ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 35


__ADS_3

Revi.


Aku bersembunyi di balik punggung Dalilah saat nilai ujian UKMPPD sudah terbit.


Ia bergerak risi saat aku meniup-niup ceruk lehernya. "Biasa aja kenapa mas!" cetusnya setengah jengkel.


Aku merengut, seraya menyandarkan kepalaku di punggung Dalilah.


"Aku takut hasilnya akan mengecewakan!" ucapku lirih.


Dalilah mencubit punggung tanganku yang melingkar di perutnya, mengingatkan bahwa aku harusnya berdoa agar hasilnya memuaskan bukan malah konyol seperti ini. Tapi aku juga entah, aku lagi suka seperti ini.


Aku mengusap perutnya. Aku tersenyum hangat, hatiku membuncah. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang papa, the real papa, bukan papa kw lagi.


Princess pasti suka, dia akan punya adik bayi. Huhuhu, aku akan melihat bayi kecil lagi dalam hidupku setelah dulu aku harus bergadang semalaman hanya untuk membuat ia tenang. Lalu, bagaimana dengan sifat anakku nanti. Aku tidak sabar menyambutnya.


Dalilah bertepuk tangan, ia bersorak gembira. Aku menegakkan tubuhku untuk menatap layar monitor.


Mataku melebar dan senyumku mengembang sempurna. Aku mengetatkan pelukanku di pinggang Dalilah untuk memeluk kedua kesayanganku.


"Hihihi... Aku lulus ujian!"


Dalilah terkekeh kecil, ia mendongak di bahuku. "Selamat... Tapi masih ada ujian lagi, tahap kedua bulan depan!" katanya langsung membuatku lemes.


Aku mengusap-usap perutnya yang sudah membesar sedikit. Usianya baru menginjak trimester dua awal, badannya juga sedikit gemukan, tambah lucu, dan empuk di pegang-pegang dibagikan tertentu.


"Beri aku hadiah, dear!" Aku menaikkan baju tidurnya. Slalu warna pink, ada renda-rendanya dan berbahan satin. Entah kenapa, isi lemarinya pink semua. Mungkin anakku perempuan nanti.


"Hadiah apa? Kan udah hamil, ini hadiah paling tidak ada tandingannya mas, bahkan apa yang aku berikan selama ini tak ada harganya!" ucap Dalilah seraya menurunkan baju dan menyilangkan tangannya di depan dada.


"Kamu hadiahnya!" cetus ku langsung menariknya ke pangkuanku.


Dalilah menutup wajahnya, ia menggeleng-geleng tidak mau saat aku melucuti pakaiannya.


"Kamu tambah seksi, dear! Aku terpesona melihat bungamu semakin merekah indah saat hamil!"


Bulu halus Dalilah langsung meremang saat aku menghirup aroma tubuhnya sebelum mendekapnya lagi.

__ADS_1


"Kalau mau ayo langsung pemanasan saja, mas! Jangan cuma di toel-toel, di tarik-tarik, lalu di pegang-pegang sesuka hati!" gerutunya begitu menggemaskan.


"Laki-laki suka bermain-main dulu sayang sebelum permainan inti! Gak mungkin juga kan, Christiano Ronaldo tanding bola tanpa main-main dulu sebelum gol dan selebrasi!"


"Ya, kalau gol! Kalau enggak, cuma mengecewakan!" balasnya sambil muram. "Kali ini enggak sayang, aku janji nanti gol dan selebrasinya di luar."


Dalilah mendesis, ia memasrahkan dirinya untuk aku manjakan rasakan dan aku desak pelan-pelan.


***


"Perutku kencang banget, mas!" Dalilah mengerang sakit dengan wajah pucat, badan bersimbah keringat. Ia mengelus perutnya sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras.


Aku memegang sisi kepalaku, tidak mengira kalau bercinta malam ini membuat kami berdua panik.


"Masa udah kontraksi!" Aku mengambil stetoskop janin untuk mendengarkan detak jantung anakku.


Aku memeriksanya dengan seksama. Detak jantung anakku cepat sekali, anakku pasti ngos-ngosan di dalam perut. Aku mengulum senyum sembari mencium perutku. "Maafin, papa dear baby, papa terlalu bersemangat."


Aku mengelus perut Dalilah dan mengelusnya pelan-pelan. "Rilex, dear! Tarik nafas panjang lalu hembuskan perlahan, ulangi terus." pintaku lembut pada Dalilah.


