
...Vivi udah rajin update....
...Kalian juga rajin kasih dukungan ya....
...'Like' aja Vivi udah seneng banget....
...Terimakasih. Salam Rahayu 🙏...
...***...
Revi.
Aku selesai memimpin upacara untuk penyambutan siswa-siswi tahun ajaran baru.
Seperti yang sudah-sudah, tidak ada plonco hari ini. Adanya hanya pengenalan lingkungan sekolah dan guru-guru.
Jika dulu Dalilah menyita perhatianku, sekarang semua cewek yang kelihatan cantik tidak berarti apa-apa bagiku.
Sampai cewek yang aku tabrak di Jakarta tiga bulan yang lalu hadir disini, menjadi siswa kelas tiga, sekelas denganku.
"Gue kesini mau jadi temen, Lo! Rev."
Aku memberengut. "Temen jadi demen! Mending gak usah! Aku udah punya cewek." ujarku sambil melengos.
"Temen aja! Gitu udah negtink!" sahutnya sambil mendahuluiku, ia berjalan mundur sambil ngoceh. "Gue bela-belain sekolah disini, demi ketemu Lo!"
"Lah! Itu urusanmu! Ngapain juga kesini! Kurang kerjaan!" sungutku kesal.
Hari ini aku benar-benar sensi. Aku masih jadi ketua OSIS, masih banyak yang aku urus di sekolah ini.
Belum lagi cewekku yang udah kelas dua. Aku takut ada adik kelas yang menyukainya, sementara tadi banyak banget cowok-cowok yang jadi siswa baru.
Aku menendang udara sebelum menuju ruang OSIS. Ada berkas yang harus aku print sebelum memulai lagi agenda tahun ajaran baru.
"Gue ikut ya! Gue diem! Janji!" ujarnya sambil mengatupkan kedua tangan dengan wajah sok-sokan malu-malu kucing.
"Jaga jarak! Pacarku sentimental!"
Aku memasukkan tanganku di kedua saku celana dan berjalan tak acuh di depannya. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa cewek ini tiba-tiba datang kesini, sementara tidak ada tanda-tanda kehadirannya jauh-jauh hari.
Benar-benar jadi pengganggu melebihi eksistensi kuntilanak di pohon beringin itu!
Aku menghidupkan komputer dan mencari dokumen yang harus aku print.
"Ini ruang OSISnya! Jadul banget, Rev! Serem..."
Astaghfirullah. Namanya Angel, tapi kelakuan kayak setan.
"Aku wes kondo! Adoh-adoh seko awakku!" sungutku kesal sambil beranjak dengan mata melotot saat Angel mendekatiku karena takut.
"Gue gak ngerti Lo ngomong apa!" balasnya polos. "Ngomong pake bahasa Indonesia ajalah, bahasa ibu pertiwi!"
__ADS_1
Aku menggeram. Aku butuh Reno untuk menyingkirkan cewek ini. Si playboy itu pasti doyan cewek model beginian.
"Salah sendiri kenapa pindah ke sekolah jadul! Rasain!" ucapku sambil menunggu printer selesai mencetak data yang aku inginkan.
Aku menyaut kertas dan mematikan komputer.
"Balik ke kelas! Aku masih ada tugas dengan adik kelas dilapangan!" Aku menutup ruang OSIS dan menguncinya.
Berat banget bawa kunci OSIS ini, rasanya sudah harus aku serahkan kepada adik kelas. Biar aku fokus dengan Dalilah dan ujian-ujian kelulusan.
Tinggal satu tahun lagi kebersamaan ku dan dia. Sementara banyak banget kegiatan di kelas tiga ini yang akan membuat aku dan Dalilah sibuk.
Studi wisata di semester ganjil, lalu Persami. Belum lagi praktikum-praktikum lainnya.
"Gue juga butuh MOS! Jadi gue ikut!" timpalnya langsung.
Aku bisa sedikit tenang saat princess masih di ruang kelasnya. Jadi dia gak akan curiga kenapa ini cewek ngintilin terus.
***
Aku tersenyum lega saat jam istirahat tiba. Aku bergegas menunggu Dalilah di anak tangga paling bawah.
Dia kelas sebelas IPS sekarang, dilantai dua. Satu lantai dengan kelasku.
"Mas Revi..." panggil Dalilah sambil menuruni anak tangga dengan cepat. Ia melompat sebelum kakinya menginjak sepatuku.
