ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 81


__ADS_3

Revi.


"Lho, Rev... Bukannya dapat libur kamu?" tanya mommy heran saat aku sudah berseragam di pagi ini. Aku mengangguk, dan menyeringai lebar.


"Aku mau ke rumah princess, Mom! Mau sekolah disana." jawabku seraya menyaut tas selempangku. Tidak banyak isinya, cuma barang-barang penting seperti hp, ATM, dan surat-surat lengkap kendaraan bermotor.


Mommy menaruh sarapan didepanku lalu berkacak pinggang. Aku mengerutkan kening, "Mommy kenapa?" tanyaku sambil menggigit sandwich selai kacang.


Mommy mendengus dingin. "Mau buat masalah lagi?"


Aku menggeleng tidak setuju. Niatku aja baik banget. "Aku cuma mau ketemu princess, nemenin semedi, kalau beruntung bisa berdua-duaan. Apa salahnya? Mommy mah curiga terus, sama anak sendiri lagi!" kataku tetap meneruskan sarapan pagi.


Mommy menjewer telingaku, menggetok kepalaku dengan sendok teh.


"Otakmu ini isinya cuma princess, princess, and princess! How about me?" Mommy menunjuk dirinya dengan wajah kesal.


Aku mengernyit, apa ibuku cemburu dengan pacarku sendiri? Sungguh aneh tapi nyata.


"I really love you, mom!" kataku sambil beranjak dan memegang kedua bahu mommy. Mommy melihatku dengan serius.


"Jasmine Adrianna, ibuku yang sangat-sangat aku cintai..." Aku tersenyum, dan sungguh-sungguh mau ketawa saat mommy terlihat acuh dan menunggu rayuanku selesai. "Kamu tetap wanita nomer satu buat aku. Tapi Revi, anakmu yang ganteng buaaanget ini juga punya pacar yang sangat istimewa. Jadi aku harap mommy sabar di rumah, aku pasti pulang kok terus jadi anak mommy lagi."


Ku tepuk-tepuk bahu mommy, seraya menenangkannya. Dalam benakku aku ingin tertawa, sumpah! Ngerayu ibu-ibu yang lagi ngambek itu susah-susah gampang. Apalagi kalau lagi sensi, aku harap mommy gak lagi puber kedua, bisa-bisa Daddy pusing sendiri---aku juga.


"Pulang jam berapa? Mommy hari ini mau jalan-jalan ke mall, kamu temenin!"


Aku pura-pura berpikir. Padahal aku sudah tahu mau pulang jam berapa nanti, seperti jam sekolah.


"Jam dua, Mom!" Uooohhhhh... Aku memegang telingaku lagi saat mommy menjewernya lagi lebih keras. Panas banget rasanya.


"Kamu tega sama mommy, Rev! Udah dulu hamil kamu sudah tua, ditinggal pergi suami, sekarang ditinggal terus sama anak yang lagi cinta-cintanya sama pacarnya. Mommy hampa!"


Demi Tuhan! Mommy benar-benar lagi puber. Bisa gawat urusannya kalau ibu negara ngambek.

__ADS_1


Aku membuang nafas. "Oke, Mommy mau jam berapa?" tanyaku mengalah.


"Jam sepuluh! Cuaca sedang hangat-hangatnya jam segitu."


Aku tersenyum lebar dan mengangguk. "Aku akan pulang jam sepuluh tepat, jadi mommy mandi saja dulu, luluran, spa, atau apapun biar mommy terlihat cantik dan muda!" kataku seraya melambaikan tangan.


"JANJI?"


"YA!"


Aku langsung menggeber motorku menuju rumah princess, namun sebelumnya aku mampir dulu ke toko bunga.


Satu mawar putih dan satu mawar merah biar seperti bendera Indonesia. Merah darahku, putih tulangku, dan hanya Dalilah yang aku mau.


"Mas Revi!" panggil Dalilah saat aku sampai di beranda rumah, ditemani abdi dalem yang senantiasa setia mengekoriku. "Kenapa kesini?" tanyanya sambil tersenyum, mendekatiku.


Dia cantik, habis mandi, rambutnya terlihat basah, digerai bebas. Dia memakai baju berwarna biru langit dan rok ruffles berwarna putih. Ah... seperti awan saja dia pagi ini.


"Main, aku bosan dirumah!" jawabku sambil menarik bunga dari kantong celanaku paling belakang.


"Terimakasih." katanya dengan manis. Aku pun jadi ikut malu-malu kucing, seolah ada getaran gempa yang mengguncang hatiku.


