ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 99


__ADS_3

Dalilah.


Seusai senja bersamanya kemarin. Awan mendung terus menemaniku di dalam kamar.


Aku kesulitan untuk memejamkan mataku dan masih terjaga di tengah malam.


"Mbak..." Aku mengerjap, melirik pintu kamarku yang sudah terkunci sejak aku pulang tadi.


"Mbak!"


Aku membuka pintu kamar dan menyipitkan mataku saat Suryawijaya menyapaku ditengah malam begini.


"Ada apa?" tanyaku heran. "Kok belum tidur?"


Suryawijaya mengamatiku dengan teliti sebelum membuang nafas.


"Apa mobil di depan gerbang istana mobilnya mas Revi?"


Aku mengendikkan bahu lalu hendak menutup kamarku, aku lelah lahir batin, namun Suryawijaya langsung menarik tanganku. Aku membelalakkan mata, sewot.


"Ayahanda dan Ibunda sudah tidur, lihatlah!"


Aku menyipitkan mataku, heran dengan sikap Suryawijaya ini. Terlalu peduli dengan kondisi kami di waktu yang sudah terlambat.


"Gak usah peduli denganku dan mas Revi! Selama inipun kamu gak pernah bersikap baik padanya!" cibirku sambil melepaskan tanganku secara paksa. Suryawijaya membelalakkan mata, seakan ucapanku ada benarnya.


"Balik ke kamar! Ganggu!" Aku menutup pintu dan bersandar di baliknya. Entah Suryawijaya pergi atau tidak, aku tidak peduli.


Tapi aku gelisah, bagaimana jika itu benar-benar mas Revi. Dia menungguku karena ia takut aku pergi tanpa pamit.


Setelah ku ingkari ucapanku sendiri. Aku menyaut jaket dan memakainya.


Aku memperhatikan koridor rumah yang dingin dan hening. Suryawijaya bahkan tidak ada, namun kamarnya masih terbuka.


Aku berjinjit sembari berjalan lembar-lembar keluar rumah.


Suasana teramat hening dan mencekam. Tapi tak membuatku berdebar takut.


Aku membuka pintu gerbang, lalu berlari kecil menuju mobil dengan mesin yang menyala.


"Mas Revi... Mas Revi!!!"


Ketukan kaca tak membuatnya bangun.


Aku mengambil hpku, meneleponnya berkali-kali dengan tangan yang terus mengetuk kaca mobil. Ia mengerjap sesaat, aku tersenyum kecil dan terus mengetuk kaca mobil supaya ia sadar, ia tidak mimpi.


"Dalilah!" ia bergumam sebelum membuka pintu mobilnya.


Ah! wajahnya kusut banget, matanya merah. Seperti banyak yang dipikirkan, kurang tidur, sama sepertiku. Tidak tenang.


"Kenapa disini?" tanyaku sambil menatapnya lekat-lekat.


"Aku hanya mau berada di dekatmu sebelum kamu pergi!" jawabnya lirih.


"Konyol!" Aku tersenyum miris. "Pulang sana, tidur di kamar! Besok sekolah!"


Mas Revi menyentuh kedua bahuku. "Aku memang tidak tahu diri, tapi masuklah ke mobil kalau kamu mau!" katanya.

__ADS_1


Aku bergeming.


Begitu dingin semakin membuatku menggigil, aku mengangguk.


Mobil melesat di jalanan kota. Aku tidak tahu mas Revi mau membawaku kemana, dia hanya diam dan fokus ke jalan.


Sementara radio melantunkan lagu melankolis dengan suara pelan.


Aku terkesiap saat mobil memasuki gapura perumahannya.


"Kenapa kesini?"


"Temani aku sebentar."


Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah. Sepi.


Mas Revi menaiki anak tangga, aku bergeming dibawah. Mas Revi menoleh dan melambaikan tangannya.


Aku menggeleng, aku tidak mau. Kamar mas Revi ada di lantai dua. Pasti dia mau mengajakku ke sana.


Mas Revi menuruni anak tangga lagi lalu menarik tanganku dengan paksa.


"Aku gak macem-macem!" ujarnya pelan.


"Janji?"


Mas Revi berdehem sebelum aku menurutinya masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kesini? Jam empat keluargaku sudah bangun semua!" kataku sambil mengedarkan pandang.


Aku terpesona dengan keindahan kamarnya. Banyak foto kami yang dirahasiakan dari publik tertempel di dinding dengan kata-kata konyol ala Revi Bramasta.


"Mungkin kita butuh waktu untuk mendewasakan diri, namun aku mau kisah kita tidak bertitik."


Mas Revi menyentuh pinggangku, aku refleks berjingkat maju. Kaget.


Sentuhannya terasa begitu asing dalam diriku. Mungkin karena sentuhan pertama.


Aku mendelik. "Jangan macem-macem!" sungutku was-was.


Mas Revi menggeleng. "Aku cuma mau peluk kamu!" katanya sambil membuat jarak diantara kami tak ada.


"Yang terakhir sebelum kamu ninggalin aku!"


