
Dalilah.
Entah apa yang Ayahanda rencananya. Setega itu kebebasanku beliau tumbangkan hanya ketakutannya.
Aku melangkah dengan gontai menuju kamar setelah menghabiskan waktu di taman. Berdua bersama pohon Kamboja, mengukir di batangnya dengan nama Revi dan Lilah dalam gambar hati yang retak.
Di kamar aku ingin membaca surat yang Revi berikan. Aku suka kata-katanya. Sedikit norak tapi aku senang sekali membacanya.
Namun, saat aku tiba di persimpangan jalan. Ku dengar suara hatiku menyalak begitu saja. Membuatku berhenti dan berpikir sejenak.
Jalan mana yang harus aku pilih? Ke kanan adalah kamarku. Ke kiri artinya kembali ke ruang keluarga.
Aku menggeram kesal. Pilihan yang sulit, dan aku tetap memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga. Menemui Ayahanda dan Bimo---jika dia ada disana.
Aku menunduk sambil terus berjalan. Keras kepalaku masih sama, hanya saja aku perlu bicara. Ibunda pernah berkata untuk tidak menjadi gadis lemah. Ibunda juga sering berusaha tegar setiap bibirnya gemetar. Sering ku lihat Ibunda juga mengulum senyum sambil menelan ludah yang pahit. Kalau Ibunda bisa. Aku juga bisa menghadapi Ayahanda.
Aku hampir sampai ke ruang keluarga. Masih ku dengar suara-suara yang samar disana. Jelas Ayahanda dan Bimo masih duduk sambil bercengkrama.
Ketika mereka terlalu sibuk berbicara. Aku langsung masuk dan menduduki bangku yang tadi aku tempati.
"Harus bagaimana Lilah mengenang kekalahan ini." ujarku tanpa basa-basi sambil menatap jambangan kristal peninggalan eyang.
Ayahanda berdehem suara terdalamnya.
"Perhatikan orang yang kamu ajak bicara! Semakin banyak kesalahan yang kamu perbuat, semakin banyak sesuatu yang harus kamu patuhi!"
Ayahanda tercinta yang aku sayangi selama ini masih duduk dengan sikap jumawanya saat aku menatap manik mata Ayahanda yang memerah menahan marah.
"Apa setelah Ibunda yang slalu Ayahanda buat menangis, kini giliran Lilah mendapatkan jatah itu?" tanyaku sambil tersenyum tipis.
Ayahanda kehilangan kata-kata, beliau hanya terdiam sambil mengeraskan rahangnya.
"Sepertinya kelaraan ini terus berlanjut Ayahanda. Mendarah daging di urat nadi kami perempuan yang Ayahanda sayangi." ujarku terus menatap Ayahanda.
Menahan tangis yang hendak meleleh lagi di wajahku.
"Ayahanda hanya ingin menjagamu, ndoro putri Dalilah Sekar Kinasih."
Aku menoleh ke belakang, tepat disana perempuan berhati karang itu berjalan sembari membawa minuman.
"Ibunda membela Ayahanda? Ibunda setuju aku harus diawasi oleh Bimo?" ujarku bersungut-sungut sambil mencengkram kayu kursi.
"Apa Mbak hendak menstruasi? Marah-marah terus dari tadi!" kata ibunda sambil tersenyum jenaka. Ibunda menaruh tiga minuman di atas meja lalu tersenyum manis kepada Bimo.
"Di minum dulu mas Bimo. Pasti haus kan denger Mbak Lilah ngomel-ngomel terus. Ibunda juga iya. Mbak Lilah yang ngomel-ngomel, Ibunda yang haus." Ibunda mengambil sendiri gelas yang ia taruh lalu meminumnya dengan cepat.
Suara tegukan Ibunda mengacaukan pikiranku. Dan, sekarang aku haus.
Aku menatap jus jeruk dingin milik Bimo dan Ayahanda. Keduanya masih diam, tak menyentuhnya.
"Kenapa Mbak Lilah? Mau?" tanya Ibunda yang memilih duduk di sebelah Bimo.
Aku menggelengkan kepala cepat-cepat. Gengsi dong kalau harus merengek minta salah satu jus jeruk mereka berdua. Kan Lilah lagi marah!
__ADS_1
"Apa dua pria ini tidak berminat memberikan salah satu minumannya untuk putri kecilku?" tanya Ibunda kepada Ayahanda dan Bimo.
Bimo menjangkau gelasnya, ia menatapku sebentar lalu mengangkat gelasnya dan meminumnya.
Oh Gusti... Jangan sampai Ayahanda merayuku dengan segelas jus jeruk miliknya. Jus itu tidak akan melupakan bagaimana rasa perihnya ditampar untuk pertama kalinya.
Hening.
Aku memilih cuek saat ini. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa tadi. Tapi saat Ayahanda berkata untuk meminum jus jeruknya, aku menoleh sebentar lalu menolehkan kepalaku lagi.
"Ayahanda saja yang minum! Biar Ayahanda bisa manis lagi!" ujarku kesal sambil menggoyangkan rahang ku.
Ibunda tersenyum, Bimo juga.
