ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Season 2. Bab 21


__ADS_3

Dalilah.


Euforia pernikahan masih berlanjut hingga malam hari untuk keluarga inti.


Aku menepuk-nepuk punggung tangan mas Jati seraya tersenyum lembut setelah berdandan.


"Masih gerogi?" tanyaku basa-basi, padahal raut wajahnya sudah membicarakan segalanya.


"Kamu sudah tahu, Lil! Jadi untuk apa tanya." gumamnya sambil cemberut.


Aku tersenyum maklum dan gemas dengan wajahnya. "Hanya makan malam pertama setelah resmi menjadi keluarga inti. Serius... Aku gak bohong!" ujarku jujur.


Malam ini adalah malam penyambutan mas Jati dari keluarga inti secara kekeluargaan, bukan resmi dan penuh protokoler istana.


Mas Jati mendesah pasrah, ia menarikku lebih dekat dan menangkup wajahku


"Jangan tertawa kalau aku melakukan kesalahan."


Aku mengangguk patuh.


"Bantu aku untuk mempermudah proses pendekatan dengan keluargamu."


Aku mengangguk lagi.


"Jangan teriak kalau aku menyakitimu nanti."


Aku mengerutkan dahi, heran karena kalau sakit kan pasti teriak kesakitan.


"Terus kalau sakit tapi gak teriak gimana? Gak plong dong masa cuma auw... auw, gitu!" urai ku lantas mengatupkan bibir menahan tawa.


Mas Jati membentur-benturkan kepalanya di keningku. Terlihat frustasi tapi lucu.


"Kenapa mas?"


"Kamu tuh pinter teori doang, Lil! Kalau praktek langsung pasti cupu." cibirnya.


Aku mengerutkan bibir seraya memeluknya. "Praktek apa dulu mas? Jenis-jenis praktek kan banyak, mbok yang jelas!"


"Praktek bikin anak! Jelas?" tanyanya sambil menguyel-uyel pipiku dengan gemas. "Kamu ini saking polosnya atau cuma mau mancing aku, Lilah?" sungutnya kesal-kesal gemas.


"Mancing apa? Kan kolamnya di luar, bukan di dalam kamar."


"Cacingku yang di dalam celana, mau lihat?" bisiknya di telingaku seraya mengecup cuping telingaku.


Bulu halus ku langsung meremang. Kupingku panas dan terasa ada yang menggelitikku. Aku geli.


Mas Jati terkekeh, ia kembali mencubit kedua pipiku dan memasang wajah menggemaskan.


"Terserah kamulah, Lil! Yang penting mau gak mau cacingku nanti kamu makan, biar kamu gendut!"


Mas Jati memasang cengiran bodoh.


Aku tergelak singkat.


"Mas Revi mau honeymoon?" tanyaku sebelum merapikan rambut dan bersiap-siap keluar kamar. "Karena aku rasa mas Revi pasti gak nyaman untuk melakukan itu disini."


Mas Jati melebarkan matanya, lantas seulas senyum tersungging di bibirnya.


"Kamu mau honeymoon diluar rumah?" tanyanya balik seraya mengulurkan tangan.


Aku menggenggamnya sebelum keluar kamar. "Mau... soalnya samping kamar Lilah ini kamarnya ndomas Surya, sampingnya lagi kamarnya ndomas Pandu, kalau yang ini kamarnya mas Bimo!" jelasku sambil menunjuk setiap pintu yang kami lewati.


"Lilah gak bisa tahan kalau nanti mas Revi menyakitiku, jadi honeymoon diluar rumah itu lebih baik!"


Agaknya mas Jati terkejut dengan pernyataan ini. Mas Jati berhenti melangkah, ia menatap kamar Bimo dengan serius.


Aku tersenyum maklum, mungkin sudah waktunya aku bilang kalau Bimo menjadi kakak angkatku daripada nanti-nanti akan menimbulkan masalah.


"Kami paham dengan aturan main di rumah. Jadi mas Jati tidak perlu khawatir!" harap ku menenangkannya.

__ADS_1


Mas Jati menghela nafas. "Dari awal Bimo memang menjadi salah satu saingan beratku dan ia pun juga gigih dalam mencuri perhatian keluargamu!"


