ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 50.


__ADS_3

Dalilah.


Aku memandangi langit mendung di bulan Desember tepat dibawah pohon beringin di taman sekolah.


Hari ini adalah ujian terakhir semester ganjil, begitu juga dengan Bimo yang genap satu bulan bekerja sebagai bodyguardku.


Selama satu bulan ini, ia nyaris sempurna dalam melakukan apa saja yang terbaik bagiku. Hingga aku tidak sanggup membuat drama kepada Ayahanda.


Aku takut jika kedekatan ku dan Bimo memicu kecemburuan Revi tentang hal ini. Meskipun kami berdua memang tidak pernah bertengkar karenanya itu.


Namun, ada yang berbeda dengan Revi. Selama satu bulan ini. Dia berubah, ia lebih menarik diri meski sesekali ia menjemputku di kelas lalu mengajakku ke kantin, menemaniku disekolah atau beberapa hari sekali ia mendatangi rumahku hanya demi bisa berbicara berdua tanpa adanya Bimo yang slalu berada tak jauh dariku.


Aku beranjak berdiri saat angin kencang menggugurkan banyak dedaunan dan tetesan air yang membasahi daun beringin yang lebat.


Ku kibaskan rambutku dari daun kering yang jatuh di rambutku.


"Masuklah ke dalam kelas, hujan datang lagi!" teriak Bimo dari koridor sekolah.


Aku langsung berlari kecil sembari menutup kepalaku dari rintik-rintik hujan yang mulai datang menghujaniku. Aku menghela nafas saat tiba di koridor sekolah.


Beberapa siswa melihatku dengan wajah biasa-biasa saja. Seolah kelakuanku di sekolah ini sudah bisa dimaklumi. Aku yang menjadi introver meski sebenarnya aku kekurangan teman.


"Sudah aku bilang, lebih baik ke perpustakaan daripada di taman!"


Tangan Bimo terulur untuk mengambil remahan dedaunan kering di rambutku. Aku terkesiap saat bayangan lain berada dibelakang Bimo. Bayangan lain yang nyata, buka delusi semata.


"Bosen!" jawabku sambil bergeser menjauh dari Bimo. Bimo terlihat berpikir lantas berjalan meninggalkanku.


Senyum pura-pura aku terbitkan saat Revi melangkah mendekatiku. Bisa mampus aku kalau Revi lihat kejadian barusan.

__ADS_1


"Akhir-akhir ini aku lihat kamu dan Bimo sering bareng, yang? Entah di kantin atau di rumahmu. Kalian tidak selingkuh dibelakang ku kan?" tanya Revi, raut wajahnya berkerut sambil menyipitkan mata.


Eh buset... Kenapa Revi bisa bilang aku selingkuh dengan Bimo. Apakah kedekatanku dan Bimo sangat terlihat kentara? Apakah aku harus jujur sekarang juga. Bagaimana jika jujur malah memperburuk suasana dan Revi semakin menjauh saja.


Astaga, aku punya hati tapi tak hati-hati. Bimo juga sih, kan tinggal bilang di rambutku ada daun keringnya. Gak perlu dibersihkan, aku bisa membersihkannya sendiri.


"Bimo di rumah karena Bimo memang menjadi abdi dalem bukan menjadi selingkuhan ku!" Aku menggeleng kuat-kuat, namun hatiku juga takut jika aku ketahuan berbohong.


Revi tersenyum tipis, ia menjejeriku saat aku memilih duduk di koridor sekolah. Aku tersenyum simpul, ku lihat ia sama sekali tidak menggubris soal tadi.


Entah aku harus senang atau sedih. Karena keduanya sama-sama memiliki arti tersendiri bagiku. Aku senang, Revi tidak mencurigaiku berselingkuh, tapi aku sedih karena jika Revi tidak cemburu itu tandanya dia tidak sayang lagi padaku.


"Besok pas liburan semester, akan ada lomba antar sekolah. Kepala sekolah memintaku untuk menanyakan kepadamu, apa kamu berminat untuk ikut sebagai peserta dari kategori seni atau tidak?" Revi menatapku, ia tersenyum simpul.


