
Dalilah.
Aku membuntuti mas Jati yang mendorong troli belanja sembari melihat-lihat isi rak toko supermarket.
"Mau beli apa lagi, dear?" tanyanya. Aku menggigit bibirku sambil memikirkan apalagi yang harus ku beli untuk kebutuhan sehari-hari.
"Princess kapan pulang mas?" Aku bertanya. "Bi Tutik juga kapan datangnya?"
Mas Jati menaruh madu murni ke dalam troli. "Memangnya kenapa? Kamu sudah bosan berduaan denganku?"
Aku menyengir kuda. Mas Jati mendengus. "Mereka akan pulang kalau kita sudah tuntas honeymoonnya!" sungutnya sebelum kembali mendorong troli belanja.
Aku mengerutkan kening. "Jadi selama ini kita belum tuntas-tuntas honeymoonnya mas?"
Mas Jati memutar tubuhnya, ia tersenyum mesum kepadaku. "Honeymoon kita tak akan pernah usai!"
Aku mendesis. Butuh empat hari aku bisa jalan dengan anggun seperti biasanya setelah hari-hari penuh gairah.
"Sudah dua kali aku menyuntikmu dengan cairan tubuhku, dear! Niscaya, sebentar lagi tubuhmu akan membesar!" kata mas Jati lirih, menyeringai lebar.
Aku cemberut, ku ambil beberapa camilan sebelum melihatnya seraya menaruh ke dalam troli.
Aku memperpendek jarak, ujung sepatu kita saling menyentuh. "Kalau membesar apa mas Jati suka? Puas?" sahutku kalem.
Mas Jati mencubit kedua pipiku. "Puas banget sayang, apalagi saat kamu berada di atasku. Naik, turun, melengkung indah. Hmm... kamu meracuni tubuhku sekarang!"
Aku mendesis, mengingat ini ditempat umum. Aku berdehem-dehem, seraya memundurkan langkahku dan menunduk.
Mas Jati terbahak, mendorong troli belanja untuk ke kasir.
"Yakin tidak ada yang mau dibeli lagi?" Mas Jati mengeluarkan dompet dari kantong celananya.
Aku menggeleng kuat-kuat. "Sudah cukup! Terimakasih mas jati-ku, jantung hati-ku." kataku di belakangnya.
Mas Jati berdehem, jakunnya naik-turun. Pegawai kasir yang mendengarnya tersenyum lebar, salah tingkah sendiri.
Untung kami berdua memakai masker. Jika tidak, kilatan flash kamera pasti membutakan mata kami sejak tadi, membuat laman web ramai dengan berita kami berdua.
Urusan belanja selesai, aku dan mas Jati membagi belanjaan yang cukup banyak.
Aku menyukai aktivitas ini, dimana aku dan mas Jati selayaknya seorang suami-istri yang benar-benar berumah tangga. Tanpa pelayan, hanya pengawal yang sedaritadi mengekori kami berdua.
Harus ada pengawal yang mengikuti kalian kemana saja jika berada di tempat umum, ini titah. Setuju atau tidak, kalian berdua harus menandatangani surat persetujuan!
Aku tersenyum lebar. Ayahanda, sampai kapanpun akan menjagaku dengan caranya.
Ya, walaupun pengawal mas Jati makannya banyak. Ini saja beli kopi dua renceng, gula pasir tiga kilo, beras satu sak, minyak 5L, belum kebutuhan pokok lainnya hanya demi perut kenyang dan penjagaan ketat dari mereka.
"Mau mampir kemana lagi, dear?"
Mas Jati membuka bagasi mobil dan memasukkan belanjaan kami ke dalamnya, ia menatanya dengan rapi dan serius.
Sikapnya yang seperti ini membuatku yakin, bahwa tujuh tahun yang dulu sudah membuatnya tegak berdiri diatas keresahannya menjadi seorang papa muda dengan segala gejolak yang ia redam.
