
Dalilah.
Kicauan burung dan merdunya suara gamelan, tak mempan menenangkan hati mas Jati saat ini. Ia masih saja cemberut dengan wajah serius.
"Apalagi kesukaanmu selain teh manis hangat?" cetus mas Jati tiba-tiba. Hatiku sakit mendengar nadanya yang lesu.
"Kamu mas, aku suka kamu, banget!" jawabku antusias.
Mas Jati mendongkak, ia mengge mauleng cepat. Jawabanku salah lagi setelah pertanyaan terdahulu dibantahnya kuat-kuat.
"Selain aku! Aku sangat tahu kamu suka denganku, tapi makanan kesukaanmu, minuman kesukaanmu, atau apapun yang tidak Bimo tahu!" sungut mas Jati.
Ha-ha-ha... Aku tertawa dalam hati. Bojoku senewen banget sih... Bikin aku gemas-gemas kesal.
Aku tersenyum lembut. "Aku suka semuanya, mas! Tidak pilih-pilih." Wajahku merona agak malu, aku suka semua makanan---halal.
Mas Jati menggeleng lagi. "Jawab yang pasti, yang lebih kamu sukai daripada teh hangat!" tuntutnya lagi lebih keras kepala.
Aku tahu, mas Jati ingin lebih unggul dari Bimo tentang aku. Sejelas apapun aku menjelaskannya kepada suamiku, Bimo sudah tahu banyak tentang aku.
Aku mengulum senyum. "Aku suka air putih, suka klepon, suka banget sama bakso di sekolah dulu, dan suka kamu tentunya!" rayuku.
"Kalau gitu kita ke sekolah sekarang!" sahutnya seraya menarik tanganku.
Mataku melebar. "Mas Jati sungguh-sungguh mau ke sekolah sekarang?" tanyaku memastikan. Ia mengangguk tegas.
Mau apa coba, yang ada sekolahan bakal geger dengan kedatangan Alumni pembuat ulah dulu. Aku juga punya malu kali... Heuheu.
"Aku kangen makan bakso bersamamu saat jam istirahat sekolah!"
Aku pasrah saat mas Jati memilih baju kesukaannya dan menyisir rambutku dengan hati-hati. Ia meneliti penampilanku sebelum ia sendiri mengambil beberapa potong baju dan menggunakannya.
Aku menyipitkan mataku saat potongan terakhir melekat di tubuhnya. "Kok pakai seragam SMA, mas?"
"Biar kamu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi seperti saat SMA!" Mas Jati menyaut tas ransel seraya menggendongnya.
Aku menggigit pipi bagian dalamku sambil menahan tawa.
Mas Jati masih sama seperti saat SMA jika menggunakan seragam SMA begini. Tidak banyak yang berubah. Hanya sedikit dewasa perawakannya.
***
Ibunda menatap heran suamiku yang berpamitan dengan beliau. "Mau lomba kostum dimana, mas?" tanya Ibunda.
Aku mendelikkan mata, memberi isyarat kepada ibuku untuk tidak ikut-ikutan membuat mas Jati meledak-ledak dan melodrama dalam satu waktu yang sama.
__ADS_1
"Mbak Lilah juga pakai summer dress! Mau kemana to?" Ibunda terheran-heran dengan sikap kami berdua.
Tenggorokanku terasa perih. Alasan apa yang harus aku ucapkan saat ini.
Ibunda benar-benar sedang menguji rumah tanggaku, padahal beliau sangat tahu mas Jati kenapa, kenapa aneh begini.
Mas Jati menautkan jemari kami. "Kami berdua pergi dulu, Ibunda! Tidak lama." Mas Jati membungkuk hormat dan menuntutku keluar ruangan.
Ibunda mengulum senyum saat melambaikan tangan, sementara aku geregetan berjalan disampingnya.
Diparkiran. Pandu, biang kerok nomer dua menahan tawa melihat mas Jati.
Aku melemparkan senyum bodoh yang sukses membuat Pandu terbahak-bahak tanpa suara dengan kilau geli dimatanya.
"Mau jadi anak SMA lagi to mas?"
Mas Jati menarik lurus sudut bibirnya seraya membuka pintu mobil.
"Udah minta uang jajan Ibunda, mas?" timpal Pandu lagi.
Mas Jati mendorongku masuk dengan perlahan seraya memasangkan sabuk pengaman. "Duduk yang manis!"
Aku mengangguk patuh. Di luar mobil, Pandu dan mas Jati terlibat percekcokan yang terlihat lucu.
