
Revi.
Aku tahu harus berdoa apa pada Tuhan.
Kuatkan aku dan Lilah sekuat cinta dan kehidupan.
Mudah-mudahan ini sederhana, sesederhana kami menjalani hubungan ini. Hanya saja pemahaman tentang kisah cinta ini tidak sesederhana yang kami kira. Rintangannya banyak sekali, bahkan kami belum melewatinya separuhnya.
Aku berhenti di sebuah rumah gedongan di tengah kota. Rumah Devon, si kampret yang sudah keluar dari rumah sakit.
"Silahkan masuk mas." sapa pelayan rumah ini. Aku mengangguk dan mengikuti ibu paruh baya ini sampai di ruang keluarga.
Aku menatap kedua manusia rapuh itu bersama. Devon dan Desy. Terlihat seperti sepasang pasutri yang bahagia dengan kehadiran anak mereka yang berada di rahim Desy.
Aku tersenyum miring. Terkadang aku iri melihat mereka yang bisa mengutarakan isi hati dengan bahasa tubuh. Tapi bersama Lilah aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, selain hanya duduk berdua, bercerita, mengacak-acak rambutnya, dan memberinya bunga.
Sudah berapa tangkai bunga yang aku berikan padanya, aku tidak tahu. Tapi Dalilah. Menyimpan semua kelopak bunga yang mengering dan menyimpannya di toples kaca.
"Rev!"
Aku mengerjap saat tepukan terasa keras di bahuku, membuyarkan lamunanku.
"Sialan!" gerutuku sebelum membuang nafas.
"Ngelamun sendiri! Kenapa?" tanya Devon heran. Aku menggeleng. "Gimana?"
Dengan tertatih Devon berjalan menuju sofa dan duduk disana, ditemani Desy yang masih malu-malu lagi.
"Aku sudah siap untuk membantumu, jadi kapan?" tagih Devon.
Aku mengerutkan dahi. "Masih kontrol gak?" Devon mengangguk.
"Minggu ini aku ke Jakarta untuk lomba, tapi dia ada disini. Kamu bisa ke tokonya." kataku sambil mengangguk ramah saat pelayan tadi memberiku segelas air sirup dingin. Aku langsung meminumnya sampai habis.
Devon melongo. "Haus banget, Rev!"
Aku mengusap bibirku. "Bisa nambah?" tanyaku.
Devon dan Desy saling melempar pandang. Devon memanggil lagi pelayannya dan meminta segelas air dingin lagi untukku.
"Oke... Urusan itu bakal beres, step by step! Tapi aku heran kamu pake seragam sekolah tapi kelayapan! Bolos?"
Aku berdecih seraya mengamati jam di pergelangan tangan kiriku. Jam sembilan. Teror WA dan telepon sebentar lagi akan menyerang hpku.
"Aku dapat libur, cuma tadi ke rumah princess dulu."
"Ah..." Devon langsung ingat sesuatu, ia melambaikan tangan kepada Desy. Desy mendekat. Ibu hamil satu ini masih menoreh rasa jengkel di hatiku sejak kejadian di kasir supermarket waktu itu.
"Ibunda princess kemarin datang ke rumah Desy."
__ADS_1
Aku tersenyum miring. "Aku tahu! Dapat sosialisasi ye, kasian amat!"
Keduanya mengangguk dan membuang nafas. "Kami sudah nikah siri, dan setelah bayi ini lahir, kami baru nikah secara negara!" Devon tersenyum kecil, tangannya terulur untuk menggenggam Desy.
"Emang cowok brengsek sepertimu bisa setia?" ledekku. Devon melemparkan bantal sofa telat di jidatku. Aku menggeram.
"Sebrengsek-brengseknya bajingan sepertiku, aku masih tau caranya setia!" sungutnya menggebu-gebu dengan sorot mata tajam.
Aku mengangguk-anggukkan kepala. Percaya saja, toh bukan urusanku Devon mau setia apa kagak sama Desy. Urusanku sama princess aja berat banget, mana mau yang lain aku bagi-bagi, yang ada pada bengek duluan.
Aku beranjak. "Jadi urusan kita deal ya, Von! Aku harus cabut dari sini sekarang, ibuku bisa uring-uringan kalau aku pulang telat!"
Devon terkekeh-kekeh. "Tampang oke, duit banyak, ternyata anak mami!" cibirnya.
"Daripada kamu anak kadal!" balasku sebelum terbelalak melihat ibunya Devon turun dari anak tangan. Kami langsung diam seribu bahasa, dan aku lirik kearah dua sejoli itu yang memasang wajah menahan tawa.