"Mau ke rumah mommy sebentar, aku kangen!"
Mas Jati menggeleng pelan, tangannya menutup bagasi dan merangkulku. "Princess akan mendominasimu jika ia tahu mama pulang.... mama... bobok, mama...suapi, mama... mandi."
Ish...Ish... Ish...
Mas Jati mendesis, menggelengkan kepala. "Kamu masih milikku, dan belum rela bagi-bagi sama bocil itu!" cetusnya lucu.
__ADS_1
"Tapi salah satu alasanku menerima pinangan mas Revi kala itu adalah princess Aleta!"
Aku jujur, princess Aleta adalah satu alasanku untuk memilih mas Revi menjadi pendampingku.
Karenanya aku tahu, Revi memiliki jiwa yang matang, jiwa kebapakan dan kepempimpinan yang stabil.
Jiwa-jiwa itulah yang membuatku yakin, aku bisa meyakinkan Ayahanda untuk merestui mas Revi menjadi suamiku.
Mas Jati membuka pintu mobil dan mendorongku masuk.
"Pakai sabuk pengaman biar aman!" gumamnya.
"Pakai ikat pinggang biar aman!" balasku jail.
Mas Jati menatapku, ia menurunkan maskernya, membasahi bibirnya sebelum mengecup hidungku.
"Aman dari gangguanmu!" cibirnya.
"Ikat pinggang bikin susah!" gerutuku sambil terkekeh.
Mas Jati mencibirku sebelum menutup pintu mobil seraya memutari kapnya dan membawa pulang aku ke rumah orangtuanya.
"Sayang..."
Aku merentangkan kedua tangan dan berlari kecil menuju ibu mertuaku.
Kami bergoyang-goyang dengan riang sambil berpelukan. "I heart you, mom!"
Mommy terkekeh kecil, beliau mengusap-usap punggungku seraya menangkup wajahku.
"Are you happy with my son?" tanya beliau, matanya berkilat-kilat meski
Aku mengangguk tegas. "Happy banget!" jawabku semringah, kelewat girang saat membayangkan wajah mas Jati yang menganga, mendesah dan tersenyum lega.
Mommy tertawa renyah. "Syukurlah."
Aku kembali memeluk ibu mertuaku. Bersyukur memiliki ibu mertua yang gaul abis, seorang ibu yang mendidik suamiku dengan cara yang keren-keren.
"Masuk, sayang! Princess menanyakanmu setiap hari, mommy sampai pusing harus bikin alasan apa lagi!" Mommy terbecak frustasi, tapi juga lucu, pasti princess terdengar menyebalkan sekali saat mencariku.
"Aku gak disambut, mom? Tega bener, mentang-mentang udah punya anak mantu, cantik. Aku dilupakan!" sungut mas Jati muram.
Aku dan mommy berbalik dan sama-sama menyengir kuda.
Mas Jati berdecih, mengamati kami berdua yang akrab tanpa kecanggungan.
Aku terkikik, tanpa sepengetahuan mas Jati, aku dan mommy sering bertemu diam-diam diluar rumah setelah mas Revi melamarku dulu. Bukan untuk membahas mas Jati, tapi untuk membahas tentang seluk-beluk keluargaku.
Mommy adalah bagian penting dalam hidup keluargaku, tanpa bantuan beliau, tidak akan pernah ada aku disini.
Mungkin Ayahanda frustasi, mungkin Ibunda justru menikah dengan om Nanang. Dan aku bersyukur, aku ada disini sekarang.
Aku dan mommy saling mengurai pelukan. Mas Jati dengan kesal merentangkan kedua tangannya untuk memeluk ibunya.
"Miss you so bad, mom!"
Aku tersenyum haru saat ku saksikan ibu dan anak ini melepas rindu tanpa malu.
"Kalian dari mana? Sudah selesai honeymoonnya?"
