ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA
Bab 56.


__ADS_3

Dalilah.


Aku terperangah saat melihat seorang cowok yang menarikku dengan cepat sembari membawa stik drum di tangan kirinya.


"Kebetulan sekali! Terimakasih sudah menolongku." ucapku sambil merapikan jarik.


"Lain kali hati-hati!" balasnya lalu pergi.


"Perhatian banget." gumamku sambil naik ke atas panggung.


Ibunda yang melihatnya hanya menggeleng sambil duduk di bangku paling depan. Duduk manis ditemani Suryawijaya. Si anak nakal yang membocorkan rahasiaku. Awas saja nanti! Setelah aku nari hari ini. Entah menang atau tidak, yang penting aku sudah menari sesuai pakem-pakemnya.


Lima belas menit kemudian, saat gamelan Jawa yang di stel tanpa gamelan asli selesai. Aku turun dari panggung bersamaan dengan suara tepuk tangan meriah. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat sorak sorai dari penonton.


Aku langsung menghampiri Ibunda dengan nafas yang ngos-ngosan, aku haus tapi aku masih puasa. Jadinya aku hanya menghirup nafas dalam-dalam lalu menyandarkan punggungku di sandaran kursi.


Ibunda mengelus pipiku dan tersenyum. "My precious girl." Aku tersenyum simpul.


"Menurut Bunda gimana penampilan Lilah tadi?"


"Keputusan ada di tangan juri! But, overall. You're still the best for me." ujar Ibunda sambil mengedipkan sebelah mata.


Aku terkekeh geli bercampur rasa lega. Menang atau kalah itu sudah biasa. Tapi untuk membawa nama baikku kembali. Rasa-rasanya masih jauh dari harapanku. Aku masih butuh sesuatu yang lebih dari ini.


"Semoga ya hari ini, jadi hari baik untuk Lilah." ujar ku penuh harap. Ibunda mengangguk seraya mengamini doaku.


"Aku harus lihat bagaimana Suryawijaya nari, Bun! Apakah akan membuat gadis-gadis itu jatuh pingsan?" Aku menyeringai lebar ketika mereka, pengagum berat Suryawijaya bersorak memanggil namanya.


Ibunda mengelus lengan Suryawijaya dengan lembut.


"Santai dong mas. Mbak Lilah aja berhasil, mas Surya juga harus bisa."


"Aku bisa, Bun! Hanya saja Mbak terlalu brisik!" cibirnya.


"Apa menurut Bunda, adikku ini benar-benar tampan?"


"Bukan tampan! Tapi berkharisma. Senyum dikit, ba-ha-ya." jawab Ibunda. "Makanya, adik kamu itu tidak pernah senyum. Karena takut semakin banyak yang mengikutinya. Ibunda pasti kewalahan memilih gadis mana yang sanggup mendampinginya."

__ADS_1


Suryawijaya langsung menggeram. Ia nyaris mengambil kerisnya lagi saat aku spontan menyebut nama. "Tania!"


"Gadis desa yang cantik kan, Mbak?"


Aku mengangguk. Tania, teman masa kecil kami yang masih berkunjung ke istana. Entah piknik, atau sekedar membalas kebaikan orangtuaku di masa kecilnya dulu.


"Bun!" sergah Suryawijaya cepat. Ibunda mengelus lengannya lagi.


"Mbokya jangan marah-marah terus to mas! Mbak Lilah kan memang begini aslinya. Kalau sedih kamu juga yang bingung. Iya kan?"


Suryawijaya mengelak dari pernyataan Ibunda. Namun, saat aku ingin mengoreksinya, gebrakan drum di atas panggung membuatku terkesima.


"Cowok itu kan tadi yang menolongku." gumamku dan terus mengamati aksi panggungnya yang memukau. Hentakan kakinya di pedal drum benar-benar kokoh, tangannya lincah memukul semua alat drum yang membuat nadanya begitu berirama dan bringas. Membuatku bengong.


"Apa kakinya gak pegel!" gumamku saat ia berdiri meninggalkan panggung.


"Kenapa Mbak?" tanya Ibunda


Aku mengendikkan bahu dan terus menikmati setiap proses perlombaan ini.


Sampai akhirnya, kini giliran anak SMP yang mendapat bagian. Suryawijaya menundukkan kepalanya, ia mungkin sama sepertiku. Ada rasa gugup yang sering kamu berdua rasakan jika ingin mengikuti perlombaan.


Ibunda menepuk pundak Suryawijaya. "Ibunda tidak akan marah kalau kalian berdua kalah. Begitupun Ayahanda. Jadi lakukan saja sebisa mungkin, yang menurut kamu itu sudah yang terbaik." Suryawijaya mengangguk, dan manisnya lagi. Ia mencium punggung tangan Ibunda sebelum naik ke atas panggung.


