
Dalilah.
Aku memeluk Ayahanda sebelum beliau pergi menemui pejabat negara. Aku tahu, kepentingan pribadi Ayahanda akan terus beriringan dengan kepentingan umum yang beliau emban.
Don't be scare my princess, everything gonna be oke!
Aku hanya bisa mengangguk dan membiarkan orangtuaku pergi.
Aku benar-benar butuh mas Revi. Aku butuh kekonyolannya untuk mengalihkan rasa gerogiku saat melihat performing dari sekolah lain yang memukau dari layar televisi di arena back stage. Sementara disini, hanya ada guru pendamping yang gak bisa bercanda.
"Princess... Kenapa cemberut? Gerogi? Wajahmu benar-benar tegang!" Derren mengukir senyum jail di wajahnya.
Aku mengerucutkan bibir. "Mas Derren gak gerogi? Mereka bagus-bagus lho..." kataku sambil menunjuk layar televisi.
"Biasa aja! Kamu dan kita berenam adalah yang terbaik dari semua peserta lomba!" sahutnya optimis.
"Makan nih coklat dari pacarmu! Biar tenang!" Derren terkekeh sambil membuka toplesnya. Ia mengambilnya, membagi-bagi pada yang lain.
"Inces... Jangan sampai jatuh nanti break dancenya! Kalau jatuh buat seolah-olah itu adalah salah satu koreografi kita! Jangan malu-maluin keluargamu dan tanah kelahiran kita!" timpal Fransiska.
Derren langsung menggetok kepalanya dengan stik drum dan bersungut-sungut.
"Dari semua penari cuma kamu doang yang kesusahan nari serimpi! Gak inget!"
Fransiska terbahak-bahak. "Aku bukannya kesusahan, tapi bingung mana yang harus aku ingat, Ren! Koreonya banyak banget! Gitu aja sewot..."
"Telmi!" sungut Derren, Fransiska menjep.
Keadaan kembali hening saat guru pendamping meminta kami untuk jangan ribut-ribut.
Peserta lomba memang diurutkan berdasarkan huruf abjad dan kami mendapatkan urutan nomer tiga belas.
Aku membuang nafas panjang sembari menggerakkan kakiku naik turun. Telapak kakiku basah dengan keringat dingin dan lengket di atas lantai.
"Princess..."
Aaa... Aku langsung berdiri dan melihatnya ada di sini. Aku tersenyum lebar dengan wajah pucat tentunya.
Sungguh ironi, mau lomba saja aku deg-degan seperti ini apalagi kalau aku nikah nanti.
"Mas Revi kenapa kesini?" tanyaku penasaran, bukannya tadi ia hanya mau melihatku dari kejauhan.
"Gak boleh aku kesini? Aku ketua OSIS lho! Aku cuma mau memastikan adik kelasku baik-baik saja dan aman!" Dia tersenyum jenaka. Aku berdecak sambil duduk lagi.
Semua terbahak, seolah jika ini lelucon. Lagian pacaran rasa kakak adik apa lucunya. Gak ada! Cuma bisa perhatian dalam batasan.
"Adik Dalilah gerogi, Rev! Wajahnya pucat. Mungkin butuh kamu periksa!" ujar Derren sambil terkekeh.
"Wah stetoskop daddy ketinggalan, Ren! Mau aku periksa detak jantungnya tapi aku takut sama bapaknya!" balas mas Revi.
__ADS_1
Suara tawa memecah keheningan. Aku merengut.
"Adik Dalilah..."
"Hmm..."
"Adik Dalilah marah? Kenapa?"
Aku mendesis dan mencubit lengan mas Revi, ia mengaduh dengan wajah jenaka.
"Gak lucu! Lilah bukan adik!!!"
"Cie... Marah! Tapi kamu disini emang paling kecil, princess! Paling imut-imut dan menggemaskan! Cocok jadi adik kami!" sebut mas Revi.
Aku melipat kedua tanganku dan mengubah posisi dudukku jadi membelakangi mas Revi.
"Ada tahi lalat di punggungmu, Lil! Ada dua!" ujarnya lagi, aku tersenyum malu. "Boleh aku sentuh?"
Aku langsung menoleh secepat mungkin dan berujar dengan galak.
"GAK!"
Semua orang kembali tertawa dan menyita perhatian publik. Guru pendamping yang melihatnya mendesah pasrah dengan kelakuan anak-anak muridnya.
"Sudah bercandanya! Dua peserta lagi kalian akan tampil. Jadi siap-siap!" ujarnya tegas.
Dengan tangan yang saling bertumpukan kami bersorak.
