
Revi.
Jika malam Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kawula muda untuk berkencan ke rumah sang kekasih, atau mengajaknya jalan-jalan dan menghabiskan waktu di penghujung hari bersama. Malam Minggu kali ini aku mendapati kadar gula dalam darahku menurun drastis. Aku gugup karena hari ini aku harus bertandang ke rumah princess. Membicarakan masalah hati seperti yang ia katakan tempo hari.
"Hati-hati Rev, aku akan menjadi ancaman bagi hatimu!"
Ya Tuhan! Dia benar-benar sebuah ancaman sekarang. Aku mengusap wajahku, lalu menengadah. Menatap jauh plafon rumah ini.
"Kamu benar-benar pacar Dalilah!" ujar seorang laki-laki berumur mata yang merangkul bahu princess di sore hari kala itu. Aku tergagap. Ingin mengakui jika Dalilah memang pacarku. Tapi karena taruhan! Sesuatu yang tidak lucu untuk dikatakan bukan?
Aku mencoba untuk menghindari amukannya dengan hanya tersenyum semanis mungkin. Berharap laki-laki menawan itu terpesona lalu membiarkanku lolos hari ini.
Biar aku pastikan dulu, biar aku tembak Dalilah dulu dengan serius. Lalu aku bisa mengatakan pada dunia jika Dalilah memang pacarku.
"Dalilah berkata bahwa kamu pacarnya! Bisa menjawabnya? Terus kamu bisa apa?" Matanya menatapku penuh binar mencekam, seperti hendak menyerang. Ya Tuhan... kenapa ia seperti seorang diktator Hitler.
Aku menatap Dalilah sejenak, ia menajamkan matanya. Seolah berkata tanpa suara bahwa aku harus menjawabnya agar tidak perlu membuang waktu lagi.
"Saya rasa jika Dalilah sudah berkata bahwa saya pacarnya. Saya akan mengiyakan. Tapi saya harus meyakinkannya terlebih dahulu apa ini hanya sekedar pengakuan."
Oh, Tuhan semoga jawabanku tidak memancing pertanyaan lain dari laki-laki menawan yang mengeratkan rangkulannya itu puas dengan jawabanku.
"Dialog ini cukup membuat saya resah! Besok datanglah ke istana. Saya akan menyambut kedatanganmu sebelum kamu bertemu dengan kakak saya! Satu lagi, jangan genggam tangan Dalilah jika hanya menyakitinya!"
Aku mengacak-acaknya rambutku setelah mengingatnya lagi.
"Kebanyakan nyali sih! Jadi kena sendiri batunya. Tapi berhenti sekarang bukan pilihan bagiku. Toh semua berawal dari kenekatan lalu menjadi yang tersayang!"
Aku mengepalkan tanganku ke udara.
"Maju terus pantang mundur! Lagian maju kena mundur juga kena!" ucapku sembari menyaut kunci motor.
__ADS_1
Aku berjalan menuju studio musik untuk berpamitan pada mommy. "Doain Revi ya, Mom. Hari ini adalah hidup dan mati Revi." kataku ingin tertawa saat melihat keriput di wajah mommy. Walaupun mommy cantik dan melakukan segala perawatannya agar terlihat lebih muda dari daddy. Tetap saja kerutan di wajah mommy menandakan bahwa mommy cemas.
"Kamu harus tetap hidup dan pulang ke rumah! Mengerti!" ujar mommy dengan galak. "Kamu anak satu-satunya mommy dengan daddy, kedua kakakmu sudah mandiri, Rev! Mommy bakal kesepian!"
"Doain ya, mom. Kalau salah langkah lagi, Revi bakal dicap sebagai bad boy dan cowok yang suka main-main!"
"Itu pasti! Hati-hati dijalan. Mommy tunggu kabar baiknya!" Mommy mendorong ku keluar dari studio musik seperti membuatku tak punya waktu lagi untuk mengulur waktu dan mengatasi rasa cemasku.
[ Rumah Princess ]
Princess menyambut ku dengan ramah. Aku berpikir, apa ia merasa bahwa kami sudah pacaran. Kalau iya sejak kapan? Apa princess benar-benar menanggapi taruhan kemarin dengan serius? Kalau iya apa aku tidak perlu menebaknya lagi?
Ah. Entahlah.
Tapi slalu saja jawaban dari pertanyaanku ia jawab dengan ketus. Jadi bagaimana? Apa kami sudah benar-benar berpacaran atau belum! Astaga. Mungkin baginya perkenalan kami adalah kekonyolan dan membuatnya ilfill. Tapi buat aku perkenalkan kami adalah takdir.
Aku cinta pertamanya dengan segudang kenangan yang tak pernah sanggup ia lupakan jauh-jauh hari nanti. Aku adalah laki-laki pertama yang membuatnya jatuh hati. Percayalah princess, kamu hanya belum mengenalku dengan baik.
"Maaf ndoro putri, Gusti pangeran haryo Nanang ingin bertemu dengan ndoro putri dan teman di ruang keluarga."