"Siapa yang anak kadal?" tanya wanita kebule-bulean itu penasaran.
Aku langsung mencium punggung tangan beliau dan berpamitan pulang. Beliau tampak terkejut dan bingung, ia bergumam dengan bahasa Inggris sebelum pintu ku tutup pelan.
Bisa berabe urusannya, anak bule aku samain sama anak kadal. Hahaha.
***
"Ganti baju!"
Aku membuang nafas, baru juga turun dari motor. Ibu negara sudah berdiri di teras rumah dengan pakaian berpergian lengkap dengan tas jinjingnya.
Mommy membenturkan tas jinjingnya di punggungku. "Cinta memang buta ya, Rev! Suruh siapa pakai seragam sekolah tapi kelayapan!"
Lah... bego juga aku, kenapa juga harus pake seragam tadi.
Aku cengengesan. "Cinta memang buta, Mom! Dan mommy baru sadar setelah setua ini?" kataku sambil terkekeh.
Bugh... Bugh... Bugh... Punggungku terasa panas.
"Masuk, ganti baju! Mommy tunggu di mobil!"
Aku langsung bergegas menuju kamarku. Aku mengganti pakaianku tak lebih dari sepuluh menit.
Dari luar bunyi klakson terdengar terus-menerus saat aku menuruni anak tangga. Aku melenguh.
"Sabar kenapa, Mom!" ujar ku setelah masuk ke dalam mobil.
"Lama!" sungut mommy.
Aku membuang nafas. Yakin deh, mommy ini udah menopause, tapi kenapa masih puber. Kan lucu, pasti akal-akalan mommy saja yang kesepian.
"Kakak sudah mommy jodohkan belum?" tanyaku.
__ADS_1
"Boro-boro mau dijodohkan! Kakakmu itu masih asyik berkarir, alasannya masih sibuk! Apa gak kamu saja Rev yang nikah muda dan memberi mommy cucu pertama?"
Aku terkesiap. Wajahku terlihat bodoh.
Nikah muda! Yang dinikahi belum lulus SMA? Anak Raja! Bahagia enggak mati muda malah iya.
"Aku bilang Daddy kalau mommy sudah gila!" kataku ketus. Mommy terkekeh, seraya mengacak-acak rambutku saat berhenti di perempatan jalan.
"Sayang banget kamu sama princess?"
"Ya iyalah! Dia itu kecil, imut-imut, cantik, smart, disiplin. And you know, Mom! Aku laki-laki yang beruntung menjadi cinta pertamanya, walaupun dia membuatku gila karena tingkahnya yang polos itu."
Mommy tergelak. "Kasian banget kamu Rev! Mommy prihatin."
***
Kami tiba di mall. Mommy langsung memasang kacamata hitamnya. Aku juga. Sungguh menjadi keluarga mata-mata itu memang riskan untuk keluar dengan bebas di ruang umum.
Mommy pernah bilang.
Tidak ada yang menjamin keselamatan kita selain diri sendiri.
Aku pernah dalam keadaan baik-baik saja. Tidak tahu jika ibuku adalah detektif yang diincar oleh para 'kaum gelap' untuk dilenyapkan.
Dan aku pernah bertanya.
Apa aku aman sekolah di luar?
Mommy tersenyum tipis.
Tidak masalah jika kamu tidak membuat dirimu dalam masalah.
Aku dan mommy berjalan beriringan menuju kedai kopi Starbucks.
"Latte and black coffee with caramel." sebut mommy pada pelayan. Aku tersenyum. Latte adalah minuman kesukaanku. Cita rasanya manis-manis lembut seperti hubunganku dengan Dalilah.
Kandang manis, kadang lembut. Gak konsisten. Tapi itulah seninya dalam berpacaran biar tidak membosankan.
"Mau beli apa nanti?" tanya mommy setelah menghirup uap aroma kopi hitamnya.
"Gak ada! Sepatu basket ku masih bagus semua, mom!" jawabku sambil menggoyangkan cangkir latteku. Mommy mengangguk, beliau mengedarkan pandangannya setelah membaca pesan dari gawainya.
"Mommy janjian sama orang?" tanyaku heran.
"Mommy mau ketemu sama..." Mommy beranjak.
"Mr. Kendrick!" selaku cepat. Mommy mengerling sebelah matanya. Iseng.
"Yes! Mr. Kendrick akan menjagamu selama di Jakarta nanti, Rev!" kata mommy. "Your bodyguard!" tandasnya lagi seraya terkekeh geli saat aku membuang nafas tanpa sadar.
__ADS_1
Tibalah saatnya aku memiliki bodyguard sendiri. Bikin tengsin.
...Happy Reading...