
Revi.
Jantungku berdebar-debar, tensiku naik. Aku begitu panik. Pagi ini aku harus sarapan dengan keluarga besar kerajaan sebelum prepare untuk lomba nanti siang.
Aku menatap nyalang Kendrick yang tidur sekamar denganku dan Reno.
"Kenapa?" tanyanya heran. Aku membuang nafas kasar. "Temenin!"
Kendrick mengerutkan keningnya dengan canda yang terlihat di kilau matanya. Aku mendengus.
Aku benar-benar panik. Aku butuh teman yang benar-benar bisa aku andalan dalam situasi genting seperti ini.
Kini, aku menyadari bahwa keberadaan mommy dan daddy yang berada di sekitarku saat berada di keluarga Dalilah adalah sebuah ketenangan batin dan perasaan aman.
Kendrick meneliti penampilanku, aku ikut melihat diriku sendiri. Aneh.
Aku hanya memakai sendal yang disediakan hotel, celana pendek, dan kaos panjang.
"Mau begitu?" Kendrick menaikkan satu alisnya. Aku tersenyum masam.
"Ganti yang sopan dan keren! Anak mommy kok santai-santai begini, mau breakfast bareng keluarga kerajaan lagi! Yang pintar dong, Rev!" cibir Kendrick.
Reno yang masih asyik rebahan terkekeh. "Apalagi tadi malam, Ken! Dia konyol banget beli coklat coin di toko sebelah buat di kasih ke Lilah. Mana cuma lima lagi, mana katanya tadi malam buat rebutan adik-adiknya! Benar-benar ambyar hidupnya." Reno terkekeh.
Aku menyengir kuda saat ku ingat tadi malam Dalilah mengirimkan foto coklatnya yang tinggal sebutir.
Beliin lagi.
Rengeknya dengan emoticon sedih.
"Aku pikir dia sendiri, jadi lima cukup untuknya. Apalagi aku takut dia sakit gigi."
Reno semakin terkekeh dan memukul-mukul bantal. "Justru coklat kalau cuma satu itu, cuma jadi jigong. Goblok!"
Aku langsung melemparnya sendal hotel ini kepadanya. "Goblok! Goblok!" sungut ku kesal. Reno terkekeh, ia membuka kopernya dan memberiku jas hitam model anak muda. Aku mengernyit.
"Pakai nih buat ganti jaketmu! Rambutmu juga pakai pomade biar rapi!" ujar Reno. Aku tersenyum hangat.
My best friend till die.
Kendrick yang sudah menyiapkan sepatuku dan sisir mendengus dingin.
"Pantesan mommy minta aku ikut ke sini. Ternyata cuma di suruh nemenin Revi di arena pertempuran cinta!"
Kendrick menurunkan bahuku dengan paksa. Tangannya mulai mengoleskan pomade di rambutnya, dengan pelan-pelan ia menyisirnya dan membentuk gaya belah pinggir.
__ADS_1
Aku mendengus, aku jadi terlihat cupu.
"Gak gini juga kali, Ken! Rambutku ini adalah anggota tubuh yang paling Dalilah sukai lho! Biasanya aja yang penting tapi!"
Kendrick menonyor kepalaku. "Udah di bantuin masih aja ngelunjak!"
Aku tersenyum konyol. Tangan Kendrick mulai menyugar rambutku dan mengacak-acaknya biar keren.
"Ganti baju, pake parfum! Jangan malu-maluin Om!"
Om?
Aku dan Reno tertawa. Kendrick di tulang lunglai ini menyebutkan dirinya Om? Benar-benar abstrak. Tapi percayalah, dibalik sikapnya yang lemah gemulai ini ada darah pembunuhan yang mengalir di dalam urat nadinya.
***
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku sudah bersiap untuk sarapan bareng keluarga kerajaan.
Bukan aku saja sebenarnya, semua perwakilan dari sekolah ikut serta. Tapi aku ingin terlihat istimewa dan paling tampan untuk Dalilah.
"Jaga etika, elegan, dan terhormat! Kamu juga, Ren! Jangan banyak cingcong, jangan goda Revi!"
Reno berdehem dengan malas. Aku pun deg-degan lagi karena jika biasanya aku hanya makan bersama keluarga inti Dalilah, sekarang aku harus bertemu sepupunya, kakeknya, omnya, tantenya dan abdi dalem dengan pangkat tinggi lainnya.
Citraku benar-benar di pertaruhan seminggu ini.
Aku membuang nafas panjang, menghirup udara dalam-dalam dan tersenyum lebar.
"Konyol banget kamu, Rev!" seloroh Reno.
"Kamu gak tau gimana jadi aku, Ren!"