"Napa?" tanyanya sembari mengajakku duduk di beranda rumah. Suasananya syahdu sekali, cocok untuk ngeteh berdua sambil menua bersama.


"Gak kenapa-kenapa, cuma pengen ketemu kamu!" ujar ku sambil melihat sekeliling. "Kok sepi? Pada kemana?" tanyaku heran, tapi ada bagusnya karena aku bisa berduaan dengan Dalilah.


"Adikku pada sekolah, Ibunda dan Ayahanda sudah kerja." jawab Dalilah sambil membasahi bibirnya. "Mas Revi mau minum?"


Aku menggeleng cepat-cepat. "Kamu puasa hari ini?" Dalilah mengangguk, ia meletakkan bunga yang aku beri sambil tersenyum kaku. "Yakin gak minum? Aku gak masalah kalau mas Revi mau minum." ucapnya penuh toleransi.


Aku tetap menggeleng. "Aku nanti minum dirumah saja, aku cuma sebentar disini. Nanti mommy mau ke mall, aku harus nemenin mommy!" jelasku jujur. Dalilah terkekeh geli.


"Kenapa, ada yang lucu?"

__ADS_1


"Gak ada... Cuma gelagatnya mas Revi ini seperti gak mau pulang dari sini."


"Kamu benar! Menghadapi mommy yang lagi puber kedua itu membuatku serba salah!" Aku mengeluh. Dalilah kembali tertawa kecil. "Aku juga lagi puber, mas Revi jadi serba salah gak?" tanyanya sambil menatapku polos.


Aku langsung berpikir jika kedua wanita spesial bagiku sedang puber bersamaan. Aku tersenyum kaku. Entah siapa yang paling menyusahkan, sungguh harus berhati-hati jika menghadapi situasi seperti ini. Salah sedikit ngambek, salah sedikit aku yang salah. Pokoknya posisiku cukup ngalah demi kebersamaan ini.


"Aku sabar kok. Tenang aja." kataku sambil mengacak-acak rambutnya, ia tersipu. "Mau apa hari ini, aku boleh nemenin?"


Dalilah mengendikkan bahu. "Pagi ini Lilah cuma mau duduk-duduk santai. Nanti siang baru prepare kostum dan pakaian ganti untuk besok. Gimana sama mas Revi?"


"Aku gak seribet kamu, sayang... Gak perlu dandan, jadi aku juga santai. Cukup minum vitamin dan istirahat nanti!" kataku sambil mengeluarkan ponselku. Ada beberapa pesan yang aku balas sebelum menatap Dalilah lagi. "Jadi Bimo beneran gak ikut?"


Dalilah menggeleng. Ada kelegaan tapi juga waspada karena takutnya yang ikut ke Jakarta justru orang-orang penting yang tidak bisa diajak kompromi anak muda.


Aku kembali menatap layar, dan sepersekian detik kemudian. Aku beranjak sambil tersenyum kaku.


"Mas Revi mau pulang?" tanya Dalilah.


Iya, aku harus pulang. Bukan ke rumah tapi ketemu Devon!


"Masih kangen?" gurauku sambil memasang sepatu sambil berdiri, Dalilah menarik tas selempangku dan pura-pura terkikik saat aku nyaris jatuh karenanya.


Mataku mendelik. "Bercanda?" tanyaku, memperhatikannya yang membawa terus-menerus bunga yang aku beri. Dia suka, dan aku lega.


Dalilah menggeleng. "Aku serius. Aku masih kangen!"


Mataku terbuka lebar. Dia serius bilang begitu, bahkan untuk bilang aku sayang kamu saja dia gak pernah. Dia hanya slalu perhatian sama aku, dan mungkin juga ke Derren, Bimo, atau teman-temannya yang lain. Secara keseluruhan aku memang tidak begitu spesial karena ia memperlakukan semua teman-temannya sama sepertiku. Dan aku menyadarinya sekaligus menelan kepahitan yang slalu menghantuiku setiap malam.


"Aku kangen." ulangnya lagi, menepuk dadaku dengan bunga yang aku beri. Aku mendesah. "Lilah?" panggilku.


Dalilah membasahi bibirnya, lalu menatapku dalam.


"Aku juga!" balasku sambil tersenyum lebar. "Tapi aku harus pulang, nanti aku telepon setelah kencan ku dengan mommy selesai." Aku melambaikan tangan setelah Dalilah menyentuh kedua pipiku dengan kedua mawar yang aku beri, seperti sebuah kecupan---perantara.

__ADS_1


...Happy Reading...


__ADS_2