
Dalilah.
Mas Jati mengusap perutku, mengecupnya sebentar, mengusapnya lagi di putar-putar sambil berkata. "Bim salabim jadi gendut!" guraunya sambil terbahak di atas perutku.
Aku mendelikkan mata dan langsung menjentikkan jariku di telinganya. "Berharap banget aku gendut!"
Mas Jati terkekeh, ia menatap perutku lekat-lekat dengan raut wajah yang memikirkan sesuatu.
Bibirnya kembali mengecup perutku dan menaikkan bajuku perlahan.
"Sebentar, dear!" bisiknya dengan suara serak.
Aku langsung menurunkan bajuku.
"Daddy bilang aku tidak boleh sering-sering org*sme, nanti keguguran!"
Mas Jati menegakkan tubuhnya, ia menatapku dalam sembari mengernyit tak suka. "Sebelum kamu hamil pun kita sering melakukannya jika tidak puasa! Tidak ada masalah dengan perutmu, tapi sekarang?" Mas Jati memberengut.
"Sebenarnya yang hamil siapa sih, kenapa kamu yang sensitif!" gerutuku.
Mas Jati menangkup wajahku.
"Kamu yang hamil, tapi aku yang nyidam! Ini pembagian tugas yang adil, kalau kamu gak mau cukup merem aja, nikmatilah sensasinya!"
Aku mendesis lalu ku biarkan mas Jati menarik bajuku ke atas, melepas pengait bra dan tersenyum lebar.
Aku menjep saat ia melihat kedua puncak gairahku penuh minat, senyumnya melebarkan, lalu malu sendiri.
Aku menggaruk kepalaku heran. Aku cukup risi dengan tatapannya yang menggelikan ini. Bukan tatapan penuh keinginan, tapi jail.
"Kenapa to mas! Ada yang mengganggu kewarasanmu?" sindir ku.
Mas Jati malah mengangguk setuju.
Kelakuannya semenjak tahu aku hamil muda jadi aneh sendiri.
Prediksiku ternyata salah, dia justru tidak waras saat aku hamil. Membuatku resah dengan keinginannya yang absurd, atau bisa jadi ini balas dendamnya atas keinginanku kemarin-kemarin yang membuatnya gemetar-gemetar menahan kesal denganku. Kalau iya, gawat ini!
Mas Jati menyunggingkan senyum jail, ia memilin puncak gairahku. Memilinnya pelan, menariknya, lalu sesekali meremasnya dengan pelan.
Aku mengusap wajahku, ada yang hilang saat ia tidak mencium bibirku dulu. Bibirku terasa kering, mendambakan sapuan lembut dari bibirnya yang hangat.
Ini benar-benar gila. Mas Jati masih stuck di sana, membuat dadaku kembang kempis.
__ADS_1
Aku menelan ludahku, membasahi bibirku dan menahan tangannya saat berada di dadaku. Mas Jati menatapku dengan pandangan gelap dan terpejam.
"Sudah mas, cukup."
Mas Jati menyunggingkan senyum miring, menyebalkan. "Belum sayang... Aku masih ingin."
Aku menggeleng kuat-kuat. "Perih kalau cuma di pilin-pilin!" ujarku pelan. Mas Jati mencium keningku, memasang lagi braku dengan hati-hati.
Aku menatapnya heran, kenapa tidak ada agresi lain selain hanya bermain-main dengan mata yang berkilat-kilat penuh humor.
Ya, ampun. Mas Jati hanya menggodaku.
Pakaianku kembali utuh seperti tadi.
"Kenapa tidak diselesaikan? Daddy tidak melarang kita untuk bersenang-senang, hanya saja tidak terlalu sering." protes ku.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya saat mas Jati bersandar di kepala ranjang. Mas Jati membuang nafas panjang, seperti ada yang ia pikirkan tentang hari ini. Hari dimana aku dan mas Jati menjalani hari-hari yang penuh adrenalin.
"Ujiannya gagal?" tanyaku padanya. Aku berharap tidak, karena aku mau ia dipandang sebagai laki-laki hebat oleh keluargaku ataupun Arkananta yang menganggapnya hanya beruntung mendapatkanku.
Mas Jati menggeleng cepat. "Belum keluar hasilnya!" Suara suamiku serak dan terlalu serius. "Aku hanya takut kebablasan mendesakmu terlalu dalam."
Pembicaraan ini membuatku tersenyum. Ia pasti sedang menekan egonya sendiri untuk tidak menuntaskan hasratnya.
"Tapi ingin?" tanyaku. "Kalau ingin bilang ingin, kalau cuma main-main aku yang tidak bisa tidur tenang. Mimpiku buruk karena memikirkanmu."
Aku mengubah pembicaraan dengan mengambil tas berpergian ku. Mungkin melihat anak kami yang masih sebesar biji jagung membuatnya tersenyum manis.
