ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 57.


__ADS_3

Dalilah.


"Kak Prisia. Mantannya mas Revi." jelasnya padaku tanpa aku minta. Aku mengangguk pelan. Sekarang aku lemes, tidak ada tenaga.


Bagaimana tidak lemes. Aku memang baru pertama kali jatuh cinta, belum punya mantan. Tapi tidak untuk mas Revi. Mantannya mungkin gak cuma satu dan aku baru tahu satu.


Kalau dibandingkan denganku. Beda jauh. Aku jadi minder. Aku bahkan tidak berani mengusap wajahnya yang berkeringat seperti itu. Ada Ayahanda lagi. Apa mas Revi ini gak malu, ayahku ada di atas mimbar kok dia malah mesra-mesraan dengan mantannya.


Apa mas Revi juga gak takut kalau Ayahanda marah dan tidak setuju. Oalah, Gusti. Mas Revi ini sayang gak sih sama aku? Kenapa tidak menjagaku, menjaga perasaan Ayahanda. Ayahanda pasti juga kecewa. Putri satu-satunya serasa dipermainkan olehnya.


Aku duduk termangu. Pengen pulang. Tapi belum ada pengumuman siapa pemenangnya.


"Sedih?" tanya Bimo. Aku menoleh kepadanya dengan pandangan sayu. "Apa aku boleh mengusap wajahnya seperti tadi di muka umum?" tanyaku balik.


Bimo menggeleng. "Ada tissue di tas, berikan saja itu padanya nanti kalau kamu mau perhatian padanya."


Aku mengernyit heran. "Begitu sudah termasuk perhatian?" tanyaku.


Bimo mengangguk. Tapi aku ragu dengannya. Bimo ini kan jomblo. Tahu darimana ia soal perhatian?


"Kamu asal bicara kan!"


"Tidak!"


"Jadi maksudmu, tissue-tissue yang kamu siapkan untukku ini termasuk dalam kategori perhatian?"


Bimo tampak canggung dan mengalihkan pandangannya. Aku tersenyum samar, tissue kok jadi bentuk perhatian. Ada-ada saja batinku.


Dua puluh menit berlalu. Aku yang sudah tidak fokus dengan keadaan mengerutkan kening seraya menoleh ke arah Bimo ketika sorak-sorai dan tepuk tangan terdengar bergemuruh memenuhi gedung olahraga.


Atmosfer kemenangan membumbung tinggi, saat yel...yel sekolah terdengar begitu riang.


Aku tersenyum kecil. Merayakan kemenangan diatas rasa cemburuku? Hahaha... Mas Revi, please. Harus aku jelaskan apa nanti kepada Ayahanda saat kamu diusap keringatnya oleh mantan mu.


Aku duduk termangu setelah melakukan sekali tepuk tangan untuk merayakan kemenangan tim basket sekolah. Sekarang aku ingin cepat-cepat pulang dan istirahat. Hausnya bukan main! Inilah kondisi-kondisi dimana aku malas untuk banyak bicara. Bukan karena lapar, lemes atau cemburu. Tapi karena bau mulutku seperti bau surga. Dan, Bimo paham kondisiku ini.


"Besok kamu libur, Bim! Tidak perlu meminta persetujuan dari Ayahanda. Ini aku yang memintamu untuk istirahat. Karena, aku pun besok juga mau istirahat di kamar." kataku jujur. Aku terlalu lelah untuk melakukan aktivitas setelah hari ini. Aku capek, dan hanya mau mager di kamar.


Bimo mengangguk sambil memincingkan matanya ke arah kanan. Tepat diatas anak tangga. Seorang laki-laki dengan nafas yang ngos-ngosan sembari menoleh ke arahku.


"Princess!"

__ADS_1


Aku tersenyum lebar. Dengan benak yang cukup heran. Mas Revi mencariku sampai segitunya. Apa dia sempat memikirkan aku? Dan tahu aku di dalam GOR ini. Apa dia ingin menemuiku hanya karena dia panik karena aku melihat kejadian tadi.


Dari gelagat mas Revi setelahnya aku tahu dia panik karenanya. Aku tertawa dalam hati. Aku ingin pandai berpura-pura, namun juga tidak mau ditindas begitu saja oleh cinta. Aku sengaja mengajak Bimo untuk berbicara dan jawaban darinya sontak membuat mas Revi merubah air wajahnya. Apalagi saat aku menawarkan baju kejawen milik Suryawijaya. Mas Revi langsung tersenyum kaku.


Lucu sekali. Begitu takutnya ia dengan Suryawijaya saat mas Revi terlihat seperti orang yang baru mendapatkan rasa cemas yang tinggi. Padahal adikku itu emang menakutkan kalau sedang marah.


"Bajunya ndomas Pandu saja boleh, princess?"


Aku mengangguk dan menyengir kuda. "Ndomas Pandu memang lebih fleksibel ketimbang ndomas Suryawijaya. Tapi Ndu... Juga pandai taekwondo." ujar ku sembari berkumpul dengan siswa lain di lapangan basket.