Saat itu, aku langsung diam ketika mendengarkan penuturan seorang abdi dalem. Jadi, aku memang harus menghadap pada gusti pangeran haryo Nanang? Laki-laki menawan dengan segudang pertanyaan yang menyebalkan itu.
Ya Tuhan... Malam Minggu ini benar-benar suram. Aku seperti seonggok daging yang siap dicincang. Terlihat merana dan princess senang sekali karenanya. Ia meledekku sampai aku hanya bisa diam menuruti semua keinginan laki-laki menawan dengan gaya juwama di depanku.
Tapi setelahnya aku mendapat jackpot. Aku dan princess diperbolehkan untuk membawa pulang baju couple yang disediakan oleh Gusti pangeran haryo Nanang di clothing store miliknya.
Aku gak menyangka jika clothing store yang menjadi langgananku berbelanja baju sehari-hari adalah milik keluarga princess. Itu tandanya aku selangkah lebih dekat dengan keluarga princess dan bukan berarti ini semua sudah menjadi garis takdirku untuk menjadi bagian dari hidup princess.
[ Hari Minggu ]
Keluargaku slalu meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga besar di hari Minggu. Tak terkecuali sekarang. Aku berkumpul bersama dua kakak tiri ku. Seorang wanita yang jago membidik sasaran dengan pistolnya. Satunya lagi seorang musisi dengan gaya bad boy yang melebihi diriku.
__ADS_1
Sudah menjadi hal lumrah jika kami bertiga bertemu, aku akan menjadi bulan-bulanan mereka berdua.
"Kata mommy kamu punya cewek, Rev! Siapa? Kenalin sama kakak sini!" ujar kakak laki-lakiku dengan jenaka.
Kakak perempuanku menggeleng kuat-kuat! "Jangan, Rev. Jangan! Dia itu playboy kelas ikan lele! Kebanyakan patil, sekali kesambet patilnya cewek bakal klepek-klepek!"
Kakak laki-lakiku tertawa terbahak-bahak saat aku mendengus kesal. Mereka sempat-sempatnya bercanda di atas kecemasanku memikirkan princess.
"Kalian bakal kaget kalau tahu siapa yang menjadi gebetan baru Revi, Kak!" Mommy ikutan nimbrung sembari membawa nampan berisi camilan. Beliau duduk di sebelah kakak perempuanku.
"Siapa mom?" tanya kedua kakakku penasaran.
"Kalian bakal tahu setelah melihat tayangan ini." Mommy menghidupkan televisi, lalu menyambungkan sebuah streaming video melalui sistem operasi smartphonenya yang bisa terhubung dengan sistem televisi.
Aku terpana, ternganga saat mendapati princess sedang menari dengan anggun. Salah satu hal yang baru aku ketahui jika ia pintar menari. Tariannya sangat lembut, lemah gemulai, sangat kontras dengan kelakuannya saat bermain basket. Sejenak aku berpikir, princess punya berapa kepribadian sih? Kenapa ia sangat-sangat pintar mengatur dirinya.
Aku menatap layar televisi dengan tajam. Seluruh bola mataku melotot saat aku mendapati dirinya ditemani seseorang yang aku kenali sebagai Bimo. Laki-laki yang menjadi teman princess di sekolah!
Aku mengepalkan tanganku kesal. Sejauh apa laki-laki itu mendekati princess! Ini tidak bisa didiamkan, bahkan ia sudah memasuki ranah keluarga princess. Tidak tanggung-tanggung sekali nyalinya.
"Kalau ini sih bukan sembarang gebetan, Rev! Kalau kakak jadi kamu, kakak udah nyerah duluan. Sulit Rev! Dunianya berbeda dengan kita. Ehm... Sedari kecil kita sudah dibebaskan dalam banyak hal. Tapi dia, cewek yang hampir jatuh tadi sudah diajarkan untuk disiplin dan mentaati peraturan sejak kecil!" ujar kakak laki-lakiku mengingatkan.
"Tapi sedari kecil, mommy, daddy, mama dan ayah tidak pernah mengajariku untuk menyerah kak! Aku baru mencobanya malah, ini masih dalam permulaan. Aku sedang menggebu-gebu!" selorohku tidak terima. Tidak terima karena diam-diam sudah ada yang mencuri start untuk mendekati princess, keluarganya dan seluruh dunianya. Sedangkan aku? Mati-matian bersikap bodoh hanya untuk mendekati princess!
Aku menggeram kesal.
"Oh my little boy. Kalem ya! Kakak hanya menyarankan agar tidak gegabah dalam bertindak. Bersikaplah sewajarnya saja. Gadis seperti dia tidak akan bisa dirayu dengan rayuan murahan yang kamu miliki!" seloroh kakak laki-lakiku, terdengar menyebalkan tapi ada benarnya.
Aku menghembuskan nafas. Apa iya aku harus belajar ilmu rayuan pulau kelapa dengan playboy cap gajah ini! Sepertinya patut coba.
...Happy Reading š„°...
__ADS_1