
Dalilah.
...Tell me, teddy bear...
...Why love is so unfair...
...Will he ever find a way...
...And answer to my prayers?...
...First Love - Nikka Costa...
"Sudah berapa kali kamu mendengar lagu itu, Sis! Tidak bosan?"
Argh... pengganggu. Aku mengibaskan tangan, tidak mau diganggu.
"Arka!" pekikku sambil melempar bantal kepadanya saat ia menggelitik telapak kakiku dengan jail.
"Dipanggil papa! Makan malam..." kata Arka.
Aku mematikan speaker dan beranjak.
***
Tiga bulan tinggal di Melbourne cukup menenangkan bagiku, walaupun jauh dari mas Revi. Aku hidup nyaman disini.
Di kota metropolis yang terkenal sebagai kota budaya ini tak jauh berbeda dengan tempat asalku. Tidak jauh dari pantai dan tempat wisata. Cukup menyenangkan, apalagi sekarang musim semi. Indah, banyak bunga bermekaran, seperti aku!
Bungaku sudah merekah sempurna sekarang!
"Om... Arka usil!"
Aku mengadu kepada om Sadewa sambil menarik kursi makan. Aku tinggal dengannya, bersama istrinya dan anak kembarnya. Arkananta dan Mahardika.
"Dia galau terus, papa! Dia kehilangan akal sehat!" seloroh Arka.
Aku mendelikkan mata. "Kamu kira aku gila sampai kehilangan akal sehat!" Aku menjentikkan jarikku di telinganya. "Om, bisa gak anakmu yang ini dikurung aja!"
Om Sadewa terkekeh kecil. "Arka memang begitu. Dia hanya perhatian sama kamu, princess!"
Aku menjep sambil ku ambil makan malamku. Beruntung, Tante Irene pandai memasak masakan Jawa. Jadi aku kadang memintanya untuk memasak makanan seperti buatan Bunda.
Selesai makan malam, aku masih disibukkan dengan membereskan meja makan. Sebagai tanggung jawabku karena aku numpang disini, aku juga tidak punya pelayan pribadi seperti di istana.
Hukuman dari Ayahanda.
Aku dituntut untuk mandiri selama disini. It's oke, yang penting uang jajan masuk aja setiap bulan. Itu yang paling penting!
Home schooling ku juga berjalan lancar, sedikit terkendala saat pertama kali memulainya.
Hanya saja yang sering membuatku resah adalah, hubunganku dengan mas Revi.
Kami masih berkomunikasi dengan baik, dengan jam-jam tertentu yang kami sepakati bersama.
Awalnya aku ngambek saat dia telat membalas chatku. Tapi lambat laun aku jadi terbiasa. Dia sibuk sebagai pelajar kelas tiga dan aku harus maklum karena awalnya kan memang gitu. Aku tidak mau di condong padaku.
__ADS_1
"Princess..."
"Ya." Aku mengeringkan tanganku sambil menoleh. "Ada apa om?" tanyaku.
"Kamu masih memutuskan hubungan dengan ayahmu?"
Aku memutar bola mataku dan menumpukan tanganku di pinggir wastafel.
"Ayahanda sibuk! Jadi untuk apa dihubungi? Lagipula om juga sudah melaporkan kegiatanku kepada beliau. It's enough for him!"
Aku menyunggingkan senyum patah melengkung. Hubunganku dengan Ayahanda memang tidak baik. Tapi aku berusaha tidak peduli dan menganggap hal ini bukan masalah besar.
"Say hello pun kamu tidak pernah?" tanya Om Sadewa penasaran.
Aku menggeleng. "Om tahu sendiri kenapa aku diasingkan ke sini! Ayahanda tidak suka denganku!" Aku berdehem. "Dengan kelakuan nakal ku lebih tepatnya!"
Om Sadewa tergelak. "Ya, ya, ya. Om paham... Om tahu bagaimana ayahmu! Sudah sana kembali ke kamarmu, om mau biasa..."
"Biasa apa? Mau Chit Chat sama Tante Irene di kamar?" gurauku sambil tersenyum lebar.
Tante Irene yang membuat kopi tergelak sendiri. "Bukan Chit Chat dengan Tante, tapi dengan ayahmu!"
Aku mendesah dan melambaikan tangan.
Dikamar, aku menarik Teddy bear dan memeluknya. Aku lirik jam dinding. Belum terlalu malam untuk menghubungi mas Revi.