"Kenalan! Baru ya?" tanyanya sambil menginjak-injak sepatu ku lagi dengan sengaja. Wajahnya semringah tak berdosa.
"Ayo injak sepatuku juga! Mau gak? Ini juga baru lho..." tawarnya dengan jenaka seraya mengayunkan kakinya di depanya.
Sepatunya memang baru bertali slewah.
Aku langsung menginjak sepatunya dengan gemas. "Balas dendam dibalas telak!"
Dalilah tertawa. "Kantin yuk, Lilah lapar."
"Mana Bimo?" tanyaku sambil melongok ke arah tangga.
"Bimo gak berangkat, katanya Pak Cipto sakit lagi!" jawabnya sambil mengedarkan pandangan.
"Gimana murid-murid barunya, mas? Ada yang mau mas Revi ajak taruhan?" sindirnya.
"Heh!" pekikku. "Cukup kamu!"
Dalilah kembali terkekeh lagi. Dia kelihatan ceria hari ini. Entah kenapa.
Kami berjalan beriringan menuju kantin. Sepanjang koridor sekolah, kami sering di lihat siswa kelas satu.
Benar kan, dia pasti menjadi pusat perhatian. Atau aku?
Kami memang kolaborasi paling oke dan menjadi couple goals di sekolah ini! Tapi tetap saja aku resah.
__ADS_1
"Bakso dua, jeruk hangat dua! Mas Revi yang bayar."
Aku menggeleng sambil tersenyum. Lagi-lagi tuan putri menggunakan otoritasnya termasuk dengan pacarnya sendiri.
Kami duduk di tempat biasanya. Bergabung dengan Reno dkk.
"Kalau dua bucin udah datang, lengkaplah sudah penderita kita!" sindir Reno. "Berasa kantin hanya milik mereka sendiri!"
Dalilah cekikikan, ia mengedarkan pandangannya dengan kening yang berkerut dalam.
"Kok dia ada disini?" tanya langsung. "Dia cewek yang nge-tag foto di IG mas Revi kan? Kenapa disini!" semburnya dengan wajah serius.
Aku membuang nafas. Masalah 'tag foto' sudah pernah kita bahas waktu pertama kali foto itu muncul. Masalahnya selesai, dia percaya.
Tapi untuk sekarang kenapa cewek itu ada disini, aku juga gak paham.
"Dia pindah kesini!" jawabku seadanya.
"Pasti gara-gara mas Revi sekolah disini!" Dalilah mendengus.
Dia mood swing, apa dia mau menstruasi? Biasanya sebulan sekali dia pasti gitu. Moody.
"Kamu bawa pembalut?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling.
Reno langsung melemparku gulungan tissue. "Sinting kowe, Rev!"
Aku tak menggubris. Bagiku Dalilah lebih penting. Kalau sampai bocor, dia pasti akan malu sendiri, mana bodyguardnya lagi libur.
"Aku slalu bawa! Tapi bukan mau itu! Ish... gak peka!"
"Dua bucin mulai bertengkar... Kita saksikan langsung drama ini secara live dan gratis!" cibir Reno dengan kilau canda dimatanya. Reno dkk cekakakan.
Aku menghirup udara dalam-dalam. "Jangan apa-apa langsung curiga, dia punya alasan tersendiri mengapa ada disini. Aku bahkan gak tau kenapa dia pindah ke sini!"
Aku mengeluarkan hpku yang slalu mati saat jam sekolah.
"Bawa hpku kalau masih gak percaya!"
Dalilah mengerucutkan bibirnya namun juga menghidupkan hpku dan mengecek isinya.
Sesekali sudut bibirnya tersenyum lalu tersenyum lagi. Ia mengembalikan hpku ke tanganku lantas menarik mangkok baksonya dan menyantapnya.
Jam istirahat berakhir. Aku kembali ke kelas karena MOS dilanjutkan oleh bapak-ibu guru wali kelas satu.
Aku dkk berjalan bersama-sama menuju anak tangga. Dalilah hanya diam saja selepas makan tadi.
Aku mengantarnya sampai ke depan kelas. "Nanti pulang bareng mau?"
Dalilah menggeleng. "Aku dijemput sopir." balasnya tanpa menoleh.
Aku menghela nafas, dia pasti belum tenang karena ia tahu, cewek itu juga sekelas denganku.
__ADS_1
...Happy Reading...