Mas Revi mengangguk, ia menyentuh lenganku sambil tersenyum lebar.


"Terserah, yang penting aku ingin mencoba menjadi sepertimu."


Aku mengangguk sambil melihat ke arah mimbar saat walikota memberikan atensi untuk melihatnya.


Perlahan gemuruh suara mulai mereda dan kami dengan khidmat mendengar pidatonya.


Aku meremas kedua tanganku, gugup, sesaat sebelum mendongkak begitu namaku dipanggil menjadi juara kedua lomba seni budaya.


"Puji syukur, semesta!" ucapku sebelum naik ke atas panggung bersama juara tiga. Satu tim break dance K-Pop dari SMAN 11.


Tiba di panggung. Aku mengatupkan kedua tangan seraya menerima piagam penghargaan dan tropi juara dari Bapak walikota yang berdiri di sebelah Ayahanda.


Sekarang giliran Ayahanda memberiku sebuah penghargaan berupa sejumlah uang tunai sebagai bentuk apresiasi terhadap siswa-siswi berprestasi.


Aku tersenyum malu-malu sembari mengerlingkan mata. Ayahanda mengusap puncak kepalaku yang sudah tidak ada mahkotanya. "My princess."


"Terimakasih, Ayahanda Gusti Kanjeng Sultan." balasku seraya membungkuk hormat.


Ayahanda berkata. "Bergabunglah dengan pemenang yang lain."


Aku mengangguk dan bergabung dengan mereka. Termasuk mas Revi yang sedaritadi tersenyum kepadaku.


"Selamat princess. I love you." bisiknya di belakangku. Aku tersenyum lebar seraya melihat cowok yang baru saja naik ke atas panggung. Penggebuk drum yang membuatku kagum dengan hentakan kakinya di pedal drum tadi.


"Wajar aja kalau dia yang menang. Bagus banget tadi main drumnya." gumamku memujinya. Mas Revi terdiam, ia malah mengenggam tangan kananku. Seolah membuat pengakuan kalau aku ini miliknya.


"Bentar mas, hidung Lilah gatel!" dustaku.


Mas Revi menghela nafas panjang sebelum melepasnya. "Aku mau bantuin garuk hidungmu, tapi... yah." Ia tersenyum kecil.

__ADS_1


Aku tersenyum maklum, dan segera menggaruk hidungku yang benar-benar gatel.


Mas Revi melihatnya sambil menggeleng. "Jangan begitu! Nanti lecet!"


"Lilah harus cepat-cepat pulang untuk menghapus make-upnya. Kalau enggak nanti wajahku gatal semua."


Mas Revi langsung menggeleng cepat. Tidak setuju dengan kataku tadi.


"Kamu gak mau ikut kita jalan-jalan?"


"Kita? Siapa aja mas?" tanyaku curiga.


"Tim basket dan cheers leader. Jalan-jalan untuk merayakan kemenangan ini. Mau yah? Aku pengen sama kamu!"


Aku terkekeh kecil sebelum menggeleng. "Aku gak bisa, Mas. Aku puasa. Jadi aku mau pulang ke rumah setelah rapat nanti." Aku menghela nafas. "Aku capek."


Dahi mas Revi berkerut seketika. "Puasa? Ini kan bukan bulan Ramadhan." jelasnya heran.


"Puasa mutihan." kataku pelan.


Mas Revi menggaruk kepalanya yang basah oleh keringat dan air mineral tadi. Jelas-jelas gatal dan bau. Tapi kenapa malah pada mau jalan-jalan? Tidak pulang dan mandi dulu gitu. Aneh.


Mas Revi tersenyum tipis. "Kalau gitu kamu sebaiknya tidak ikut, kamu kelihatan pucat. Jadi istirahat saja dirumah."


Aku menyengir kuda. Toh kalau tidak ada aku. Ada Mbak Prisia yang menemaninya.


Aku membasahi bibir sebelum seluruh pemenang lomba diajak untuk foto bersama walikota dan Ayahanda. Aku bangga sekali meski hanya juara dua.


Seusai acara foto-foto selesai. Kami semua berada di ruang meeting.


Bapak walikota langsung mengutarakan niat hatinya untuk memboyong pemain basket dan pemenang lomba seni budaya ke Jakarta dalam perlombaan tingkat nasional.


Aku cukup terkesiap ketika Bapak walikota ini meminta seluruh pemenang lomba seni budaya berkolaborasi dalam satu koreografi tari tradisional dan KPop yang dibarengi dengan gebukan drum.


Otakku langsung membeku. Gak bisa mikir. Apalagi cowok tadi mengajakku berkenalan seraya meminta nomer WA-ku.


Aku yakin, Bimo langsung senewen karena kerjaannya nambah. Begitupun mas Revi yang mati-matian untuk tidak ikut campur dalam urusanku ini.


Aku mengulurkan tanganku seraya mengukir senyum. "Dalilah." Cowok itu menggenggam tanganku seraya menyebutkan namanya.


"Derren."

__ADS_1


...Happy Reading....


__ADS_2