
Revi.
Ku tatap dua jantung hatiku yang asyik menikmati makanan ringan di ruang keluarga sembari menonton kartun kesukaan princess.
Entah princess mana yang suka dengan serial kartun Minggu pagi ini. Tapi Dalilah lebih banyak tertawa senang melihat kantong ajaib milik Doraemon.
Imajinasinya seolah sedang mengajaknya bercanda ria dengan kisah masa kecilnya.
"Apanya yang lucu? Itu kantong bohongan!" cibirku.
Dalilah menahan kekehannya. "Kantong ajaib Doraemon slalu mengingatkan aku pada Ayahanda dan kepolosan Pandu waktu kecil dulu!" jawabnya lantas tersenyum lebar.
"Dan apakah kantong ajaib Ayahanda juga bisa mengeluarkan jodoh untukku, Rev?"
Dalilah menatapku lalu tersenyum kecut.
"Aku slalu takut jika tiba-tiba Ayahanda mengeluarkan seorang pria yang harus aku nikahi tanpa cinta!"
Aku menelan ludah yang terasa bergetah di tenggorokanku. Semua bisa terjadi, jika garis takdir sudah menghendaki.
Namun bagiku memintal kembali benang yang sudah terurai bebas itu butuh energi yang cukup besar untuk menariknya kembali menjadi utuh. Belum lagi koas-ku yang belum selesai dan princess kecilku. Keduanya sudah terlalu menyita pikiranku dan waktuku.
Kalau aku boleh jujur kepadanya, mencampuradukkan urusan pribadiku dan segenap rasa yang masih enggan menjauh dari benakku hanya akan membuatku tidak fokus.
Aku tersenyum miris. "PDKT dong! Nanti juga cinta!" balasku berusaha santai. Walaupun aku berharap ia masih ingin menungguku satu tahun lagi sampai aku benar-benar lulus dari koas ini.
"Semua laki-laki takut pada keluargaku! Aku juga takut kalau menjadi perawan tua!" ujar Dalilah dengan serius meskipun ia terkekeh kemudian.
Aku terkesiap, lantas terbahak saat princess kecil dengan polos bertanya. "Perawan tua apa, Tante?"
Dalilah mendelikkan mata, ia menatapku bingung.
"Apa ya? Tante mendadak bingung!" dustanya dengan wajah penuh canda. Princess terkekeh dengan wajah Dalilah dan memilih untuk kembali mengunyah makanan yang dibawa Dalilah untuknya.
Aku tersenyum hangat. Mungkin beginilah kondisinya jika nanti aku mempunyai keluarga lengkap.
Ada istriku, ada bi Tutik---wajib, ada princess dan anak-anakku kelak. Semua terasa utuh.
"Aku harus membuat laporan koas-ku, Lil! Tidak masalah aku tinggal bersama princess?" tanyaku sambil beranjak.
Dalilah mengangguk dan menjawab. "Aku sampai jam sebelas, Rev! Nikmati waktumu!"
Aku masuk ke dalam kamar, tidak sungguh-sungguh untuk mengerjakan laporan mingguan tugas koas-ku. Aku hanya ingin menghindari Dalilah dan aroma tubuhnya yang begitu menggoyahkan imanku.
__ADS_1
Suara tawa, dan semuanya yang sungguh-sungguh nyata di hadapanku benar-benar mengusikku.
Aku dilanda bermiliar-miliar keraguan dan kecemasan. Kepalaku nyaris meledak sekarang.
Dalilah dengan jelas mengutarakan kode keras bagiku. Dia ingin menikah, dia ingin kembali. Dia punya tujuan disini.
Aku bersandar di dinding, di samping pigura foto kami berdua. Aku merenung.
Akankah ada pigura yang berisi foto-foto pernikahan kami berdua? Bisakah?
Mampuslah diriku yang belum bisa melanjutkan diriku dengannya, bukan aku tak cinta kepadanya. Tapi aku yang belum siap memulai lagi menemui keluarganya, belajar lagi tentang seluk beluk kerajaannya.
Bisakah aku menetap disana. Bersamanya.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Ku ambil laptop dan membukanya. Lebih baik menyelesaikan tugas koas-ku, berhubung princess sedang memiliki teman main.
Aku memilih untuk menutup telingaku dengan headphone, meminimalisir suara Dalilah yang menyusup ke telingaku dan membuatku tidak berkonsentrasi.
Tiga jam berlalu, tugasku selesai. Kepalaku pening. Dalilah tetap menjadi satu alasan terbesarku untuk menjadi dokter, dan ia sudah pulang. Dia datang, mungkin pula untuk menagih janjiku dulu.