"Bim! Sana di foto dulu sahabatmu!" kataku saat menoleh. Bimo mengangguk dan pergi ke depan panggung.


"Menurut Ibunda apa yang membuat Bimo dan Suryawijaya akur?"


Ibunda tampak berpikir sejenak. Terlihat mengira-ngira. "Karena mereka satu frekuensi. Mungkin!"


"Tapi mereka gak pernah ketawa. Masa serius terus yang dibahas." balasku dengan heran. "Bukannya kalau teman itu membagi canda dan tawa, serta air mata, Bun! Mereka aku lihat serius terus."


"Akrab, tidak harus saling tertawa kan, Mbak! Mereka cowok, kalau ketawa-ketawa terus nanti di kira aneh. Beda kan Mbak, cara ngobrol seorang laki-laki dan perempuan. Apalagi Bimo, menghormati adikmu!"


"Terus kenapa Suryawijaya sensi sama mas Revi? Apa itu tidak aneh, Bun? Mas Revi juga sudah minta maaf soal kemarin. Harusnya kan mereka bisa berteman!" ucapku tak habis pikir.


Ibunda mengusap keringat di wajahku. "Suryawijaya pasti punya alasan tersendiri mengapa tidak suka dengan mas Revi. Ibunda pun gak bisa memaksakan kehendaknya."

__ADS_1


Aku menghela nafas sebelum berdiri. "Kenapa, Bim? Suryawijaya kan belum selesai narinya.


"Ndoro putri masih mau disini atau ke dalam GOR? Tim basket sekolah masuk ke final."


Aku mencium punggung tangan Ibunda sembari berpamitan untuk masuk ke dalam GOR. Aku ingin melihat bagaimana mas Revi kalau lagi tanding basket.


Apa juga sekeren saat disekolah?


Aku masuk ke dalam GOR setelah melewati kerumunan orang yang melihatku penuh minat. Seolah sudah tahu kalau aku ini putri Raja.


Segelintir orang mencibirku, tapi aku berusaha untuk tidak terpancing emosi karena Bimo mengikutiku. Benar juga kata Ayahanda. Bodyguard ku pancen oye.


Di dalam GOR. Aku mengedarkan pandanganku dengan liar. Aku ingin mencari dimana mas Revi berada karena ia tidak terlihat jelas diantara ratusan orang yang memadati gedung olahraga ini.


Pelan-pelan aku mencarinya, sampai akhirnya aku menemukannya bersama cheers leader itu. Cewek yang mendominasi mas Revi sejak tadi pagi.


Kedekatan mereka cukup terlihat lebih intens ketimbang sebatas teman. Kalau kata Lilah, mereka seperti ada apa-apanya. Tapi aku juga tidak bisa menerka-nerka sendiri itu apa.


Hubungan kami cukup terlalu rumit, jadi Lilah gak mau kalau tambah rumit hanya dengan berasumsi sendiri tentang mereka. Jadi aku memilih untuk bergabung dengan teman-temanku di lantai dua. Memang tidak terlihat jelas tapi aku nyaman.


Setibanya di lantai dua, teman-temanku langsung berteriak. "Lawan Baskara!"


"Baskara?" gumamku seraya mendekati pagar pembatas. "Baskara lawan mas Revi! Wah, battle symphony!"


Aku terus berdiri di pagar pembatas, ikut menyaksikan pertandingan terakhir mereka. Mas Revi terlihat payah, seperti terintimidasi oleh Baskara. Belum lagi Baskara yang terlihat tambah jago.


Pertandingan ini benar-benar hidup dan mati. Khususnya untuk hatiku sendiri. Aku gak mau sekolah kalah hanya karena masalah pribadi, tapi kalau Baskara yang kalah. Ia pasti tambah kecewa lagi.


Aku terus memperhatikan mereka, sampai adegan usap-usapan keringat itu terlihat jelas di mataku. Dimata Ayahanda. Di mana semua orang yang tahu jika mas Revi adalah pacarku.


Mendadak hatiku jadi tidak tenang. Aku duduk, ingin minum tapi tak bisa. Hingga Bimo menghampiriku.


"Mau pulang?"


Aku menggeleng dan membasahi bibirku yang kering.


Bimo mengangguk sambil tersenyum samar. "Kak Prisia. Mantannya mas Revi." jelasnya padaku tanpa aku minta. Aku mengangguk pelan. Sekarang aku lemes, tidak ada tenaga.

__ADS_1


...Happy Reading. ...


__ADS_2