Aku menggeleng tidak setuju. "Bimo menjadi anak angkat Ayahanda karena memang orangtuaku berharap ia menjadi contoh abdi dalem muda yang bisa menjadi contoh tauladan bagi anak muda di luar sana. Apalagi dia sudah yatim piatu, sudah pasti Ibunda tidak tinggal diam dan Bimo memenuhi syarat-syarat menjadi anak angkat orangtuaku."


Mas Jati menyunggingkan senyum lembut dan mencium puncak kepalaku.


"Nanti kita bicara lagi."


Aku mengangguk dan sambutan hangat di ruang keluarga membuat mas Revi menunduk malu.


"Pengantin anyar. Suit, suit..." seloroh Pandu di samping Ibunda.


Aku menepuk pundak mas Jati dan memintanya duduk, mas Jati mengatupkan kedua tangannya sebelum menghempaskan tubuhnya di kursi dengan kikuk.


"Badannya yang tegak!" bisikku pelan. "Yang wibawa seperti tadi." Aku menepuk-nepuk punggungnya.


Mas Jati menegakkan tubuhnya dengan ragu, jakunnya naik-turun. Aku tersenyum dan merangkul pinggang mas Jati dari belakang. Tubuh mas Jati terasa tegang.


Ayahanda membaca gerak-gerik kami tanpa kata. Beliau adalah sosok paling pengertian yang bersembunyi di balik topeng ketidakacuhannya.


"Suamiku ini." kataku dengan riang seraya bersandar di lengan mas Jati. Jantung mas Jati mungkin sekarang resah, tensinya naik. Ia bahkan hanya menyunggingkan senyum kikuk.


Ibunda dan Ayahanda saling melempar pandang, keduanya tersenyum dengan misterius.


"Jangan membuat suami Mbak takut. Nanti Mbak se...dih!" ujarku lagi sambil memandang Ayahanda dan Suryawijaya dengan lekat.


Pandu terkekeh-kekeh seraya menggeser posisinya ke samping mas Jati.


Senyum tipis diumbar mas Jati. Campuran antara malu-malu dan berusaha terlihat percaya diri.


"Mas Jati." panggil Pandu. Mas Jati mengangguk tipis, tanpa suara.


"Mas Jati!" ulangnya lagi. Bibirku mencebik. Sungguh kasian suamiku jika diganggu si usil, Pandu.


"Nggih, ndomas Pandu." jawab mas Jati setelah beberapa saat.


Pandu cekikikan. Ia mengatupkan kedua tangannya seraya mencium punggung tangan mas Jati yang tampak tercengang dengan momen penyambutannya.


Mas Jati mengangguk ragu, kini giliran Suryawijaya yang melakukannya.


Suryawijaya mengatupkan kedua tangannya seraya memeluk mas Jati.


"Selamat berbahagia dengan Mbakyuku."


"Terimakasih ndomas." balas mas Jati.


Suryawijaya mengatupkan kedua tangannya sebelum kembali ke tempat duduknya.


Kini giliran Bimo yang menyambut kedatangan Mas Jati dalam keluarga ini.


Kedua netra mereka bertemu, berkata tanpa kata mengerti tanpa disuara. Namun bagiku ini justru membuat kegelisahan meruak.


Bimo mengatupkan seraya mencium punggung tangan mas Jati.


"Sendiko dhawuh kangmas Jati."


Mas Jati tersenyum lebar, terlihat seperti senyum kemenangan atas pernikahan ini.


Ibunda dan Ayahanda beranjak seraya tersenyum hangat setelah prosesi penyambutan mas Revi sebagai anggota baru dalam keluarga ini selesai.


"Slalu utamakan nilai-nilai kekeluargaan dalam keluarga ini anak-anakku!" Nasihat Ayahanda


Kami semua mengangguk sambil mengatupkan kedua tangan. Tak terkecuali mas Jati.


***


Makan malam selesai, adik-adikku yang biasanya memang merokok dulu setelah makan membuat mas Jati heran. Dirinya seolah berasmusi sendiri apakah ia boleh juga melakukannya.


"Boleh kok kalau mau ngerokok, tapi duduk dan rokok konvensional bukan vapor."