"DO THE BEST AND MAKE OUR FAMILY HAPPY!"
Yeyyy... Kami berpelukan bersama-sama dan saling menguatkan satu sama lain.
"Kita bisa! Kita bisa!"
Kami lalu berjalan menuju ke belakang panggung setelah panitia memanggil perwakilan dari kota DIY untuk bersiap-siap.
Aku membasahi bibirku dan menggerakkan tubuhku saat menunggu.
Suasana disini sangat ramai, riuh tepuk tangan dan sorak-sorai penonton bergema memenuhi gedung olahraga.
"Masih gerogi?" tanya mas Revi yang ternyata masih mengikutiku.
"Iya!" jawabku datar. Aku masih sebal dengannya karena hanya menemuiku sebagai adik kelas. Bukan pacar.
"Dih ngambek!"
Aku berdehem dan menghirup nafas dalam-dalam saat peserta dari kota Bengkulu turun dari panggung.
"Semangat, princess! Aku pacarmu kok, cuma tadi aku izinnya ke panitia sebagai ketua OSIS, bukan pacarmu! Kalau enggak, mana boleh aku masuk ke back stage dan menemanimu sekarang!" cetus mas Revi.
__ADS_1
Sebel! Aku mau marah tapi gak jadi. Back stage memang harus steril dari orang-orang yang gak penting.
"Masih ngambek?" tanya mas Revi, aku menggeleng dan naik ke atas panggung.
Gebrakan drum yang dilakukan Derren memecah atensi seluruh penonton. Mereka terkesiap. Derren memang mengcover lagu K-Pop yang sedang viral di sosial media menjadi gebrakan aksi drum yang memanas di atas panggung.
Gebrakan drum ini juga dibarengi dengan dance KPop yang energik.
Aku menghela nafas panjang saat
perlahan ritme drum dan lagu K-Pop yang di mixing sedemikian rupa agar selaras dengan Gending Jawa mengalun pelan dan digantikan dengan suara indah dari Gending Jawa yang terdengar sakral dan mistis.
Aku menari dan meliukkan tubuhku dengan lemah gemulai seperti biasanya. Membiarkan semua mata melihatku, mengamatiku, dan membiarkan semesta berkata bahwa kami masih ada di dalam tembok istana.
Datanglah jika kamu mau dan aku akan menyambutmu.
Aku mengepakkan selendangku dan berjalan mundur seraya duduk bersimpuh.
Ke empat penari K-Pop yang bersimpuh tadi ikut menari bersamaku diiringi gebrakan drum yang semakin lama temponya semakin cepat.
Aku nyaris tertawa saat harus menarikan tarian kontemporer dengan gaya bebas mengikuti mereka. Bergantian.
Di akhir pertunjukan, Derren menaruh stik drumnya, ia menari di depanku sebelum menarik selendangku untuk mengikutinya turun dari panggung diikuti penari K-Pop dan selesai.
Kami berjingkrak-jingkrak dan berpelukan. Kami tersenyum lega saat tepuk tangan terdengar meriah dan sorakan terdengar heboh. Euforia perlombaan ini benar-benar begitu terasa.
*
Di back stage. Kami beristirahat seraya mengambil nasi kotak.
Aku duduk sambil membuka nasi kotak ini sebelum mas Revi menutup punggungku yang berkeringat dengan cardigan yang aku pakai tadi.
"Aku bangga punya kamu!" Mas Revi menyunggingkan senyum.
"Bangga apa posesif?" tanyaku sambil melihat isi nasi kotak. Aku menghela nafas. Makan nasi sama ayam bakar gak enak kalau pakai sendok apalagi sambelnya kelihatan enak banget.
Aku butuh privasi! Mataku mengedar mencari bodyguard keluargaku. Mereka disana, berdiri sambil tersenyum ke arahku.
"Ikut Lilah, yuk! Lilah mau makan pakai tangan tapi malu kalau disini. Ayo..." ajakku pada mas Revi. Mas Revi mengerutkan keningnya heran.
"Lha kamu mau makan dimana, Lilah? Disini tidak ada ruang privasi, kebanyakan di tutup untuk umum!" tandasnya.
"Dimana saja asal hanya ada aku dan kamu!" Tawa mas Revi pecah. Matanya berbinar-binar saat ide muncul di kepalanya.
Kami berdua keluar dari back stage, bermain kucing-kucingan dengan orang-orang yang penasaran denganku sebelum kami terbebas dari mereka dengan aman.
Kami disini, di dalam bus. Menikmati nasi kotak berdua ditemenin bodyguard yang berjaga-jaga di depan pintu masuk.
...Happy Reading...
__ADS_1