
Dalilah.
Tiba waktu yang slalu aku takutkan. Sesuatu yang tak mungkin aku elakkan. Slalu aku hindari dalam satu bulan ini. Tanpa tahu alasannya, aku takut bertemu Ayahanda. Tapi aku merindukannya. Aku merindukan sosok laki-laki yang menjadi tempat favoritku untuk bercerita.
Seminggu ini aku masih menghindarinya. Meski Ibunda berkata semua sudah baik-baik saja. Sudah tidak ada situasi menegangkan bagiku di dalam istana.
Aku menatap cermin, dalam ku tatap mataku. Masih ada beban berat yang aku sembunyikan. Dan, hanya Ayahanda yang menjadi solusinya.
Aku menatap ketiga surat yang Revi berikan kepadaku. Semua surat ini Om Nanang yang berikan, kecuali Minggu lalu. Ibunda sendiri yang menyerahkan padaku.
Katanya malam Minggu itu Ibunda bertemu dengan Revi di clothing store milik om Nanang. Ibunda banyak membicarakan hal yang menyenangkan---buat mereka. Tidak buat aku karena aku tidak andil disitu.
Senyum di sudut bibirku perlahan memudar saat abdi dalem memanggilku.
"Ya, Mbok." jawabku sambil menyimpan surat-surat berharga bagiku.
"Gusti Kanjeng Sultan memanggil ndoro putri untuk menemui Gusti Kanjeng Sultan di ruang keluarga!" ujar abdi dalem yang sopan kepadaku.
Aku mengumbar senyum, "Terimakasih Mbok. Terimakasih masih menghormati Lilah!"
"Saya senang mendengar keluh kesah ndoro putri. Jangan lama-lama. Sudah cukup bersitegang dengan Ayahanda. Kembalilah, beliau merindukan anak gadisnya."
Ayahanda rindu padaku? Yakin? Ah... Ayahanda masih terlihat menyeramkan bagiku. Kalau kami berjalan berpapasan, aku saja hanya berani menundukkan kepala. Mengangguk sopan lalu menghilang. Begitu terus tanpa sepatah kata yang menyapa mesra seperti biasanya.
"Baik, Mbok. Lilah akan ke ruang keluarga secepat mungkin." janjiku, "Apa Ibunda ada disana?" tanyaku sekalian menyiapkan bagaimana jantungku akan bekerja.
"Tidak. Ayahanda hanya bersama teman ndoro ayu." Abdi dalem tersenyum, membungkuk lalu memundurkan langkahnya dan menghilang dari kamarku.
Aku mengerutkan kening, temanku? Baskara atau Bimo? Ehm... secepat mungkin aku merapikan rambutku. Aku juga sudah merapikan kaos pemberian Revi yang dibelikan di tokonya Om Nanang.
Aku tersenyum simpul sambil memakai lipstik yang diam-diam dibelikan Ibunda. Ayahanda tidak perlu tahu, karena itu urusan wanita. Ayahanda hanya cukup memberikan uang saja.
Aku tersenyum, merapikan lipstik berwarna peach blossom yang nyaris berwarna sama seperti bibirku.
__ADS_1
Aku menekuri jalan menuju ruang keluarga. Terakhir disana aku mendapati sebuah pertengkaran dan itu seperti kejahatan yang luar biasa. Melukai hati yang sudah terluka.
Aku terus menunduk sambil berdoa. Semoga ini adalah hari yang baik. Aku kembali ke rumah. Rumah yang benar-benar rumah. Ayahanda bisa menjadi temanku lagi, aku bisa menjadi Dalilah yang biasanya tanpa beban ini. Tapi yang penting aku bisa sekolah lagi, bertemu mas Revi, kesayanganku.
Aku berhenti, memejamkan sebentar. Selangkah lagi aku sampai di ruang keluarga.
Apa yang akan terjadi disini. Kalimat mana yang aku pilih untuk memulai usaha ini.
Satu helaan nafas panjang sebelum aku melangkah lagi, mendongkak. Terpana.
"Bimo..." kataku tanpa melanjutkan langkahku. Aku menatapnya, dia hanya tersenyum tipis.
Bimo? Kenapa dia nyasar disini. Kenapa dengan Ayahanda. Aku berkutat dengan pikiranku sendiri. Menerka-nerka kehadirannya. Harusnya kan mas Revi. Tapi kenapa Bimo? Bahkan aku sudah melupakannya, seolah-olah ia tidak penting lagi bagiku. Seolah dia hanyalah teman yang hanya menyapa 'Hai...' lalu pergi.
"Duduklah putriku!" Ayahanda tersenyum manis. Menepuk sebelah kursi didekatnya.
