
Revi.
Kendati begitu banyak hal yang berubah saat princess kembali ke sekolah. Aku tetap mengaguminya dan tetap berusaha menjadi Revi yang sebelumnya. Revi yang ceria dan tidak macam-macam.
Tapi tak aku pungkiri, keberadaan Bimo yang sering aku tangkap berada di sekitar Dalilah membuatku resah. Resah karena posisiku terancam. Bukan hanya dari segi waktu atau caraku memperhatikannya. Namun dari segi paras juga, Bimo masuk dalam kategori adik kelas dengan ketampanan dan kepintaran yang diatas rata-rata, sama sepertiku. Bedanya, mungkin aku bisa membawa mobil ke sekolah, dia tidak.
Status sosial kami jelas berbeda, dan itu yang bisa aku unggulkan sekarang untuk tetap berada di sisi Dalilah.
"Rev! Cewekmu cantik banget, lihat deh di ruang kepsek! Lagi ngobrol sama Pak Bambang waktu aku tadi mampir minta stempel!" seru temanku yang langsung membuatku mendelikkan mata.
"Dalilah udah di sekolah? Wow... Aku penasaran banget sama dia kalau mau nari!" ucapku sambil melempar bola basket kearahnya. Temanku menangkapnya dengan sigap dan terkekeh.
"Gila kamu, Rev! Berani-beraninya ngajak pacaran anak raja!"
Entah pujian atau ejekan aku gak tahu, yang aku tahu. My princess udah di sekolah, udah mengenakan pakaian menari yang membuatku senang.
"Semua siap-siap di depan sekolah! Biar aku jemput dulu bidadari khayangan di ruang kepsek!" seruku penuh semangat sembari melesat cepat ke ruangan pak Bambang.
Seminggu gak ketemu princess itu bagai hidup tanpa uang. Sepi dan tidak semangat. Apalagi mommy sering meledekku untuk mendatangi rumahnya. Tapi pasti kesimpulan yang aku dapat, Bimo ada disana. Entah kenapa firasatku mengatakan Bimo ini ada apa-apanya dengan princess.
Tapi atas dasar apa mencurigai Bimo. Dia bukan saingan yang tepat untukku.
"Masuk..." jawab pak Bambang saat aku mengetuk pintu ruangannya. Aku langsung masuk dengan langkah lebar-lebar, cenderung tidak sabar.
Ku temukan bidadari khayangan yang menggunakan jaket? Huft...
"Ada apa, Rev?" tanya kepala sekolah sembari mengamatiku penuh selidik.
"Ada bidadari disini, Pak! Boleh saya bawa keluar?" tanyaku sambil mengamati baik-baik Dalilah Sekar Kinasih yang menunduk malu.
Sumpah, demi apapun. Dia terlihat manis dan teramat berbeda dari biasanya. Dia benar-benar menunjukkan diri bahwa ia benar-benar putri keraton.
"Semua sudah siap, Rev? Tim basket? Cheers leader? Konsumsi dan P3K?" tanya Pak Bambang memastikan.
Aku menjawab tanpa menoleh. "Siap pak! Tinggal berangkat." jawabku lugas.
Pak Bambang beranjak berdiri. "Ayo ke aula, kita doa bersama sebelum berangkat ke gedung olahraga."
Aku dan princess sama-sama mengangguk sebelum berjalan keluar dari ruangan yang begitu di takuti para siswa nakal.
__ADS_1
"Lilah, you look so beautiful." pujiku sembari tersenyum saat aku dan princess berjalan beriringan.
Princess tersenyum samar. "Apa kabar mas? Are you oke?" tanyanya seolah mengalihkan pembicaraan.
"Aku kangen sama kamu, Lil!" seruku.
"Bawa hp gak?"
"Ada di tas."
"Gak sempet buka hp apa dari tadi?"
Aku menggeram dan menyentuh lengannya. "Maaf, aku slalu antusias jika membawa nama sekolah untuk lomba. Jadi belum sempet buka hp. Maaf ya." ucapku menyesal.
Princess mengangguk, ia pun mengangkat kain jarik yang ia kenakan saat menaiki anak tangga.
"Sayang, hati-hati!" ucapku spontan seraya menggenggam tangannya. Princess malah terkekeh kecil. "Aku thu udah biasa pakai jarik mas Revi! Aku juga masih geli kalau dipanggil sayang! Bisa-bisa om Nanang ngetawain aku gara-gara itu." ucapnya sebelum mendaratkan kakinya diatas konblok dengan lincah.