Aku dan mas Jati saling melempar pandang. Sedikit heran karena kami tidak bilang ke mommy perihal honeymoon ini.
__ADS_1
"Besan yang bilang kalian berdua pergi honeymoon! Kemana?" tanya mommy lagi, wajahnya sungguh penasaran.
Aku menyunggingkan senyum, mas Jati malah rebahan di atas sofa bed sambil memainkan ponselnya. Seolah ia sedang menjadi dirinya sendiri dirumah orangtuanya.
Aku bergeming, menggerak-gerakkan rahangku sebelum bicara.
Harus ya bilang honeymoonnya cuma di kamar sambil belajar.
Aku terdiam cukup lama, menimbang-nimbang pikiranku sendiri sampai mommy membuatku menoleh.
"Gak ada yang mau bilang ke mommy? Atau jangan-jangan kalian belum honeymoon?"
Ibu mertuaku memandang kami bergantian, menyipitkan matanya.
Mommy menyeringai lebar, beliau pergi ke depan rumah untuk.
Jadi mereka pergi kemana saja, Dar?
Hanya dirumah, Bu!
Dirumah? Ngapain saja?
Biasa!
Suara gelak tawa terdengar dari teras rumah, seolah menertawakan aku dan mas Jati yang hanya ngamar sepanjang hari.
Aku mengulum senyum, mas Jati pura-pura tidak mendengar meski wajahnya berseri-seri.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" ujar mommy seraya duduk di sofa. "Bisa-bisanya honeymoon hanya dikamar. Di kamar Revi lagi!" Mommy berdecak kesal.
Mas Jati mengernyit. "Kenapa memangnya, mom? Yang penting kan honeymoon! Dimana-mana bisa, asal sepi!" urainya gamblang. Aku tersenyum samar.
Mommy masih berdecak kesal. "Honeymoon itu kan hari yang spesial! Apalagi kalian ini pangeran dan putri mahkota! Apa tidak kepikiran untuk membuat malam yang indah dan mewah? Ini malah cuma dikamar!" Mommy frustasi, sementara aku dan mas Jati menahan kekehan.
"Kamarku lebih spesial, Mom! Dan setiap malam itu sekarang spesial banget." ucap mas Jati. Aku mengangguk setuju.
"Gak! Gak! Gak!" Mommy tidak setuju. "Kalian harus mengulangi lagi honeymoonnya di hotel, kalau perlu ke luar negeri!"
Mas Jati menggeleng cepat. "Dua hari lagi aku sudah masuk koas, Mom! Jangan bikin acara sendiri!" sungut mas Jati.
"Terus nanti kalau ada yang tanya mommy dimana kalian honeymoon. Mommy hanya jawab, dirumah gitu? Neyy... Revi! Neyy..." Mommy menggoyangkan jari telunjuknya.
Mas Jati mendesah pasrah, ia menegakkan tubuhnya sebelum celingukan. "Princess dimana, mom?"
"Dikamar!" jawab mommy acuh tak acuh.
Mas Jati beranjak. "Iya, iya... Nanti honeymoon ke hotel bintang lima! Tapi sekarang aku mau ketemu princess dulu."
ucap mas Jati sambil lalu.
Mommy berdehem, senyum samar terlihat dari sudut bibirnya saat aku mengekori suamiku naik ke atas tangga.
Princess berseru riang. Ia berlari kecil untuk menubruk kaki mas Jati. "Papa... pliincess kangen."
Mas Jati mengelus rambutnya yang di kuncir kuda. "Papa juga kangen."
Princess memeluknya erat. Aku berdiri diambang pintu, melihat mas Jati yang memerankan peran ayah dengan baik. Topeng itu benar-benar sempurna. Tidak ada kemunafikan di air wajahnya, ia benar-benar menyayangi bocil itu dengan penuh ketulusan.
Lalu ku usap perutku yang rata, seulas senyum terbit di bibirku. Semoga jadi.
...Happy Reading...
__ADS_1