Aku mengangkat bahu, masih bingung dengan kehadiran Bimo yang tampak tegang di depan Ayahanda.
"Tapi kenapa? Lilah masih di hukum. Tidak boleh ketemu dengan orang luar." kataku masih terpaku di tempat ini.
"Hukumanmu akan berakhir besok pagi. Sekarang tahap pertama untuk kembali kepada Ayahanda. Duduklah." Ayahanda tersenyum. Tangannya terus menepuk kursi disebelahnya.
Aku mengangguk, dengan ragu-ragu aku berjalan mendekati Ayahanda.
"Baik Ayahanda. Terimakasih." ujarku pelan.
Aku duduk, menunduk. Ayahanda mengelus rambutku, di depan Bimo! Aku mendadak risi.
Ayahanda kenapa to? Kenapa begini. Aku kan malu.
"Ayahanda mengundang Bimo untuk menjadi orang yang menjagamu di sekolah nanti. Bimo menjadi abdi dalem yang Ayahanda berikan tugas untuk menjagamu."
Mataku membulat sempurna, "Lilah bukan anak kecil yang harus dijaga Ayahanda. Lilah juga... Lilah juga tidak akan meminta cium lagi kepada mas Revi. Lilah berjanji kalau itu yang Ayahanda takutkan!" kataku menggebu-gebu. Sungguh, rencana apa yang disajikan Ayahanda selama aku tidak bercengkrama dengan beliau selama satu bulan ini.
__ADS_1
"Kamu tidak pintar berjanji Lilah, putri kecilku." Suara Ayahanda dalam, penuh penegasan.
Aku meremas tanganku. Kesal.
"Bagaimana jika Lilah menolaknya? Apa Ayahanda masih berniat untuk menjadikan Bimo sebagai penjagaku?" tanyaku langsung.
"Home schooling!" jawab Ayahanda tegas.
Aku menatap Bimo langsung. Ia membungkuk hormat sambil tersenyum kecil.
"Dibayar berapa sama Ayahanda untuk menjagaku? Dan kenapa kamu mau? Apa kamu tidak punya kegiatan lain!" kataku tidak terima.
Ayahanda membentak ku, "Tidak sopan! Begini yang Ayahanda takutkan. Kamu akan susah mengontrol emosimu diluar sana!"
Arggghhh... Aku menggeram kesal lalu berdiri, "Apapun alasan Ayahanda. Ayahanda sudah mengekang kebebasanku. Ayahanda tidak pernah memahami ku. Ayahanda hanya memikirkan keutuhan dan kekuasaan kerajaan. Satu lagi, Ayahanda seperti tidak pernah muda! Ayahanda kolot!"
Plak.
Aku memegang pipiku. Ayahanda menamparku. Ayahanda tega. Dengan pipi yang memanas dan rintihan kecil tertahan di tenggorokan ku. Aku menatap Ayahanda dengan urai air mata yang menetes deras.
"Lilah mau pergi dari sini! Lilah mau tinggal di Australia! Biar Ayahanda gak perlu bingung dengan tingkah Lilah! Biar Lilah juga tidak perlu menyusahkan Ayahanda!"
Aku berlari keluar dari ruang keluarga. Ribet sekali masalah ini. Kenapa dimana-mana harus ada yang menjaga. Kenapa harus Bimo! Lalu bagaimana Revi. Revi pasti akan curiga karena keberadaan Bimo yang menjagaku. Revi pasti akan tidak nyaman. Dan hubunganku dengannya pasti ditimpa masalah lagi. Oh, Gusti. Kenapa pacaran jadi seribet ini. Kenapa... Apa aku memang gak boleh pacaran sama sekali.
Aku berhenti disebuah taman, tempat dimana aku sering duduk dengan Revi jika dia mengunjunginya.
"Ke-napa..." Aku menunduk meneteskan air mata. Sepertinya home schooling lebih baik daripada harus dijaga Bimo. Tapi sama saja itu tidak memperbaiki keadaan. Justru semakin ribet, karena aku tidak bisa melihat Revi. Satu bulan ini saja aku tersiksa dalam rindu yang menggebu. Eh...
Aku masih sesenggukan, perlahan baju yang dibelikan Revi mulai basah karena aku gunakan untuk membersihkan wajahku dan ingus ku.
Maafin Lilah, mas Revi. Lilah hanya amatiran dalam masalah cinta dan tidak ada keberanian untuk menolak perintah Ayahanda. Satu tamparan ini sangat menyakitiku dan aku sangat terluka karenanya. Ini juga hukuman bagiku. Lagi.
...Happy Reading đź’š...
__ADS_1