"Ibunda meminta banyak print USG anak kita, katanya buat simpanan! Daddy sampai heran dengan sisi nyeleneh ibuku saat memintanya tadi, bahkan ketika Ibunda memikirkan bagaimana anak kita nanti. Daddy sampai berpikir keras bagaimana Ayahanda membentuk ibundaku dalam arti lain."
Aku menaruh foto USG ditangan mas Jati, ia menatapnya sambil tersenyum hangat. "Kamu adalah risiko terbesar yang kembali aku ambil." Mas Jati menempelkan bibirnya dengan lembut di bibirku. "Dan hadiah terindah bagiku."
***
Ibunda tergelak sendiri saat menunjukkan album foto masa kecilku dihadapan mas Jati dan adik-adikku.
Aku menutup wajahku yang malu, terheran-heran melihat banyaknya album foto USG-ku sendiri waktu masih menjadi janin.
Separah ini antusias Ayahanda saat menyambut kedatanganku di perut Ibunda. Aku menggeleng sendiri, menyadari bapakku ini lucu banget dengan kelakuannya saat muda. Hanya saat muda. Tidak berlaku untuk sekarang.
Suryawijaya dan Pandu menghembuskan nafas kasar, mereka bersedekap seraya menatapku dan mas Jati secara bergantian.
"Aku bahagia lho, Bun, sebentar lagi mau punya keponakan kecil! Tapi aku gak bahagia kalau Ibunda lebih sayang sama cucu daripada aku!" ucap Pandu penuh kecemasan.
__ADS_1
Aku dan mas Jati mengernyit, Suryawijaya yang hendak bersekongkol dengannya pun menatap adiknya heran.
Ibunda memijat keningnya, si bungsu ini masih gak sadar kalau udah gede, udah kuliah, udah banyak cewek-cewek yang suka karena sikapnya yang easy going.
"Sayangnya Ibunda ini seluas samudra, jadi semua kebagian ndomas! Jangan sedih to, lagian cucunya Ibunda yang ini pasti sama sepertimu."
Pandu refleks memundurkan tubuhnya. "Kok sama piye to, Bun? Yang buat bukan aku kok, dipada-padake aku!" sungutnya kesal.
"Ibunda bilang sama yo sama, percoyo to!" tuntut Ibunda keras kepala.
"Kok bisa Ibunda menyimpulkan begitu? Kan cucunya Ibunda masih didalam perut Lilah! Belum terlihat batang hidungnya!" seruku heran.
"Begini lho Mbak! Pandu ini duplikatmu versi laki-laki, sementara mas Jati, bojomu, kelakuannya mirip Pandu juga. Serius tapi santai. Jadi bisa to kamu bayangkan bagaimana generasi penerus ini nanti, Mbak, Mas, Ndu?"
Kami bertiga saling melempar pandangan bertanya. Pandu yang menjadi orang tertuduh di kasus ini mengusap wajahnya, merasa tuduhan Ibunda benar.
"Kasian ya mas anak kita, baru satu bulan lebih usianya dikandungan sudah digadang-gadang seperti Pandu, pasti lucu-lucu nyebelin!" ucapku.
Mas Jati mengangguk setuju, ia menatap Pandu yang melotot ke arahnya. "Apa!"
Bimo yang baru saja datang dari dapur membawa teh hangat untuk kami berenam.
Aku tersenyum senang. Teh buatan mas Bimo slalu mantap rasanya. Pas, manis, pahit, hangat seperti yang buat.
"Maacih, pakde Bimo." ucapku riang. Bimo mengangguk dan membalas senyumanku.
Mas Jati berdehem, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir teh untukmu. "Masih panas, hati-hati!" ujarnya defensif.
Semua orang menatap mas Jati dengan heran. Ia terlalu sensitif terhadap sesuatu yang menyinggung perasaannya. Entah itu disengaja ataupun tidak.
Aku sekarang juga berhati-hati dalam bertindak, apalagi saat chatting dengan grup sepupuku. Arkananta tetap menjadi laki-laki paling ia cemburui setelah Bimo.
Aku harus memujanya untuk membuatnya tenang. Sungguh, ngidam seorang pria itu aneh. Terlihat galak, tapi juga melodrama. Pokoknya aku pusing sendiri dengan kehamilan ini. Ini ribet dan aku maunya aku saja yang bukan masa Jati.
Aku menyunggingkan senyum lembut dan menerima cangkir teh darinya. "Terimakasih sayangku." ucapku manja.
Mas Jati berdehem, tangannya merangkul bahuku, seolah memberi penjelasan tentang posisinya sebagai suamiku.
Bimo mengulum senyum. "Teh manis hangat slalu menjadi minuman kesukaanmu, Dek!"
Duarrr. Bom meledak seketika.
Mas Jati menarik paksa cangkir teh buatan Bimo dan menaruhnya di atas nampan dengan keras, ia menarik tanganku untuk cepat-cepat pergi dari ruang keluarga.
__ADS_1
Aku menoleh untuk memandang Bimo dengan tatapan peringatan. Sumpah, cari masalah dia. Tidak tahu apa kalau mas Jati ini moodnya lagi main ayunan.
...Happy Reading...