ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 73


__ADS_3

Dalilah.


Aku berjalan dengan pelan saat memasuki rumah. Aku tahu, Ayahanda pasti tahu aku bolos sekolah.


"Ayahanda ada di taman!" kata Bimo sambil berhenti.


Aku membuang nafas dan mengangguk sambil lalu. Aku mau mandi dulu. Sementara aku tahu, Bimo pasti sedang laporan.


Aku tidak kapok jika harus di hukum lagi, karena aku sudah biasa terkurung di dalam rumah. Aku slalu mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku, menjelajahi situs di internet dan melihat video-video di kanal YouTube. Atau, jika aku bosan, aku akan duduk merenung sambil menunggu bunga kamboja jatuh di tubuhku.


Aku menyisir rambutku, aku biarkan tergerai. Lalu ku ambil lip gloss dan membasahi bibirku dengan warna peach.


Sebelum aku benar-benar mendatangi Ayahanda, aku mengambil beberapa kue dan memakannya di dapur. Aku lapar dan jika aku dihukum nanti, aku sudah kenyang. Itu rumus mutlak jika akan menghadapi Ayahanda. Harus kenyang!


Aku pura-pura berdehem saat Ayahanda dan Bimo begitu serius berbicara. Mereka menoleh lalu Bimo menggeser posisinya---sedikit menjauhi Ayahanda.


"Sudah mandi?" tanya Ayahanda pelan.


Aku mengangguk dan duduk di samping Ayahanda. Ayahanda mencium puncak kepalaku.


"Pulanglah, Bim. Terimakasih sudah menjaga putriku!" kata Ayahanda lugas dan lembut tanpa kalimat intimidasi seperti biasanya.


Dimana arogansi kekuasaan Ayahanda. Aku menoleh, menelisik mata Ayahanda sekejap sebelum Bimo membungkuk hormat seraya mencium punggung Ayahanda. Aku meliriknya, menerka apa saya yang ia bicarakan dengan Ayahanda tadi.


Laporan apa yang ia berikan sampai Ayahanda terlihat kalem di sore ini.


Sekilas tatapan Bimo beralih padaku.


"Besok saya jemput!" ujarnya padaku, sebelum membungkuk hormat.


Aku berdehem. Bimo pergi, dan aku menggeser posisiku untuk memberi jarak antara aku dan Ayahanda. Jaga-jaga.


"Bagaimana latihannya?" tanya Ayahanda.


Alisku terangkat. Ku ingat tadi waktu latihan. Cukup menegang karena perbedaan pendapat dan koreografi yang benar-benar ruwet seperti benang merah antara aku dan Revi dan Bimo.


"Butuh latihan yang lebih giat lagi dan serius." jawabku.


Ayahanda mencermatiku baik-baik sebelum berdehem seolah menelan pasir yang berada di tenggorokannya. Susah sekali.


"Usiamu sudah enam belas tahun, Putri Dalilah. Sudah benar-benar remaja." kata Ayahanda, seraya mengulum senyum.


Aku mengendikkan bahu, cukup aneh dengan perangai Ayahanda. Ayahanda tidak marah setelah apa yang di laporkan oleh Bimo kepadanya. Setelah seminggu ini aku diantar jemput oleh Ayahanda dan tadi aku melakukan dua kesalahan.

__ADS_1


"Bimo bilang apa Ayahanda?" tanyaku berupaya menyelidikinya.


Ayahanda mengerutkan kening, beliau menghirup nafas dalam-dalam seraya tersenyum padaku. Wajahnya tanpa emosi. Tubuhnya sigap. Apakah yang dipikirkan saat ini? Ayahanda benar-benar sulit aku tebak.


"Kamu senang?"


Tatapan Ayahanda mengisyaratkan pengertian. Beliau bisa menebak apa yang terjadi tadi.


Aku menggerak-gerakkan rahangku sebelum membuka mulut.


"Apa Ayahanda pernah remaja?"


"Apa menurutmu eyang uti melahirkan Ayahanda langsung menjadi tua?"


Oh, Astaga.


Aku mengajukan pertanyaan yang salah. aku kembali memaksa otot-otot pipiku untuk bekerja. Tersenyum manis penuh permintaan maaf.


"Hari ini Lilah mengunjungi bukit di daerah selatan waktu jam sekolah. Lalu, mencoba menari kontemporer."


Ayahanda bilang, menjadi dewasa bukan perkara yang di besar-besaran seperti memilih sebuah pilihan dan menjalani. Atau bertanggung jawab dengan apapun itu yang menjadi stempel masa dewasa.


Tapi juga pengakuan dan fakta.


"Kamu senang?" tanya Ayahanda.


Masih pertanyaan tadi. batinku.


"Bagaimana Ayahanda melihatnya?" tanyaku sambil membalas tatapan Ayahanda.


"Kamu tertekan karena protokoler yang Ayahanda ajukan padamu?"