Aku menghubunginya, menunggu.
Sibuk kali ya.
Aku memeluk Teddy bear, berharap paginya berlapis-lapis pesan ia balas untukku.
***
Keesokan paginya.
Ritual khusus yang aku lakukan setelah bangun tidur adalah memeriksa hp. Aku merengut, mas Revi tidak membalas pesanku. Belum dibaca juga!
Aku jengkel. Dengan bibir yang mecucu dan jari yang lincah aku mengetik pesan untuknya.
Kemana mas, kok gak dibales?
Kamu baik-baik aja kan?
"Sister, wake up!"
Aku mendesis. Aku mandi secepat kilat. Waktu musim dingin kemarin, aku jarang mandi. Mungkin mas Revi bakal ilfil kalau tahu itu. Tapi siapa peduli rajin mandi di musim dingin, yang ada bengek dan masuk angin.
"Iya... aku baru selesai mandi!" jawabku sambil merapikan rambut.
Sebagai pelajar home schooling, aku hanya perlu berpakaian rapi dan membawa laptop ke ruang tamu.
"Arka! Dibilang jangan buka pintu kamarku sembarangan!" pekikku saat bule blesteran ini masuk dengan gaya jumawa+cengengesan.
"Tapi ini rumahku, sister!" elaknya sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya menjangkau boneka Teddy bear ku dan memangkunya.
__ADS_1
"Taruh gak? Itu bau, kena air mataku sama ingusku kalau lagi nangis!"
Arka langsung membuangnya. Aku terkekeh geli dan memungutnya.
My Revi Bear.
"Jorok...!" pekiknya sambil menepuk-nepuk tangannya. Aku menaruhnya di atas ranjangku, menepuk puncak kepalanya seraya tersenyum.
Kangen.
"Ayo sarapan! Mama dan papa sudah berangkat kerja, jadi kita cuma bertiga!" ujar Arka sambil beranjak.
Aku berdehem dan mengikutinya keluar kamar.
"Mau pakai selai apa? Ar, Dik?" tanyaku sambil mengambil lembar roti tawar.
Si kembar bilang terserah yang penting banyak isinya.
Aku tersenyum kecil. Ada kelegaan ketika aku tahu tinggal bersama mereka. Sepupuku sendiri, ketimbang harus tinggal dengan kakak tiri Ibunda, bude Sheila bersuamikan polisi.
Aku mengoles selai coklat dan kacang dalam satu roti tawar, menuangkan susu murni dan menaruhnya di depan Mahardika dan Arkananta.
"Thankyou, sister!"
Aku tersenyum kecil, aku kangen kedua adikku. Belum pernah aku memanjakan mereka seperti ini, karena yang ada tiap hari cuma eyel-eyelan terus.
"Jadi winter break tahun depan Mbak pulang?" tanya Arka sesudah sarapan bertiga.
Aku mengangguk pelan sambil memeriksa hpku. Masih juga gak ada kabar dari mas Revi, seenggaknya waktu jam istirahat kedua ia membuka hpnya dan menghubungiku seperti biasanya.
Apa mungkin terjadi apa-apa dengannya.
Aku mengirim pesan kepada Bimo, hanya ia yang bisa memberiku jawaban karena sampe sekarang komunikasi kita masih baik walaupun jawabannya hanya iya atau enggak atau seperlunya.
"Good morning, boys and girls? Are you happy today?"
Guru home schooling datang, aku menyelipkan hpku di bawah bantal sofa sebelum pelajaran dimulai.
Setelah hahaha, hihihi, dan fafifu selama dua jam dengan guruku dan sepupuku.
Aku langsung menyambar hpku. Mataku menghangat saat aku mendapat kabar bahwa mas Revi kecelakaan tadi malam.
Kok bisa? Sekarang gimana?
Mabuk. Masih opname.
Aku langsung menghubungi Bimo, Memintanya untuk ke rumah sakit sekarang juga. Aku mau video call dan memastikan kondisinya langsung.
Bimo setuju. Aku menunggu dengan getir tanpa selera.
Sepulang sekolah Bimo benar-benar ke rumah sakit, saat ia sudah berada di ruang inap mas Revi. Aku langsung menghubunginya.
GAK! GAK!
Aku histeris dan limbung.
__ADS_1
...Happy Reading....