Aku menggaruk hidungku. Kalau hanya lomba menari saja aku bisa, aku sudah mumpuni sejak dini. Namun untuk berhadapan dengan banyak orang seperti dulu dan sebagai tontonan. Mental ku tak sekuat dulu. Aku masih malu dengan kasus ku kemarin.


"Kalau enggak juga tidak masalah. Tapi aku juga pengen tau bagaimana rasanya melihatmu menari secara langsung. Pasti kamu cantik dan seksi!" Revi mengerjap sambil tersenyum jenaka.


"Seksi apanya?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


Revi mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil pura-pura berpikir keras.


"Apanya ya yang seksi?" tanyanya balik, "Dadaku terbuka? Punggungku terlihat? Gitu ya yang ada di pikiranmu?"


Revi langsung mengangguk mantap sambil menyeringai bodoh.


"Jarang-jarang kan aku lihat kamu menggunakan busana seperti itu. Ikut ya, tim basket sekolah juga ikut! Jadi kita barengan bisa menunjukkan prestasi bukan sensasi..." Revi cekikikan saat aku mendesis karenanya. Aku tepuk bahunya dengan sengaja.


"Iya aku ikut..." jawabku akhirnya. Entah bagaimana ceritanya nanti saat perlombaan, aku hanya perlu menunjukkan bahwa aku mampu, bahwa aku harus menunjukkan prestasiku. Agar dunia ini tahu bahwa aku Dalilah Sekar Kinasih yang kalian cemoohan itu juga pintar! Berbakat! Hebat! Dan bermartabat!

__ADS_1


"Yaaa!!" Ku kepalkan tangan dan ku angkat ke udara. Semangatku mendadak menggebu-gebu karenanya. Aku akan membuktikan kepada siapa saja yang merendahkanku, membuat Ibunda menangis karena itu. Pokoknya aku harus berhasil, pokoknya aku harus menang.


"Kenapa sayang? Kamu oke kan?" tanya Revi panik sembari menarik seragamku.


Aku menyeringai lebar.


"I'm oke, mas. I'm oke. Jadi kapan lombanya?" tanyaku penasaran sambil duduk lagi disebelahnya.


"Seminggu lagi! Jadi aku harus minta maaf kalau aku sibuk berlatih dengan teman-teman. Kamu gak sedih kan aku tinggal-tinggal saat liburan?"


Aku mengangguk sambil melihatnya yang begitu gusar, "Kenapa, mas?"


"Aku dengar kalau sekolah Baskara juga ikut dalam perlombaan itu, kemungkinan besar dia juga ikut!" Revi menghela nafas berat, "Dua pilihan yang sulit sebenarnya mengajakmu lomba! Aku yakin itu berat bagimu, yang!"


Aku tersenyum meski terasa pahit yang begitu menyapa rongga dada, sudah satu bulan ini aku berusaha mencari keberadaan Baskara. Aku ingin bicara dan memperbaiki segalanya. Namun ternyata, Tuhan mempunyai cara tersendiri untuk mewujudkan impianku.


"Aku yakin semua akan baik-baik saja, mas! Dan aku tetap mau ikut lomba itu!"


Karena aku juga ada yang menjaga, selain kamu, mas! batinku setelah mengucapkan itu.


Revi beranjak berdiri, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


"Buat kamu yang mau jadi pacarku! Aku harus rapat lagi dengan anggota OSIS untuk class meeting nanti!" kata Revi sambil menaruh permen di telapak tanganku.


"Dimakan ya, soalnya itu rasa bibirku sekarang!" Revi mengerutkan wajahnya dengan gemas sambil tersenyum manis. Ia melambaikan tangan dan buru-buru pergi dariku.


Aku tersipu malu sambil ku lihat permen yang ada di tanganku.


"Permen rasa kopi! Ish... pasti manis-manis pait!" gumamku, lantas ku buka bungkus permennya dan memakannya, "Manis... Pasti bibirnya mas Revi juga! Xixixi..."

__ADS_1


...Happy Reading. 🌺...


__ADS_2