ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 35.


__ADS_3

Dalilah.


Aku mengangkat wajahku dari sepucuk surat berwarna merah jambu dengan tanda tangan di bawahnya.


^^^Revi, kesayangan Lilah.^^^


^^^Yang sendiri di sekolah.^^^


Aku tersenyum memandangi surat itu, seperti ada wajah Revi disitu.


Aku sudah membaca surat ini berkali-kali sampai kumal, sampai aku hafal tanda baca yang ditorehkan Revi disurat ini.


Aku menggulingkan tubuhku, lalu memandangi surat ini lagi. Surat ini seperti amunisi. Membuat jantungku meledak karena kata-katanya.


^^^Dear my princess.^^^


BACANYA SAMBIL SENYUM, ITU SYARATNYA!


Pertama-tama, akan ada hikmah dari semua yang terjadi. Betapapun berat hukuman yang kamu jalani sekarang, kamu harus tahu kalau aku gak berubah buat kamu. Aku masih sama, mas Revi yang mencintai kamu! Sekalipun dunia berpaling darimu, aku masih ada di rumah mommy. Menunggumu.


Humpp... Aku sengaja nulis surat ini, karena gak ada cara lain untuk menghubungimu. Kamu baik kan? Jangan lupa makan yang banyak! Aku gak mau pangling karena kamu kurusan. Nanti kalau aku bawa kebut-kebutan, kamunya kabur kanginan. Kan repot. Hehehe... Canda sayang.


Tapi tenang, Aku bawakan banyak coklat untukmu, sebagai ganti senyumku yang suka membuatmu tersipu. ^_^


Satu lagi. Kamu gak usah mikirin siapa yang iseng sama kamu. Kamu gak akan pernah melihatnya lagi setibanya di sekolah nanti. Dia sudah aku tendang ke langit ke tujuh! Kamu juga gak perlu penasaran siapa dalang dari semua kejadian ini. Kamu hanya perlu tetep sayang sama aku, pahlawanmu.


Aku capek nulis suratnya panjang-panjang. Udah kayak nulis pelajaran, harus mikir lagi! Udah ya, cukup ini saja untuk mewakili seluruh perasaanku selama berhari-hari ini.


Gak boleh nyerah! Kita berdua punya akal bulus untuk tetap berduaan! Sssttt...


Have a nice dream untuk setiap malam-malammu, anggap saja ini adalah A little Lullaby.


Kissing you my princess. Dalam mimpi! Bisa bonyok aku kalau bener-bener menciummu kemarin. Hahaha, jangan mupeng ya. Bibirku memang seksi. Tapi nanti kalau kamu sudah punya KTP, aku akan melakukannya tanpa kamu minta. Biar kita langsung dinikahin. Hahaha.


Amin! Aku pamit. Sehat-sehat ya, kalau sakit periksa!


Aku melipat kertas itu sambil tersenyum getir.


Diantara semua kalimat yang membuatku ngakak, aku justru penasaran dengan siapa orang yang Revi tendang ke langit ke tujuh. Siapa orang yang ingin menjatuhkan keluargaku.

__ADS_1


Rasanya aku malah tidak tenang karena tidak tahu siapa yang menggangguku. Kira-kira siapa ya?


Aku menyelipkan suratnya ke bawah bantal saat terdengar suara pintu terbuka lebar.


"Ibunda..." ujarku sambil mengulum senyum.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Sudah makan?" tanya Ibunda sambil duduk di tepi ranjang.


"Sudah! Tadi Lilah buat nasi goreng sama telur ceplok." jawabku sambil mendekati Ibunda, "Ibunda sudah gak ada kegiatan di istana?" tanyaku sambil memandang matanya. Sudah tidak sembab. Syukurlah.


"Sudah tidak ada kegiatan apapun


Ibunda capek. Adikmu Pandu bikin konten horor di sekolah. Dia nyebutin siapa-siapa saja yang menjadi penghuni sekolah! Tadi Ibunda habis ke sekolahnya, Pandu diminta untuk menetralisir energi negatif yang disana. Mana dia mau! Yang ada dia malah ngakak karena banyak siswa-siswi yang gak masuk." Ibunda mendesah lelah setelah mengurai panjang kalimatnya.


"Tau gak alasan apa yang dia bilang ke Ibunda mengenai konten horor itu?" tanya Ibunda padaku. Aku menggeleng, masalahku sudah banyak, sudah tidak mau memikirkan hal lainnya.


"Dia bilang penghuninya pengen istirahat dengan tenang!"


"Mana bisa! Orang gentayangan minta istirahat dengan tenang!" sergahku cepat.


Ibunda malah terkekeh sambil mengambil bantal dan memeluknya.


"Bagaimana keadaanmu? Masih takut bertemu dengan Ayahanda? Atau eyang?" tanya Ibunda sambil tersenyum simpul.


