos dan sangat basah mas Jati menghampiriku, ia berdiri dengan tegak di depanku seraya menarik daguku ke atas. Aku mendongak.


Tetes-tetes air berjatuhan dari rambutnya, dan titik-titik air mengalir di tubuhnya, membasahi lantai.


"Tanggung jawab!"


"Aku akan menebusnya nanti! Sekarang duduk dulu mas, kau begitu menggoda jika berdiri seperti ini!" kataku seraya menggigit bibir.


Mas Jati menjentikkan jarinya di keningku. "Mandi sekarang!"


Aku mengangkat bahu dan beranjak dengan perlahan sebelum mengecup puncaknya sekilas. Aku berlari saat mas Jati meneriaki namaku dengan kesal.


Aku terkungkung dalam pelukannya saat ia berhasil mengejarku. "Lama-lama kamu nakal, Lilah!" kekehnya sambil menggendongku ke kamar mandi.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2