Pandu mengeluarkan dompet dari kantong celananya, dan memberi selembar uang kertas bernilai lima puluh ribu untuk mas jati. Mas Jati menggeleng-geleng. Pandu menggerutu lalu kembali mengeluarkan uang lagi untuk mas Jati.
"Kamu minta uang ke Pandu, mas?" tanyaku langsung. Kalau iya, istana bakal geger dengan kelakuan mas Jati ini.
Mas Jati menggeleng kecil, ia menaruh sejumlah uang di tanganku. Aku menatapnya. Dua lima puluh ribu yang lecek.
"Untuk jajan keponakannya yang akan mirip sepertinya!" cetus mas Jati setengah hati.
Mobil melaju di jalan raya, aku memandangi suamiku dengan senang. "Kamu ingat saat pertama kali menggangguku?"
Mas Jati menatapku pura-pura polos dan senyum yang terlihat jelas. "Tidak!"
Kau... Astaga, aku membuang nafas panjang. Pura-pura tidak ingat padahal wajahnya sangat-sangat ingat dengan jelas waktu pertama kali ia menggangguku disekolah.
"Terlalu banyak teori kedokteran yang aku pelajari membuatku lupa, coba ceritakan!" Mas Jati tersenyum miring dengan mata yang tetap fokus melihat jalanan.
Pipiku berkedut. Bisakah ia mengurangi beban ku sekarang saat hamil muda?
Mengingat masa SMA membuatku senang, jaim, jengkel, gila, tak terkendali sekaligus malu. Masa-masa itu begitu indah walau hanya sebentar.
"Kalau aku dan kamu berpaling saat itu, itu bukan cinta sejati!"
__ADS_1
Mobil berbelok ke arah gerbang sekolah dan berhenti diparkiran. Mas Jati mencondongkan tubuhnya di depanku setelah sabuk pengamannya.
"Cium aku, Lilah!"
Aku membasahi bibirku dan merangkulnya, membiarkan mas Jati menciumku penuh semangat anak SMA. Ciuman yang penuh minat dan menggelora.
Aku menjadi waspada ketika ciuman ini tidak selesai-selesai.
Aku menepuk-nepuk punggung mas Jati dan menggeleng meskipun bibir kami masih bertautan.
"Kenapa?" Jakun mas Jati bergerak-gerak, ia menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Aku membenamkan wajahku di dadanya. "Ini perbuatan senonoh di lingkungan sekolah, mas! Bagaimana jika siswa-siswi melihat ini! Gawat." ucapku khawatir.
Mas Jati tersenyum di akhir kalimatku. "Bagaimana jika aku pergi melanjutkan hidupku begitu saja dan melupakan janji kita dulu?"
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Aku rasa kamu tidak seperti itu, mas! Janjimu sudah pasti dan aku sudah menggenggamnya."
Mas Jati tergelak, tangannya merapikan rambutku sebelum melepas sabuk pengamanku.
"Keluarlah, lewat gedung samping!"
Tawaku keluar. Dasar ketua OSIS.
***
Aku dan mas Jati duduk di kantin sekolah saat bel istirahat berbunyi.
Ini memalukan, sungguh. Keberadaan kami dipandang aneh oleh siswa-siswi sekolah ini. Apalagi aku yang memakai summer dress, sangat kontras dengan pakaian suamiku sekarang.
Kami berdua seperti orang asing yang nyasar di kantin untuk numpang makan bakso legendaris sekolah ini.
Aku menunduk terus-menerus sampai mas Jati menarik tanganku pergi dari kantin. Ia mengajakku berjalan-jalan di koridor sekolah sambil tersenyum-senyum sendiri.
Mungkin juga mas Revi sedang menyerap kembali semangat putih abu-abu dan mengingat senyum ketusku diawal kami bertemu.
Aku tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya. Mas Revi menoleh ketika kami berhenti di depan kelas satu, kelasku dulu.
"Bagiku kamu tetap cantik saat marah-marah, seperti saat pertama kali masuk di kelas ini dan marah-marah karena baksomu aku makan! Kamu ingat?"
Aku mengangguk. Mas Jati menarikku ke arahnya, senyumnya merekah sempurna. "Ke mana kita setelah ini?"
Aku tersenyum lembut. "Kemana pun yang kamu mau asal kita bersama-sama."
Mas Jati melambaikan tangan, dan tersenyum lebar ketika siswa-siswi menertawakan kekonyolan kami berdua.
__ADS_1
Dia lagi ngidam dan terserah mau bilang apa asal jangan meninggalkanku.
...Happy Reading...