Aku balik tanya, "Bagaimana dengan Ibunda? Eyang masih marah? Atau Ayahanda masih memilih menepi?"


Ibunda menggeleng pelan, "Biasa-biasa saja. Sudah bisa dikendalikan lagi." jawab Ibunda ringan.


"Ibunda yakin? Lilah rasa ada yang masih mengganjal." Aku menatap Ibunda dengan lekat, Ibunda terkekeh saat melihat wajahku yang penasaran.


"Apa yang mengganjal? Surat dari Revi belum datang? Atau coklatnya sudah habis?"


Aku mendesis jengkel lalu menyandarkan kepalaku di lengan Ibunda.


"Jadi gak ada yang bisa aku rahasiakan nih? Lilah harus terbuka sekalipun itu sesuatu yang privat?" tanyaku basa-basi.


Ibunda semakin terkekeh sambil merogoh bawah bantal yang menjadi tempat bersembunyi surat cinta pertamaku.


"Hati-hati, nanti cuma kena ilermu dan gak bisa disimpan lama!" ledek Ibunda sambil menyerahkan surat itu.

__ADS_1


Aku mengambilnya lalu memandanginya penuh arti, "Apa Ibunda punya surat cinta?"


"Tidak! Cara pacarmu itu terlalu old school Mbak sudah gak zaman!" ledek Ibunda lagi.


Aku mendengus kesal, akhir-akhir ini Ibunda kalau datang ke kamarku hanya meledek saja.


"Apa Ibunda dan Om Nanang pernah ciuman waktu pacaran?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Ibunda melirikku, wajahnya bersemu merah.


"Lilah dan Jani jelas berbeda! Berbeda dari segala kondisi. Jani rakyat biasa yang diangkat derajatnya oleh ayahmu. Sedangkan Lilah derajatnya sudah ada di atas tanpa perlu merangkak seperti Jani."


"Apa Ibunda pernah ciuman dengan Om Nanang tidak?" tanyaku lagi.


Ibunda mengacak-acaknya rambutku, seperti Om Nanang kalau melakukannya.


"Dengarkan dulu ceritanya! Terkadang-kadang dari cerita kamu bisa menyimpulkan maknanya!" jelas Ibunda lembut.


"Kalau hanya dari cerita saja semua bisa menyimpulkan, tapi kenyataannya! Orang gak bisa menerka sendiri dan menyimpulkan semua yang terjadi hanya dari opininya sendiri!"


"Ngeyel banget sih sama kayak Jani!" Ibunda mencubit hidungku. Lalu terkekeh kecil lagi saat aku mengaduh sakit.


"Jawab, Bun!" ujarku dengan nada memaksa.


"Rahasia... Cukup Ibunda dan Om Nanang saja yang tahu! Kamu anak kecil tidak boleh tahu. Nanti semakin pengen! Repot Ayahanda. Semalam suntuk cuma begadang memikirkan anak gadisnya yang sudah jatuh cinta dan minta cium!"


Ibunda tertawa lalu mengusap air matanya yang membasahi ujung matanya.


"Ah... yang paling merana saat anak gadisnya memiliki seorang pacar ada seorang Ayah. Ayahanda gusar karena takut kamu patah hati dan sedih! Karena sekalinya patah, hati sudah tidak lagi sama meskipun yang menyakiti hati adalah ekspetasi. Tapi, Ibunda beruntung kamu memiliki mas Revi! Dia manis, Ibunda suka. Dia seperti om Nanang saat muda. Pintar nyanyi, main gitar, dan bibirnya sepertinya juga manis." Ibunda tersenyum sambil menutup wajahnya.


"Oh Shit!" umpatku tanpa sadar, "Ibunda pernah ciuman sama om Nanang. Oh... Ayahanda pasti cemberut, pantas saja kalau om Nanang lagi ngobrol dengan Ibunda. Ayahanda menatap tajam kearahnya."


Ibunda tertawa kecil, "Besok Ayahanda mau bicara. Datanglah ke ruang keluarga. Setelah sarapan pagi. Ibunda harap, kamu bisa diajak kompromi dengan apapun yang Ayahanda katakan." Ibunda merapikan rambutku, menatapku penuh harap.


"Ayahanda tidak hanya menanggung kita, tapi banyak rasa yang memenuhi hatinya. Jadi Lilah anak Ayahanda yang cantik, jangan buat Ayahanda semakin cepat tua ya. Ibunda masih butuh Ayahanda karena hanya ciuman Ayahanda yang murni tanpa campuran madu apalagi racun!"


Aku mengangguk. Seulas pertanyaan justru berkembang di pikiranku.


Bibir rasanya manis? Apa iya...


...Happy Reading 😆...

__ADS_1


__ADS_2