__ADS_1


Aku menyunggingkan senyum lembut, butuh waktu untuk mas Jati beradaptasi disini dan aku harus setia mendampinginya.


"Tapi ini hari pertama kita resmi menjadi suami-istri. Aku lebih suka kita ke kamar saja, Lil!" cetusnya.


"Boleh, kalau gitu ayo... Lilah mau cerita." Aku menggandengnya.


Sambil berjalan aku menjelaskan ruang-ruang yang kita lewati. Mas Jati mengangguk paham.


Sampai di depan pintu kamarku, aku tersenyum malu. "Jadi kita honeymoon kemana mas?" tanyaku seraya membuka pintu kamar.


"Di rumahku saja, Lil! Gratis."


Aku cekikikan dan duduk di kursi rias. Mas Revi berdiri di depanku seraya mengelus-elus rambutku.


Aku merengkuh pinggangnya dan mendongkak menatap wajahnya yang tampan.


Detik berganti menit, hanya senyap yang mengisi jeda. Aku mengembang senyum.


"Kenapa?"


Mas Jati mencium puncak kepalaku. "Aku bingung harus memperlakukan malam pertama kita dengan gimana! Aku menghormatimu, sungguh. Tapi untuk hal yang satu ini aku yakin kamu bisa berkompromi, Lil!"


Aku menyengir, tak dipungkiri bahwa aku juga kikuk dengan kondisi ini.


Dimana selama satu tahun yang lalu, aku dan mas Revi tidak benar-benar menjadi sepasang kekasih yang mabuk cinta, saling bertemu dan mengungkapkan rasa.


Kami berdua hanya berharap kepada waktu untuk kembali menyatu dan berkawan dengan rindu.


Aku semakin menenggelamkan wajahku di perutnya, perut ini kembang-kempis.


"Mas... Kenapa boxermu lucu-lucu?" tanyaku akhirnya setelah sadar apa yang ada di bawah wajahku.


Mas Jati meringis. "Apa tidak boleh memakai boxer yang lucu-lucu disini?"


"Boleh kok tapi cuma dikamar." jawabku sambil bersandar di lengannya.


"Mau lihat?" tawarnya dengan santai. Entah setan mana yang merasuki, aku mencondongkan tubuh lebih dekat ke arahnya.


"Boleh?"


Aku menahan kekehan saat mas Jati melepas ikat pinggangnya dengan grusa-grusu.


"Jangan kaget, cacingku mungkin akan galak-galak nyebelin waktu melihat bidadari disini."


Aku terkekeh-kekeh, pipiku tersipu saat mas Jati sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Boxer dan kaos oblong polos.


"Lilah ganti baju dulu sebentar."


"Aku bantu!"


Aku mendesis... ku dorong bahunya pelan untuk duduk di tepi ranjang.


"Tunggu disini, Lilah harus skincare-an juga!"


Mas Jati berdecak kesal, ia memilih merebahkan diri di atas ranjang seraya memainkan ponselnya.


Butuh lima belas menit untuk menyelesaikan skincare-an, sebelum aku mengganti bajuku dengan baju tidur.


Ibunda membelikan baju tidur, meski tidak seksi tapi ini cukup menimbulkan keresahan di benak mas Revi jika melihatnya.


Aku cekikikan sendiri sebelum berjalan dengan berjinjit-jinjit ke tepi ranjang.


Mas Jati refleks bangkit dari tidurnya sebelum meneliti penampilanku yang merangkak naik ke atas ranjang.


"Ish... ish... ish..." Mas Jati tersenyum mesum, ia menaruh hpnya seraya menarikku ke antara pahanya.


"Aku cupu, tolong ajari aku suhu!" gurauku sambil bersandar di dadanya yang terasa berdetak kencang dan membeku meski kehangatan tersalur di tubuhku.


"Kita coba teknik dasar dulu. Jangan teriak apapun yang terjadi!"

__ADS_1


Aku mengangguk. Mas Jati memelukku, kecupan manis mendarat di ceruk leherku. Aku menahan kekehan saat ia terus menciumi leherku sampai aku meremang.


...Happy Reading...


__ADS_2