
Revi.
Setibanya di store yang sering di datangi para gadis-gadis cantik. Aku tersenyum kecil saat melihat princess yang berjalan-jalan sembari melihat sepatu-sepatu unik dan cantik yang terpajang di etalase.
Sekalipun Dalilah adalah seorang princess. Aku tidak berniat untuk membelikannya sepatu kaca. Karena kaca tidak fleksibel, sekali jatuh, ia akan pecah dan dibuang. Lagipula, mana ada yang mau memakai sepatu kaca di zaman sekarang? Hanya Cinderella, itupun sudah puluhan tahun yang lalu. Lagipula princess mana mau pakai sepatu kaca, paling-paling justru kepalaku yang digetok pakai sepatunya.
Jadilah sepasang flat shoes yang dilihat princess saat pertama kali masuk ke store ini yang aku ambil. Tanpa pikir panjang, aku meminta ukuran sepatu kepada pramuniaga setelah melihat sendirian ukuran sepatu princess.
Terlihat simpel, hanya pita abu-abu yang menjadi hiasan di sepatunya, sederhana seperti yang memakainya.
"38." Itu akan slalu aku ingat. Siapa tahu nanti di suatu hari, aku menjumpai sepatu yang cantik untuk princess dan aku akan membelikannya lagi. Diam-diam! Tanpa memberi tahunya karena ia pasti hanya akan menolak pemberianku. Seperti sekarang, flat shoes yang aku belikan harganya memang tidak murah untuk kantong pelajar. Tapi, keadaanku yang memiliki dua pasang orangtua membuatku mempunyai banyak uang jajan.
Entah aku harus bersyukur atau tidak dengan keberadaan kantongku yang tebal karenanya. Mommy, daddy, mama, dan ayah sudah melewati banyak pergulatan batin yang menyesakkan dada hingga aku bisa mendapatkan jatah bulanan yang menggiurkan ini. Tapi, disaat-saat seperti ini, aku bersyukur karenanya.
Aku bisa memanjakan princess dengan uangku sendiri. Itung-itung berlatih menjadi pacar yang bertanggung jawab. Dan, pacarku akan sayang setengah mampus padaku! Hueheee...
Sebagai pelengkap acara malam ini, dan menandaskan bahwa aku adalah pacar yang bertanggungjawab, aku harus mengajaknya makan malam. Karena tidak etis kalau pulang dari kencan, si pacar kelaparan dan mengadu kepada orangtuanya.
"Mas Revi tidak mengajak Lilah makan, Ayahanda, Ibunda. Mas Revi hanya membelikan Lilah sepatu! Kan yang lebih pokok dalam hidup ini adalah makan bukan membeli sepatu."
Princess pasti punya akal sehat yang absurd. Ia selalu mempunyai gagasan aneh yang menggemaskan. Dan, untuk menanggulangi dampak negatif itu, aku mengajaknya makan malam di restoran cepat saji.
Tapi setelah aku memesan makanan untuknya, ia terlihat melamun.
Ada apa gerangan? Apa ia masih tidak enak karena menerima pemberianku? Atau ia takut dimarahin orangtuanya karena pulang malam. lagi.
Semoga tidak ada yang mengganjal di hatinya, karena setelah ini aku benar-benar akan mengajaknya berkeringat, dan pulang lebih dari jam sembilan malam.
***
"Kenapa bisa bocor? Ini pasti ada yang iseng, mas!" tebak princess saat kami berdua tiba di parkiran. Ia terlihat cemberut, tapi juga tidak marah saat aku mengajaknya untuk berjalan mencari tempat tambal ban.
"Bisa jadi, tuan putri. Motornya saja diam, ini pasti cuma gembos." ujarku mencari aman. Sial bagiku jika princess sampai tahu ini adalah akal-akalanku.
__ADS_1
"Coba Lilah cari tambal ban yang masih buka. Kalau gak ada, motornya ditinggal saja di mal. Lilah tahu siapa yang punya." ujar princess sambil membuka ponselnya. Ia tampak serius sejenak, lalu menatapku penuh iba.
Sumpah! Kalau motor bebek saja udah berat, motor sport ini lebih berat. Aku kewalahan, ngos-ngosan, hampir semua otot-otot kakiku menegang untuk menahan beratnya motor ini, tapi juga tidak menyesal saat aku dan princess mulai menekuri jalanan sepanjang satu kilometer sambil bercanda. Lebih tepatnya princess yang banyak bicara.
"Sepatunya masih baru, tapi udah buat jejak petualang. Kalau rusak gimana? Kamu gak sayang sama uang yang udah kamu keluarkan buat aku?"
"Gak! Kalau rusak mau kamu apakan sepatu itu?"