"Apanya yang lucu? Ibunda gak tahu Lilah habis ditampar Ayahanda. Lilah sakit Bun. Terluka luar dalam!" kataku sambil menunjuk-nunjuk dadaku.
"Bisa Ibunda bantu untuk mengobatinya? Ibunda tahu obat mujarabnya. Bukan dari tabib istana, ini cukup dari dirimu saja." Sepasang mata cantik itu mengerjap jenaka. Aku mendengus saat melihat kilau geli di mata Ibunda.
"Kalau hatiku hanya dikasih obat merah gak bakal sembuh, Bun. Orang hatiku sudah merah membara penuh kobaran api yang menyala-nyala!" Aku terbatuk-batuk setelah berbicara penuh emosi. Tenggorokanku kering sekali sekarang.
Ayahanda memintaku untuk meminum jus jeruk miliknya. Aku kembali menolaknya.
"Kamu tidak terbiasa berkata seperti itu. Menggebu-gebu dan penuh emosi. Minumlah, Ayahanda mengizinkan." ujar Ayahanda sedikit melunak.
Aku mendengus dingin sambil menendang kaki meja.
"Ayahanda hanya mengizinkan Lilah minum jus jeruknya. Tapi Ayahanda tidak mengizinkan Lilah untuk mencium aroma kebebasan." kataku lagi. Masih berkeras kepala.
"Apakah putriku tahu rasanya kulit jeruk?"
"Apakah putriku juga tahu bagaimana rasanya menjadi jeruk peras?"
"Tidak!"
Ayahanda tersenyum, lalu mengambil gelasnya dan menaruhnya ditanganku.
"Minumlah, biar kamu tahu rasanya manis setelah mencecap sebentar rasa pahit di hidupmu! Biar kamu tahu rasanya menjadi jeruk peras yang terus diplintir agar menghasilkan sarinya. Seperti Ayahanda sekarang, melakukan ini untuk masa depanmu. Bukan hanya hari ini saja!"
Dan aku benar-benar kalah.
Aku menatap Ibunda yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Begitu juga Bimo yang tersenyum dalam tundukkan kepalanya.
"Tapi Lilah punya syarat!" ujarku lagi masih menawar keadilan sejahtera bagi seorang remaja.
"Katakan? Ayahanda akan mempertimbangkannya."
Aku meminum jus jeruk yang Ibunda buat. Manis dan begitu nikmat rasanya. Menyesal Ayahanda tidak meminumnya.
"Enak?" tanya Ayahanda.
"Enak karena Ibunda bikinnya pakai cinta!"
"Kamu ada karena dibuat pakai cinta!"
__ADS_1
"Ngomong apa kamu mas!"
"Bicara apa adanya!"
"Tidak malu didengar anak muda!"
"Tidak! Mereka harus tahu masalah ini. Terkadang egoisme sesaat hanya menjanjikan yang manis-manis. Tapi pada akhirnya hanya akan tersisa kehampaan! Percayalah pada Ayahanda, Putriku. Ayahanda hanya ingin menjagamu selagi Ayahanda mampu, karena kelak setelah kamu menikah dengan laki-laki pilihanmu. Kamu, bukan tanggungjawab Ayahanda lagi."
Aku termenung sejenak. Ayahanda memang benar dan tidak pernah salah. Salahnya cuma ada beberapa gak sampai jumlah jariku.
Aku menatap Ibunda, mencari persetujuan. Lagi-lagi Ibunda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Bimo sudah sepakat untuk menjaga Mbak Lilah di sekolah nanti." ujar Ibunda tanpa rincian yang jelas.
"Tapi tadi Lilah bilang, Lilah punya syarat!" kataku lagi penuh tuntutan.
Ayahanda dan Ibunda mengangguk, menungguku menyebutkan syaratnya. Sedangkan Bimo menjadi pendengar setia sambil mengamatiku baik-baik.
"Ayahanda siap? Kalau tidak, Ayahanda boleh kok melambaikan tangan sekarang juga." Ayahanda mengangguk dan menatapku penuh khidmat.
"1. Peraturan itu hanya berlaku di sekolah! Bimo gak boleh ikut campur urusan pribadi Lilah di luar sekolah.
Harus ada jarak tiga meter antara Bimo dan Lilah. Karena Lilah sudah punya pacar. Lilah gak mau mas Revi cemburu.
Ayahanda harus sayang lagi sama Lilah dan minta maaf karena tadi Ayahanda sudah menampar pipi Lilah yang tidak jadi dicium mas Revi waktu itu.
Lilah mau hp Lilah dikembalikan.
Ayahanda harus menyetujui permintaan Lilah nomer 1-4, kalau tidak? Ayahanda gak punya pilihan selain mengantar Lilah ke Australia dan tinggal bersama keluarga Oma Laura."
Ayahanda mengangguk setelah aku mengucapkan kalimat panjjjjannngggg dan membuatku haus lagi, beliau dengan enteng berkata, "Bisa diatur asal Lilah mau memaafkan kesalahan Ayahanda tadi."
Payah. Lagi, lagi, aku kalah menentang kebijakan Ayahanda hanya dari mendapatkan pelukan hangatnya.
__ADS_1
...Happy Reading š„°...