ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 89


__ADS_3

Revi.


Jangan ceroboh!


Nyaliku langsung jatuh berkeping-keping mendengar dua kata itu. Aku nyaris tak percaya, suara itu begitu mempunyai efek samping yang membuat lututku lemas.


Apa aku sanggup?


Aku bertanya pada diriku sendiri, dan dalam diriku berkata. Entah.


"Mas kenapa?"


Aku mendongak. Seorang gadis berambut cokelat kedelai menatapku heran.


"Sepupunya princess?"


Dia terbahak sendiri. Sumpah aku pusing memikirkan berapa banyak sepupunya dan nama-namanya yang sulit aku hafal.


"Aku Bulik Kylie... Adik tiri Ibunda Ratu."


Adik tiri Ibunda Ratu?


Jadi dia ini tantenya princess, Tante muda? Aku tertawa meskipun aku tahu harusnya tidak, tapi aku gak bisa tahan.


Dia tante-tante... Tante muda.


Kylie mendengus kesal. "Kamu menghinaku pasti!" tuduhnya, aku mengangguk.


"Berapa usiamu, Tante?" tanyaku sambil mengulurkan coklat coin padanya. Dia tersenyum menerima. Dan ia lebih muda dariku, terlihat kanak-kanak dari penampilannya.


"Aku seusia ndomas Suryawijaya! Kami tumbuh bersama. Tapi aku jengkel, aku harus di panggil Bulik di usiaku yang masih kecil!" Kylie mengerucutkan bibirnya, ia membuka pembungkus coklat yang berwarna emas dan memakan isinya.


Setelah habis ia mengulurkan tangannya lagi. "Princess tidak boleh banyak-banyak makan coklat, nanti kangmas Kaysan marah karena putrinya tambah manis. Tambah banyak yang suka. Kangmas pusing!"


Kangmas Kaysan.


Aku terkesiap mendengarnya dengan santai memanggil paduka raja dengan sebutan kangmas.


Ya Allah, bocah ini punya kekuasaan tersendiri di keluarga besar Dalilah.


"Oke... Tiga lagi buat kamu! Sisanya untuk membayar pajak pada ndomas Pandu karena aku mau lihat princess dandan."


Kylie berdecak dengan sengaja. Bibirnya terus mengunyah coklat yang aku beri.

__ADS_1


Apa coklat ini enak? Kenapa mereka lahap semua?


Aku membukanya satu dan memakannya.


Lumayan, padahal cuma coklat murah yang dijual di warung-warung.


"Ayo aku temani ke kamar! Keponakanku pasti senang karena ia slalu membicarakanmu jika aku tidur di kamarnya.


Aku melebarkan mata. Jadi bocah ini menjadi tempat curhat Dalilah. Apa mungkin bocah ini bisa menjadi pendengar yang baik.


Mendadak aku risau sendiri. Meski statusnya sudah tante-tante, usianya belum matang untuk dijadikan tempat curhat.


Astaga, princess! Aku harap kamu jangan mendengarkan hasutan dari tante kecil ini. Bisa-bisa kamu ikut-ikutan labil karena tercemar oleh pikirannya. Tapi aku kepo, apa saja yang mereka bicarakan saat tidur-tiduran di kamar.


Kami masuk ke dalam lift dan aku benar-benar menanyakannya.


"Tidak banyak. Cuma princess suka bilang dia kasian sama mas Revi!"


"Kasian kenapa? Aku baik-baik saja, walaupun jantungku sering koprol kalau bertemu dengan kalian!" kataku jujur.


Kylie mengangguk-angguk kepalanya, ia terkekeh geli sebelum berkata. "Aku tadi lihat mas Revi nabrak Ayahanda! Serem ya, bikin lemes?"


Kami keluar dari lift. Aku mengangguk. Pokoknya kata Dalilah kalau sama keluarganya harus jawab jujur saja. Apapun itu meskipun memalukan atau menyakitkan.


"Ayahanda memang serem, waktu pertama kali aku menari dulu saja dipelototi sepanjang aku menari!" Kylie membuang nafas. "Tapi Ayahanda memang begitu... Apapun yang beliau katakan justru seperti peringatan!"


Aku berusaha menerka-nerka, dan kesimpulannya adalah aku tidak boleh ceroboh meski aku takut, aku grogi, aku panik. Dan kenyataannya lagi, nanti saat aku lomba, keluarga Dalilah menjadi supporternya. Deg-degannya pindah ke ubun-ubun, kepalaku cenut-cenut.


***


"Ini untuk aku?" Dalilah tersenyum seraya memeluk toples coklat coin yang aku beri padanya. "Terimakasih... Lilah suka."