"Aku simpen."
"Kenapa gak dibuang?"
"Sayang."
Aku tersenyum diantara lelah dan peluh yang membasahi pipiku. Saat kami melewati pepohonan dan sedikit sepi dari kendaraan, aku menghentikan langkahku.
"Kenapa? Capek?" tanya princess dengan nada heran.
"Apa kamu hanya sayang sama sepatu itu bahkan saat udah rusak? Sama aku gimana tuan putri?" tanyaku sambil menyeka keringat di pipiku. Aku menatap princess, sambil menunggu jawabannya.
"Kenapa? Apa kamu gak sayang sama aku?" tanyaku sambil melihat matanya yang meredup.
Princess menggeleng. "Aku gak tahu bagaimana harus mengatakannya. Tapi Lilah pasti setia sama mas Revi."
Ada apa dengan jawaban princess, dia gak sayang sama aku tapi dia menjanjikan untuk setia. Hah, kenapa pacaran kali ini terasa membingungkan.
"Jadi kamu gak sayang sama aku? Tapi kenapa mau jadi pacarku? Jangan bilang cuma main-main!" ujarku lugas tanpa sadar.
"Aku gak main-main!" jerit princess tidak terima. "Aku terlalu malu untuk mengatakan itu. Itu menggelikan!" jelas princess lalu menunduk.
"Oke... Setia saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kamu sayang sama aku, tuan putri! Aku juga, sayang sama kamu!" Bibirku kelu. Aku malu. Pipiku bersemu. Baru kali ini mengucapkan kata sayang yang sangat berbeda sensasinya.
Seperti. "nggayuh lintang kang sumunar."
__ADS_1
"Terimakasih, tapi Lilah juga mau kamu juga setia. Seperti Ayahanda kepada Ibunda."
"Apa Ayahanda menjadi sosok yang kamu idolakan?" tanyaku, dan kembali menuntun motor setelah melihat jam semakin merangkak naik, dan membuat malam semakin dingin.
"Beliau mencintaiku apa adanya. Beliau tidak pernah memarahiku. Beliau juga tidak mengekang kebebasanku, hanya saja aku tidak mau menyakiti hatinya karena kelakuanku. Makanya, aku slalu menuruti perintah beliau untuk menjadi anak yang manis." jelas princess yang terdengar bersahutan dengan suara kendaraan lain.
Jadi kesimpulannya, princess menginginkan laki-laki yang kurang lebih seperti Ayahanda. Kriteria sempurna yang diidamkan oleh semua wanita. Tapi, apalah dayaku yang hanya berusaha menjadi Raja Kelana. Sedangkan yang diidolakannya adalah Raja sungguhan dengan segala keistimewaannya.
Dua puluh menit berselang, kami berdua tiba di tempat tambal ban. Aku menyandarkan tubuhku di kursi bambu setelah mengatakan bahwa ban motorku kempes kepada tukang tambal ban.
"Berat banget ya?" tanya princess sambil tersenyum lebar. Ia menaruh paperbag dan helmnya sebelum duduk di sampingku.
Aku mengangguk pelan sambil mengatur nafas. Lebih berat menjadi laki-laki yang kamu inginkan, princess.
"Lilah beliin minum sebentar."
Aku menepuk jidatku. "Aku lupa, maaf! Tuan putri pasti juga haus." kataku sambil beranjak berdiri.
Princess tergelak, menarik ku untuk duduk kembali. "Gak masalah! Gantian sekarang aku yang traktir."
Aku tersenyum dan menatap punggungnya saat ia berjalan menuju warung kopi disebelah tempat tambal ban. Punggung yang kadang terbuka saat menari itu terlihat putih, mulus, dan terawat. Ah... pikiranku jadi kacau.
"Sadar gak? Kalau gak aku guyur pakai air dingin!" ujar princess sambil menginjak kakiku.
"Daripada diinjak, lebih baik dipijit. Pegel nih!" balasku sambil menyeringai.
Tukang tambal ban tersenyum lebar sambil menggeleng saat mendengar kami berdua berseru.
"Minum nih, kalau dehidrasi repot. Besok gak bisa sekolah, Lilah gak bisa ketemu!" ujarnya sambil menyerahkan air mineral.
"Bukan dehidrasi, tapi encok!" Ku buka penutup botol dan menenggaknya. Lega, rasa dahagaku menghilang. Tapi rasa takutku tidak.
Aku masih harus mengantarkan pulang princess ke rumahnya. Menghadapi pria yang menjadi idolanya lalu pulang ke rumah dan menyusun lagi rencana agar princess tidak curiga kenapa setelah pesta ulangtahun Baskara aku akan berubah.
__ADS_1
...Happy Reading....