Aku menunduk dan memijat pelipisku.
Aku merindukannya.
Selama tujuh tahun... Aku merindukan bayangnya.
"Papa, Tante mau pulang!" serunya lalu merangkak naik ke atas ranjang ku.
Dalilah berdiri diambang pintu, mencermatiku kamarku sekilas lalu tersenyum lembut.
"Sopirku sudah datang!" jelasnya.
Princess melambaikan tangannya, meminta Dalilah untuk masuk. "Tante sini... lihat mama! Mirip Tante!" princess menunjuk dinding di sebelah pintu.
Aku langsung beranjak, bisa panjang urusannya jika Dalilah lihat semua fotonya masih menemani malam-malamku.
Gadis itu menggeleng pelan dan tetap tersenyum lembut.
"Aku tahu, karena memang itu aku!" ujar Dalilah lirih.
Saat jarak kami semakin dekat, kerinduan untuk memeluknya menjadi lebih besar.
Aku menghela nafas. Tak ingin kehilangan perempuan ini, aku menarik tangan kanannya.
__ADS_1
Jari jemarinya yang lentik, tangannya yang lembut, dan gelang emas yang slalu ia pakai adalah sesuatu yang indah bagiku.
Aku mendongak, menatapnya dengan lembut. "Aku tahu yang kamu mau. Tapi izinkan aku untuk menyelesaikan studi ku dulu! Setelah itu aku akan kembali, memperjuangkanmu dan menemanimu!" Aku mengecup punggung tangannya.
"Jika kamu masih mau menungguku! Jika tidak. Izinkan aku mengucapkan selamat tinggal lagi... untuk kita!"
Dalilah menatap tangan kami yang saling menggenggam.
"Tapi kamu janji langsung menikahiku?" tanya Dalilah sambil mendongak. "Aku tidak berpikir untuk mencari laki-laki lain, karena masalah yang akan aku hadapi akan sama. Tapi denganmu, aku tahu, kamu bisa bertahan bersamaku!"
Whoaaa... Dalilah Sekar Kinasih yang keras kepala. Masih saja, kejujurannya slalu membuatku merasa beruntung memiliki ruang di hatinya.
"Apa profesiku sebagai dokter sudah cukup membuatku setara denganmu?"
Dalilah melepas tanganku. Ia menegakkan tubuhnya dengan anggun lalu menatapku dengan tajam.
Aku gusar di tempatku berdiri. Lututku lemas seketika saat ia berkata. "Yang penting kamu nyaman dengan keluargaku, dan profesi mu sebagai dokter, itu sudah cukup untuk meyakinkan Ayahanda bahwa kamu layak mendampingiku dan yang perlu kamu ketahui, Ayahanda lebih tahu dari yang kamu tahu!"
Dalam diam. Tatapanku terkunci padanya. Dalilah tersenyum lembut dan membungkuk hormat.
"Saya pulang dulu, Rev! Dan, biarkanlah waktu yang kembali memisahkan kita menjadi waktu untuk mempertimbangkan lagi sebelum aku dan kamu kembali terikat!"
Dalilah menepuk pundakku. "Aku memang keras kepala and it's much better if we don't see each other, until we both sure on what we want!"
Aku hanya bergeming, tidak bisa memberikan janji lagi. Cukup janjiku yang dulu saja yang harus aku tepati, karena itu sudah menjawab semua keinginannya.
"Pulanglah, sopirmu sudah menunggumu di ambang pintu!" kataku, berat melepasnya.
Aku tahu setelah ia keluar dari rumahku. Pertemuan kembali sulit untuk kami berdua lakukan. Dan bisakah aku dan Lilah kembali bersabar untuk satu tahun lagi? Setelah tujuh tahun ini kami berpisah dan melihat dunia dengan dua sudut pandang yang berbeda.
"Aku berjanji akan mendatangi rumahmu satu tahun lagi bersama kedua orangtuaku. Bersabarlah, aku pasti datang!" kataku sungguh-sungguh.
Dalilah tersenyum dan mengangguk.
"Kamu kuat dan aku akan menunggumu!"
Aku mengantarnya sampai ke dalam mobil, princess mengecup basah kedua pipinya sebelum ia kembali menatapku.
"Aku pulang dulu, Rev!"
Aku mengangguk dan menutup pintu mobilnya.
Dalilah adalah suksesi linear yang mengalun merdu di benakku. Dia adalah melodi yang indah yang akan aku petik nanti.
__ADS_1
Bersabarlah, bila waktunya tiba. Aku akan mewujudkan semua keinginan kita. gumamku seraya menatap laju mobilnya meninggalkan komplek perumahan yang aku singgahi.
...Happy Reading...