Aku kembali merasakan tangannya menyentuh pinggangku. Tubuhku kaku namun aku juga lihat jakunnya naik turun seolah menahan gejolak dalam dirinya.


"Aku belum siap jauh darimu saat aku lagi sayang-sayangnya sama kamu, Lil!" katanya begitu hangat di cuping telingaku saat kepalanya meneleng ke arahku.


Hatiku mencelos. Aku bahkan hanya mampu mengeluarkan sepatah kata maaf untuknya.


Aku menyentuh pinggangnya, mendorongnya pelan untuk membuat jarak diantara kami tak begitu dekat. Mas Revi menghela nafas berat.


"Lilah minta maaf, tapi semoga ini yang terbaik untuk kita!" Aku mengusap lengannya, berusaha meyakinkan bahwa ini hanya sementara.


Toh menurutku long distance relationship juga akan terjadi satu tahun lagi, tapi realitanya lebih cepat daripada yang kami kira sebelumnya.


Mas Revi menggeleng. "Semua orang menganggap ini yang terbaik untuk kita, tapi mereka tidak tahu bahwa aku dan kamu sama-sama terluka karena ini!" katanya penuh emosi.

__ADS_1


Aku meraih tangan mas Revi hati-hati, seolah benda yang rentan pecah.


"Aku lebih terluka jika melihatmu menderita karena aku! Itu lebih berat mas dibanding aku harus mencintaimu dalam jarak."


Aku menengadah untuk melihat wajahnya. Mas Revi mengerjap seraya menunduk sampai mata kami bertemu dalam keheningan tengah malam.


Aku menyugar rambutnya dengan jari ku sebelum menyapu sudut matanya yang menghangat.


"Kita akan bertengkar, kita akan berbaikan. Semesta akan membolak-balik perasaan kita disaat kita berjauhan. Tapi aku janji waktu liburan musim dingin nanti, aku pulang untuk menemui mas Revi! Mas Revi bisa nunggu waktu itu?" Aku tersenyum.


Aku juga sudah mengutarakan semuanya kenapa aku home schooling diluar negeri, bahkan dengan Bimo. Aku sudah memintanya untuk berhenti menjadi pengawalku terhitung sejak perkelahian antar aku dan Angel. Tapi dia tetap bersikukuh untuk menjagaku sampai aku benar-benar pergi ke Australia.


Mas Revi menangkup wajahku. "Jangan cuma janji!"


Kecupan kecil mendarat di bibirku. Mataku melebar dan tubuhku membeku karenanya.


"Kado ulangtahunmu yang ke tujuh belas! Sesuai janjiku karena aku tidak ingkar!"


Aku memukul dadanya. "Kamu sudah nyuri hatiku, sekarang nyuri bibirku, besok mau nyuri apalagi?" sungutku kesal sambil menyentuh bibirku sendiri.


Mas Revi tersenyum miring. "Tergantung! Kalau kita bisa nikah, aku bakal mencuri bungamu. Bunga perawan!"


Aku melengos pergi meninggalkan mas Revi yang terkekeh sendiri.


Bisa-bisanya dia mencium bibirku di situasi yang penuh kemelut ini. Kalau beginikan skandalku tambah lagi.


Nanti judulnya bukan Asmaradana Putri Mahkota tapi Skandal Putri Mahkota.


Aku bergeming cukup lama di pintu mobil sampai mas Revi datang membawa bola basketnya.


"Kenang aku sebagai cinta pertamamu dan basket akan slalu mengingatkanmu pada diriku!"


Aku menerimanya dan keheningan kembali menemani kami sewaktu ia mengantarku pulang.


Mas Revi menepikan mobilnya di bahu jalan di depan pagar rumah, ia memelukku erat sebelum kecupan lagi mendarat di keningku.


"Aku slalu ingin menjadi yang pertama bagimu! Maaf sudah lancang menyentuhmu tengah malam!" Mas Revi mengelus rambutku pelan sebelum ia menarik dirinya.


"Pergilah, aku tidak ikut mengantarmu ke bandara!"


***


Aku menatap sekeliling, masih berharap mas Revi datang disini. Menemaniku walau hanya sampai Bandara.


"Masih nunggu seseorang Mbak?"


Aku mengangguk, aku bilang tunggu lima belas menit lagi.


Selama itu pula aku terus menghubungi mas Revi, memintanya untuk datang disini.


Sampai lima belas menit itu berakhir aku hanya bisa terima kalau mas Revi benar-benar menepati janjinya.


Ada rasa kecewa di benakku saat dia tidak datang meski ia membaca chat dariku. Aku resah, sejurus kemudian. Langkahku tergesa-gesa menuju kamar.


Aku mengambil semua barang yang mas Revi beri, semua yang bisa mengingatkanku tentangnya. Aku juga meminta Suryawijaya untuk mengantarkan buku diaryku untuk mas Revi, buku diary yang berisi curahan hatiku tentang cinta pertamaku.


Revi Bramasta Putra Jayantaka.

__ADS_1


Dan inilah patah hati paling sengaja yang aku lakukan. Jatuh cinta kepadanya.


...Happy Reading....


__ADS_2