"Gara-gara kamu ini, mas! Udah dibilangin jangan dalam-dalam kok ngeyel, dear baby jadi kaget kan dengan kunjunganmu yang liar!" Dalilah merengut.


"Mau makan? Aku masakin sekarang kalau mau." tawarku, untuk menebus kesalahanku.


Dalilah mengangguk pelan. Aku mengecup perutnya sembari beranjak memakai pakaian.


"Tunggu saja dikamar, aku tidak rela kamu bermanis-manis dengan kangmas Bimo setelah bercinta! Wajahmu terlalu merah dan terlalu seksi untuk dilihat matanya!" ucapku tegas. Dalilah mengibaskan tangannya.


Bimo adalah manusia paling menyebalkan dirumah ini, dia pandai memancing emosiku hanya dengan tersenyum ramah kepada Dalilah.


Entah kenapa, Bimo ini memang mujur. Ia memang tidak menjadi pacar Dalilah, tapi tetap berhasil masuk dalam keluarga ini dengan cara lain.


Di dapur aku membuat makanan sehat dengan mencampurkan bahan-bahan segar dan bergizi tinggi, aku memasaknya sendiri meski di dalam istana aku memiliki seorang pelayan pribadi.


Keluarga Dalilah memang memberi yang terbaik untukku, dan aku benar-benar bersyukur. Aku memilihnya sebagai risiko terbesar dalam sejarah percintaan Revi Bramasta.


Namun, namaku sekarang adalah mas Jati. Jantung hatiku, Lilah menyebutkannya begitu. Sungguh pas pemilihan namanya dengan kondisiku saat ini.

__ADS_1


Aku harus kuat seperti pohon Jati dan semakin tua semakin mahal harganya. Dalam dunia kedokteran pun begitu, semakin banyak jam terbang, semakin dibayar mahal. Inilah hidup dan realita kehidupan manusia. Slalu berproses setiap hari serta diukur dengan sebab-akibatnya.


Aku mengaduk susu ibu hamil dengan pelan sebelum mendongkak.


"Sibuk mas?"


Bimo. Seperti cenayang yang mengetahui isi hatiku saja dia ini.


"Dalilah lapar." jawabku.


Bimo mengangguk pelan, perangainya yang tenang membuatku semakin sadar bahwa ia melatih emosinya dengan baik dirumah ini. "Dua hari lagi acara tasyakuran kehamilan, dek Lilah! Mas sudah menyiapkan diri?"


Aku mengangguk tegas. "Sudah, dek Bimo. Mau ngopi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Mau."


Hidungku berkerut, dia kira aku menawarinya untuk ngopi bareng. Hadeh, garwoku sudah nunggu di kamar, kelaparan, ini malah mau ngopi. Asyik juga sepertinya untuk ngobrol-ngobrol dengan Bimo di luar ruangan. Biar seperti anak muda lagi, nongkrong di pinggir rumah.


"Oke, aku akan kesini lagi untuk ngopi bareng."


Bimo mengangguk, ia lantas menyiapkan dua cangkir kopi sebelum aku membawa nampan berisi makanan, susu ibu hamil, dan vitamin-vitamin untuk Dalilah ke dalam kamar.


"Hei, udah mendingan?" Aku menaruh nampan di atas meja. "Lumayan mas."


Aku tersenyum lega, ku cium pipinya sebelum meminta izin untuk ngopi dulu sebelum tidur.


"Kok gitu? Habis enak-enak ditinggal ngopi... Kenapa gak duduk dulu nemenin Lilah makan?"


Aku cengengesan. "Sebentar kok, dear! Sebelum jam sepuluh aku sudah masuk!"


Dalilah memutar lehernya untuk melihat jam dinding. "Oke deh, lebih dari jam sepuluh, mas Jati tahu kan akibatnya?" Dalilah memandangku tajam.


Aku mengangguk-angguk. Hukumannya adalah tidur di kursi, aku pernah mengalami itu saat terlambat pulang ke rumah setelah shift malam karena memilih tidur di rumah sakit dulu.


Seharian aku disambut dengan wajah cemberut, tidak boleh menciumnya walau sekilas. Kejamnya ibu hamil, walau aku puas saat awal-awal kehamilan, aku lebih banyak menuntutnya untuk memenuhi keinginanku atas dasar ngidam.


Dalilah slalu protes, tapi juga bisa apa selain menuruti ku demi dear baby.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2