Reno terkekeh kecil. "Salah sendiri dulu sok-sokan main taruhan. Terima akibatnya aja, Rev! Dan Ikhlas, karena dari ikhlas kamu bisa menjalaninya dengan santuyyy...." Reno menepuk pundakku dengan senyum semangat seorang motivator.
Ngomong-ngomong soal ikhlas, tumben dia encer banget otaknya. Dapat kultum pagi dimana dia. Apa emak dan bapaknya jadi memberinya pelajaran tambahan di rumah? Kalau iya, lucu juga. Seorang Reno, si anak konglomerat juragan kelapa sawit ini mempunyai guru kehidupan.
Tanpa sadar aku terkekeh dibuatnya.
***
Restoran hotel penuh dengan orang-orang dari etnik Jawa. Rata-rata keluarga Dalilah menggunakan pakaian batik dengan bermacam-macam model.
Sedangkan ia yang berdiri di samping Ayahanda Raja dan Ratu menggunakan baju biasa. Tanpa alas bedak sama sekali.
"Saya ucapkan banyak terimakasih kepada semuanya yang telah berkumpul bersama keluarga kami tercinta. Saya harap bapak-ibu dan adik-adik semuanya menikmati jamuan sarapan pagi ini. Silahkan di nikmati."
__ADS_1
Itu pembukaan yang di lakukan oleh Ayahanda sebelum kami semua duduk dan menikmati sarapan ini dalam hening. Hanya suara peralatan makan saja yang mengisi restoran ini.
Setelah semua selesai, anggota keluarga Dalilah membubarkan diri satu persatu. Tanpa ngobrol, atau membicarakan remeh-temeh setelah sarapan.
Aku terperangah, ternyata ketakutan-ketakutanku tadi hanyalah hantu yang gentayangan di otakku. Bahkan aku tak terlihat seperti kekasihnya tuan putri.
"Kita berangkat satu jam lagi! Hari ini kita hanya melihat lomba seni tari karena jadwal lomba basket masih besok pagi! Mengerti?" Suara bariton dari pak Bambang.
"Mengerti, Pak!" jawab kami serempak.
Aku yang sudah siap dan hanya perlu mengganti jas ini dengan almamater sekolah langsung menuju kamar dimana Dalilah bersiap-siap. Aku penasaran, dan hari ini juga aku akan tahu bagaimana ia menari.
Kata Derren ia berlatih dengan keras. Itu pasti akan membuahkan hasil yang maksimal.
Kamar ini tampak ramai dan wala... Kembang setaman, dupa dan kemenyan ada disini. Belum lagi bunga-bunga melati yang bertaburan di atas lantai membuatku mengernyit bingung. Apa mereka membawanya kemari?
"Ngapain lihat-lihat!" Aku tersentak kaget. "Mbak Lilah bukan tontonan!" ujar Pandu di belakangku.
Aku menyengir kuda. "Aku hanya memantau keadaan disini." jawabku kikuk. Meski tengil dia ini pintar. Pintar banget ngomongin soal hantu dan hal-hal metafisika.
Sayangnya aku gak pernah sampai jika ia bercerita, karena yang aku pahami cuma rumus matematika dan fisika. Bukan metafisika!
"Bayar dulu ongkos lihatnya! Beliin Mbak Lilah coklat coin seperti tadi malam! Mbak Lilah nesu, coklatnya aku makan semua!"
Ya Allah... Cuma mau lihat Dalilah makeup aja harus bayar pajak. Sementara keluarganya yang lain terlihat acuh tak acuh terhadap Pandu dan aku.
Aku berprasangka baik. Akhirnya aku turun ke bawah untuk membeli coklat coin lagi. Siapa tahu kan coklat yang aku beri bisa membangkitkan semangat Dalilah nanti.
Beruntung tokonya sudah buka. Aku langsung membeli satu toples coklat coin untuk membayar pajak berhadiah menarik berupa melihat Dalilah di makeup. Wajahnya pasti lucu dan terlihat dewasa dari usia sebenarnya.
Aku kembali ke hotel. Tapi teman-temanku yang berada di lobi hotel memintanya saat tahu aku membawa jajanan.
"Bagi-bagi, Rev!"
Aku membuang nafas. Satu, dua, tiga, empat sampai hilang setengah isinya.
Aku menutup toples dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan saat aku mundur dengan tergesa-gesa untuk menghindari tangan-tangan jail mereka aku menabrak seseorang.
"Ehm!!!"
Mampus. batinku saat tahu siapa yang aku tabrak. Aku tersenyum kaku.
"Maaf eyang..." ujarku sambil mengatupkan kedua tangan dengan toples yang aku himpit di lenganku.
Eyang kakung Dalilah mencermatiku baik-baik dengan mata yang menyipit. "Jangan ceroboh!" ujarnya lalu pergi.
__ADS_1
...Happy Reading...