ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 49.


__ADS_3

Dalilah.


Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju rumah setelah mas Revi mengantarku sampai di depan pintu gerbang. Aku menatapnya dengan nanar saat ia melambaikan tangannya dengan wajah yang tidak tega.


Aku mengelap hujan lokal yang membanjiri pipiku dengan telapak tanganku.


Tak pernah terlintas di benakku jika Baskara tega melakukannya itu semua. Baskara menjebakku, melakukan itu karena kecewa. Baskara di drop out dari sekolah setelah Revi mendapatkan bukti-bukti yang kuat dari ibunya. Sedangkan Ayahanda, hanya ingin aku tenang saja tanpa harus bertemu dengan Baskara lagi dan membuatku terpuruk karenanya.


"Tunggu..." Suara sepatu terdengar degebugan diatas tanah.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan saat ku pastikan jika itu Bimo yang memanggilku.


"Sudah tahu?" tanyanya. Aku mengangguk tanpa melepas tanganku dari wajah. Malu jika Bimo tahu wajahku jelek karena menangis.


"Berhati-hatilah dengan dirimu sendiri!" ujarnya mengguruiku.


Aku mendengus kesal. Tanpa sadar ku lepas tanganku dan mengomel-omel, "Katanya buru-buru mau pulang! Kenapa malah ke sini. Baksonya pasti dingin, gak enak! Sana pulang! Jam kerjamu sudah selesai! Aku sudah dirumah, tidak kemana-mana. Tidak perlu dijaga!"


Bimo tersenyum kecil, "Saya harus memastikan bahwa ndoro ayu benar-benar masuk ke dalam rumah!"


"Iya! Iya... Aku masuk ke rumah! Kamu pulang sana!" kataku sambil mengibaskan tangan, lagian aku juga heran kenapa Ayahanda sampai meminta Bimo untuk memastikan bahwa aku pulang dan masuk ke rumah. Kasian kan dia.


"Ta-pi..." ujarnya tak selesai.


Ku tatap Bimo yang tersenyum kecut seraya mamandangi aku.


"Tapi kenapa?" tanyaku sambil maksa.

__ADS_1


"Ndoro ayu cuci muka dulu."


Aku mendengus sambil mengerucutkan bibir, "Kenapa memangnya? Takut ya Ayahanda tanya-tanya aku nangis karena apa?"


Bimo mengangguk kecil, wajahnya terlihat gelisah. Kasian juga dia kalau harus berlama-lama di istana karena hal ini, dihari pertamanya kerja. Lagipula sudah cukup aku menangis kemarin, sekarang aku hanya perlu menata hatiku lagi.


Memperbaiki diri dan menerima kenyataan ini bahwa dunia tak lagi sama tanpa adanya Baskara.


"Iya aku cuci muka. Tapi setelahnya itu kamu pulang! Besok lagi kerjanya. Jangan ngoyo!" Aku tersenyum kecil melihat Bimo yang tersenyum lebar. Ia melangkah kakinya terlebih dulu ke arah kran air.


Aku mengikutinya sambil menatap punggungnya. Asli, sejak SMP aku tidak pernah benar-benar memperhatikan Bimo dengan lekat dan teliti. Dan sekarang punggung itu terlihat nyaman untuk bersandar. Sepertinya. Aku tidak yakin karena aku belum pernah merasakannya langsung.


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri karena membayangkannya. Oh Tuhan! Maafkan aku yang suka penasaran dengan indahnya masa remaja.


Dughhh...


Sial! Punggungnya benar-benar di depan mataku. Dekat sekali sampai aku bisa mencium bau keringatnya.


"Kok berhenti?" tanyaku sambil melihat Bimo yang mengerutkan keningnya. Wajahnya terlihat berpikir. Astaga, jangan sampai dia menerka kejadian ini tadi. Jangan sampai di berpikir aku mengamati sejak tadi.


"Sudah sampai!" Bimo menunjuk kran air di depannya.


Aku menyengir. Syukurlah Bimo tidak curiga jika aku membayangkan bagaimana rasanya bersandar di punggungnya.


Seketika itu aku tersipu malu sambil membasuh wajahku dengan air.


"Sudah kan! Sana pulang! Baksonya pasti sudah dingin, gak enak!" kataku sambil menghadapnya.

__ADS_1


Bimo membuka tasnya, lalu memberiku beberapa lembar tissue.


Aku mendesis, "Kenapa cowok bawa tissue? Aku aja enggak!"


"Jaga-jaga."


Aku mengelap wajahku sambil tetap bertanya alasannya.


"Jaga-jaga saja kalau ndoro ayu butuh tissue aku sudah siap membawanya. Karena wanita slalu membutuhkannya."


Aku langsung tertawa. Kenapa dia bisa begitu, kenapa harus tissue. Apa ia juga membawa perban dan pembalut wanita di dalam tasnya.


Oh Tuhan. Apa apa dengannya. Apa dia mau jadi orang pertama yang membantuku saat aku kesusahan.


"Bim... Pulang gih! Terimakasih sudah siap sedia untukku. Aku bener-bener speechless dengan kinerjamu. Aku benar-benar salut sama kamu!" ujarku tulus.


Bimo mengangguk dan melenggang pergi meninggalkanku yang bergeming, menatapnya.


Sejujurnya dia adalah laki-laki yang baik hati dan bertanggung jawab.


Namun, ucapan Revi tadi jika Bimo menyukaiku menimbulkan tanda tanya besar dibenakku sejak tadi.


Benarkah jika Bimo menyukaiku, atau ia hanya sekedar menjalankan tugasnya sebagai bodyguardku.


Aku tidak mengerti mengapa harus ada peristiwa ini. Peristiwa yang membuatku, Revi dan Bimo harus berada dalam segitiga bermuda yang penuh teka-teki.


Namun, menjadi pernah pada akhirnya aku mengerti keberadaannya aku yakini menjadi hal yang membuatku merasa dilindungi. Kapanpun, dimanapun.

__ADS_1


...Happy Reading. ...


__ADS_2