Alisku terangkat. "Jadi kamu gak suka aku panggil sayang?"
Princess menggeleng. "Bukannya aku gak suka, tapi Lilah masih kelas satu SMA. Kalau Ibunda denger pun, Bunda akan ketawa. Lucu batinnya. Kelas satu SMA sudah sayang-sayangan!"
Princess tergelak sembari mendorong lenganku. "Lucu banget sih!"
"Kapan kita jalan berdua, princess? Aku beneran kangen."
Princess mengendikkan bahu sembari menampilkan senyumnya. "Lilah gak tahu mas. Tapi Lilah selalu menunggu mas Revi dirumah. Tempat ternyaman aku sekarang." jelasnya dengan sikap setenang mungkin seolah berharap agar aku bisa mengerti keadaan.
Mungkin inilah tantangan bagi kami yang mencintai kaum Ningrat. Harus ikut mematuhi peraturan kerajaan. Meski membangkang kadang terlihat seru bukan?
"Rumahku bisa menjadi rumah ternyaman untuk kita berkencan. Jadi, kita bisa mengatur jadwalnya kan?" ucapku penuh harap. Jujur, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja tanggung yang berpacaran selayaknya remaja normal. Mungkin Dalilah juga begitu, tapi ya... Aku ingin menghormatinya dan segala peraturan kerajaan. Pegangan tangan sepertinya cukuplah untuk kita berdua, sambil nonton film atau nyanyi berdua.
"Nanti Lilah kasih tau jadwal yang pas untuk itu. Sekarang... Mas..." Princess memberi jeda sejenak dan air wajahnya berubah tidak enak.
"Ini mengenai Baskara." jelasnya langsung sambil menatapku.
Aku menghela nafas. Kenapa harus mengenai Baskara, kenapa tidak Bimo saja yang harus ia jelaskan.
"Baskara mungkin akan ada di GOR juga kalau dia kepilih jadi tim basket sekolahnya. Kamu takut, atau marah?" tanyaku hati-hati. Bisa runyam urusannya kalau princess mendadak badmood.
__ADS_1
"Boleh nanti aku bicara dengannya? Aku masih penasaran kenapa dia melakukan itu semua." ucap princess dengan ragu.
Aku menggerak-gerakkan rahang ku. Cukup beresiko jika princess menemui Baskara sendiri, karena waktu itu aku sempat berkelahi dengannya di luar sekolah.
"Nanti kalau kita udah sama-sama selesai lomba. Aku akan menemanimu!" jawabku sembari memaksakan senyum.
Princess justru menggeleng, dia tidak mau aku temani.
"Ya sudah, tapi hati-hati. Aku cuma takut Baskara akan menyakitimu."
Princess mengangguk sambil tersenyum kaku. "Aku tadi lihat kamu tahu mas, seneng ya ditemenin sama pom pom girls? Seksi ya?"
Aku lantas menyengir kuda. Pom pom girls di sekolah memang seksi-seksi. Cantik-cantik, lebih tinggi dari Dalilah begitupun mereka adalah mahkluk-mahkluk bebas. Tapi aku tidak bisa mengatakan itu padanya secara gamblang.
"Kenapa memangnya, kamu cemburu?"
Princess malah menjep dan meninggalkan aku begitu saja saat kami sedari tadi hanya berdiri saling berhadapan di koridor sekolah.
Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar untuk mengejarnya. Princess menoleh. "Apa?"
"Gak cemburu?" tanyaku heran.
"Untuk apa cemburu?"
Aku tertegun sejenak. Apa princess gak cinta sama aku sampai ia tidak cemburu saat aku bersama pom pom girls tadi.
"Kamu gak cinta sama aku, Lil?" tanyaku sembari menarik lengannya.
"Lepaskan!"
Aku menoleh ke sumber suara. "Bimo." gumamku. Princess langsung menarik tangannya dan berjalan cepat-cepat menuju halaman sekolah.
"Sudah di tunggu pak Bambang, mas Revi." jelasnya dengan tenang.
Aku menggeram sembari berjalan dengan tatapan tajam kepadanya.
"Aku mengawasimu, Bim!"
...Happy Reading đź’š...
__ADS_1