Aku tersenyum dan melihatnya. Dia sedang di makeup dengan penata rias istana. Di ruangan ini pun hanya ada keluarganya.


"Kenapa lihat Mbakyuku seperti itu? Mbakyuku cantik?" selidik Pandu.


"Cantik!" kataku lugas. Dia benar-benar cantik dengan balutan kain jarik yang sudah terpasang di badan mungilnya. Beberapa aksesoris penunjang untuk menaripun sudah terpasang di tubuhnya.


Hanya tinggal finishing make-up saja, dia terlihat sempurna.


"Mbakyuku memang cantik! Awas kalau mas bikin dia nangis! Aku bakal mengirimkan teman-temanku untuk membuatmu nangis juga!" ancamnya.


Aku mendengus. "Nangis itu kan manusiawi, ndomas! Gak ada yang bisa nahan air mata kecuali ego. Dan ego laki-laki itu lebih tinggi daripada cewek. Makanya cewek lebih suka nangis untuk hal-hal sepele, lagi pula nangis itu ada macem-macem namanya. Contohnya saja nangis haru!"

__ADS_1


Semua orang lalu menatapku. Aku tersenyum kikuk.


"Itu benar! Karena sejatinya manusia memang mempunyai siklus sedih dalam otak. Jadi ndoro mas Pandu Mahendra, anakku... menangis itu lumrah!"


"Tapi kalau nangis karena patah hati, siapa yang salah? Menyalahkan keadaan?" Ndomas Pandu masih berkeras kepala.


Ibunda menggelengkan kepalanya. Beliau tersenyum kepadaku seolah mengatakan untuk santai saja menghadapi anaknya.


"Keadaan memang terkadang memaksa manusia untuk menangis! Tapi yang paling penting adalah menangislah untuk yang penting-penting saja! Jangan menangis untuk kebodohan yang dilakukan dengan sengaja!"


"Ibunda hebat! Pandu suka!" Aku terkekeh kecil. Hanya pada emaknya, bocah ini terlihat manja dan menggemaskan. Berbeda sekali dengan caranya menghadapi orang lain. Aku mengamatinya sejauh ini.


Dalilah bertepuk tangan. Aku tersenyum lebar saat Dalilah sudah beranjak dari kursinya. Dia bercermin dan pantulannya menatapku.


Kali ini, takkan ku beri kesempatan untuk hatiku mengabaikan sang keindahan. Dia benar-benar cantik seperti bidadari dari khayangan.


Selendangnya berwarna hijau, selendang paling sakral yang ia punya. Matanya mengedip sebeleah saat aku menatapnya terus menerus.


Aku menoleh dengan wajah merona. Sialnya justru Pandu memergokinya.


"Edan! Mesem-mesem dewe!" celetuknya sambil terkekeh. Aku mengusap wajahku dan tersenyum malu. Ibunda menjentikkan jarinya di bahunya. "Yang sopan! Gak tahu aja gimana rasanya orang kasmaran!" Ibunda tersenyum maklum.


"Memang orang kasmaran thu senyum-senyum sendiri, Bun? Koyo wong edan?" selorohnya.


Jujur aku ingin menyumpahi bocah ini kalau besok saat ia jatuh cinta ia tidak senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Tapi ia bakal kebingungan sendiri bagaimana caranya jatuh cinta.


"Mari kita doa bersama!" ajak sang penata rias. Ibunda dan Dalilah saling menggenggam tangan, mereka tersenyum hangat dan saling menguatkan.


"Sana deket-deket sama Mbak Lilah sebelum Ayahanda dan mas Suryawijaya datang!" Pandu mendorong tubuhku untuk mendekati pacarku sendiri.


Dalilah tersenyum lebar saat Pandu sengaja mendorongku lebih cepat dan menyenggol lengannya yang terbuka. Pandu cekikikan dan bersembunyi di belakang Ibunda sambil berbisik-bisik.


Ibunda bilang... "Hush... Hush..." Dengan senyum yang tak bisa beliau tahan.


Aku yakin mereka sedang membicarakan aku. Aku lalu berkaca di mata Dalilah, apa aku benar-benar terlihat seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri?


Aku menyengir kuda. Aku benar-benar gila sendiri saat Dalilah menyikut lenganku dengan sengaja dengan senyum gemas yang ia buat-buat.


"Aku cantik ya sampai gak kedip-kedip?"


Aku menggerakkan rahang ku dan mengangguk. "Kamu slalu cantik di mataku, iya atau tanpa makeup!"


Suara gelak tawa akhirnya meledak seketika dari mulut Ibunda. Aku terkesiap. Beliau lantas menepuk-nepuk bahuku.

__ADS_1


"Serasa Ibunda yang dirayu!"


...Happy Reading...


__ADS_2