Aku termangu, merenungkan ucapan Ayahanda. Lalu menggeleng. "Tidak tertekan, cuma butuh sedikit kelonggaran. Ehm... Lilah hanya perlu merasakan satu kali pengalaman pertama saat remaja. Sudah itu saja. And you know, Dad!"


Aku menyandarkan kepalaku di lengan Ayahanda. Ayahanda merangkulku dan bayangan kami terlihat jelas di atas rerumputan saat sinar senja menerangi kami dari belakang. Bayangan ini terlihat hangat.


"Seolah ada yang lepas saat Lilah melakukan itu. Ada sesuatu yang lega dalam benakku."


"It's just change and you know, princess..." potong Ayahanda tegas. "Apa Revi menjagamu dengan baik?"


Sebelum aku menjawab, aku menegakkan tubuhku.


"Walaupun di mata Ayahanda mas Revi itu ugal-ugalan, tapi dia baik. Dia jaga Lilah, walaupun Lilah tahu ia pun tertekan karena berpacaran dengan Lilah."

__ADS_1


Ayahanda bergeming menatapku. "Kamu akan menyadari bahwa hidup kadang tidak sesuai dengan harapanmu, Lilah. Revi dan kamu akan mengalami transisi dari remaja sekolahan menjadi remaja dewasa. Kalian akan mengalami masa dimana, kamu dan Revi akan memiliki tujuan-tujuan sendiri. Kamu siap menghadapinya?"


Aku mengendikkan bahu dengan anggun. "Lilah juga tidak ingin seperti yang Ayahanda ucapkan tadi, terlalu cepat dewasa justru akan membuat semuanya runyam."


Ayahanda masih mendengarkan, melihatku, menungguku selesai bicara.


"Aku ingin mengalir, Ayahanda. Seperti sungai, kehidupan."


"Dengan batasan yang kita sepakati bersama?" Ayahanda menegakkan tubuhnya lantas berdiri. "Masuk ke rumah!"


Aku mengikuti Ayahanda dan berhentilah kami di ruang keluarga. Ayahanda bergeming di depan pigura foto masa kecilku.


"Kamu akan dewasa dan akan menikah dengan laki-laki pilihanmu. Tapi jika kamu sampai melanggar aturan yang Ayahanda berikan kepadamu, Ayahanda akan menjodohkanmu dengan laki-laki pilihan Ayahanda!"


"Nikmatilah protokoler istana Dalilah jika kamu tidak mau menikah dengan sesama bangsawan yang penuh peraturan. Rasanya pasti tidak seru." benakku bicara, mengusik ketenangan.


"Siapa dulu laki-laki pilihan Ayahanda?" tanyaku. Rahang Ayahanda mengeras, seolah pertanyaanku adalah pertanyaan yang menyatakan bahwa aku tidak keberatan dengan itu.


Ayahanda menjawab, masih rahasia.


"Apa Ayahanda tidak pernah membolos sekolah? Apa eyang begitu keras mendidik Ayahanda sampai Ayahanda seperti ini? Tidak memahami jiwa-jiwa anak muda?" tanyaku beruntun.


Ayahanda menggeleng, lalu menatapku dengan tatapan mata sayu. Terlihat sedih sekaligus ada keangkuhan yang masih terlihat jelas oleh mataku.


"Keras bukan berarti kasar, Lilah! Bukan seperti yang ada dalam anggapan mu selama ini."


"Apa Ayahanda pernah membangkang?"


Ayahanda membuka matanya lebih lebar, lalu beliau pandang pigura foto yang menunjukkan pernikahan Ayahanda dan Ibunda.


"Kamu adalah hasil dari proses pembangkangan Ayahanda. Kamu adalah anak yang menyatukan Ayahanda dan eyang Kakung setelah usaha panjang yang Ayahanda lakukan untuk membawa ibumu masuk di istana ini. Itulah kenapa, kamu adalah anak yang betul-betul Ayahanda perhatian karena sikapmu harus menunjukkan sikap perempuan ningrat yang sudah Ayahanda didikan!"


Mataku berair. Sedih. Ayahanda mengusap wajahnya sebelum mengulum senyum kepadaku.


"Tumbuhlah menjadi anak yang kuat dengan didikan keras dari Ayahanda yang bukan termasuk dalam golongan ayah ideal."


"Tapi, dari semua yang Ayahanda katakan kepadaku, Lilah menyimpulkan bahwa Ayahanda tidak marah karena aku bolos sekolah dan menari kontemporer tadi?" tanyaku menyimpulkannya sendiri. Kalaupun Ayahanda marah, ya siap-siap saja di hukum. Lumrah.


"Hanya sekali untuk membolos sekolah! Untuk menari kontemporer, itu seni dan seni adalah kebebasan. Berekspresi lah dengan baik tanpa merugikan dirimu sendiri."


Aku langsung memeluk Ayahanda. "Kalau begini kan jadi Ayahanda yang ideal, bukan Ayahanda yang sukanya marah-marah. Jadi Ayahanda akan awet muda!"


Aku terkekeh saat Ayahanda mengatakan bahwa aku mirip Ibunda. Pandai bersilat lidah alias banyak bicara.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2